Puisi Mahar Prastowo 


Aku bangga jadi anak koruptor.

Aku tak pernah bertanya mengapa rumah kami tumbuh lebih cepat daripada pohon di halaman.

Aku hanya tahu mobil berganti, liburan berganti, rekening bertambah.

Ayah bilang, itu rezeki.

Aku percaya.

Sampai suatu pagi televisi menyiarkan nama keluarga kami.

Tetangga menutup pintu.

Teman-teman menundukkan kepala.

Dan aku baru tahu...

ternyata uang bisa membeli banyak hal.

Kecuali kehormatan.

Aku bangga jadi anak koruptor.

Begitulah dulu.

Sebelum aku mengerti bahwa setiap lembar uang yang pulang ke rumah mungkin membawa air mata orang lain.

Mungkin membawa jalan yang tak pernah selesai.

Sekolah yang roboh.

Rumah sakit yang kehilangan obat.

Jembatan yang putus sebelum waktunya.

Aku bangga...

kata itu akhirnya terasa pahit.

Sebab warisan terbesar bukanlah vila, mobil, atau rekening.

Melainkan nama keluarga yang harus kupikul di setiap langkah.

Dan aku berjanji kepada anakku kelak:

Jangan bangga karena harta.

Banggalah jika tidurmu nyenyak, karena tak ada hak orang lain yang kau bawa pulang.


Makasar 02082026


Baca juga: