(Untuk Guru, Pelajar, Mahasiswa, dan Semua yang Percaya Bahwa Pendidikan Adalah Hak)


Puisi Mahar Prastowo 


Mereka berkata,

pendidikan adalah hak.

Negara menulisnya di dalam konstitusi.

Guru mengajarkannya di papan tulis.

Anak-anak menghafalnya di ruang kelas.

Tetapi...

mengapa masih banyak atap sekolah yang bocor ketika hujan?

Mengapa dinding kelas retak lebih dulu daripada mimpi murid-muridnya?

Mengapa perpustakaan lebih banyak debu daripada buku?

Mengapa laboratorium lebih sering dikunci daripada dipakai?

Barangkali...

yang dicuri bukan sekadar uang.

Yang dicuri adalah masa depan.

Dana BOS...

yang seharusnya menghadirkan buku, alat tulis, laboratorium, internet sekolah, perpustakaan, dan ruang belajar yang layak.

Namun...

mengapa masih ada murid yang menerima buku dengan nama yang sudah dicoret?

Nama kakak kelas.

Nama angkatan sebelumnya.

Nama yang berganti-ganti,

tetapi bukunya tetap buku yang sama.

Sampulnya kusam.

Halamannya lepas.

Sudut-sudutnya robek.

Coretan demi coretan menjadi saksi,

bahwa buku itu telah berpindah tangan berulang kali.

Satu buku.

Untuk sepuluh anak.

Untuk dua puluh anak.

Untuk puluhan angkatan.

Padahal...

setiap tahun anggaran pendidikan kembali disahkan.

Setiap tahun laporan keuangan kembali dinyatakan selesai.

Setiap tahun anak-anak baru datang,

membawa tas baru,

tetapi buku lama.

Jika memang buku itu masih layak, katakanlah dengan jujur.

Tetapi jika anggaran pengadaannya tetap berjalan,

maka setiap rupiah berhak dipertanggungjawabkan.

Dana rehabilitasi sekolah...

yang seharusnya menguatkan tiang kelas,

mengapa masih ada sekolah yang roboh sebelum sempat menyelesaikan pelajaran?

Dana perpustakaan...

mengapa rak-raknya tetap kosong?

Dana laboratorium...

mengapa alatnya hanya ada di dalam proposal?

Dana komputer...

mengapa murid masih bergantian menatap layar yang usianya lebih tua daripada mereka?

Dana pelatihan guru...

mengapa banyak guru masih harus belajar sendiri?

Dana beasiswa...

mengapa masih ada anak-anak cerdas yang hampir putus sekolah?

Setiap rupiah yang hilang

adalah satu buku yang tak pernah dibaca.

Satu meja yang tak pernah dibuat.

Satu kursi yang tak pernah diduduki.

Satu perpustakaan yang tetap sunyi.

Satu laboratorium yang tetap kosong.

Satu sekolah yang menunggu roboh.

Satu mimpi yang dipaksa berhenti.

Lalu mereka berkata,

"Belajarlah yang rajin, agar masa depanmu cerah."

Bagaimana mungkin?

Jika cahaya yang seharusnya menerangi ruang kelas,

lebih dulu dipadamkan oleh keserakahan.

Wahai guru...

engkau mengajar kejujuran.

Ajarkan pula bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum.

Ia adalah perampokan atas masa depan murid-muridmu.

Wahai mahasiswa...

bukankah sejarah negeri ini pernah berubah oleh langkah kakimu?

Turunlah...

bukan membawa batu.

Bukan membawa api.

Turunlah...

membawa konstitusi.

Membawa data.

Membawa keberanian.

Tagih setiap rupiah anggaran pendidikan.

Awasi setiap proyek.

Pertanyakan setiap laporan.

Jangan biarkan masa depan dijual atas nama administrasi.

Wahai pelajar...

suaramu mungkin kecil.

Tetapi ribuan suara kecil

dapat menjadi gema

yang mengguncang tembok-tembok ketidakpedulian.

Karena pendidikan bukan hadiah.

Ia adalah hak.

Hak yang dijamin oleh negeri.

Hak yang tidak boleh hilang di balik meja rapat,

di balik stempel,

di balik tanda tangan,

atau di balik rekening siapa pun.

Dan kelak...

ketika anak-anak bertanya,

"Mengapa sekolah kami pernah hampir roboh?"

Jangan biarkan sejarah menjawab,

"Karena orang dewasa lebih sibuk menghitung uang daripada menjaga masa depan."

Sebab...

yang mereka curi

bukan hanya uang negara.

Mereka telah mencuri

halaman pertama

dari masa depan

Indonesia.




Makasar, 02082026