|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Sinema & TV: Tayang Ulang Masih Marak [1]

_________________________________________
oleh: Mahar Prastowo, ex Editor Metrofilm
_________________________________________

Setiap tahun, televisi kekurangan program hingga puluhan, bahkan ada yang mengatakan kekurangan suplai antara 52-70 program. Ini tantangan untuk creator dan PH, yang kalau diladenin, akan tercapai cita-cita UU Perfileman yang menginginkan konten tayangan dalam negeri [lokal]-luar negeri [impor] dengan perbandingan 60:40, dan produksi sinema dalam negeri meningkat seperti harapan Menbudpar Jero Wacik, yang menargetkan pada 2014 nanti sebanyak 200 film dibuat.

Termotivasi, itulah sikap yang seharusnya dimiliki insan perfileman tanah air, dengan cita-cita Menbudpar.

Apalagi, pada 2012 nanti, Bali, akan menjadi tuan rumah festival film bertaraf internasional yang melibatkan ratusan negara di belahan dunia.

Kenapa tidak di Indonesia? [Lho, memangnya Bali bukan Indonesia?]

"Sebenarnya Indonesia yang ditunjuk sebagai tuan rumah, namun Menteri Kebudayaan dan Pariwisata mempercayakan pelaksanaannya di Bali," begitulah kata Kasubdis Kesenian dan Film Dinas Kebudayaan Propinsi Bali I Made Santha di Denpasar, yang dikutip Wartawan. Salah satu persiapan yang dilakukan Bali, menumbuhkan industri kreatif produksi film di kalangan masyarakat maupun produsen film paa 2010 nanti dengan pembuatan film dokumenter yang diharapkan bisa diikutsertakan dalam festival film internasional tersebut.

Film dokumenter tersebut, akan memberikan cerita tentang Bali sebagai daerah tujuan wisata yang memiliki keunikan seni budaya serta panorama alam yang indah. "Est Pray Leve" (Makan doa cinta), demikian film tersebut, melibatkan sejumlah bintang film Hollywood dengan lokasi pembuatan di Jimbaran, Sanur, Candidasa dan perkampungan seniman ubud, Bali. Diproduksi "Elizabeth Gilbert", dengan membawa bintang film Hollywood Julia Robert.

***

Keterbatasan investasi, creator / SDM dan ide menjadi alasan masih tiarapnya industri sinematografi di Indonesia. Meski Ada Apa Dengan Cinta, Petualangan Sherina dan seterusnya sampai Ayat-ayat Cinta misalnya, adalah rentetan bahwa sinematografi kita mengalami kebangkitan.

Tapi bangkit saja tidak cukup. Apalagi jika baru melihat kebangkitan saja, pemerintah bukan membuka kran selebar-lebarnya agar industri ini bertumbuh kembang, namun justru mewaspadai sebagai sebuah gerakan kebangkitan yang harus diberikan batasan-batasan dengan regulasi kurang berpihak.

Soal investasi, sejauh ini sudah banyak orang berminat, dan jika berangkat idealisme, mungkin Bank bisa membantu. Dari sisi SDM, berbagai lembaga pendidikan telah mampu mensuplai SDM unggul bidang sinematografi dan multimedia. Digital Studio College [DSC]yang kini menjadi IDS [International Design School] adalah salah satunya. Saat artikel ini ditulis, Filem animasi layar lebar pertama Indonesia, Meraih Mimpi, dengan crew 95% lulusan DSC/IDS, tiketnya nyaris menembus angka 200.000. Film ini sebenarnya sudah beredar sekitar setahun lalu di luar negeri, dan animo masyarakat internasional dipakai untuk 'syarat' layak-tidaknya ditayangkan di Indonesia. Saya jatuh pada satu kesimpulan, kelayakan peredaran Film di Indonesia masih terpaku pada ukuran animo saja, belum pada hal-hal lain yang bersifat edukasi dan isnpirasi.

Meraih Mimpi adalah film dari judul asli Sing To The Dawn. Judul edisi Indonesianya saya kritisi sebagai 'kata bersayap'. Apakah Meraih Mimpi terkait Dana, si Gadis yang berjuang untuk tanah leluhurnya, atau tercapainya cita-cita para Crew yang sebenarnya-meminjam istilah Thukul-ndeso dan katrok itu? Ya, mereka membuktikan, terpilih menjadi bagian dari kerja besar insan-insan perfileman Hollywood.

Makanya saya ingin sekali mengupgrade pengetahuan tentang perfileman, dengan bergabung pada sebuah acara seminar tentang produksi film oleh International Design School [www.IDSeducation.com], pada 10 Oktober ini. dari rekan yang menjadi peserta seminar sebelumnya, ia mengaku langsung diterima bekerja di sebuah PH bukan lantaran IPnya yang tinggi dan ia dapat dari sebuah perguruan tinggi ternama, namun karena ia memiliki sertifikat Workshop Digital Studio/IDS.

Dibawah ini adalah artikel yang mungkin pernah anda baca namun akibat banyaknya arus informasi masuk ke dalam relung kehidupan, lantas terlupa begitu saja. Bukan sekedar soal faktanya yang pasti sudah basi, tapi apakah kemudian telah menjadi lebih baik saat ini, setelah 12 tahun sejak artikel ini ditulis? [Waktu itu, saya masih menjadi penulis masalah-masalah remaja di beberapa media lokal dan menjadi Writerpreneur yang memproduksi MABOK-MAjalah temBOK-beberapa SMU, yang sekolahnya menyediakan budget tentunya].

***

Tayangan ulang di televisi semakin memperparah image, bahwa broadcast kita kurang siap dalam suplai paket. Film - film luar pun kini makin sering diputar.

PENAMBAHAN jam tayang oleh hampir semua stasiun televisi swasta, ternyata berisiko tak terpenuhinya jam siar oleh masing - masing studio. Terbukti, akhir - akhir ini hampir tiap TV swasta melakukan penayangan ulang program masa lalu yang dimiliki. Lihatlah tayang ulang Si Doel Anak Sekolahan, Lika - Liku Laki Laki, Senja Makin Merah oleh RCTI. Atau lihat juga tayang ulah Tahta dan telenovela Marimar dan serial silat The Legend of Condor Heroes atau Ivy oleh Indosiar. Tak cuma dua stasiun itu, SCTV dan TPI juga melakukan hal yang sama.

Dalam hal penayangan film lepas, pengulangan terlihat semakin parah. Betapa tidak? Penayangan sebuah film asing biasa dilakukan berulang kali. Yang berbeda cuma jam tayangnya. Jika RCTI yang menayangkan, biasanya sebuah film pertama kali ditayangkan untuk acara Layar Emas. Saat kemudian film yang sama bisa ditayangkan pada acara Film Tengah Malam untuk selanjutnya ditayangkan lagi pada acara Film Dini Hari.

Kalau film itu ditayangkan Indosiar sebuah film bisa ditayangkan pada acara Sinema Unggulan, kemudian pada acara Sinema Aksi atau bahkan bisa pada acara Pekan Film Aksi atau Pekan Film Drama.

Kesemarakan itu kian parah jika kita mau menambahkan dengan kecenderungan stasiun lain yang ikut - ikut menayangkan film yang sudah ditayangkan stasiun lainnya. SCTV, misalnya biasa menayangkan film asing yang sudah ditayangkan RCTI. Sebaliknya begitu juga dengan RCTI, Indosiar, ANteve dan TPI.

Kalau tayang ulang cuma dilakukan untuk film - film asing, mungkin pemirsa masih bisa memaklumi. Adalah wajar jika sebuah stasiun televisi melakukan tindakan itu. Meski mungkin dari tindakan itu dapat dilihat atau diukur kelas stasiun televisi bersangkutan. Tapi bagaimana jika penayangan ulang dilakukan juga terhadap sinetron lokal?


Tanda - tanda Krisis

Jika dilihat sekilas, penayangan ulang sebuah sinetron lokal seperti Si Doel Anak Sekolah, Tahta, Si Manis Jembatan Ancol dan sebentar lagi Ketulusan Kartika oleh RCTI dan Indosiar, memang ada keuntungan yang bisa didapat pemirsa. bagi yang belum pernah atau belum lengkap menyaksikan sinetron tersebut, bisa mengikutinya kembali. Tapi inilah satu - satunya keuntungan yang didapat. Selebihnya membosankan.

Tak cuma itu penayangan ulang tersebut jelas memperlihatkan betapa tidak siapnya televisi swasta memenuhi jam siar yang mereka perpanjang sendiri. Boleh dibilang inilah risiko yang harus dihadapi pengelola televisi akibat tak dimilikinya konsep yang jelas.

Boleh jadi, pihak televisi swasta beralasan penayangan ulang akibat tak adanya acara - acara lokal berkwalitas untuk ditayangkan.

Sementara untuk membeli sebuah serial produk manca sangat mahal. Alasan seperti ini sah - sah saja. Cuma soalnya, alasan itu tak cukup rasanya jika dijadikan alasan untuk menayang ulang sinetron lokal yang sudah berulang - ulang disuguhkan kepada pemirsa. Akan lebih baik rasanya jika pihak televisi bersangkutan mengurangi jam siar. Jam siar yang pendek, rasanya akan lebih berarti jika diisi dengan tayangan-tayangan berkualitas dan bukan pengulangan.

Melihat kecenderungan televisi swasta melakukan tindakan seperti itu, jangan - jangan ramalan beberapa pengamat televisi yang beberapa waktu lalu mengatakan daya tahan stasiun televisi nasional tak akan lama, bisa jadi akan terbukti. Tentu hal itu tak diinginkan pemirsa televisi di negeri ini. Yang diharapkan sudah pasti perkembangan dan kemajuan sarana hiburan murah itu. Semoga kecenderungan penayangan ulang yang dilakukan hampir oleh kelima stasiun Tv swasta itu segera berakhir. (Fikri - 27/sm/040497)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar