Essai Mahar Prastowo
Di ruang megah Grand Hyatt Kuala Lumpur, Selasa pagi itu, toga-toga akademik berbaris rapi. Musik prosesi mengalun pelan. Para wisudawan menunggu giliran. Di antara mereka, ada seorang yang tidak sekadar datang untuk menerima ijazah.
Ia berdiri untuk menyampaikan sebuah gagasan.
Namanya Prof. Dr. K.P.H. Katno Hadi, S.E., M.M., M.H. Hari itu, 4 Agustus 2026, ASEAN University International (AUI) Malaysia mengukuhkannya sebagai Guru Besar dalam rangkaian Official Graduation Ceremony Tahun Akademik 2025/2026.
Tetapi, sebagaimana lazimnya dunia akademik yang menghargai ide lebih tinggi daripada seremoni, momen paling penting justru terjadi ketika Katno Hadi menyampaikan orasi ilmiahnya.
Judulnya panjang.
"Integrated Tourism Economic Resilience Framework (ITERF): Paradigma Baru Kepariwisataan untuk Membangun Ketahanan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia."
Di balik judul akademik itu, tersimpan sebuah pertanyaan sederhana.
Mengapa pariwisata Indonesia yang begitu kaya belum sepenuhnya menjadi mesin ketahanan ekonomi masyarakat?
Selama ini, pariwisata sering diukur dari angka.
Berapa wisatawan datang.
Berapa hotel terisi.
Berapa devisa masuk.
Berapa lama turis menginap.
Katno Hadi mencoba menggeser cara pandang itu.
Baginya, ukuran keberhasilan pariwisata bukan semata statistik kunjungan, melainkan seberapa jauh manfaat ekonomi benar-benar menetap di desa, menghidupi pelaku UMKM, menggerakkan koperasi, membuka lapangan kerja, menjaga budaya lokal, sekaligus memperkuat daya tahan masyarakat ketika krisis datang.
Karena itulah ia memperkenalkan Integrated Tourism Economic Resilience Framework (ITERF).
Sebuah kerangka yang menghubungkan pembangunan pariwisata dengan empat fondasi utama: ketahanan ekonomi, tata kelola yang baik, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan sosial.
Dalam konsep itu, destinasi wisata bukan hanya tempat orang berlibur.
Ia menjadi ekosistem.
Di dalamnya ada petani, nelayan, pengrajin, pelaku ekonomi kreatif, transportasi lokal, hingga komunitas budaya yang seluruhnya memperoleh nilai tambah.
Gagasan itu tidak lahir dalam semalam.
Setahun sebelumnya, pada 2025, Katno Hadi menyelesaikan pendidikan doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Borobudur dengan predikat Sangat Memuaskan.
Disertasinya mengkaji pengembangan sektor pariwisata sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Solo Raya.
Solo dipilih bukan tanpa alasan.
Kawasan itu merupakan contoh bagaimana kota budaya dapat berkembang melalui perpaduan antara sejarah, ekonomi kreatif, kuliner, dan konektivitas wilayah.
Dari penelitian itulah kemudian berkembang gagasan ITERF yang dibawanya hingga forum internasional di Malaysia.
Ia mencoba menjawab tantangan yang kini dihadapi banyak negara berkembang: bagaimana pariwisata tetap tumbuh, tetapi manfaat ekonominya tidak bocor keluar daerah.
Yang menarik, Katno Hadi bukan akademisi yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di ruang kuliah.
Ia juga dikenal sebagai praktisi organisasi.
Sebagai Ketua Umum Senkom Mitra Polri, ia memimpin organisasi yang selama bertahun-tahun menjadi mitra strategis Polri dalam tiga bidang utama: Kamtibmas, Kebencanaan, dan Bela Negara.
Tiga klaster itu bukan sekadar slogan organisasi.
Di lapangan, ribuan anggota Senkom terlibat dalam pengamanan kegiatan masyarakat, membantu operasi pencarian dan pertolongan bersama Basarnas, mendukung penanganan bencana bersama BNPB, serta ikut memperkuat pendidikan kebangsaan di berbagai daerah.
Di bawah kepemimpinannya, organisasi juga mempercepat transformasi digital melalui pengembangan Senkom Digital Communication (SDC), sebuah sistem komunikasi yang memperkuat koordinasi internal dan respons cepat terhadap situasi darurat.
Kolaborasi Senkom dengan berbagai institusi negara, mulai dari Polri, Kementerian Pertahanan, Basarnas hingga BNPB, semakin diperluas sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat sipil dalam menjaga stabilitas nasional.
Tidak banyak orang yang mampu menjembatani tiga dunia sekaligus.
Dunia akademik.
Dunia bisnis.
Dan dunia pengabdian masyarakat.
Katno Hadi mencoba berada di persimpangan ketiganya.
Pengukuhan Guru Besar ini menjadi pengakuan atas perjalanan tersebut.
Dalam surat undangan resmi tertanggal 17 Juli 2026, Presiden ASEAN University International, Prof. Dr. Suhendar, S.E., S.H., LL.M., menyebut pencapaian itu sebagai tonggak penting yang mencerminkan dedikasi, kepemimpinan, dan kontribusi nyata di bidang akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.
Pengakuan itu tentu bukan akhir perjalanan.
Justru menjadi awal dari tanggung jawab akademik yang lebih besar.
Karena gelar profesor bukan sekadar kehormatan.
Ia adalah janji untuk terus menghasilkan gagasan yang memberi manfaat bagi publik.
Indonesia sedang memasuki fase ketika ketahanan ekonomi tidak lagi hanya ditentukan oleh industri besar.
Desa-desa wisata tumbuh.
Ekonomi kreatif berkembang.
Digitalisasi memperpendek rantai distribusi.
Pariwisata kini menjadi salah satu sektor strategis yang mampu menggerakkan ekonomi nasional secara inklusif. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan sektor ini terus diposisikan sebagai salah satu motor penciptaan lapangan kerja, penggerak UMKM, sekaligus penghasil devisa yang memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor lain, mulai dari transportasi, kuliner, hingga industri kreatif.
Dalam konteks itulah ITERF menemukan relevansinya.
Ia menawarkan cara berpikir bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat bertahan menghadapi perubahan ekonomi, bencana, maupun krisis global.
Ketika prosesi akademik di Grand Hyatt Kuala Lumpur berakhir, para tamu mungkin mengingat toga, medali, dan tepuk tangan.
Namun, sejarah sering kali lebih lama mengingat sebuah gagasan daripada sebuah seremoni.
Karena sebuah gelar akan selesai diucapkan.
Tetapi sebuah pemikiran—jika terus diuji, dikembangkan, dan diterapkan—dapat hidup jauh melampaui usia pemiliknya.
Mungkin itulah makna terdalam dari pengukuhan Guru Besar yang dijalani Katno Hadi.
Bukan sekadar mencapai puncak akademik.
Melainkan mengubah pengalaman panjang di dunia organisasi, penelitian, dan pengabdian menjadi ilmu yang dapat menggerakkan masyarakat.
Dan di situlah perjalanan seorang profesor sesungguhnya baru dimulai.
*

0 Komentar