|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Menjadikan Bank Bumiputera sebagai Sahabat Keluarga

Direktur Utama Bank Bumiputera Tbk., Winny Erwinda Hassan


Tidak banyak bank yang bisa bertahan dalam badai krisis perbankan tahun 1997-1998 lalu. Namun berbekal komitmen dari pemegang saham dan kekompakan tim akhirnya Bank Bumiputera berhasil melalui badai krisis.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, 16 Juni 2002 yang lalu Bank Bumiputera resmi mencatatkan diri sebagai emiten di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Namun begitu, langkah membuka diri sebagai perusahaan terbuka bukan langkah coba-coba, adu nasib atau pun berdasarkan sikap nekat. Karena harga saham puluhan industri perbankan di BEJ tidak banyak yang memiliki harga wajar.

Menjadi bank terbuka merupakan bagian dari bussines plan yang sudah dicanangkan para pemegang saham. “Saya hanya melanjutkan fisi dan misi dari para founder Bank Bumiputera,” ungkap Direktur Utama Bank Bumiputera Tbk. Winny Erwindia Hassan.

Namun begitu, setahun menjelang IPO, tepatnya sejak menjabat sebagai direktur utama, pada 1 April 2001, Winny coba mempertajam fisi bank tersebut sebagai bank sahabat keluarga. Bank “sahabat keluarga” ini artinya menyediakan jasa keuangan yang lengkap bagi keluarga.

Bahkan ke depan Winny mengharapkan semua produk Bank Bumiputera akan selalu memenuhi semua ‘hasrat’ dan kebutuhan keluarga. Dari balita yang belum bersekolah, dengan asuransi pendidikan, lalu berbagai produk pembiayaan seperti KAK Vila, yaitu fasilitas kredit kepemilikan rumah sampai dengan Bung AMAN, sebagai tabungan yang akan dituai pada hari tua kelak.

Kalau founder Bank Bumiputera berasal dari Asuransi Bumiputera, maka diperlukan produk perbankan untuk melengkapinya. Karenanya semua produk Bank Bumiputera, selalu dikawinkan dengan produk asuransi.

“Produk kita selalu dikemas antara produk bank dengan produk asuransi. Seperti produk Bung Hari (tabungan berbunga harian), yang di dalamnya, kalau nasabah memiliki saldo Rp 200 juta, dalam tiga bulan, maka nasabah akan memiliki saldo seratus ribu rupiah setiap hari kalau yang bersangkutan dirawat inap di rumah sakit.

Pendirian Bank Bumiputera sebenarnya sudah mulai diniatkan pemilik Asuransi Bumiputera pada tahun 1990-an saat terjadi apa yang dikenal dengan pasca-Paket Oktober (pakto '88), yang mempermudah pendirian bank.

Asuransi Bumiputera melihat jauh ke depan bahwa jasa keuangan yang ditawarkan kepada keluarga atau individu itu tidak cukup kalau hanya asuransi. Karenanya akan lebih lengkap kalau ditambahkan dengan produk jasa keuangan yang lainnya melalui pendirian bank.

Mulanya kalau hanya dengan asuransi, pertimbangan founder, kontak antara nasabah dengan perusahaan hanya terjadi pada saat menutup asuransi atau mungkin memberikan penjelasan kepada nasabah, atau pada waktu membayar premi saja.

Pertimbangan akan meningkatnya kebutuhan jasa keuangan untuk masa depan, maka muncullah pemikiran dari kelompok Bumiputera untuk membentuk suatu bank, sehingga terbentuklah Bank Bumiputera ini pada tahun 1990. Sebenarnya pada akhir 1989 sudah terbentuk badan hukumnya berupa PT, sedangkan operasinal mulai berjalan sejak 12 Januari 1990.

Awal beroperasi, BP mengalami masa-masa yang kurang baik karena mungkin dalam me-manage-nya kurang berhati-hati. Sehingga, pada saat itu BP membutuhkan suatu asistensi, karena tingkat permasalahannya sangatlah rumit karena munculnya kredit bermasalah dan SDM, yang cukup kompleks.

Masa Sulit

Pada saat itu diundanglah Bank Niaga untuk memberikan technical assistance. Meski memiliki permasalahan yang kompleks, pada saat itu BP masih kecil, sehingga untuk membenahinya juga tidak memakan waktu yang lama.

Sebenarnya pada saat pertama beroperasi, BP sempat memberikan kesan positif. Ada tim bank asing yang diajak atau pemegang saham Bumiputera. Bahkan bank asing yang ditunjuk tersebut cukup memiliki reputasi yang baik serta dikenal profesionalismenya.

“Pada saat itu belum ada bank yang menggunakan ATM (Anjungan Tunai Mandiri alias Automatic Teller Machine - Red), tetapi BP sudah dengan auto cash, saya kira, BP pada saat itu termasuk ATM yang pertama pada tahun 1990,” ujar wanita yang pernah mengenyam kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini.

Sayangnya kesan positif ini tidak diimbangi dengan kinerja manajemen yang baik, karena tidak mempertimbangkan kemampuan dari bank. Kredit yang seharusnya disalurkan ke sektor ritel, ternyata banyak diberikan kepada nonritel atau korporasi.
Hal ini yang menyebabkan kesulitan-kesulitan, karena struktur kredit yang keliru.

Pada saat tim asistensi yang pertama dari Bank Niaga masuk, pembenahan hal-hal yang seperti ini, sudah dimulai tetapi mungkin belum optimal. Dan, pada saat itu Winny menjadi salah seorang anggota tim asistensi dari Bank Niaga.

Tetapi pada saat itu, naluri bankir Winny mengatakan, kalau dengan asistensi saja kayaknya tidak cukup menyehatkan BP, meskipun masih bisa berjalan. “Yang dibutuhkan BP adalah suntikan modal. Sedangkan pada saat itu Bank Niaga bukan dalam posisi untuk melakukan injeksi,” ungkap Winny.

Padahal dari segi produknya, pada saat itu sudah cukup menarik bila dibandingkan dengan produk di bank lain. Sudah ada 'Bung Hari', 'Bung Depo', 'KAK Villa'. Namun pada saat itu kelihatannya ada sedikit persoalan, karena kredit tidak diberikan sesuai dengan kemampuan manajemen.

Dana Segar

Situasi ‘krisis” di BP berlangsung kurang lebih selama dua tahun, sekitar tahun 1994-1995. Dan, kebetulan Robby Djohan, yang pada saat pensiun dari Bank Niaga selaku direktur utama, menginginkan tidak sekadar memberikan asistensi kepada BP, tetapi juga melakukan penyertaan.

Mulai tahun 1995 penambahan modal mulai dilakukan oleh Robby Djohan. Sebelumnya 100 persen kepemilikan BP adalah Asuransi Bumiputera, kemudian Robby masuk melalui CUCD (Citra Usaha Cipta Dana) sebesar 50 persen.

CUCD ini pada saat itu sebagai investment company, yang menyaratkan bahwa private placement, hendaknya di-follow up dengan go public. Jadi go public merupakan rangkaian rencana yang cukup panjang.

Untuk dan atas nama CUCD, Robby melakukan actions dengan cara menyuntikkan modal, kemudian mengadakan perubahan di tingkat direksi. Sebelumnya modal disetor BP sebesar Rp 75 miliar, kemudian disuntikkan modal baru oleh CUCD sebesar Rp 75 mililar menjadi Rp 150 miliar. “Kemarin dengan go public bertambah sebesar Rp 50 miliar sehingga sekarang modal disetor Rp 200 miliar, tetapi modal dasar Rp 500 miliar,” ungkap Winny.

Selain itu pada awal krisis, tahun 1997 Winny mulai bergabung kembali dengan BP. Karena sudah disuntikkan modal, Winny merasa pada saat itu sudah siap untuk melakukan pengembangan-pengembangan, melakukan pembukaan beberapa kantor, menerapkan beberapa program marketing.

“Namun, dalam suatu rapat direksi, (pada awal krisis 1997) Pak Robby mengatakan BP harus segera melakukan penagihan kepada debitor-debitor besar yang jaminannya kurang kuat. Padahal pada saat itu kami menganggap, krisis akan segera berlalu,” kenang Winny.

Dengan instruksi seperti itu di tingkat direksi ke bawah mempertanyakan, mengapa itu harus dilakukan? Dengan keadaan yang tidak parah kok diminta untuk menagih?

“Namun, belakangan baru terbukti kalau Pak Robby melihat ke depan sangat tajam. Dia mengatakan sudah semua jaminan yang kurang, lemah, minta tambahan, tagih lagi.
Meski mempertanyakan, semua karyawan BP tetap patuh,” kata Winny.

Selain itu, kebijakan yang diambil manajemen adalah penghentian pengembangan kantor cabang, pengembangan produk, nasabah, semuanya dihentikan. Pada saat itu para nasabah meskipun mengeluh tetapi tidak keberatan untuk menambahkan jaminan.

Setelah itu terjadilah penutupan bank, Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU), Bank Take Over (BTO), dan sebagainya. Pada saat itu terjadi BP memiliki kecukupan dana sehingga dalam pemetaan yang dilakukan Bank Indonesia (BI), BP masuk dalam Bank Kategori A. Artinya, Bank Bumiputera memiliki kecukupan modal sehingga tidak perlu direkapitalisasi.

Bahkan Bank Bumiputera pada saat itu tidak pernah menolak kalau ada yang meminta pinjaman melalui inter-bank, atau money market. “Tetapi kita pasang mata buka telinga agar tidak salah dalam memberikan pinjaman,” kata Winny.

Menurut Winny, pada saat itu memang banyak bank yang menawarkan tingkat suku bunga yang luar biasa, sampai 50 sampai 100 persen dalam semalam. Tetapi BP malahan mengenakan bunga yang wajar kepada bank-bank.

Dari sisi kinerja, BP tidaklah mengecewakan. Bank pemilik aset Rp 2,055 triliun ini pada semester I 2002 membubuhkan keuntungan sebesar Rp 9,336 miliar. Sedangkan posisi dana masyarakat pada periode yang sama sebesar hampir mencapai Rp 2 triliun, sedangakan Capital Adequacy Ratio (CAR) 12,55 persen. Bahkan kredit yang terhitung macet jumlahnya terbilang cukup kecil, hanya sebesar 3,82 persen dari kredit yang disalurkan. (SH-SA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar