Puisi Mahar Prastowo


Aku bangga jadi istri koruptor.

Tak perlu menghitung harga beras setiap akhir bulan.

Tak perlu memikirkan gas yang tinggal setengah tabung.

Tak perlu memilih antara membeli susu anak atau membayar listrik.

Aku tinggal memilih...

tas yang cocok dengan mobil baru.

Aku bangga.

Saat ibu-ibu lain berburu diskon minyak goreng, aku berburu berlian.

Saat mereka menghitung receh di depan kasir, aku menghitung berapa koper yang harus disimpan.

Bukankah hidup memang soal pilihan?

Mereka memilih jujur.

Kami memilih... lebih cepat kaya.

Aku bangga.

Sebab pesta ulang tahun lebih megah daripada sekolah desa.

Liburan lebih jauh daripada harapan petani.

Dan lemari pakaianku lebih penuh daripada gudang pangan di kampung yang kekeringan.

Aku bangga...

hingga suatu hari kulihat seorang ibu menggendong anaknya di puskesmas.

Ia pulang karena obat habis.

Katanya, anggaran belum turun.

Aku terdiam.

Mungkin...

obat itu sedang berubah menjadi gelang di tanganku.

Aku melihat jalan berlubang.

Katanya, proyeknya selesai.

Mungkin...

aspalnya sedang menjelma menjadi marmer di ruang tamuku.

Aku melihat sekolah retak.

Katanya, dana sudah cair.

Mungkin...

tembok yang roboh itu sedang berdiri tegak menjadi pagar rumahku.

Aku bangga jadi istri koruptor.

Tetapi setiap kilau emas mulai memantulkan wajah-wajah yang tak pernah kuundang.

Seorang ibu yang membagi sebutir telur untuk tiga anaknya.

Seorang ayah yang pulang membawa tangan kosong.

Seorang nenek yang tetap berjualan meski lututnya gemetar.

Lalu aku bertanya kepada cermin.

Mengapa semua kemewahan ini terasa begitu berat?

Cermin itu tidak menjawab.

Ia hanya memperlihatkan bahwa ada air mata yang tak tampak di balik setiap perhiasan.

Dan sejak hari itu...

aku tak lagi bangga.

Sebab kemewahan yang dibangun di atas hak orang lain,

tak pernah benar-benar bisa disebut kebahagiaan.



Makasar, 02082026