Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Media Management Issue, Monitoring Media >> mahar.prastowo@gmail.com

15 Istilah Seks yang Patut Diketahui


Pernahkan saat hang out dengan teman-teman dan membahas tentang masalah seputar seks dan pola bercinta, anda tak mengetahui apa yang mereka bicarakan atau merasa tak familiar dengan istilah yang mereka lontarkan ? Bahkan mungkin saat anda ngobrol dengan kekasih dan dia meminta sesuatu dengan istilah seks yang terasa asing bagi anda. Mau bertanya tapi malu ditertawain dan dibilang telmi? So, don't worry, berikut ini ada beberapa istilah seks yang patut anda ketahui.

1. Anilingus

Istilah ini berhubungan dengan oral sex di seputar anus. Namun tetap harus anda ingat anilingus sangat beresiko, karena berhubungan seks melalui anus sangat rentan terhadap bakteri dan mudah menyebarkan infeksi.

2. Barebacking

Barebacking melibatkan sexual penetration tanpa menggunakan alat pengaman (kondom). Istilah ini biasanya berhubungan dengan hubungan seks anal dan vaginal seks.

3. BDSM

BDSM adalah acronim dari Bondage and Discipline, Sadism and Masochism. Istilah ini berkaitan dengan penggabungan praktek seksual yang melibatkan rasa sakit dan unsur-unsur kekerasan saat berhubungan seks, melukai pasangan atau diri sendiri untuk mencapai kepuasan saat berhubungan seks.

4. Bukkake

Bukkake berhubungan dengan "facial," istilah ini berkait dengan ejakulasi pada wajah wanita. Bukkake merupakan tindakan dimana pria berejakulasi di wajah pasangannya, aksi seperti ini banyak kita jumpai di film-film blue produksi Jepang.

5. Dental dam

Istilah ini biasanya sering kita jumpai pada oral seks wanita, sebuah dental dam biasanya terbuat dari sheer latex dan digunakan sebagai sebuah pelindung seks cunnilingus. Cunnilingus ialah memberikan perangsangan pada alat kelamin wanita dengan menggunakan lidah pada Miss. V.

6. Dirty Sanchez

Istilah yang merujuk pada praktek seks yang jarang sekali bisa membuat

seseorang berselera untuk melakukannya.

- Berhubungan seks dimana seorang wanita mengoral organ seks pasangannya setelah terlebih dahulu melakukan anal seks.

- Melap Mr. P atau tangan anda dengan 'miliiknya' setelah sebelumnya dimasukkan di anusnya. Seperti halnya anilingus, Dirty Sanchez beresiko tinggi dan dengan mudah menyebarkan infeksi karena bakteri yang terdapat di anus.

7. Edgeplay

Edgeplay, sesuatu yang diasumsikan sebagi sebuah perilaku seksual yang berbahaya dan beresiko.

8. Felching

Felching yaitu ejakulasi secara tiba-tiba ke anus wanita dan menghisap dan menjilat air mani yang keluar.

9. Frottage

Sebuah istilah yang mewakili perilaku seksual yang lebih halus dibanding perilaku seksual sebelumnya. Frottage merujuk pada sebuah gerakan saling menggosok untuk meraih kenimatan seksual tanpa sekalipun melakukan penetrasi. Frottage juga disebut dry humping.

10. Pearl necklace

Istilah yang diberikan saat seorang pria berejakulasi disekitar atau didekat leher wanita dan membentuknya menyerupai kalung mutiara pearl necklace.

11. Pudendum (pudenda)

Istilah yang digunakan untuk menyebut organ genital luar wanita: vulva

12. Queef

Queef berhubungan dengan kentut pada vagina. Kadang, saat Mr. P menjelajah keluar masuk Ms V secara berkala, udara akan terjebak dalam dinding Ms. V yang memicu udara keluar, bisanya dikenal dengan kentut. Tak seperti model anal seks, Queef tak menyebabkan bau, dan tidak terlalu beresiko menyebarkan bakteri.

13. Shrimping

Tak semua orang menyukai atau menyertakan gaya bercinta model ini, shrimping, merujuk pada tindakan menghisap dan menjilat jari-jari kaki pasangan sebelum atau sesudah berhubungan seks. Memang tak semua pasangan menyukai hal ini, namun wanita menyukai kaki mereka disentuh, dipijat, bahkan dihisap ataupun dijilat. Beranggapan bahwa kaki mereka benar-benar bersih, para wanita mengaku jika mereka menyukai pasangan mereka

ebih memperhatikan telapak kaki, tumit maupun jari-jari kaki mereka, menggelitiknya dan membuatnya kegirangan, karena rasa sensitif pada jari-jari dan telapak kaki.

14. Smegma

Substansi yang menyerupai dadih berwarna putih yang keluar melalui kelenjar sebaceous pada Mr. P yang terkumpul dibawah kulup zakar penis priayang tak sunat. Sedikit sekali jumlah dari susbtasi tersebut yang berguna untuk penis, biasanya substansi ini terdapat pada Mr. P yang jarang dibersihkan.

15. Snowballing

Seringkali seks oral disebut sebagai bagian proses foreplay. Dimana melibatkan alat kelamin dan mulut. Seks oral bagi wanita disebut dengan cunnilingus. Cunnilingus ialah memberikan perangsangan pada alat kelamin wanita dengan menggunakan lidah pada Ms. V. Sementara seks oral bagi pria disebut dengan fellatio. Fellatio adalah memberikan perangsangan pada Mr.P dengan cara diisap, dijilat dan dicium.

Snowballing, sebuah istilah dimana wanita melakukan fellatio pada pria dan dia berejakulasi, wanita akan menjaga cairan yang keluar saat ejakulasi dalam mulutnya dan mulai menciumnya. Saat berciuman, cairan akan saling berpindah dari mulut wanita ke pria, sampai salah satu menelan cairan tersebut. (askmen/rita)

Menjadikan Bank Bumiputera sebagai Sahabat Keluarga

Direktur Utama Bank Bumiputera Tbk., Winny Erwinda Hassan


Tidak banyak bank yang bisa bertahan dalam badai krisis perbankan tahun 1997-1998 lalu. Namun berbekal komitmen dari pemegang saham dan kekompakan tim akhirnya Bank Bumiputera berhasil melalui badai krisis.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, 16 Juni 2002 yang lalu Bank Bumiputera resmi mencatatkan diri sebagai emiten di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Namun begitu, langkah membuka diri sebagai perusahaan terbuka bukan langkah coba-coba, adu nasib atau pun berdasarkan sikap nekat. Karena harga saham puluhan industri perbankan di BEJ tidak banyak yang memiliki harga wajar.

Menjadi bank terbuka merupakan bagian dari bussines plan yang sudah dicanangkan para pemegang saham. “Saya hanya melanjutkan fisi dan misi dari para founder Bank Bumiputera,” ungkap Direktur Utama Bank Bumiputera Tbk. Winny Erwindia Hassan.

Namun begitu, setahun menjelang IPO, tepatnya sejak menjabat sebagai direktur utama, pada 1 April 2001, Winny coba mempertajam fisi bank tersebut sebagai bank sahabat keluarga. Bank “sahabat keluarga” ini artinya menyediakan jasa keuangan yang lengkap bagi keluarga.

Bahkan ke depan Winny mengharapkan semua produk Bank Bumiputera akan selalu memenuhi semua ‘hasrat’ dan kebutuhan keluarga. Dari balita yang belum bersekolah, dengan asuransi pendidikan, lalu berbagai produk pembiayaan seperti KAK Vila, yaitu fasilitas kredit kepemilikan rumah sampai dengan Bung AMAN, sebagai tabungan yang akan dituai pada hari tua kelak.

Kalau founder Bank Bumiputera berasal dari Asuransi Bumiputera, maka diperlukan produk perbankan untuk melengkapinya. Karenanya semua produk Bank Bumiputera, selalu dikawinkan dengan produk asuransi.

“Produk kita selalu dikemas antara produk bank dengan produk asuransi. Seperti produk Bung Hari (tabungan berbunga harian), yang di dalamnya, kalau nasabah memiliki saldo Rp 200 juta, dalam tiga bulan, maka nasabah akan memiliki saldo seratus ribu rupiah setiap hari kalau yang bersangkutan dirawat inap di rumah sakit.

Pendirian Bank Bumiputera sebenarnya sudah mulai diniatkan pemilik Asuransi Bumiputera pada tahun 1990-an saat terjadi apa yang dikenal dengan pasca-Paket Oktober (pakto '88), yang mempermudah pendirian bank.

Asuransi Bumiputera melihat jauh ke depan bahwa jasa keuangan yang ditawarkan kepada keluarga atau individu itu tidak cukup kalau hanya asuransi. Karenanya akan lebih lengkap kalau ditambahkan dengan produk jasa keuangan yang lainnya melalui pendirian bank.

Mulanya kalau hanya dengan asuransi, pertimbangan founder, kontak antara nasabah dengan perusahaan hanya terjadi pada saat menutup asuransi atau mungkin memberikan penjelasan kepada nasabah, atau pada waktu membayar premi saja.

Pertimbangan akan meningkatnya kebutuhan jasa keuangan untuk masa depan, maka muncullah pemikiran dari kelompok Bumiputera untuk membentuk suatu bank, sehingga terbentuklah Bank Bumiputera ini pada tahun 1990. Sebenarnya pada akhir 1989 sudah terbentuk badan hukumnya berupa PT, sedangkan operasinal mulai berjalan sejak 12 Januari 1990.

Awal beroperasi, BP mengalami masa-masa yang kurang baik karena mungkin dalam me-manage-nya kurang berhati-hati. Sehingga, pada saat itu BP membutuhkan suatu asistensi, karena tingkat permasalahannya sangatlah rumit karena munculnya kredit bermasalah dan SDM, yang cukup kompleks.

Masa Sulit

Pada saat itu diundanglah Bank Niaga untuk memberikan technical assistance. Meski memiliki permasalahan yang kompleks, pada saat itu BP masih kecil, sehingga untuk membenahinya juga tidak memakan waktu yang lama.

Sebenarnya pada saat pertama beroperasi, BP sempat memberikan kesan positif. Ada tim bank asing yang diajak atau pemegang saham Bumiputera. Bahkan bank asing yang ditunjuk tersebut cukup memiliki reputasi yang baik serta dikenal profesionalismenya.

“Pada saat itu belum ada bank yang menggunakan ATM (Anjungan Tunai Mandiri alias Automatic Teller Machine - Red), tetapi BP sudah dengan auto cash, saya kira, BP pada saat itu termasuk ATM yang pertama pada tahun 1990,” ujar wanita yang pernah mengenyam kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini.

Sayangnya kesan positif ini tidak diimbangi dengan kinerja manajemen yang baik, karena tidak mempertimbangkan kemampuan dari bank. Kredit yang seharusnya disalurkan ke sektor ritel, ternyata banyak diberikan kepada nonritel atau korporasi.
Hal ini yang menyebabkan kesulitan-kesulitan, karena struktur kredit yang keliru.

Pada saat tim asistensi yang pertama dari Bank Niaga masuk, pembenahan hal-hal yang seperti ini, sudah dimulai tetapi mungkin belum optimal. Dan, pada saat itu Winny menjadi salah seorang anggota tim asistensi dari Bank Niaga.

Tetapi pada saat itu, naluri bankir Winny mengatakan, kalau dengan asistensi saja kayaknya tidak cukup menyehatkan BP, meskipun masih bisa berjalan. “Yang dibutuhkan BP adalah suntikan modal. Sedangkan pada saat itu Bank Niaga bukan dalam posisi untuk melakukan injeksi,” ungkap Winny.

Padahal dari segi produknya, pada saat itu sudah cukup menarik bila dibandingkan dengan produk di bank lain. Sudah ada 'Bung Hari', 'Bung Depo', 'KAK Villa'. Namun pada saat itu kelihatannya ada sedikit persoalan, karena kredit tidak diberikan sesuai dengan kemampuan manajemen.

Dana Segar

Situasi ‘krisis” di BP berlangsung kurang lebih selama dua tahun, sekitar tahun 1994-1995. Dan, kebetulan Robby Djohan, yang pada saat pensiun dari Bank Niaga selaku direktur utama, menginginkan tidak sekadar memberikan asistensi kepada BP, tetapi juga melakukan penyertaan.

Mulai tahun 1995 penambahan modal mulai dilakukan oleh Robby Djohan. Sebelumnya 100 persen kepemilikan BP adalah Asuransi Bumiputera, kemudian Robby masuk melalui CUCD (Citra Usaha Cipta Dana) sebesar 50 persen.

CUCD ini pada saat itu sebagai investment company, yang menyaratkan bahwa private placement, hendaknya di-follow up dengan go public. Jadi go public merupakan rangkaian rencana yang cukup panjang.

Untuk dan atas nama CUCD, Robby melakukan actions dengan cara menyuntikkan modal, kemudian mengadakan perubahan di tingkat direksi. Sebelumnya modal disetor BP sebesar Rp 75 miliar, kemudian disuntikkan modal baru oleh CUCD sebesar Rp 75 mililar menjadi Rp 150 miliar. “Kemarin dengan go public bertambah sebesar Rp 50 miliar sehingga sekarang modal disetor Rp 200 miliar, tetapi modal dasar Rp 500 miliar,” ungkap Winny.

Selain itu pada awal krisis, tahun 1997 Winny mulai bergabung kembali dengan BP. Karena sudah disuntikkan modal, Winny merasa pada saat itu sudah siap untuk melakukan pengembangan-pengembangan, melakukan pembukaan beberapa kantor, menerapkan beberapa program marketing.

“Namun, dalam suatu rapat direksi, (pada awal krisis 1997) Pak Robby mengatakan BP harus segera melakukan penagihan kepada debitor-debitor besar yang jaminannya kurang kuat. Padahal pada saat itu kami menganggap, krisis akan segera berlalu,” kenang Winny.

Dengan instruksi seperti itu di tingkat direksi ke bawah mempertanyakan, mengapa itu harus dilakukan? Dengan keadaan yang tidak parah kok diminta untuk menagih?

“Namun, belakangan baru terbukti kalau Pak Robby melihat ke depan sangat tajam. Dia mengatakan sudah semua jaminan yang kurang, lemah, minta tambahan, tagih lagi.
Meski mempertanyakan, semua karyawan BP tetap patuh,” kata Winny.

Selain itu, kebijakan yang diambil manajemen adalah penghentian pengembangan kantor cabang, pengembangan produk, nasabah, semuanya dihentikan. Pada saat itu para nasabah meskipun mengeluh tetapi tidak keberatan untuk menambahkan jaminan.

Setelah itu terjadilah penutupan bank, Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU), Bank Take Over (BTO), dan sebagainya. Pada saat itu terjadi BP memiliki kecukupan dana sehingga dalam pemetaan yang dilakukan Bank Indonesia (BI), BP masuk dalam Bank Kategori A. Artinya, Bank Bumiputera memiliki kecukupan modal sehingga tidak perlu direkapitalisasi.

Bahkan Bank Bumiputera pada saat itu tidak pernah menolak kalau ada yang meminta pinjaman melalui inter-bank, atau money market. “Tetapi kita pasang mata buka telinga agar tidak salah dalam memberikan pinjaman,” kata Winny.

Menurut Winny, pada saat itu memang banyak bank yang menawarkan tingkat suku bunga yang luar biasa, sampai 50 sampai 100 persen dalam semalam. Tetapi BP malahan mengenakan bunga yang wajar kepada bank-bank.

Dari sisi kinerja, BP tidaklah mengecewakan. Bank pemilik aset Rp 2,055 triliun ini pada semester I 2002 membubuhkan keuntungan sebesar Rp 9,336 miliar. Sedangkan posisi dana masyarakat pada periode yang sama sebesar hampir mencapai Rp 2 triliun, sedangakan Capital Adequacy Ratio (CAR) 12,55 persen. Bahkan kredit yang terhitung macet jumlahnya terbilang cukup kecil, hanya sebesar 3,82 persen dari kredit yang disalurkan. (SH-SA)

Winny Erwindia Hassan, Resepsionist Yg Jadi Dirut


Sebagai seorang bankir senior, karier Winny Erwindia Hassan, dimulai dari nol tentang perbankan. Ia bahkan mengawalinya dari seorang recepcionist
di Bank Niaga pada tahun 1974. Ia rajin bertanya, sehingga mulai terlihat kemampuannya.

Berbekal keuletan dan kerajinannya tersebut akhirnya wanita kelahiran Tegal yang dikaruniai sepasang putra –putri ini, mulai meniti karier yang sesungguhnya di bisnis perbankan sejak mendapatkan pendidikan menjadi seorang credit analys di Bank Niaga. Enam tahun berkarya Winny mendapatkan kepercayaan untuk menjabat sebagai Customer Service Manager Bank Niaga pada tahun 1980.

Wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada angkatan 1970 ini, memantapkan keahliannya sebagai seorang bankir selama dua puluh lima tahun di Bank Niaga.

Berbagai pendidikan keahlian perbankan dia ikuti dari Advance Banking Management Program dari Asian Institute Manila sampai dengan American Banking Marketing Associations Conference, Chicago, Amerika Serikat. Bahkan ia mendapatakan pendidikan Private Banking dari Citibank Singapura dan Hong Kong.

Pada tahun 1983, Winny mulai mengenal Bank Bumiputera karena ditugasi menjadi salah seorang konsultan yang bertugas untuk memberikan asistensi kepada bank tersebut. Bahkan pada tahun yang sama dia menjadi General Manager Retail Banking di Bank Bumiputera.

Merasa kurang bisa berbuat banyak karena keterbatasan modal, maka Winny, mulai mengembangkan pemikirannya di Bank Jaya pada tahun1994 sebagai direktur marketing. Namun saat dia menjabat sebagai direktur individual banking di bank tersebut, komitmennya kepada Bank Bumiputera kembali tergugah semenjak bank tersebut mendapatkan suntikan dana segar dari sang ‘mantan boss’ di Bank Niaga, Robby Djohan.

Semenjak itu Winny kembali bergabung dengan Bank Bumiputera sebagai Direktur Individual Banking, Operasional dan Legal, Bank Bumiputera pada Oktober 1997. Kemudian Winny menjadi orang nomor satu di Bank Bumiputera sejak April 2001 sampai sekarang. (sam)

Direktur Utama BTN, Kodradi


Perlu Kerja Keras Mengubah Citra BTN

Memimpin sebuah perusahaan tak cukup hanya mengandalkan kepintaran semata. Ada modal lain yang justru paling penting yakni kejujuran, keikhlasan, keseriusan dan komitmen. Aspek itu yang betul-betul diperhatikan oleh Kodradi ketika dipercaya memimpin PT Bank Tabungan Negara (BTN) sejak tahun 2000 silam.

"Dalam sebuah survai tentang kepemimpinan (leadership), pintar itu jatuh di nomor tiga. Sedangkan, nomor satu adalah kejujuran dan keikhlasan. Kedua, keseriusan dan komitmen. Setelah itu baru kecerdasan,” ujar Kodradi.

Dengan modal tersebut, Kodradi menyatakan siap membawa BTN melewati masa restrukturisasi menjadi bank umum bersaing dengan bank-bank lain. Karena itu, hal pertama yang dibenahinya waktu itu adalah membenahi kualitas sumber daya manusia di BTN. Seiring dengan itu, visi dan misi baru perusahaan juga dibuat untuk menyelamatkan BTN yang ketika itu nasibnya terancam

Pasca restrukturisasi, BTN sebetulnya hampir sama dengan bank-bank umum lainnya. Hanya saja BTN fokus bisnisnya lebih pada pinjaman tanpa subsidi untuk pendanaan perumahan dan industri yang terkait dengan pembangunan perumahan. Tak berlebihan jika bank ini bertekad menjadi bank terkemuka dan menguntungkan dalam pembiayaan perumahan.

BTN secara perlahan kini tengah berubah dan berganti paradigma, termasuk citra (image) orang yang tidak mengenal BTN, bahwa BTN identik dengan rumah, padahal seperti lazimnya bank umum lain, BTN juga melakukan pelayanan transaksi komersial lain, tabungan, giro maupun deposito.

“Orang yang tidak mengenal, BTN itu (identik) dengan rumah. Kalau ada yang bertanya tinggal dimana? Kompleks BTN, konotasinya selalu kecil, kumuh. Padahal BTN juga bisa memberikan kredit sampai Rp 1 miliar dengan uang muka 20 persen. Bahkan untuk ruko bisa sampai Rp 2 miliar. Jadi BTN sekarang memang lagi belajar menjadi bank,” tutur Kodradi.

Bukan pekerjaan gampang baginya untuk melakukan perubahan di BTN hingga menjadi BTN seperti sekarang ini. Dulu ketika Kodradi masuk ke bank ini, kondisi BTN masih jauh ketinggalan dengan bank-bank lain. Sekarang, dia boleh tersenyum lega, BTN kini tidak kalah bersaing dengan bank umum lain.

“Bayangkan dulu saya masuk ke BTN, ibarat punya mobil Kijang, itu kijang kotak. Jadi sudah ketinggalan beberapa tahun dibanding yang lain. Sekarang ini mau ganti Mercy,” kata Kodradi mengibaratkan.

Bank Keluarga Berbasis Rumah

Meskipun sudah banyak berubah, tetapi Kodradi masih menyimpan obsesi terhadap BTN. Dia bertekad menjadikan BTN sebagai bank keluarga berbasis rumah yang sehat dan solid. Artinya, segala keperluan keluarga mulai dari perumahan, tabungan keluarga, tabungan pendidikan dan yang lain, bisa langsung dilayani BTN.

Dalam jangka panjang, bahkan tidak tertutup kemungkinan menjadikan BTN sebagai National Housing Bank, seperti halnya di Thailand. Untuk tujuan ini memang diperlukan infrastruktur yang kuat seperti pendanaan jangka panjang. “Saya ingin menjadikan BTN sebagai bank keluarga berbasis rumah yang sehat dan solid. Jadi bagi mereka yang belum punya rumah, dapat Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Sementara yang punya rumah, untuk kebutuhan lain seperti pendidikan ada tabungan tabungan sekolah bekerjasama dengan asuransi, dan pelayanan yang lain,” ujarnya.

Transformasi BTN menjadi bank umum memang masih menyimpan problematik, karena dana pada bank umum seperti deposito, giro dan tabungan, notebene jangkanya pendek, sementara BTN harus memberikan jangka waktu yang panjang antara 5 sampai 20 tahun yang sudah tentu biayanya mahal.

“Makanya yang namanya maturity mismatch sampai kiamat pun tidak bisa diatasi. Di samping itu, marginnya juga kecil, karena dana jangka panjang dimanapun selalu lebih mahal,” imbuhnya.

KPR

Dengan jumlah penduduk yang di atas 200 juta, kebutuhan rumah di Indonesia sangat besar yakni sekitar 5 juta unit per tahun. Pembiayaan merupakan faktor yang sangat penting dalam penyelenggaraan pengadaan perumahan bagi masyarakat. Pembiayaan perumahan meliputi pembiayaan pembangunan perumahan dan penyediaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi calon konsumen, serta pembiayaan bagi industri pendukung dan ikutannya.

BTN yang selama ini dikenal sebagai bank dengan mayoritas kreditnya di bidang perumahan berperan secara aktif dalam pembiayaan perumahan baik melalui KPR maupun kredit konstruksi yang diberikan. Mulai tahun 2002 BTN juga menyediakan kredit bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri pendukung dan ikutannya.

Sejak tahun 1974, BTN teLah ditunjuk pemerintah untuk membantu masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dalam menyalurkan KPR bersubsidi. Melalui program KPR bersubsidi tersebut banyak masyarakat yang telah dibantu untuk memiliki rumah. Sejak tahun 1976 sampai Desember 2002, KPR bersubsidi yang telah disalurkan oleh BTN sudah mencapai 1,63 juta unit dengan nilai Rp 10,912 triliun.

Di samping KPR subsidi, BTN juga memberikan kredit perumahan lainnya, antara lain KPR Griya Utama, KP Ruko, Swa Griya, Griya Sembada dan kredit konstruksi. Dari tahun 1990 sampai Desember 2002, khususnya kredit untuk perumahan selain yang dengan KPR subsidi, yang berhasil disalurkan BTN sebanyak 398 ribu debitur dengan nilai Rp 14,198 triliun.

Dalam perkembangan untuk kebutuhan restrukturisasi, berdasarkan hasil studi independen oleh PriceWaterhouseCoopers (PWC), pemerintah melalui surat Menteri BUMN No S-554/M-MBU/2002 tanggal 21 Agustus 2002 telah menetapkan langkah strategis untuk BTN, dengan melakukan restrukturisasi perusahaan menyeluruh sehingga BTN layak menjadi bank umum dengan fokus pinjaman tanpa subsidi untuk perumahan.

Tetapi hal ini tidak berarti BTN tidak menyalurkan KPR bersubsidi lagi, karena BTN tetap konsisten untuk mendukung program tersebut sesuai dengan salah satu misi BTN yaitu ikut mendukung program pembangunan nasional.

"Kita tetap komitmen membantu rakyat kecil, tetapi kita melakukan restrukturisasi bisnis. Kalau dulu KPR subsidi yang utama sekitar 75 persen, sekarang dibalik KPR non subsidi yang utama, porsinya 75 persen, sedangkan KPR subsidi 25 persen," kata Kodradi.

Pada tahun 2003, semula BTN akan menyalurkan kredit sebesar Rp 4,05 triliun, yang diantaranya untuk KPR bersubsidi, tetapi dalam perkembangannya dilakukan revisi dan diturunkan menjadi Rp 2,14 triliun dengan jumlah debitor 52.774. Penurunan proyeksi kredit ini karena BTN tengah menjalani restrukturisasi sehingga kalau dilakukan ekspansi yang besar dikhawatirkan akan mempengaruhi likuiditas BTN.

"Tahun 2003 saya mau ambil Rp 4,05 triliun untuk kredit, tetapi oleh pemegang saham itu diralat, karena BTN harus melakukan restrukturisasi. Tidak bisa sambil restrukturisasi terus mau ekspansi, nanti risiko bagaimana? Jadi logis juga," jelasnya.

Menghadapi persaingan dengan bank-bank lain yang juga mempunyai program KPR, Kodradi mengatakan, tidak terlampau risau. Pasalnya BTN sebagai pemain lama dalam bisnis ini sudah memiliki pasar tersendiri.

"Saya punya langganan sendiri, punya pasar sendiri. Mungkin bank-bank lain untuk kredit Rp 100 juta ke bawah tidak melayani, kalau BTN masih melayani," ujarnya.

Dengan kata lain, keikutsertaan bank-bank lain dalam program KPR makin menjadi alternatif pendanaan murah untuk perumahan bagi masyarakat. Tidak seperti selama ini semua dibebankan ke BTN, padahal kemampuan BTN ternbatas. Persaingan itu malah ada bagusnya untuk kepentingan konsumen.

"Karena itu kita senang, di luar BTN itu ada 20 bank yang ikut menandatangani MoU untuk juga mendukung KPR. Justru saya bersyukur, karena market space-nya masih luas. Kalau tidak salah ada 5 juta unit rumah yang mestinya dibangun dalam satu tahun," Kodradi menambahkan.

Kinerja

Mengenai kinerja BTN, sejauh ini menunjukkan perkembangan menggembirakan. Proses restrukturisasi yang sudah dijalankan menjadi kunci meningkatnya kinerja BTN. Hingga Maret 2003 rasio kecukupan modal (CAR) BTN sudah mencapai 14,52 persen, meningkat dibanding Desember 2002 yang mencapai 11,39 persen.

Loan to Deposit Ratio (LDR) juga terus menunjukkan peningkatan. Kalau pada tahun 2002 LDR BTN mencapai 51,31 persen, pada Maret 2003 sudah meningkat menjadi 54,33 persen. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) juga sudah dibawah ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia (BI). NPL Gross pada Maret 2003 tercatat 4,39 persen.

BTN hingga Maret 2003 juga telah membukukan laba di luar pajak sebesar Rp 99 miliar. Pada tahun 2002 lalu, laba di luar pajak yang diperoleh BTN mencapai Rp 303 miliar. Sementara total dana pihak ketiga yang dihimpun hingga Maret 2003 mencapai Rp 19,49 triliun.

BTN saat ini juga memiliki kantor cabang sebanyak 42 dengan kantor cabang pembantu 40 kantor dan kantor kas sebanyak 96. BTN juga dilengkapi Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sebanyak 93 buah. (SH-KH)

NYATA BIROKRAT ASELI INDONESIA

Kisah Nyata Anggota-Anggota Dewan yang berbicara tentang "EMAIL";


"PERNAH PUNYA, TAPI DIJUAL";

Anggota DPRD Gagap Teknologi, E-mail Disangka Barang

ANGGOTA DPRD Samarinda ternyata tergolong ketinggalan kemajuan dan gagap teknologi, khususnya dalam pemanfaatan surat elektronik (electronic mail atau e-mail) dalam berkomunikasi. Teknologi yang memanfaatkan komputer dan jaringan internet dan sudah dikenal bahkan oleh pelajar SMM ini bahkan tidak dikenal sebagian anggota Dewan. Sehingga ketika ditanya sudahkah punya e-mail, jawabannya justru mengundang tawa.

"Saya pernah punya, tapi sudah dijual," ujar Didik Sugiarto, anggota Komisi D dari Fraksi AKU dengan gaya meyakinkan seolah-olah e-mail adalah barang berwujud fisik yang bisa dipindahtangankan.

Wakil Ketua Dewan, Hairul Anwar setali tiga uang. Awalnya jawabannya terasa wajar, namun belakangan sama sekali tidak 'nyambung.

"Secara pribadi saya belum memilikinya. Bukannya saya tidak mampu untuk memilikinya, namun saya masih cinta produk dalam negeri," katanya seolah-seolah e-mail adalah barang dari luar negeri.

"Buat apa kita membanggakan produk luar, lihat saja HP (handphone) saya masih model lama," tuturnya sok yakin.

Tak hanya Didik dan Hairul, 9 anggota Dewan lainnya pun tak kenal atau tidak punya e-mail. Jika itu terjadi di generasi tua seperti H Nichlan yang usianya sudah 70-an, mungkin masih wajar. Namun yang muda-muda seperti Sukardi Surbakti dan Blasius Watu pun tak menyentuh sarana informasi yang efisien dan efektif ini. Begitu juga A Marcus Incau, Mardiah Mulyani, Sabri, Riyanto Rais, Arifin Idris dan Hamzah.

Padahal mereka sebenarnya tak harus memiliki computer dan langganan internet secara pribadi, sebab lembaga legislatif ini pasti bisa menyediakannya. Baik secara fraksi maupun komisi. Bila memiliki e-mail, interaksi dengan masyarakat secara umum dan konstituen partainya bisa lebih berkembang dan aktif.

Berikut tanggapan anggota Dewan saat ditanya apakah punya e-mail, dan apakah mereka paham kegunaannya di era informasi sekarang??

H Nichan: Apa itu email? Saya belum punya e-mail karena masih kurang paham teknologi macam itu. Kalau keinginan punya ada, Cuma untuk mengoperasikan komputer saja saya mesti Tanya sana sini. Di lingkungan Dewan ini sebenarnya sudah ada, tapi sampai sekarang tidak dioperasikan karena tidak ada yang menggunakan.

Didik Sugiarto: Saya dulu pernah punya e-mail, namun saya jual.

Blasius Watu: Sekarang ini belum punya, sebab saya tidak ingin punya nafsu besar untuk memilikinya namun tidak ada waktu untuk melihatnya.

Riyanto Rais: E-mail memang perlu dan ini akan menjadi masukan buat kami untuk secepatnya mengadakan internet di tempat kami.

Dulu sempat pasang di secretariat tapi nggak tahu kemudian tidak bisa di akses lagi.

Sedangkan Sabri dan Sukardi Surbakti yang mengakui memang penting memiliki e-mail, dan keinginan membuatnya, namun di rumah keduanya tidak ada akses telepon. "Di Palaran memang belum ada," kata Sukardi menyebut domisilinya.

INFO PASAR LEBARAN FAIR

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA

_____________________________

SILENT WARNING:

P.U.A.S.A

DILARANG MENDEKATI

J.A.N.D.A

___________________________

Harga Sarung Alda :
Kombinasi (Kw.1) = Rp. 600.000/kodi
Pagi Sore (Kw.2) = Rp. 560.000/kodi
Laba-laba (Kw.3) = Rp. 520.000/kodi
Gula-gula (Kw.3) = Rp. 520.000/kodi

Harga Sarung Wadimor :
Songket Sutra (7000 benang) (Kw.1) = Rp. 1.500.000/kodi
Tenun Biasa (Kw.2) = Rp. 1.050.000/kodi

Harga Sarung Dalwa:
Sarun tenun dengan motif cetak digital = Rp. 1.300.000/kodi

Harga Sarung Delima: Rp. 700.000/kodi

Baju Koko
Mulai harga Rp. 1.800.000 - 2.300.000/kodi

From Rich to Richer

By Yusuf Islam

All I have to say is all what you know already, to confirm what you already know, the message of the Prophet (Sallallahu alaihi wa sallam) as given by God - the Religion of Truth. As human beings we are given a consciousness and a duty that has placed us at the top of creation. Man is created to be God's deputy on earth, and it is important to realize the obligation to rid ourselves of all illusions and to make our lives a preparation for the next life. Anybody who misses this chance is not likely to be given another, to be brought back again and again, because it says in Qur'an Majeed that when man is brought to account, he will say, "O Lord, send us back and give us another chance." The Lord will say, "If I send you back you will do the same."

My Early Religious Upbringing

I was brought up in the modern world of all the luxury and the high life of show business. I was born in a Christian home, but we know that every child is born in his original nature - it is only his parents that turn him to this or that religion. I was given this religion (Christianity) and thought this way. I was taught that God exists, but there was no direct contact with God, so we had to make contact with Him through Jesus - he was in fact the door to God. This was more or less accepted by me, but I did not swallow it all.

I looked at some of the statues of Jesus; they were just stones with no life. And when they said that God is three, I was puzzled even more but could not argue. I more or less believed it, because I had to have respect for the faith of my parents.

Pop Star

Gradually I became alienated from this religious upbringing. I started making music. I wanted to be a big star. All those things I saw in the films and on the media took hold of me, and perhaps I thought this was my God, the goal of making money. I had an uncle who had a beautiful car. "Well," I said, "he has it made. He has a lot of money." The people around me influenced me to think that this was it; this world was their God.

I decided then that this was the life for me; to make a lot of money, have a 'great life.' Now my examples were the pop stars. I started making songs, but deep down I had a feeling for humanity, a feeling that if I became rich I would help the needy. (It says in the Qur'an, we make a promise, but when we make something, we want to hold onto it and become greedy.)

So what happened was that I became very famous. I was still a teenager, my name and photo were splashed in all the media. They made me larger than life, so I wanted to live larger than life and the only way to do that was to be intoxicated (with liquor and drugs).

In Hospital

After a year of financial success and 'high' living, I became very ill, contracted TB and had to be hospitalized. It was then that I started to think: What was to happen to me? Was I just a body, and my goal in life was merely to satisfy this body? I realized now that this calamity was a blessing given to me by Allah, a chance to open my eyes - "Why am I here? Why am I in bed?" - and I started looking for some of the answers. At that time there was great interest in the Eastern mysticism. I began reading, and the first thing I began to become aware of was death, and that the soul moves on; it does not stop. I felt I was taking the road to bliss and high accomplishment. I started meditating and even became a vegetarian. I now believed in 'peace and flower power,' and this was the general trend. But what I did believe in particular was that I was not just a body. This awareness came to me at the hospital.

One day when I was walking and I was caught in the rain, I began running to the shelter and then I realized, 'Wait a minute, my body is getting wet, my body is telling me I am getting wet.' This made me think of a saying that the body is like a donkey, and it has to be trained where it has to go. Otherwise, the donkey will lead you where it wants to go.

Then I realized I had a will, a God-given gift: follow the will of God. I was fascinated by the new terminology I was learning in the Eastern religion. By now I was fed up with Christianity. I started making music again and this time I started reflecting my own thoughts. I remember the lyric of one of my songs. It goes like this: "I wish I knew, I wish I knew what makes the Heaven, what makes the Hell. Do I get to know You in my bed or some dusty cell while others reach the big hotel?" and I knew I was on the Path.

I also wrote another song, "The Way to Find God Out." I became even more famous in the world of music. I really had a difficult time because I was getting rich and famous, and at the same time, I was sincerely searching for the Truth. Then I came to a stage where I decided that Buddhism is all right and noble, but I was not ready to leave the world. I was too attached to the world and was not prepared to become a monk and to isolate myself from society.

I tried Zen and Ching, numerology, tarot cards and astrology. I tried to look back into the Bible and could not find anything. At this time I did not know anything about Islam, and then, what I regarded as a miracle occurred. My brother had visited the mosque in Jerusalem and was greatly impressed that while on the one hand it throbbed with life (unlike the churches and synagogues which were empty), on the other hand, an atmosphere of peace and tranquility prevailed.

The Qur'an

When he came to London he brought back a translation of the Qur'an, which he gave to me. He did not become a Muslim, but he felt something in this religion, and thought I might find something in it also. And when I received the book, a guidance that would explain everything to me - who I was; what was the purpose of life; what was the reality and what would be the reality; and where I came from - I realized that this was the true religion; religion not in the sense the West understands it, not the type for only your old age. In the West, whoever wishes to embrace a religion and make it his only way of life is deemed a fanatic. I was not a fanatic, I was at first confused between the body and the soul. Then I realized that the body and soul are not apart and you don't have to go to the mountain to be religious. We must follow the will of God. Then we can rise higher than the angels.

The first thing I wanted to do now was to be a Muslim.

I realized that everything belongs to God, that slumber does not overtake Him. He created everything. At this point I began to lose the pride in me, because hereto I had thought the reason I was here was because of my own greatness. But I realized that I did not create myself, and the whole purpose of my being here was to submit to the teaching that has been perfected by the religion we know as Al-Islam. At this point I started discovering my faith. I felt I was a Muslim. On reading the Qur'an, I now realized that all the Prophets sent by God brought the same message. Why then were the Jews and Christians different? I know now how the Jews did not accept Jesus as the Messiah and that they had changed His Word. Even the Christians misunderstand God's Word and called Jesus the son of God. Everything made so much sense. This is the beauty of the Qur'an; it asks you to reflect and reason, and not to worship the sun or moon but the One Who has created everything. The Qur'an asks man to reflect upon the sun and moon and God's creation in general. Do you realize how different the sun is from the moon? They are at varying distances from the earth, yet appear the same size to us; at times one seems to overlap the other.

Even when many of the astronauts go to space, they see the insignificant size of the earth and vastness of space. They become very religious, because they have seen the Signs of Allah.

When I read the Qur'an further, it talked about prayer, kindness and charity. I was not a Muslim yet, but I felt that the only answer for me was the Qur'an, and God had sent it to me, and I kept it a secret. But the Qur'an also speaks on different levels. I began to understand it on another level, where the Qur'an says, "Those who believe do not take disbelievers for friends and the believers are brothers." Thus at this point I wished to meet my Muslim brothers.

Conversion

Then I decided to journey to Jerusalem (as my brother had done). At Jerusalem, I went to the mosque and sat down. A man asked me what I wanted. I told him I was a Muslim. He asked what was my name. I told him, "Stevens." He was confused. I then joined the prayer, though not so successfully. Back in London, I met a sister called Nafisa. I told her I wanted to embrace Islam and she directed me to the New Regent Mosque. This was in 1977, about one and a half years after I received the Qur'an. Now I realized that I must get rid of my pride, get rid of Iblis, and face one direction. So on a Friday, after Jumma' I went to the Imam and declared my faith (the Kalima) at this hands. You have before you someone who had achieved fame and fortune. But guidance was something that eluded me, no matter how hard I tried, until I was shown the Qur'an. Now I realize I can get in direct contact with God, unlike Christianity or any other religion. As one Hindu lady told me, "You don't understand the Hindus. We believe in one God; we use these objects (idols) to merely concentrate." What she was saying was that in order to reach God, one has to create associates, that are idols for the purpose. But Islam removes all these barriers. The only thing that moves the believers from the disbelievers is the salat. This is the process of purification.

Finally I wish to say that everything I do is for the pleasure of Allah and pray that you gain some inspirations from my experiences. Furthermore, I would like to stress that I did not come into contact with any Muslim before I embraced Islam. I read the Qur'an first and realized that no person is perfect. Islam is perfect, and if we imitate the conduct of the Holy Prophet (Sallallahu alaihi wa sallam) we will be successful. May Allah give us guidance to follow the path of the ummah of Muhammad (Sallallahu alaihi wa sallam). Ameen!

POJOK SURINAME

RABI MANEH

Pemikiranipun piyantun Mesir, Ibu Nawall el Sadawi. Jaman sapunika nggih jaman sapunika, mboten saged dipun padhak-aken (disamakan) kaliyan jaman rumiyin..... mosok sapunika jaman internet kok dipun padhak-aken kaliyan jaman tiyang numpak kuldi (jalaran mboten wonten tumpakan)... ...

Ono evolusi bab kelonan. Paribasan mangan, jaman kuno mangan iku kebutuhan supoyo urip. Jaman saiki mangan, kejobo kanggóné wong kesrakat, wés kalebu kanggó seneng2. Semónó ugo bab kelonan. Jaman mbiyèn kelonan kanggó ngrembakakké keturunan. Jaman saiki, kelonan iku mèmper karó mangan, kanggó seneng2. Cóbo tak aturi nggatèkké proses evolusi kelonan koyo ngisor iki.

Sawijining survai ditayangké BBC. Ono gendók rupané lan ðeðegé biasa2 wae ðidawuhi menyang kampus nggódani poro mohoséswo. Nèk ketemu mohoséswo si gendók takon bloko suto : kówé ngeloni aku gelem óra? Jawabané biso kito bedèk : mèh kabèh gelem ;-). Ono dó-ré-mi séng óra gelem néng alesané maton upamané lagi ujian. Miturót ahliné jaréné prio2 iku nggémbol insting warisan jaman pórbo yoiku karepé arep ngrembakakké keturunan sak akèh2é. Ðaði angger ono wong waðon méng arep ngencuki waé. Insting iki nganti saiki iséh ono.

Kesimpulan (a) : wong lanang iku dasaré poligini
Survai banjór ðiwalék. Sawijinéng priyo mudo ðidawuhi nyegati poro mohosiswi lan bloko suto takon : kówé nèk tak keloni gelem óra? Naðyan iki survai éng Eropah, mohosiswi2 iku nampék kabèh.
Óra ono séng gelem siji2o. Jaréné jalaran wanito iku ngadepi resikó meteng; mulo óra wani kelonan sak kepénaké déwé.

Kesimpulan (b) : wong waðon iku gelem ðikeloni angger séng ngeloni ngayomi dèwèké lan anaké. Ðaði selér yo gelem angger kayoman. Poligini dèk jaman éng uni iku lumrah.

Hanangéng, ono evolusi kawiwitan naliko ðitemokké piranti2 kontrasepsi. Panemon iki marakké evolusi kelonan. Sawijinéng survai nakoni wong2 waðon éng Eropah. Wong2 iku ðitakoni : wés kelonan karó wong lanang piro waé? Wanito2 iku ngaku antarané péng 3-5. Séng survai maiðo, óra nganðel lan dugo wong2 iku goroh. Survai ðibalèni, saiki séng ðisurvai ðikalungi poligraf, priranti ndeteksi goroh. Saiki asilé survai ówah, luwéh akèh. Ono séng mauné ngaku kelonan karo limang prio saiki kepekso bloko suto wés kelonan karó wong wolu!

Wanito2 mau banjór ðidedes : ngopo kok goroh? Kewetu : lha pripón to, jaman modern sakniki teséh onten prio2 kolot éngkang gadah pemanggéh yèn wanito2 niku kelonan kaliyan kathah prio klebet tiyang njijiki. Lhó, lha nèk ngónó wong2 lanang séng poligini njijiki? Aa njijiki?

Ono menèh séng mangsuli memelas : Lha pripón, tiyang2 jaler niku pancèn biangané. Angger kulo gadah tepangan mesthi entèk2ané méng ajeng ngencuki kulo. Pripón cobi? Nèk mboten kulo turuti, njók mboten purón marani kulo maléh. Jiaaaaaaaan, .... Séng survai takon, ndedes : njók kowé ðrirabi óra? Jawab : mboten ;-(

Kesimpulan (c) : jalaran resikó meteng wés ilang, wong2 waðon luwéh kenðel. Wani kelonan karó sopo waé séng ðidemeni.

Survai (d). Wanito2 ðidawuhi miléh prio2 séng ðipéngini. Jebulané séng ðipéngini béðo2 gemantóng siklusé. Nèk pas ovulasi utowo nedeng2é birahi utowo fase `teles' wong2 wéðok iku kepénginé ðikeloni prio2 macho. Koyo Bambang Tri, Antonio Banderas, Beckham, lll. Sak liyané kuwi selerané ówah miturót preferensiné. Mbalah ono séng muni nèk prio2 macho kuwi nggilani.

Kesimpulan (d) : séng kepéngin kelonan saliyané karó séng kuwi2 ðuðu móng wong lanang thok. Wong2 waðon yo kepéngén lan wani!

Wasono : lanang waðon podo waé : poligamis (kancané kelon akèh). Nèk poligini (konco kelon waðon akèh) ðipekólèhké kuðuné poliandri (konco kelon lanang) ugo ðipekólèhké. Nèk poliandri óra ðitrimo, konsekuensiné poligini kuðu ðitampék.

(Jangan Protes, ini bahasa dan tulisan ejaan jawa yang berkembang di Suriname)

Amelia Maran

Kecil-kecil cabe rawit. Sepertinya, julukan itu pas disampirkan pada lajang kelahiran 1 Januari 1986 ini. Di usia yang masih belia, Amelia Maran telah mendapat kepercayaan menempati posisi Country Manager PT Amega Global Indonesia, salah satu cabang Amega Global LLC, Delware, Amerika Serikat – bergerak di bidang ritel aksesori yang memadukan unsur keindahan perhiasan dengan terapi kesehatan. “Ini tantangan buat saya, karena selain menangani komunikasi internal dan eksternal, operasional juga menjadi bagian dari tanggung jawab saya,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara yang berdarah Madura ini.

Amelia mengaku senang menjalani kariernya saat ini. Pasalnya, ia bertemu banyak orang dengan wawasan yang beragam. Terlebih, ia harus pula berinteraksi dengan lebih dari 15 ribu member Amega di seantero Indonesia. “Saya banyak belajar dari para profesional yang kerap saya temui,” ujar Amelia yang sempat menimba ilmu fine art di Selandia Baru. Terlebih, perusahaan ini juga bagian dari perusahaan global yang memiliki kantor perwakilan di 68 negara, sehingga memacunya terus mengembangkan diri. “Kami harus terus menggali kreativitas dan inovasi sehingga produk Amega bisa diterima masyarakat luas,” ujar Amelia yang memulai karier di Amega sebagai Manajer Pemasaran.

Sebelum di Amega, lulusan komunikasi dari Oklahoma University ini sempat berkarier di Media Corp., Singapura. Sebagai Asisten Produser, ia sempat membesut sebuah film drama horor. “Selain mengembangkan Amega, saya menyimpan keinginan suatu saat bisa meluncurkan film,” tutur Amelia yang mengaku senang dengan dunia seni sejak kecil..

ASIAN BRAIN IMC Site from APEC Forum






Sukses Anne Ahira Jadi Pembicara di APEC



Akhir bulan Agustus yang lalu, Ahira menjadi salah satu pembicara di pertemuan APEC untuk mewakili Indonesia atas permintaan pemerintah RI.

Ada banyak serba serbi cerita yang ingin kami "sharing" tentang kegiatan Ahira di Bali selama acara APEC berlangsung.

Pertemuan APEC yang dihadiri oleh perwakilan dari 26 negara ini berlangsung cukup ketat dan tidak sembarang orang bisa keluar masuk selama acara berlangsung.

Beberapa tim support yang datang menemani Ahira sempat khawatir tidak bisa ikut masuk. Untungnya, Ahira sudah melobi pada pihak panitia dari Australia. Alhasil, beberapa tim support bisa ikut melihat dan menghadiri langsung acara tersebut dari awal sampai akhir.

Sejak hari pertama sudah ada kejadian lucu!

Saat tiba, kami dijemput pihak panitia di Bandara. Di sana sudah ada panitia APEC dengan daftar nama-nama peserta untuk diantar ke Hotel.

Ntah... kenapa, kami kok 'terdampar' di hotel yang salah! Kami tiba di hotel di mana seharusnya 'mungkin' delegasi dari Jepang menginap! Panitia sempat bingung saat Ahira bilang "Hey, saya dari Indonesia , bukan dari Jepang!"

Keesokan harinya, Ahira duduk dan posisinya tepat bersebelahan dengan perwakilan dari negara Jepang dan Korea .

Mungkin tidak banyak Asian Brainers yang tahu, Ahira itu jagoan bahasa Korea-nya!

Saat bertemu dengan perwakilan dari Korea , dia langsung memperkenalkan diri, terus ngobrol pakai bahasa Korea . Ntah apa yang dia obrolkan tim support tidak mengerti! :-)

Yang jelas orang Korea itu pun tidak percaya kalau Ahira orang Indonesia . Sampai-sampai dia bertanya kepada kami "Is She really Indonesian? I don't believe it! I think she is a Korean or Japanese!"

Halah..., enak aja Ahira dibilangin orang Korea/Jepang! Nama dan wajah boleh mirip Jepang, tapi sebenarnya Ahira itu khan USA !! Alias "Urang Sunda Asli" :-)

Hari kedua giliran Ahira memberikan presentasi...

Bukanlah hal yang baru bagi kami, melihat Ahira memberikan presentasi di seminar-seminar yang diselenggarakan di kota-kota besar di Indonesia .
Performa-nya selalu mengagumkan. Dia memiliki 'talenta alami' yang bisa membuat setiap peserta fokus pada apa yang sedang dia bicarakan. Pokoknya, sekali dia berbicara, peserta bisa 'terhipnotis' karenanya! :-)

Nah, TAPI..., saat pertemuan APEC, terus terang Team Support sempat merasa deg-degan, karena Ahira harus memberikan presentasi dalam bahasa Inggris. Kami berfikir, Oh My God, bisakah dia memberikan presentasi dalam bahasa Inggris dengan lancar seperti halnya memberikan presentasi dalam bahasa Indonesia ?
Terlebih ini untuk MEWAKILI INDONESIA !

Saat kami begitu deg-deg an... kami lihat Ahira kok seperti tidak ada beban, dia kaleeem sekali, malah dia masih bisa bercanda dengan delegasi lain.

Kami sempat tanya "Ahira, kamu takut nggak?" Dengan santainya dia menjawab "Kenapa takut? Sudah saatnya Indonesia didengar!".

Saat Ahira dipanggil untuk maju ke podium, malah Team Support yang deg-degan! Kami sempat berfikir.. Kalau orang Singapore pidatonya pakai "Singlish"
(Singapore-English), gimana kalau Ahira berpidato dengan gaya "Sunglish" alias Sunda-English...:p

Tapi ternyata oh ternyata... Kami salah besar! Pidatonya Ahira...WOW, luar biasa!!! Siapapun tidak menyangka...karena aksen nya itu lho.... Bule abis!!

Kami tidak menyangka kalau yang sedang berbicara di depan itu adalah Ahira! Bahasa Inggrisnya begitu fasih, begitu lancar, begitu jelas, dan yang penting.... Pidatonya...Memukau!

Tak heran jika Ahira mendapat sambutan yang hangat dan tepuk tangan meriah dari seluruh delegasi yang hadir memenuhi ballroom The Patra Bali Hotel.

Bahkan pada saat sesi makan bersama, Ahira banyak didekati oleh peserta dari negara lain seperti Peru , Amerika , New Zealand , Australia , Canada , Korea , Taiwan , dll. Mereka menyempatkan berjabat tangan dengan Ahira untuk mengatakan, "Presentasi Anda Luar Biasa".

Berbicara bagaimana Ahira bersosialisasi dengan para peserta yang datang dari berbagai negara dan budaya yang berbeda, kami lihat dia begitu mudah diterima, dan begitu cepat bisa beradaptasi.

Tentunya hal ini tidak membuat kami kaget, karena Ahira memang punya banyak klien di seluruh dunia dari bisnis online-nya.

Satu hal yang membuat kami kaget, banyak delegasi dari negara lain yang begitu 'interest' terhadap Asian Brain IMC nya Ahira. Mereka tertarik bagaimana cara Ahira memasyarakatkan Internet Marketing pada orang Indonesia .

Bahkan ada beberapa delegasi dari negara lain yang tertarik untuk mengundang Ahira ke negara mereka. Mereka mengatakan "Anda tertarik jika kami undang ke negara kami untuk mengajarkan Internet Marketing kepada para UKM kami?"

Anda tahu jawabannya Ahira?

Dia bilang....



"Maaf, saat ini saya sedang fokus mengajar orang INDONESIA SAJA".

Dan INI, kami tahu, bukan pertama kali dia menolak dipanggil ke luar negeri untuk mengajar orang lain. Dia lebih memilih HANYA mengajar orang Indonesia saja saat ini!

Tentunya hal ini patut kita syukuri. Kita tahu, banyak orang pintar yang senang mencari nafkah di luar negeri. Karena dari segi materi memang lebih besar. Tapi bukan itu yang Ahira cari. Dia bersungguh-sungguh ingin turut memajukan masyarakat Indonesia melalui pendidikan Internet Marketing. Dan itu sedang, dan akan terus dilakukannya!

Semua orang yang hadir di acara APEC tersebut, termasuk para Deputi Mentri dan Staff Ahli pemerintah RI memberi dukungan pada kegiatan Ahira dalam rangka memperkenalkan Internet Marketing kepada masyarakat Indonesia melalui Asian Brain IMC.

Kami semakin optimis dan bangga, bahwa apa yang Ahira lakukan telah diakui tidak hanya oleh masyarakat & pemerintah Indonesia saja, tapi juga dari pemerintah negara lain. Menurut pandangan pemerintah negara lain, apa yang Ahira lakukan untuk masyarakat Indonesia sudah benar.

Seiring dengan mengalirnya dukungan dari berbagai pihak terhadap keberadaan dan semangat Ahira dengan Asian Brain IMC, kami pun melihat kecenderungan member Asian Brain dari waktu ke waktu memang terus bertambah.

Tentunya, hal ini patut kami syukuri, sekaligus menjadi pelecut untuk memberi layanan yang lebih baik pada semua member Asian Brain.

Kami yakin, doa dan dukungan dari semua Asian Brainers dan pihak-pihak lain adalah alasan yang mendasari tetap kokohnya Asian Brain IMC sampai saat ini untuk menjadi tempat PEMBELAJARAN Internet Marketing PERTAMA dan TERBAIK di Indonesia!

EDUKID


Kamera tersembunyi berhasil menangkap gambar anak usia 4 tahun ini, dari ekspresinya, sepertinya ia sedang kecapekan berpikir dan daya juang belanjarnya menurun. tapi beberapa saat kemudian, kami berhasil mewawancarainya :

"boleh tahu nama adik siapa?"
"Bintang..." Jawabnya singkat.
"adik kecapekan belajar ya..."
"oh, tidak, saya cuma sedang berpikir bagaimana menciptakan suasana belajar disekolah itu menyenangkan."
"memangnya kenapa?"
"saya pernah sekolah dari umur 2,7 bulan, selama setahun, tapi guru tidak bisa menciptakan susasana belajar yang asyik."
"Lantas..?"
"Saya minta keluar, karena hanya buang-buang waktu."
"terus dirumah ngapain aja?"
"saya berpikir dan berpikir...tiap hari saya minimal delapan jam didepan komputer."
"sudah menemukan solusi?"
"sudah, dan karena masalahnya sangat kompleks, setiap situasi, setiap sekolah, setiap guru, harus dikonversikan cara belajar-mengajarnya."
"bisa dijelaskan lebih detail?"
"ah, saya tidak berwenang melakukan itu, tapi kalau boleh saya tanya, apakah anda tidak menyesal dulu tiap hari pergi-pulang sekolah hanya untuk sebuah rutinitias? ya, hanya rutinitas yang manfaatnya mungkin tidak lebih dari 20 persen anda rasakan..."
"yang 20% itu antara lain apa ya dik?"
"antara lain...anda bisa diperintah-perintah yang katanya itulah DISIPLIN, anda bisa berhitung, menulis dan membaca yang sebenarnya bisa diajarkan oleh orantua sendiri, dan anda jadi orang malas dan terlambat untu survive..."
"maksudnya malas dan terlambat survive?"
"berapa lama anda sekolah? selama itu pula anda tiap hari menadahkan tangan minta ongkos,

IKLAN

VANDALISME











di Balik Pembakaran Buku-Buku Sejarah (Bag.1)

Kamis (6/9), Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Karawang membakar 1. 080 buku sejarah untuk SMP/MTS dan SMA/MA/SMK dari berbagai macam penerbit.

Kepala Kejari Karawang Suwarsono SH mengatakan, pembakaran buku sejarah itu dilakukan pihaknya sesuai dengan Surat Keputusan Jaksa Agung RI Nomor: Kep-019/A/JA/03/2007 tertanggal 5 Maret 2007 tentang Larangan Beredarnya Cetakan Buku-buku Teks Pelajaran Sejarah SMP/MTS dan SMA/MA/SMK yang mengacu kepada kurikulum 2004. Pembakaran buku sejarah itu disaksikan sejumlah jaksa dan pejabat dari kepolisian setempat.

Saat di tanya wartawan mengapa buku-buku itu dibakar, Suwarsono, SH, hanya menyatakan, "Kami hanya melaksanakan SK Jaksa Agung yang melarang beredarnya buku-buku sejarah. Buku pelajaran sejarah yang tidak memuat tentang G-30 S/PKI merupakan salah satunya buku yang dimusnahkan. ”

Sampai hari ini, entah sudah berapa ratus ribu buku sejarah yang dibakar dengan alasan materinya tidak memuat G-30 S/PKI. Penerbit jelas merugi besar, demikian pula penulisnya. Namun yang lebih memprihatinkan sebenarnya adalah kenyataan bahwa sesungguhnya hal ini membuktikan bahwa rezim totaliter Orde Baru masih berkuasa, walau Suharto telah lengser. Terlalu naif jika rezim Orde Baru hanya dialamatkan kepada Suharto, padahal tiga partai politik besar zaman Orde Baru masih saja bebas.

Hanya karena buku-buku sejarah tersebut tidak memuat peristiwa G30 S/PKI, maka buku-buku tersebut harus dibakar dan dimusnahkan. Sayang, memang. Padahal jika ingin meluruskan sejarah, jika ingin sungguh-sungguh memaparkan sejarah apa adanya, maka ada banyak sekali peristiwa-peristiwa penting yang layak diluruskan, termasuk kasus terbunuhnya para jenderal di Jakarta saat menjelang subuh pada 1 Oktober 1965.

Tulisan ini tidak akan menyorot soal benar tidaknya peristiwa G 30 S/PKI, apakah itu memang pemberontakannya PKI atau malah pemberontakannya Suharto yang dibantu CIA. Tulisan ini tidak membahas masalah tersebut. Namun tulisan ini lebih menitik beratkan pada fakta-fakta yang disembunyikan seputar peran umat Islam dalam sejarah Indonesia, baik masa kerajaan, masa merebut kemerdekaan, dan juga masa mempertahankan kemerdekaan.

Jujur saja, banyak sekali peran umat Islam Indonesia yang dirampok dan dikubur dalam-dalam oleh tangan-tangan kekuasaan, sehingga sampai hari ini pun yang sampai kepada anak-anak kita adalah “His-Story”, kisahnya para penguasa, bukan “History”, bukan Sejarah itu sendiri.

Mudah-mudahan, tulisan ini sedikit banyak bisa membangkitkan memori kita kembali betapa besar peran umat Islam dalam mendirikan dan menjaga negeri ini. NKRI ada karena umat Islam. Bahkan fakta sejarah membuktikan bahwa NKRI banyak dirongrong oleh golongan yang lain.

Di antara banyak peristiwa yang terjadi namun digelapkan sampai sekarang akan dipaparkan di bawah ini. Mudah-mudahan, penulisan sejarah kita bisa tergerak hatinya untuk berhenti menuliskan kisah-kisah penuh dusta dan mau menuliskan fakta-fakta sejarah yang sunguh-sungguh terjadi. Inilah di antaranya:

Hapus Teori Gujarat!

Teori yang menyatakan Islam baru masuk ke Indonesia pada baad ke-14 dari Gujarat, India, harus dihapuskan. Teori bikinan orientalis kafir Belanda, Snouck Hurgronje, ini jelas salah besar. Sejarahwan Ahmad Mansyur Suryanegara telah menegaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia lewat pedagang-pedagang Nusantara yang telah berniaga hingga ke Syams di saat Rasulullah SAW masih hidup. Para pedagang dari Nusantara telah menjalin kerjasama yang erat dengan para pedagang Arab bahkan sebelum Rasulullah dilahirkan!

Teori Gujarat jelas dibikin agar umat Islam Indonesia tidak memiliki kebanggaan terhadap Islam dan tanah airnya. Padahal Islam telah masuk ke Indonesia jauh sebelumnya, yakni saat Rasulullah masih hidup.

Sejarahwan G. R Tibetts telah menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara di abad kelima masehi, saat Nabi Muhammad SAW belum lahir. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi. (Tibbetts; Pre Islamic Arabia and South East Asia, JMBRAS, 19 pt. 3, 1956, hal. 207. Penulis Malaysia, Dr. Ismail Hamid dalam “Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam” terbitan Pustaka Al-Husna, Jakarta, cet. 1, 1989, hal. 11).

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Disebutkan pula bahwa di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat oleh Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika. (Prof. Dr. HAMKA; Dari Perbendaharaan Lama; Pustaka Panjimas; cet.III; Jakarta; 1996; Hal. 4-5).

Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi.


ikhwan "emy" (eramuslim editor), mana nih bagian keduanya?