|Gangguan KAMSELTIBCAR LALU LINTAS hubungi Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

7 Alasan Facebook Diharamkan

1. Facebook bisa membuat kita mengabaikan anak.


2. Facebook membuat kita tidak ingin meninggalkan komputer kita.


3. Facebook membuat kita tidak memperhatikan keadaan sekeliling kita.


4. Keranjingan Facebook bisa membuat tubuh kita kurus, karena lupa makan.


5. Keranjingan Facebook juga bisa membuat kita menjadi gemuk, karena gak enak buka facebook tanpa ngemil.


6. Keranjingan Facebook tidak mengenal usia, sampe balitapun ikutan jadi Facebooker.


7. Apapun yang kita lakukan, membuka Facebook tidak ketinggalan (kewajiban yang lain jalan, Facebook juga jalan).

Pesta Sambut Kemenangan Persipura, Si Mutiara Hitam


Posted: 29 May 2009 02:14 PM PDT Oleh : Andawat

Terompet kemenangan Persipura berkumandang saat Persipura mengalahkan Persija Jakarta 3-1 di stadium Bumi Kartini Jepara. Sebenarnya laga tandang Persipura tanggal 16 Mei 2009 tersebut bukanlah penutup dari Djarum ISL 2009, karena setelah itu Persipura masih menyisakan 3 pertandingan dan baru menutup puncaknya saat melawan Sriwijaya FC tanggal 10 Juni 2009, di Stadiun Mandala Jayapura. Akan tetapi laga tersebut penentu setelah sehari sebelumnya pengincar posisi juara lainnya yakni PERSIB Bandung berhasil dikalahkan oleh Persik Kediri, Persija sendiri tak punya kans lagi. Malam itu setelah kemenangan Persipura, perayaan dimulai di kota Jayapura. Meski waktu menunjukkan pukul 23.00 akan tetapi orang – orang berhamburan keluar rumah, berteriak dan menari sepuasnya, juga berpawai motor dan mobil keliling kota.

Saat kedatangan Persipura pada tanggal 27 Mei 2009, pesta pawai tersebut dilanjutkan menjadi lautan suka cita sehari suntuk. Persiapan kedatangan Persipura pun tak main- main, pemerintah kota, panitia penyelenggara dan Persipura mania mengatur jadwal penjemputan. “tolong jangan halangi jalan kalau Persipura lewat..”pinta manager persipura, MR Kambu di sela-sela mempersiapkan acara penjemputan. Akan tetapi tak dapat dihindari di beberapa tempat masyarakat tetap menahan iring-iringan mobil dengan jalan menggulingkan drum dan balok kayu. Ada yang hendak memberikan topi bertahta burung cenderawasih, kalung manik-manik, selendang timor ataupun dengan menari dan kue-kue..”kita pegang tangan dulu , baru mereka jalan…”kata massa di waena.

Persipura tiba di Jayapura pagi hari pukul 07.00 pagi akan tetapi sejak tengah malam sebagian Persipura mania telah menuju ke Sentani Airport, menunggu Sang Juara dengan teman dan kerabat menjadi kebahagian tersendiri yang selalu ingin dibagi. Arak – arakan Persipura berjalan lambat, bersama ribuan sepeda motor dan mobil berdesakan. Pawai motor dan mobil sendiri terdiri dari 5 gelombang, mereka memenuhi jalan dan terus disambut pendukung Persipura yang memadati setiap centi jalan. Kalau kampanye, motor – motor ojek dibayar tapi untuk Persipura mereka merelakan waktu berjam – jam untuk menyambut kemenangan. Setidaknya ada 2 sepeda motor yang terbakar saat beriringan akibat panas dan pemiliknya langsung melemparkan ke parit besar di samping jalan, motorpun menyala dan habis dalam sekejab.

Pencinta Persipura tua muda, besar kecil, Papua dan non Papua menunggu dengan setiap di pinggir jalan sejak pagi sekitar pukul 09.00. Ada yang datang dengan membawa bunga, kursi dan menyediakan air minum dalam termos, ada juga yang menyediakan kemasan air mineral. Tim andawat bergabung di depan kantor Majelis Muslim Papua (MMP) di Padang bulan (bersebelahan dengan kantor ALDP). Halaman MMP dibuka lebar, kursi dan air mineral juga tersedia. Beberapa mobil diparkir pada halaman luar MMP. Hampir semuanya menggunakan kostum Persipura, ada juga yang menggunakan baju dengan warna dasar Persipura yakni merah hitam. Ada yang membawa spanduk bergambar pemain, menghiasi wajah mereka dengan garis – garis merah hitam serta menyiapkan rumbai – rumbai berwarna merah hitam juga guntingan kertas kecil – kecil siap untuk dihamburkan. Pendek kata, semua orang ingin menyatakan “Persipura menang, kamipun menang”. Sekelompok orang memasang tenda di pinggir jalan, mereka membawa peralatan sound system dan menyambung aliran listrik dari kantor MMP, music dan tarianpun mulai digelar. Matahari sangat terik, satu mobil tanki air disiapkan dan sesekali menyemprot massa.

Setidaknya sekitar 5 kali kami berlari mencari tempat terdepan dari barisan atau mengambil kursi dan berdiri saat terdengar iring-iringan motor dan mobil, akan tetapi rombongan Persipura sendiri belum muncul namun massa setia menunggu. Baru sekitar pukul 14.00 truk tronton yang membawa Persipura merangkak perlahan di tengah arus motor, mobil dan ribuan massa memasuki kota Abepura, terlihat di ujung tikungan ale-ale sebelum kantor MMP. Semua orang bergegas mencari tempat terdepan, berteriak histeris menyebut – nyebut nama pemain. Semua pemain mendapat perhatian istimewa apalagi Boaz Salossa karena gol – gol indahnya, menempatkannya sebagai top scorer yang sebelumnya didominasi oleh pemain asing. Bendera Brazil pun berkibar untuk Jacksen F Tiago, juga Beto dan David.

Sekjend PDP Thaha Moh ALhamid memasang baliho berukuran 2x3 M di depan kantor MMP, isinya..” Syukur Bagi Mu Tuhan. Salam hangat dan terima kasih buat “Pasukan Malaikat” Persipura. Ketika OTSUS kacau balau cuma Mutiara Hitam yang bisa angkat kitong pu harga diri..” . Baliho itu menyita kuat perhatian orang bahkan Imanuel Wanggai terlihat berteriak histeris ketika membaca baliho tersebut dari atas truk, diikuti pemain yang lain termasuk pelatih Jacksen F Tiago. Sebelumnya massa di depan jalan MMP bersikeras melepas baliho tersebut untuk ditaruh di tengah jalan..”supaya semua orang tahu…”kata mereka. Tetapi dengan berbagai pertimbangan teman – teman, tidak mengijinkan, sebab sebelumnya pihak kepolisian dan tata kota sendiri sangat keberatan dengan kata – kata dalam baliho tersebut..”padahal yang bilang OTSUS itu kacau balau, kan Gubernur…”protes Sekjend PDP Thaha Alhamid hingga ijin baliho diberikan. Baliho yang sama dipasang juga di makam Theys, daerah polimak dan rencana akan dipajang di stadiun Mandala saat tanding final tanggal 10 Juni 2009.

Persipura tidak saja menjadi kebanggaan orang Papua tetapi juga orang non Papua karena keberhasilan Persipura menampilkan permainan yang menarik dan haus untuk ditonton. Setiap kali main di Mandala, ribuan penonton memadati stadiun, berbagai aktifitas pemerintahan dan sosial dihentikan. Orang akan merasa aneh kalau pada saat Persipura bertanding ada yang melakukan aktifitas lain. Mereka bersedia menahan terik matahari, beberapa diantaranya masih sempat membawa radio, menonton sambil mendengar berbagai komentar. Khusus di tribun “Liverpol” berjubel ribuan Persipura mania yang tak henti beratraksi dengan menari dan menyanyi, mereka datang dengan panji – panji Persipura dari distrik atau klub masing – masing. Menonton Persipura juga jadi obat stress yang mujarab. Jika di tempat dan kesempatan lain orang terkesan malu untuk berteriak dan menari tapi saat menonton Persipura, ekspresi bisa all out.

Jika Persipura laga di luar Jayapura maka orang ramai-ramai akan menyediakan acara ‘nonton bareng’ dengan televisi layar lebar ataupun menggunakan LCD/in focus. Tim Andawat bersama kru ALDP lainnya selalu nonton bareng di rumah pak Thaha Alhamid yang memang menyediakan nonton bareng buat tetangga di sekeliling rumahnya.Tak dapat dihindari teriakan tanpa henti, Iwan Niode adalah yang paling seru kalau nonton karena terus memberikan ‘arahan’seperti coach yang sedang berdiri di pinggir lapangan…”tidak usah bela kami, ko tipu – tipu saja..” teriaknya pada wasit. Tubuhnya yang subur bergerak ke sana kemari, sepintas mirip Raja Isa, pelatih Persipura sebelumnya, diapun meloncat naik ke atas para-para tempat layar berukuran 2x3 meter terpasang lantas memeluk layar seolah bergabung dengan pelukan Beto dan Jeremiah saat Boas Salossa mencetak gol.

Di manapun Persipura bertanding maka para pendukungnya, entah itu pejabat, aktifis LSM dan juga masyarakat lainnya berusaha untuk menyaksikan langsung. Apalagi jika Persipura main di Jakarta dan melawan Persija, warga Papua yang ada di sekitar jakartapun berbondong – bondong datang. Untuk menyaksikan Persipura bertanding di Jayapura, ada guru yang sengaja libur dari Bintuni, anak sekolah dan mahasiswa yang khusus datang dari Biak atau Wamena untuk menonton di Jayapura.
Bahkan saat berlatihpun, Persipura tetap menarik untuk ditonton, seperti saat berlatih di lapangan Brimob Kotaraja, orang akan menghentikan kendaraannya, memenuhi pinggir lapangan hingga jalan raya Abepura. Permainan Persipura tak hanya berhenti di lapangan hijau karena orang akan mendiskusikannya di setiap ada kesempatan termasuk jadi bahan analogi dan contoh pada berbagai acara diskusi dan rapat resmi juga dalam pemeriksaan saksi di persidangan.

Sebenarnya tak jarang juga pecinta Pesipura ‘gemas’ dengan sikap santai Persipura, menurut banyak orang Persipura selalu lama panas kalau mulai pertandingan apalagi jika berhadapan dengan lawan dari papan bawah, juga kadang underestimate…” atau mungkin Persipura simpan tenaga untuk menghadapi lawan dilaga berikutnya yang lebih kuat..’demikian komentar Fauzia, seorang staff ALDP yang tidak pernah absen saat Persipura tanding bersama anak perempuannya yang berusia 5 tahun di stasiun Mandala. Ayu, nama anaknya maniak bola (Persipura) seperti dirinya.
Begitupun kekalahan Persipura saat bertanding adalah juga kekalahan publik Papua, semua orang akan berduka, yang nonton bareng pulang ke rumah dengan kepala tertunduk dan tanpa kata seperti yang dialami saat melawan Sriwijaya FC tahun 2008. Semua orang tak henti – henti menyesalkan kekalahan tersebut dan mendiskusikan sebab – sebab kekalahan. Kekalahan Persipura juga memicu temperamental, orang akan cenderung marah karena kekalahan di lapangan juga momok besar dari mata rantai penindasan yang terjadi di Papua.

Olahraga bola (kaki) memang olah raga yang paling digemari di seluruh dunia, bahkan kadang pertandingan bukan sekedar olah raga tapi juga menjadi lahan olah politik, olah sosial dan olah kultur, kemudian kesebelasan yang tampil menjadi personafikasi perlawanan terhadap ketidakadilan, kekejaman dan hukum yang tidak memihak. Pertandingan bola menjadi laga prestise yang mahal harganya. Sehingga motivasi orang menonton bola bukan sekedar menghibur diri dari aktifitas pekerjaan sehari – hari yang membuatnya beku tapi yang terpenting adalah ikut mengekspresikan diri bersama tim favoritnya, melawan tim lain yang selalu tampil seolah menjustifikasi kekuasaan mereka di luar lapangan hijau apalagi dari leluhur mereka telah menyebabkan sejarah penindasan yang penuh luka. Olah raga bola kemudian dijadikan senjata lain untuk melakukan perlawanan.

Seperti itulah Persipura diposisikan oleh pecinta bola di Papua sebagai simbol perlawanan. Permainan Persipura yang fenomenal, fantastis dan sangat lincah dengan menampilkan pola yang berbeda dari kesebelasan lainnya makin memperkuat perbedaan – perbedaan lain yang tercipta di luar lapangan sehingga personafikasinya dapat dianggap merepresentasikan ‘perlawanan’ antar Papua dan Indonesia. Dalam masa integrasi dengan Indonesia, Papua hampir tak pernah menang disemua ‘percaturan’ perebutan sumber daya : politik, hukum, social dan budaya. Papua selalu dibuat kalah oleh Indonesia (pemerintah). Jika pemerintah bisa mengambil apa saja di Papua, tentu akan diambil ‘tanpa ampun’ hanya di lapangan bola lah, orang Papua bisa menghentikan keserakahan Jakarta. Sehingga kemenangan Persipura bukan saja kemenangan di dunia olahraga bola, tetapi juga kemenangan simbolik atas berbagai persoalan Papua versus Jakarta dari sejarah kolonisasi yang kelam dan sejarah panjang integrasi yang dirasa tetap saja tak adil.

Kemenangan Persipura juga memberikan kesejukan di saat situasi keamanan dan politik yang memanas terutama setelah Pemilu legislative yang membuat banyak orang kecewa dan merasa diperlakukan tidak adil (kembali) dengan hasil pemilu tersebut. Sehingga terjadi perpecahan atas dasar kepentingan caleg, parpol dan kelompok tertentu tapi untuk urusan bola tak ada yang bersilang pendapat tentang jago mereka bersama yakni Persipura si Mutiara Hitam.

Trias Sentosa: "A Leader in the Plastic Packaging Raw Material Market"














http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/09/11131088/trias.sentosa.a.leader.in.the.plastic.packaging.raw.material.market#

Kamis, 9 April 2009 | 11:13 WIB

Perang antara VHS dan Betamax hampir mirip dengan Perang Dingin.

Namun harus diakui wilayah pertempuran (format video) VHS dan Betamax jauh lebih luas dibandingkan dengan Perang Dingin. Secara teknis, Perang Dingin yang sebetulnya dimulai sejak jaman Perang Dunia di pertengahan tahun 40-an, langsung melibatkan NATO yang dipimpin Amerika Serikat dan Pakta Warsawa Plus yang dipimpin Uni Sovyet, yang kini sudah pecah menjadi beberapa negara itu. Tapi pada saat itu banyak negara yang memilih untuk mendirikan Gerakan Non Blok, alias tidak masuk kedua blok tersebut.

Kalau Perang Dingin memunculkan yang namanya Gerakan Non Blok, maka di perang VHS dan Betamax yang ketika dimulai di pertengahan tahun 70-an sempat memunculkan sejumlah perang kecil, pada akhirnya hanya melibatkan kedua blok tersebut, VHS yang dipimpin JVC dan Matsushita melawan Betamax oleh Sony. Dan perang tersebut bukan hanya antara pembuat video yang mem-back up masing-masing format, tapi juga antara produsen pemasok film. Sehingga konsumen dibuat bingung, untuk memilih video yang mana, karena akan berakibat tidak bisa menyaksikan film-film tertentu.

Tapi akhir kedua perang tersebut sama, ada satu pemenang. Kalau akhir Perang Dingin berakhir ketika Uni Sovyet ambruk, maka perang antar format video tersebut mulai terlihat berakhir ketika Sony memutuskan untuk juga memproduksi versi VHS, sekalipun di Jepang dan Amerika Latin, posisi Betamax masih kuat. Perang antara VHS dan Betamax ini selalu jadi referensi bukan hanya ketika orang bicara mengenai bagaimana perusahaan men-set apa yang disebut standar industri dengan jeli membaca unspoken concern sebagaian besar calon customer, tapi bagaimana sebuah perusahaan memproduksi produk yang bisa digunakan oleh para pesaingnya dan mereka tetap nyaman menggunakannya.

Yang tersebut terakhir itu kalau tidak dikontrol dengan hati-hati bisa membuat sebuah produk yang sebetulnya bagus menjadi akhirnya tidak laku di pasar, gara-gara banyak pemain yang percaya dengan ungkapan terkenal Arab, “musuh dari musuhku adalah kawanku dan kawan dari musuhku adalah musuhku”. Inilah yang tampaknya menjadi pertimbangan para pendiri PT Trias Sentosa Tbk (TRST), yaitu raksasa perusahaan rokok PT Gudang Garam dan distributor JVC di Indonesia PT Panggung Electronic, yang kebetulan juga menjadi salah satu customer–nya. TRST adalah produsen BOPP film dan polyester film yang mulai melakukan produksi tahun 1986 dengan satu lini produksi berkapasitas 4.500 ton per tahun.

BOPP (biaxially oriented polypropylene) film dan polyester film, atau lebih dikenal sebagai “kertas kaca”, bisa ditemukan orang kebanyakan dalam bentuk akhirnya, yaitu kemasan plastik pembungkus rokok, packaging produk makanan, kemasan sachet, ataupun label produk. Sekalipun bergerak di B2B, TRST tidak ragu untuk meng-create merk flexible packaging Astria. Yang menarik, sekalipun punya peluang mendikte pasar, tapi for the good of the industry, para pendiri TRST tidak melakukan hal itu.

Bisa jadi langkah tersebut justru malah membuat TRST berkembang semakin pesat. Saat ini, TRST memiliki lima lini produksi BOPP film serta dua lini produksi polyester film yang mulai dikembangkannya sejak 1995. Kapasitas produksi tersebut membuatnya menjadi produsen BOPP film dan polyester film terbesar di Indonesia.

Selain itu, dengan memulai pembangunan PVdC coating line di tahun 1995, dan metallising line di tahun 2003, TRST perlahan tapi pasti juga mengembangkan kompetensi downstream dalam bisnis packaging. Sehingga, kini perusahaan juga dapat menawarkan produk coated films, high-speed tight wrap films, metallised films, dan label films. Dengan ini, TRST semakin mendekati keinginannya untuk menjadi total solution of plastic packaging products.

Disamping itu, TRST juga sudah mulai memasuki pasaran ekspor, dimana sebagian besar penjualan ditujukan ke Amerika Serikat, Jepang dan Eropa. Untuk mendukung itu, TRST melakukan langkah-langkah ekspansi usaha hingga ke Singapore, dengan mendirikan kantor representatif, dan China, dengan akuisisi Tianjin Sunshine Plastics Tianjin China di pertengahan 2007 yang lalu.

Namun pasar lokal Indonesia masih menyumbang 72 persen dari penjualan total perusahaan, sehingga perkembangan dalam negeri tetap menjadi fokus perkembangan ke depan TRST. Mungkin karena itulah perusahaan merasa perlu untuk selalu mengawasi ancaman produk import seperti dari India dan Thailand, terutama saat mereka bisa menyediakan produk yang sama, dengan harga yang relatif lebih rendah.

Sampai-sampai, baru-baru ini TRST, bersama PT Argha Karya Prima Industri dan PT Fatra Polindo Nusa Industri Tbk (kini menjadi PT Titan Kimia Nusantara Tbk), akhirnya merasa perlu untuk melaporkan masuknya produk BOPP film dari Thailand ke Komite Anti Dumping Indonesia, meskipun mendapat tantangan dari industri packaging Indonesia. Dengan diterapkannya Bea Masuk Anti Dumping Sementara (BMADS) terhadap dua perusahaan Thailand pemasok BOPP film sebesar 11,03 persen hingga 16,11 persen, posisi TRST sebagai pemain utama di industri supplier BOPP film semakin terjamin, setidaknya di pasar lokal.

Melihat langkah-langkah yang diambil TRST untuk menghadapi persaingan usaha dari pihak luar negeri, kami melihat bahwa disinilah terletak ancaman bagi perkembangan perusahaan ke depan. Saat bea masuk sementara tidak lagi diterapkan terhadap produk import seiring dengan gerakan menuju pasar bebas, kelangsungan bisnis TRST dapat terancam. Jika perusahaan bisa menjaga kekuatan fundamental perusahaan dengan melakukan efisiensi ataupun memperkuat posisinya di pasar ekspor, maka TRST dapat meningkatkan kekuatannya melawan pesaing regional dan menjadi a prominent packaging material supplier in Asia.


"Philip Kotler's Executive Class: 48 Days To Go"

=======================================================================================

Riset untuk artikel ini dijalankan oleh tim MarkPlus Consulting yang dikoordinasi oleh Bayu Asmara, Senior Consultant MarkPlus Consulting.

Tanker milik PT Pertamina Ditangkap Patroli Polisi

Jual 215.000 Liter Solar Ilegal di OPL

Jawa Pos, Rabu, 27 Mei 2009 ]

BATAM - Tanker SV Pertamina Supply 33 milik PT Pertamina Tongkang, Jakarta dan KM Aqua Marine ditangkap patroli polisi perairan Babinkam Mabes Polri. Mabes bertindak tegas karena diduga dua kapal tersebut menyelundupkan 215.000 liter high speed diesel (solar murni) di perairan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, kemarin (26/5).

Dua kapal itu dipergoki kapal patroli Bala Dewa yang dipimpin Kompol Hermanta pada posisi 02'18 U - 105'06.03 T, setelah patroli Mabes Polri mengunci sistem radar mereka sekitar pukul 21.30 WIB.

Selain mengamankan kapal dan muatannya, polisi menahan 23 anak buah kapal (ABK), yakni 16 orang dari SV pertamina Supply 33 dan 7 orang dari KM Aqua Marine. Tujuh ABK KM Aqua Marine itu yakni Arjana (nakhoda), Muson, Muhamad Heri, Baktiar, Supriyanto, Muhamd al Idrus (ABK), dan Suranim (pengurus kapal).

Kepada wartawan di perairan Batuampar kemarin, Hermanta mengatakan, solar yang diselundupkan itu diangkut dari pengeboran minyak di Blok Natuna dan dijual ke kapal-kapal asing di perairan out port limited (OPL).

Dia mengaku mencurigai dua kapal yang tanpa berhenti dan berdekatan posisinya melintas pada posisi garis lintang dan bujur tersebut. Setelah dilakukan penguncian radar, pihaknya mendapatkan adanya dugaan penyelundupan.

Setelah dipergoki, tanker milik PT Pertamina yang dinakhodai Supardi itu tak bisa berkutik. Sedangkan KM Aqua Marine milik pengusaha Batam berinisial Ag alias WT yang sudah berkali-kali menjual solar ke perairan OPL secara ilegal sempat berusaha kabur.

Takut kehilangan target, kapal patroli dengan nomor lambung 521 itu mengejar dan melepaskan tiga kali tembakan peringatan. Tembakan peringatan itu menciutkan nyali Arjana dan enam ABK-nya. Mereka akhirnya diamankan dan diperiksa.

"Saat diperiksa, tak satu pun memiliki manifest solar tersebut. Ini solar ilegal," ujar Hermanta sambil menunjukkan tangki solar murni yang disita aparat.

Hal itu diakui Arjana. Pria asal Jakarta itu mengatakan, minyak solar yang diangkutnya tersebut tak dilengkapi dokumen. Solar itu rencananya dijual ke kapal-kapal asing ,baik Malaysia maupun Singapura di perairan OPL.

Menurut dia, rencananya kapalnya mendapat suplai solar dari tanker milik PT Pertamina Tongkang bertonase 113 GT itu 100.000 liter. Namun, saat tepergok, minyak yang baru dimasukkan ke tangki nomor 3 yang ada di kapal bertonase 438 GT itu kurang lebih 40.000 liter. Dua tangki lainnya, yakni tangki 1 dan 2, telah terisi penuh.

Pihak PT Pertamina Tongkang, Jakarta, membenarkan adanya penangkapan kapal milik mereka. Ketika dikonfirmasi tadi malam, salah satu sekuriti perusahaan tersebut yang mengaku bernama Bayu mengungkapkan, pihak direksi telah mendengar penangkapan kapal milik mereka dan telah dilakukan rapat tertutup untuk membahas penangkapan kapal tersebut.

"Silakan telepon lagi besok (hari ini, Red) karena jam kantor sudah selesai. Tapi, pimpinan kami sudah tahu dan benar itu kapal milik kami (PT Pertamina Tongkang, Red)," ujar Bayu diujung teleponnya.

Tiga orang langsung ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Yakni, Arjana dan Suranim (nakhoda dan pengurus KM Aqua Marine) serta Supardi (nakhoda SV Pertamina Supply 33). Menurut Hermanta, ketiganya terjerat pasal 53 UU No 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas serta junto pasal 480 KUHP. (jpnn/end)

Kecelakaan Pesawat TNI 1991-2009
















5 Oktober 1991, Kecelakaan Pesawat Hercules TNI AU C 130 di Condet Jakarta Timur. Pesawat Jatuh setelah mesin mati. 135 orang tewas, mayoritas anggota Pashas TNI AU.

8 Januari 2001, Kecelakaan Pesawat Cassa Nurtanio (CN) 212 TNI AL di Desa Selimo, Kurima, Kab. Jayawijaya, Irian Jaya. Jatuh menyebabkan 10 orang tewas termasuk Korbannya Pangdam VIII Trikora Mayjen TNI Tonny Rompis.

20 Desember 2001, Kecelakaan Pesawat Hercules TNI AU A 1329 TNI AU di Lhokseumawe, Aceh Seluruh penumpang selamat meski luka-luka.

7 November 2002, Kecelakaan Pesawat Cassa BN-2 A di Bandara Juwita Tarakan, korbannya 7 orang tewas

20 Juni 2004, Kecelakaan Pesawat Cessna 185 Skywagon klub terjun Payung Parung, di Bogor, korbannya atlet terjun payung Edy Cristiono tewas.

23 Desember 2004, Kecelakaan Helicopter Super Puma TNI AU. Jatuh didesa Surgede Kecamatan Kejajar Wonosobo. 14 orang tewas termasuk instruktur penerbangan di sekolah penerbangan Lanud Adisucipto.

22 Februari 2005, Kecelakaan Pesawat Cassa 212-200 Polri Kabupaten Sarmi, di dekat Bandara Mararena Papua, korbannya 15 orang tewas termasuk 4 kru.

21 Juli 2005, Kecelakaan Pesawat CN-235 Alfa 2301 milik TNI AU jatuh di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe tiga personel TNI tewas dan Sultan Deli Tuanku Othman Mahmud Perkasa Alamsyah tewas.

Rabu, 19 Juli 2006 Sebuah pesawat milik TNI Angkatan Darat jenis Cassa 212-200 pukul 08.25 WIB terjatuh di Tambak Cilendek, Semarang dekat Bandara Ahmad Yani Kota Semarang.

23 Juli 2007. Pesawat berjenis OV 10F Bronco mesinnya rudak dan meledak pasca tinggal landar di Lanud Abddurrahman Saleh, Malang Jatim. 1 orang tewaqs dan 2 orang terluka.

30 Desember 2007, pukul 11.30 WIB . Pesawat milik TNI Angkatan Laut (AL) jenis Nomad jatuh di Perairan Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Lokasi jatuh pesawat berada di air di kawasan Aneuk Itam atau sekitar 200 meter dari Sabang. Dua orang tewas yaitu Serma Yudi Sumbawan dan Trianda.

6 Januari 2008 , heli berjenis Twinpack S 58 T Twinpack H-3406 jatuh setelah mesin mati di daerah Riau. Seorang warga negara Singapura, Robert Candra, tewas akibat peristiwa itu. Sementara itu, 9 penumpang lainnya mengalami luka serius.

11 Maret 2008 Helikopter latih TNI AU jenis Bell-47G Soloy buatan tahun 1976 jatuh di ladang tebu Desa Wanasari, Subang. Lettu Engky Saputra Jaya tewas sementara Prada Ridi W mengalami luka berat.

26 Juni 2008, Pesawat Cassa TNI AU A212-200 jatuh di kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. 18 penumpang tewas.

6 April 2009, Pesawat Fokker 27 jatuh dan terbakar di hangar Bandara Husein Sastranegara bandung. 24 orang tewas

20 Mei 2009. Pesawat Hercules C 130 jatuh dan terbakar di persawahan desa Geplak Kecamatan Karas Magetan. 101 orang tewas dan 11 luka, korban kebanyak anggota TNI dan keluarganya.

Anggota DPR RI periode 2009 - 2014

Anggota DPR yang kembali terpilih dalam pemilu anggota DPR 2009:
Al Muzzammil Yusuf dari Partai Keadilan Sejahtera (dapil Lampung I),
Agung Laksono dari Partai Golkar (DKI Jakarta I),
Ida Fauziyah dari Partai Kebangkitan Bangsa (Jatim VII),
Effendi MS. Simbolon dari PDIP (DKI Jakarta III),
Jazuli Juwaini dari PKS (Banten III).
Ahmad Muqowam dari Partai Persatuan Pembangunan (Jateng X),
Priyo Budi Santoso dari Partai Golkar (Jatim I),
Anis Matta dari PKS (Sulawesi Selatan),
Idrus Marham dari Partai Golkar (Sulsel III),
Sutan Bathoegana dari Partai Demokrat (Sumut I),
Taufiq Kiemas dari PDIP (Jabar II),
E.E. Mangindaan dari Partai Demokrat (Sulawesi Utara),
Topane Gayus Lumbuun dari PDIP (Jatim V).
Agoes Poernomo dari PKS (DI Yogyakarta),
KRMT. Roy Suryo Notodiprojo dari Partai Demokrat (DI Yogyakarta),
Trimedya Pandjaitan dari PDIP (Sumatera Utara II),
Jhoni Allen Marbun dari Partai Demokrat (Sumut II),
Tjahyo Kumolo dari PDIP (Jateng I),
Ignatius Mulyono dari Partai Demokrat (Jateng III),
Aria Bima dari PDIP (Jateng V),
Angelina Sondakh dari Partai Demokrat (Jateng IV).


Tokoh partai yang menjadi calon anggota DPR terpilih :
Tifatul Sembiring dari PKS (Sumut I),
Rully Chairul Azwar dari Golkar (dapil Bengkulu),
Ruhut Poltak Sitompul dari Partai Demokrat (Sumut III),
Suryadharma Ali dari PPP (Jabar III),
Hidayat Nur Wahid dari PKS (Jateng V),
Burhanuddin Napitupulu dari Partai Golkar (Sumut I).
Puan Maharani dari PDIP (Jateng V),
Pramono Anung Wibowo dari PDIP (Jatim VI),
Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat (Jatim VI),
Zulkifli Hasan dari Partai Amanat Nasional (Lampung I),
Marzuki Alie dari Partai Demokrat (DKI Jakarta III),
Nurul Arifin dari Partai Golkar (Jabar VII),
Muhaimin Iskandar dari PKB (Jawa Timur I),
Irgan Chairul Mahfiz dari PPP (Banten III).
Edhie Baskoro Yudhoyono dari Partai Demokrat (Jatim VII),
Adang Daradjatun dari PKS (DKI Jakarta III).

Para menteri yang berhak mengisi kursi di parlemen:
Jero Wacik dari Partai Demokrat (Bali),
Taufiq Effendi dari Partai Demokrat (Kalimantan Selatan I),
Adhyaksa Dault dari PKS (Sulawesi Tengah),
Freddy Numberi dari Partai Demokrat (Papua).


Public Figure calon anggota DPR terpilih:

Rachel Mariam Sayidina dari Partai Gerindra (Jabar II),
Rieke Diah Pitaloka dari PDIP (Jabar II),
Primus Yustisio dari PAN (Jabar IX),
Venna Melinda dari Partai Demokrat (Jatim VI),
Tantowi Yahya dari Golkar (dapil Sumatera Selatan II),
Okky Asokawati dari PPP (DKI Jakarta II).
Dedi S. Gumelar/Mi`ing dari PDIP (Banten I),
Jamal Mirdad dari Pari Gerindra (Jawa Tengah I),
Utut Adianto dari PDIP (Jateng VII),
Inggrid Kansil dari Partai Demokrat (Jabar IV),
Tetty Kadi Bawono dari Partai Golkar (Jabar VIII).

Nama-nama Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih periode 2009 - 2014:

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
1. Abdurrahman BTN,
2. Bachrum Manyak,
3. Ahmad Farham Hamid,
4. A.Khalid.

Sumatera Utara
1. Rudolf M. Pardede,
2. Parlindungan Purba,
3. Rahmat Shah,
4. Darmayanti Lubis.

Sumatera Barat
1. Irman Gusman,
2. Emma Yohanna,
3. Riza Falepi,
4. Alirman Sori.

Provinsi Riau
1. Abdul Gafur Usman,
2. Intsiawati Ayus,
3. Maimanah Umar,
4. Mohammad Gazali.

Sumatera Selatan
1. Percha Leanpuri,
2. Aidil Fitriansyah,
3. Asmawati,
4. Abdul Aziz.

Bangka Belitung
1. Tellie Gozelie,
2. Noorhari Astuti,
3. Rosman Djohan,
4. Bahar Buasan.

Bengkulu
1. Sultan Bakhtiar Najamudin,
2. Eni Khairani,
3. Bambang Soeroso,
4. Mahyudin Shobri.


Jambi
1. Elviana,
2. M. Syukur,
3. Juniwati T. Masjchun Sofwan,
4. Hasbi Anshory.

Kepulauan Riau
1. Aida Nasution Ismeth,
2. Zulbahri,
3. Djasarmen Purba,
4. Hardi Slamet Hood.


Lampung
1. Anang Prihantoro,
2. Ahman Jajuli,
3. Aryodia Febriansya,
4. Iswandi.

DKI Jakarta
1. Dani Anwar,
2. A.M. Fatwa,
3. Djan Faridz,
4. Pardi.

Jawa Barat
1. Ginandjar Kartasasmita,
2. Ella M. Giri Komala,
3. Sofyan Yahya,
4. Amang SYafrudin.

Banten
1. Andika Hazrumy,
2. Abdurachman,
3. Abdi Sumaithi,
4. Ahmad Subadri.

Jateng
1. Sulistiyo,
2. Ayu Koes Indriyah,
3. Denty Eka Widi Pratiwi,
4. Poppy Susanti Dharsono.

DI Yogyakarta
1. Gusti Kanjeng Ratu Hemas,
2. Cholid Mahmud,
3. A.Hafidh Asrom,
4. Muhammad Afnan Hadikusumo.

Jatim
1. Istibsjaroh,
2. Wasis Siswoyo,
3. Abd. Sudarsono,
4. Supartono.

Bali
1. I Gn Kesuma Kelakan,
2. I Nengah Wiratha,
3. I Wayan Sudirta,
4. I Kadek Arimbawa.


Nusa Tenggara Barat
1. Farouk Muhammad,
2. Ll. Abdul Muhyi Abidin,
3. Baiq Diyah Ratu Ganefi,
4. Lalu Supardan.

NTT
1. Abraham Liyanto,
2. Emanuel Babu Eha,
3. Carolina Nubatunis-Kondo,
4. Sarah Lery Mboeik.

Kalimantan Tengah
1. Permana Sari,
2. Hamdhani,
3. Said Akhmad Fawzy Zain Bahsin,
4. Rugas Binti.

Kalimantan Barat
1. Maria Goreti,
2. Sri Kadarwati,
3. Hairiah,
4. Erma Suryani Ranik.

Kalimantan Selatan
1. Gusti Farid Hasan Aman,
2. Adhariani,
3. Habib Hamid Abdullah,
4. Mohammad Sofwat Hadi.

Kalimantan Timur
1. Awang Ferdian Hidayat,
2. Luther Kombong,
3. Muslihuddin Abdurrasyid,
4. Bambang Susilo.

Sulawesi Utara
1. Aryanthi Baramuli Putri,
2. Marhany Victor Poly Pua,
3. Ferry F.X. Tinggogoy,
4. Alvius Lomban.

Gorontalo
1. Hana Hasanah Fadel Muhammad,
2. Rahmiyati Jahja,
3. Elnino M. Husein Mohi,
4. Budi Doku.


Sulawesi Tengah
1. Nurmawaty Dewi Bantilan,
2. Sudarti,
3. Ahmad Syaifullah Malonda,
4. Shaleh Muhammad Aldjuffri.

Sulawesi Barat
1. Muh. Asri,
2. Muhammad Syibli Sahabuddin,
3. Iskandar Muda Baharuddin,
4. Mulyana Isham.


Sulawesi Selatan
1. Abd. Aziz Qahhar Mudzakkar
2. Muh. Aksa Mahmud,
3. Bahar Ngitung,
4. Litha Brent.

Sulawesi Tenggara
1. La Ode Ida,
2. Abd. Jabbar Toba,
3. Abidin Mustafa,
4. Hoesein Effendy.


Maluku Utara
1. Matheus Stefi Pasimanjeko,
2. Kemala Motik Gafur,
3. Mudjaffar Sjah,
4. Abdurrahman Labato.



Maluku
1. Anna Latuconsina,
2. Jhon Pieris,
3. Jacob Jack Ospara,
4. Etha Aisyah.


Papua
1. Tonny Tesar,
2. Helina Murib,
3. Paulus Yohanes S,
4. Ferdinanda W. Ibo Yatipay.

Papua Barat,
1. Ishak Mandacan,
2. Sofia Maipauw,
3. Mervin Sadipun Komber,
4. Wahidin Ismail.

B1N1 Tak Kalah Berbahaya









Uneg-uneg: Transmigrasi Indonesia, menyengsarakan

Saya dan beberapa teman hari Minggu kemarin meninjau suatu lokasi areal di pulau Mandul, 45 menit berperahu speed dari pulau Tarakan. Pulau Mandul lebih luas sedikit dibanding pulau Tarakan tetapi penduduk masih jarang sekali. Kami masuk ke areal yang masih berupa hutan mengendarai sepeda motor ojek, melalui jalanan tanah liat yang parah. Jika hujan pasti licin tidak bisa dilalui kendaraan apapun.
Alangkah terkejut kami, ternyata ditengah hutan itu ada pemukiman transmigrasi sebanyak dua satuan pemukiman (SP). Jadi sekeliling perkampungan transmigrasi itu berupa hutan belantara! Atau tepatnya hutan belantara dibotakin lalu transmigran disuruh tinggal disitu! Kami lihat tidak ada tanaman berarti yang dapat menunjang kehidupan penghuninya. Kebun yang disediakan dibelakang pemukiman telah berubah jadi hutan kembali. Di jalan sekali-sekali bertemu warga yang sedang pulang dengan mengangkut rumput diatas kepala, untuk makanan sapinya yang digaduh dari dinas peternakan. Dari percakapan singkat diketahui mereka dari Jawa, ada yang dari Banyuwangi, juga dari Jombang.
Menurut orang yang mengantar kami, warga trans itu terutama ibu-ibunya harus berjualan ke pasar setiap jam 5 pagi berjalan menuju kampung terdekat yang jaraknya 10 km. Entah apa yang dijual, katanya sih sayuran dan hasil kebun. Berapa hasil jualan itu? Paling sekitar 15 ribu, kata pengantar kami. Pulangnya mereka membeli ikan dsb. untuk dijual ke tetangganya. Bayangkan mereka berarti harus berjalan 20 km setiap hari pulang pergi. Tidak ada kendaraan umum disana, mobil tidak ada, sepeda motorpun hanya beberapa buah saja yang punya. Entah bagaimana anak-anaknya yang harus bersekolah ......
Apa yang berkecamuk di fikiran kami adalah, bagaimana pemerintah kita dengan program transmigrasi ini. Untuk menyejahterakan atau menyengsarakan rakyatnya?
Teman seperjalanan yang kebetulan pernah tinggal di Malaysia bilang, kalau cara Malaysia membantu rakyat semacam ini jauh lebih bagus. Disana disebut program Peneroka. Areal dipersiapkan dulu secara matang, baik sarana dan prasarana. Juga kelapa sawit ditanam pemerintah terlebih dahulu baik-baik hingga siap dipanen barulah para peneroka di bolehkan menempati tanahnya. Rumah yang disediakan bagus, juga fasilitas kesehatan dan infrastruktur lainnya. Jadi para peneroka itu tinggal memelihara tanaman sawitnya dan memanen hasilnya. Tidak harus menjalani siksaan kesengsaraan terlebih dahulu dan sudah jelas punya sumber penghasilan. Hasil panen itu dipungut pemerintah sekian persen saja.
Melihat perbandingan itu kita hanya geleng kepala. Transmigrasi kita hanya menyengsarakan rakyat, atau memang sengaja memindahkan kemiskinan saja? Sampai kapan program penyengsaraan ini tetap dilakukan? Apa tidak ada perbaikan systemnya? Teman itu nyeletuk, ah .... orang pemerintah, tahu sajalah.

Salam,
Dnjaya