Puisi Mahar Prastowo 


Aku bangga jadi koruptor.

Tanganku bersih - sebab uangnya tak pernah kugenggam lama. Ia segera berpindah ke rekening yang lebih sopan, ke gedung yang lebih megah, ke pesta yang lebih terang.

Aku bangga jadi koruptor.

Aku pandai berpidato tentang kemiskinan, sambil menambah koleksi jam tangan. Aku fasih bicara tentang pengorbanan, sambil mengorbankan masa depan anak-anak yang tak pernah kukenal.

Aku bangga.

Sebab negeri ini sering memaafkan lebih cepat daripada mengingat.

Hari ini aku tersangka.

Besok aku tamu kehormatan.

Lusa... mungkin narasumber tentang integritas.

Bukankah lucu?

Aku mencuri miliaran, tetapi tetap dipanggil "Bapak."

Sedang pencuri sepotong roti dipanggil "penjahat."

Aku bangga jadi koruptor.

Sebab penjara kadang hanya alamat sementara.

Yang abadi adalah kekuasaan yang masih bisa dibeli.

Lalu aku bercermin.

Yang kulihat bukan wajahku.

Melainkan wajah negeri yang terlalu lama menganggap korupsi sekadar berita.



Makasar 02082026

Baca Juga: