Refleksi Kemerdekaan bagi Kalangan Bawah


Oleh: Kasion Hadi


Agustus selalu datang dengan bunyi yang hampir sama: bendera dikibarkan, lagu kebangsaan diputar, lomba panjat pinang disiapkan, anak-anak berlarian dengan wajah gembira. Merah putih memenuhi gang-gang, kantor-kantor, sekolah, sampai halaman rumah yang cat pagarnya sudah pudar. Negeri ini tampak sedang percaya diri. Sangat percaya diri.

Lalu ada seorang tua di kampung itu. Berdiri tegak. Mengangkat tangan hormat ke bendera. Kulitnya keriput, badannya sudah tak setegap dulu. Tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan: hormat, harap, dan mungkin juga lelah yang panjang. 

Karena di situlah pertanyaan sesungguhnya muncul: merdeka itu untuk siapa?

Bagi kalangan atas, kemerdekaan bisa berarti peluang. Bisa berarti akses. Bisa berarti jalan pintas yang sah. Tetapi bagi orang kecil, kemerdekaan lebih sederhana. Bahkan sangat sederhana. Merdeka adalah bisa makan tanpa bingung besok mau makan apa. Merdeka adalah bisa kerja tanpa takut upah dipotong seenaknya. Merdeka adalah bisa sakit dan tetap punya harapan berobat. Merdeka adalah saat anak bisa sekolah tanpa membuat orang tua berutang dulu sana sini.

Tabe’, kalau kata orang Mamuju, kadang yang kecil itu tidak minta banyak. Tidak neko-neko. Tidak pula minta langit turun ke tanah. Mereka cuma mau hidup tenang. Hidup yang tidak dikejar-kejar tagihan. Hidup yang tidak terus digencet harga beras, harga minyak, ongkos angkutan, biaya sekolah, dan urusan administrasi yang makin hari makin berlapis-lapis.

Di atas kertas, kemerdekaan sudah lama selesai. Dalam pidato, kita memang sudah maju. Dalam spanduk, kita sering paling gagah. Tetapi dalam hidup sehari-hari, kemerdekaan masih sering terasa seperti janji yang belum sampai ke rumah-rumah reyot, ke sawah yang sempit, ke perahu nelayan yang mesinnya sering batuk-batuk, ke buruh yang pulang malam dengan kantong tetap tipis, ke ibu-ibu yang menghitung uang belanja sambil menghela napas panjang.

Kalau negara hadir, seharusnya negara memudahkan. Bukan menambah beban. Birokrasi mestinya tangan yang menarik rakyat naik, bukan tembok yang membuat mereka terpental. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Surat ini kurang. Fotokopi itu belum. Tanda tangan itu masih kurang satu. Datang lagi besok. Kembali minggu depan. Sementara orang kecil harus memilih: ikut aturan atau tetap hidup.

Di titik itulah kemerdekaan kehilangan makna paling dasarnya. Sebab merdeka bukan cuma bebas dari penjajah. Merdeka juga berarti bebas dari ketakutan yang tidak perlu. Bebas dari sistem yang berbelit. Bebas dari rasa tidak berdaya ketika berhadapan dengan meja pelayanan. Bebas dari perlakuan yang membuat warga merasa kecil di negeri sendiri.

Mamuju punya cara sendiri untuk menyebut hal-hal yang terasa dekat dengan hati. Ada rasa pasrah, ada rasa sabar, ada rasa “macca-macca” menahan diri. Tapi rakyat kecil tidak boleh terus-menerus diminta sabar tanpa perbaikan. Sabar bukan alasan untuk membiarkan ketidakadilan menjadi kebiasaan. Sabar bukan pengganti kebijakan. Sabar bukan solusi untuk harga kebutuhan yang terus naik dan pelayanan publik yang tetap lambat.

Kemerdekaan yang benar itu mestinya terasa di dapur. Terasa di sekolah. Terasa di puskesmas. Terasa di pasar. Terasa di kantor kelurahan, kecamatan, kabupaten, sampai kementerian. Terasa ketika warga datang membawa urusan, lalu pulang dengan hati lega, bukan kepala pening. Terasa ketika negara tidak menanyakan terlalu banyak, tetapi memberi terlalu sedikit.

Dan kita harus jujur: masih banyak warga yang belum merasakan itu.

Mereka memang ikut upacara. Mereka ikut hormat saat bendera naik. Mereka hafal lagu perjuangan. Mereka bangga menjadi Indonesia. Tetapi kebanggaan tidak boleh berhenti sebagai upacara. Kebanggaan harus turun menjadi kebijakan. Harus berubah menjadi keberpihakan. Harus hadir sebagai perlindungan. Harus menjelma menjadi layanan yang adil.

Orang kecil tidak sedang menolak semangat kemerdekaan. Tidak. Mereka justru penjaga paling setia dari semangat itu. Mereka yang bangun paling pagi. Mereka yang paling sering menahan lapar. Mereka yang paling sabar menghadapi hidup. Mereka yang tetap mengibarkan bendera meski rumahnya sederhana. Mereka yang paling tahu arti bertahan.

Karena itu, kalau setiap Agustus kita ingin bicara kemerdekaan, jangan hanya bicara pahlawan yang gugur di medan perang. Bicara juga pahlawan yang masih berjuang di pasar, di sawah, di pelabuhan, di jalan, di kantor-kantor kecil, di rumah kontrakan, dan di sudut-sudut kampung. Mereka ini tidak minta dipuja. Mereka hanya ingin negara tidak lupa.

Sebab kemerdekaan bukan piala yang dipajang tiap tahun. Kemerdekaan adalah kerja yang terus-menerus. Kemerdekaan adalah janji yang harus dibayar setiap hari. Dan ukuran paling jujur dari sebuah kemerdekaan bukanlah megahnya upacara, melainkan tenangnya hidup orang-orang yang paling bawah.

Kalau orang kecil masih takut besok makan apa, kalau mereka masih kesulitan mengakses hak dasarnya, kalau mereka masih harus menunduk berulang kali di hadapan birokrasi, maka kemerdekaan belum benar-benar sampai.

Tabe’, bangsa ini memang merdeka. Tetapi kemerdekaan yang paling hakiki baru akan terasa ketika yang paling bawah pun bisa berdiri tegak, tenang, dan bermartabat. Seperti orang tua dalam foto itu: sederhana, diam, tetapi hormatnya penuh. Bukan karena hidupnya mudah. Melainkan karena ia masih percaya, suatu hari, merah putih benar-benar akan menjadi milik semua orang.



Mamuju, Sulawesi Barat 05 Agustus 2026