Essai Mahar Prastowo
Bulan puasa selalu punya suara yang paling ditunggu.
Bukan suara klakson.
Bukan dering notifikasi.
Bukan pula derap langkah pulang kerja.
Ia adalah suara yang membelah langit senja: adzan magrib.
Suara itu datang pelan, lalu memenuhi dada. Dari menara masjid kampung, dari mushala kecil di ujung gang, dari speaker masjid raya di tengah kota. Kadang terdengar sumbang, kadang merdu. Tapi selalu terasa sama: melegakan.
Di situlah puasa menemukan ujungnya.
*
Anak-Anak dan Detik-Detik yang Panjang
Di pelosok desa, anak-anak mengukur waktu dengan cara mereka sendiri.
Ada yang main bola sampai debu menempel di kening. Ada yang bermain petak umpet di antara pohon jati. Ada yang duduk di teras sambil memandangi jalan, menunggu penjual kolak lewat.
Di beberapa kampung di Jawa, bedug masih ditabuh sebelum adzan. Dentumannya seperti memberi aba-aba: bersiaplah, sebentar lagi kemenangan kecil itu datang.
Anak-anak paling riuh ketika bedug dipukul terlalu keras. Mereka tertawa. Lari ke rumah. Berebut gelas. Seolah-olah seharian mereka bukan sedang belajar menahan diri.
Di kota, wajahnya berbeda. Anak-anak menunggu magrib sambil menggenggam gawai. Ada yang ikut pesantren kilat. Ada yang mengikuti lomba adzan. Ada pula yang membantu orang tua menyiapkan takjil untuk dibagikan di pinggir jalan.
Di sudut-sudut Jakarta, Surabaya, atau Makassar, remaja berdiri berjejer membagikan air mineral dan kurma kepada pengendara. Mereka tersenyum. Lelah tak terasa.
Menunggu magrib menjadi ruang belajar yang sunyi: tentang sabar, tentang berbagi.
*
Orang Dewasa dan Ujian Senja
Bagi orang dewasa, waktu menjelang magrib adalah ujian paling berat.
Perut mulai berontak. Kepala terasa ringan. Emosi lebih mudah naik. Di kantor, jarum jam seperti bergerak lambat. Di pasar, pedagang menatap jam dinding lebih sering dari biasanya.
Ada ibu-ibu yang masih sibuk di dapur. Aroma gorengan memenuhi rumah. Anak-anak mondar-mandir, bertanya: “Sudah magrib belum?”
Ada sopir ojek online yang memilih berhenti sejenak di masjid. Duduk. Menghela napas. Menunggu adzan sambil membaca beberapa ayat.
Ada pegawai yang terjebak macet. Ia menyalakan radio, berharap adzan terdengar dari siaran lokal.
Di kota besar, suara adzan sering kalah oleh kebisingan. Tapi orang yang berpuasa tetap bisa merasakannya. Ada getar halus di dada, seperti alarm batin yang berbunyi tepat waktu.
*
Dua Kebahagiaan yang Dijanjikan
Rasul Muhammad SAW pernah bersabda:
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kebahagiaan pertama itu sederhana.
Segelas air putih terasa seperti anugerah. Kurma terasa lebih manis dari biasanya. Bahkan nasi hangat dan sayur bening pun terasa istimewa.
Bukan karena menunya berubah. Tapi karena cara kita memakannya berubah.
Setelah seharian menahan lapar, haus, dan keinginan, satu teguk air menjadi perayaan kecil. Kita belajar bahwa bahagia tak harus mahal.
Kebahagiaan kedua—yang dijanjikan kelak—lebih dalam lagi. Ia adalah balasan dari kesabaran yang tak terlihat. Dari niat yang tak selalu dipuji.
*
Magrib sebagai Titik Temu
Adzan magrib bukan sekadar penanda waktu.
Ia adalah titik temu.
Titik temu antara sabar dan syukur.
Antara lapar dan nikmat.
Antara dunia yang riuh dan hati yang teduh.
Di desa, orang-orang berkumpul di surau. Di kota, keluarga duduk melingkar di meja makan. Di perantauan, seseorang berbuka sendirian—tapi tetap merasa terhubung dengan jutaan muslim lain yang meneguk air di detik yang hampir sama.
Langit senja selalu berubah warna setiap hari. Tapi rasa saat adzan magrib berkumandang selalu sama: lega.
Itulah mungkin sebabnya, setiap Ramadan kita selalu merindukannya lagi.
*
Dan ketika suara itu benar-benar datang, kita menengadahkan tangan. Pelan. Dengan suara yang sering kali lirih namun penuh harap:
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthartu.
Dzahabadh-dhoma’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.
Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.
Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah.
Begitulah setiap senja di bulan puasa.
Sederhana.
Tapi selalu terasa seperti kemenangan.
Dan adzan magrib di bulan ramadhan selalu lebih istimewa, paling dirindukan semua sho'im.
#
Poli Radiodiagnostic RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, 2 Ramadhan 1447H/19 Feb 2026

2 Komentar
Alhamdulillah..smg Allah menerima ibadah Ramadhan kita
BalasHapusJuga Pak Anto setelah turun dari surau bergegas pulang utk menggiring kerbaunya ke sungai,mengajak jalan2 hewan kesayangan sambil ngabuburit.
BalasHapus