|Gangguan KAMSELTIBCAR LANTAS Mudik hubungi Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119" |

A+ per detik

Pdt. Socrates: Kasus Puncak Jaya Murni Rekayasa Militer

Mulia, Puncak Jaya-
Pendeta Socrates Sofyan Yoman, MA, ketua Umum Gereja Baptis, berpusat di Jayapura Papua, tiba di Mulia Tanggal (9/7), ibu kota Kabupaten Puncak Jaya, untuk mengumpulkan fakta kasus pembunuhan enam warga sipil non Papua (12/10), menyusul dilakukannya operasi militer gabungan yang melibatkan pasukan Kopasus, TNI AD, Polisi dan Brimob.

"Saya berkunjung ke Mulia hanya satu hari saja (9/7) mengingat situasi di kabupaten Puncak Jaya tidak kondusif sehingga saya kembali ke Jayapura esoknya (10/7). Walaupun kunjungan saya singkat namun setidaknya saya mengumpulkan sejumlah data penting tentang bagaimana terjadinya kasus itu. Hal pertama yang saya saksikan disana adalah saya melukiskan kota itu ibarat kota mati, aktifitas sosial masyarakat sudah lumpuh total, pegawai pemerintah baik dari pegawai kelas rendahan sampai pejabat perintah sudah mengungsi keluar dari kabupaten Puncak Jaya. Sedangkan penduduk lokal mengungsi ke hutan-hutan, gunung-gunung dan kempung-kampung yang dirasa aman. Sementara itu Kabupaten puncak Jaya sudah dikuasai sepenuhnya oleh pasukan gabungan lengkap dengan alat bantu operasi seperti pesawat Helikopter dan mesin pembunuh lainnya. Dalam keadaan seperti itu biasanya militer bebas melakukan apa saja mengingat diatas daerah itu karena diisolasi oleh militer," ungkap Sofyan kepada Staff Human Rigth Monitoring pertelpon (7/8) pukul 10.00 WP.

Menurut Sofyan Yoman, kasus yang terjadi di Kabupaten Puncak Jaya adalah murni rekayasa militer untuk mencapai tujuannya yakni; pertama untuk menjastifikasi kehadiran pos-pos militer disepanjang jalan trans dari Kabupatan Wamena ke Kabupatan Puncak Jaya; Kedua Menjastifikasi dibangunnya Batalyon Baru di pegungan Tengah, Ketiga membangun publik Teror terhadap warga Papua; keempat untuk meraup uang Otonomi khusus dan kelima untuk menciptakan ketidak-percayaan masyarakat kepada Bupati yang selama ini dipegang oleh pejabat sipil.

Sofyan Yoman, mengaku sore ini (selasa, 2/11) baru mendapat laporan terbaru yang membuktikan bahwa militerlah yang merekayasa peristiwa yang terjadi di puncak Jaya. 

Berikut baca laporan investigasi yang dihimpun oleh Pdt. Socrates Sofyan Yoman, MA di bawah ini:

Peristiwa tanggal 17 juli 2010.

Tanggal 17 Agustus Goliat Tabuni dari Ilaga tiba di kampung Guragi tujuannya adalah; (1). Untuk melihat kuburan, ayah dan ibunya serta kakak tertuanya yang telah lama meninggal dunia; (2). Memberitahukan kepada Anep Murip supaya menghentikan penebangan hutan milik keluarga Goliat Tabuni untuk dibuat sebagai lapangan pesawat terbang. Menurut Goliat Tabuni bahwa sebenarnya hutan itu adalah hutan lindung dan banyak tanaman pohon kelapa hutan milik keluarga Goliat Tabuni; (3). Pulang kampung halamanya sendiri karena sudah lama meninggalkan kampung halamanya. Kedatangan Goliat Tabuni didengar oleh Eli Renmaur, Bupati Puncak Jaya lantas bupati mengutus dua orang yakni; Arnoldus Tabuni dan Tawingga Wonda untuk menanyakan tujuan Goliat datang ke Guragi. Dalam pertemuan itu Goliat menegasakan bahwa tidak ada rencana jahat dibalik kedatangannya ke kampung Guragi. Kedatangannya ke kampung guragi tercantum dalam 3 point di atas.

Setelah kedua utusan itu selesai bertemu dengan Goliat Tabuni, keduanya kembalii melaporkan hasil pertemuannya kepada bupati. Karena tidak ada rencana jahat dibalik kedatangan Goliat ke kampung Guragi sehingga Bupati tidak mengirim utusan lagi untuk bertemu dengan Goliat. Tapi rupanya pasukan Kopasus yang bermarkas di kota Mulia mendengar Goliat hadir di kampung Guragi sehingga dikirim sejumlah anggota Kopasus ke kampung Guragi, dalam perjalanan ke kampung Guragi utusan Kopasus ini ditembaki oleh kelompok tidak dikenal ( bukan kelompok Goliat Tabuni). Seorang anggota Kopasus menderita luka ringan. Hampir satu bulan (27) hari tidak ada tindakan-tindakan yang diambil oleh aparat militer. Semua keadaan aman, kegiatan masyarakat berjalan seperti biasa.

Pada tanggal 14 September , pasukan Satgas kopassus kembali ke Guragi dengan tujuan mencari, menangkap atau menembak Goliat Tabuni. Pasukan kopassus tidak menemukan Goliat. Tetapi, bertemu dengan pendeta Elisa Tabuni dan anaknya juga seorang gembala (Pendeta). Pasukan kopassus bertanya kepada Elisa Tabuni tentang keberadaan Goliat Tabuni. Pendeta Elisa menjawab tidak tahu tentang Goliat. Tetapi pasukan kopassus menangkap pendeta Elisa Tabuni dan anaknya serta mengikat kedua tangan pendeta itu dengan tali, ikat pinggang berwarna loreng.

Dalam perjalanan, pendeta Elisa dan anaknya ditanya oleh kopassus tentang ayat firman Tuhan yang terdapat dalam Roma 13 tentang pemerintah adalah wakil Allah. Pendeta Elisa dan anaknya tidak dapat menjawab karena Elisa dan anaknya tidak bisa mengerti dan berbicara bahasa Indonesia dengan baik sehingga pasukan kopassus marah dan menembak mati pendeta Elisa Tabuni dalam keadaan tangan terikat dengan tali. Sedangkan anaknya berhasil melarikan diri dalam keadaan tangan terikat. (Anaknya pendeta menjadi saksi hidup pembunuhan ayahnya).

Tanggal 12 Oktober, terjadi Penembakan atau pembunuhan terhadap 6 orang non Papua yang bekerja sebagai sopir mobil Hartop di jalan Trans Wamena, Mulia. Sedang Kelompok atau pelaku pembunuh 6 orang non Papua ini masih menjadi misteri bagi rakyat disana. Sementara militer menuding Goliat Tabuni. Karena muncul dua kelompok baru yang tidak jelas selain Goliat Tabuni yaitu : 1. Kelompok Marunggen Wonda. Keberadaan kelompok Marunggen menajadi tanda-tanya besar bagi masyarakat sipil di Mulia. Kelompok yang dipimpin oleh Marunggen Telenggen yang mengaku pemimpin TPN/OPM bagi kelompoknya tetapi lebih leluasa masuk keluar kota dari pada Goliat Tabuni. Dalam kelompok Marunggen Wonda ini ada Amoldus Tabuni, Terry Telenggen dan Lucky Telenggen.

Kelompok kedua yang dipimpin oleh Anton Tabuni. Kehadiran Kelompok Anton Tabuni dipertanyakan masyarakat sipil di Mulia karena Anton Tabuni yang mengaku dirinya sebagai pimpinan TPN/OPM bagi kelompoknya tapi Anton bebas masuk masuk keluar kota dan membakar gedung sekolah, kantor distrik.

Belum bisa dipastikan kelompok siapa yang mengadakan eksekusi terhadap 6 warga non Papua sebab kopassus sudah memblokir jalan ke Guragi, dan menutup akses komunikasi dengan Goliat melalui Single Sign Band (SSB) terputus. Kaluapun berkomunikasi dengan SSB, Tetapi masih tanda tanya juga apakah yang berkomunikasi melalui SSB itu Goliat Tabuni atau kelompok Marunggen Wonda dan Anton Tabuni ? mengingat kopasus sudah memblokir jalan ke Guragi.


Teror terhadap pendeta Yason Kogoya, ketua klasis Yamo.

Tanggal  15 Juni, pukul 21.00 WP ketua klasis wilayah Yamo, pendeta Yason Kogoya dijemput oleh dua anggota kopasus atas perintah Enok Ibo, sekretaris daerah (sekwilda) kabupaten Puncak Jaya, korban diinterogasi selama tiga jam di kamar tertutup dari pukul 21.15 sampai 24.00 WP. Saat itu Anggota kopassus mengancam akan mengikat kedua tangannya sambil menunjukan tali yang pernah dipakai (barang bukti) untuk mengikat tangan Pendeta Elisa Tabuni dan menembaknya.

20 Juni, pukul 13.00 WP, pasukan melancarkan operasi dari darat dan udara terhadap penduduk sipil. Helikopter TNI menembak dan meluncurkan boom-boom ke perkampungan penduduk sipil sementara acara makan bersama sedang berlangsung. Tetapi om-bom dan peluru yang diluncurkan helikopter TNI tidak meledak. Aksi boom membabi buta itu menyebabkan perkampungan di 27 Gedung Gereja, atau 27 jemaat terpaksa lari ke hutan-hutan untuk bersembunyi dan menyelamatkan diri sejak peristiwa tanggal 27 Juli 2010.

Gedung gereja yang dikosongkan oleh umatnya sebagai berikut : Gereja Tanoba, Gereja Yagorini, Gereja Monia, Gereja Bigiragi, Gereja Peragi, Gereja Yogonggum, Gereja Yoromugum, Gereja Pilia, Gereja Wulindik, Gereja Gimanggen, Gereja Tingginambut, Gereja Toragi, Gereja Pilipur, Gereja Kolome, Gereja Agape, Gereja Yanenggawe, Gereja Kayogebut, Gereja Pagarigom, Gereja Yiogobak, Gereja Yibinggame, Gereja Ndondo, Gereja Yamiruk. Gereja Wirigele, Gereja Yagonik, Gereja Wunagelo, Gereja Wandenggobak, Gereja Pagelome.

Sementara itu jumlah penduduk yang diperkirakan bersembunyi di hutan- hutan diperkirakan mencapai 5.000 orang. Sampai saat ini belum diketahui keberadaan para pengungsi ini karena wilayah-wilayah itu sudah diblokir oleh pasukan gabungan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, biasanya banyak penduduk menemui ajalnya pengungisian dihutan karena sakit dan juga kehabisan bahan makanan karena militer memusnahkan hasil-hasil kebun.

Perampasan/pencurian Harta Benda Masyarakat.
Dalam melakukan operasinya pasukan gabungan juga mencuri dan menembak ternak babi milik masyarakat sebanyak 8 ekor dan menjualnya.


Biaya Operasi Militer Berasal dari Uang Otonomi Khusus

Seorang pejabat pemerintah kabupaten Puncak Jaya yang dimintai keterangannya melaporkan bahwa uang yang diminta oleh militer untuk melancarkan operasi adalah berasal dari dana otonomi khusus dengan perincian sebagi berikut;
Tanggal 15 Oktober 2004 sebanyak Rp 760.000.000,-
Tanggal 16 Oktober 2004 sebanyak Rp 500.000.000,-
Tanggal 17 Oktober 2004 sebanyak Rp 500.000.000,-
Tanggal 18 Oktober 2004 sebanyak Rp 750.000.000,-
Total pengeluaran Rp 2.520.000.000,-

Perincian pengeluaran khas daerah ini belum termasuk pengeluaran dari tanggal 28 Juni  ke depan sehingga diperkirakan dana Otsus yang nantinya dikeluarkan oleh Pemerintah daerah diperkirakan akan membengkak mencapai 5 milyard rupiah.

Data sementara pasukan yang didroping di Mulia terdiri dari; Kopasus 100 orang, Brimob 400 orang, Tim khusus ( Timsus) 100 orang (1 kompi), Angka kehadiran militer diperkirakan akan bertambah karena pada saat Pendeta Sofyan Yoman meninggalkan kota Mulia (22/10) Sofyan melihat 10 orang pasukan Brimob baru yang diturunkan di Mulia dengan pesawat penerbangan sipil milik Trigana air.

Lepas dari soal di atas Sofyan Yoman juga sangat menyesalkan tindakan Kapolda Papua, Timbul Silaen, yang secara sepihak membatalkan konferensi Sinode Segi Tiga yakni; Gereja Injili di Indonesia, (GIDI) Persekutuan Gereja-gereja BAPTIS Papua, Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah Papua yang sedianya dilaksanakan pada tanggal 12 – 25  Mei, dan bertempat di Puncak Jaya, dibatalakan dengan alasan keamanan, menyusul terbakarnya Aula gereja beberapa hari lalu tanpa sebab yang tidak jelas.

Menurut, Yoman, Timbul Silaen tidak punya wewenang untuk mengintervensi gereja apalagi membatalkan konfrensi tiga gereja di puncak Jaya, karena yang wewenang penuh adalah ketiga gereja tersebut, soal alasana keamanan seperti yang dikawatirkan Timbul, itu jelas tidak masuk akal sebab selama masyarakat sangat menghormati para pendeta-pendeta.

Dari Fakta kasus di atas Pendeta Socrates Sofyan Yoman, MA menyerukan kepada ;

1. Masyarakat Internasional segera menekan Pemerintah Indonesia dan Panglima Kodam XVII/ Trikora serta Kapolda Papua untuk segera menarik pasukannya dari Mulia Puncak Jaya. Guna mencegah jatuhnya korban-korban rakyat sipil tidak berdosa akibat reyasa militer sendiri.

2. Komnas HAM Indonesia segera membentuk Team Fact Finding untuk mengungkapkan Fakta kasus yang terjadi di Mulia puncak Jaya.

3. Pasukan Non Organik TNI AD dan Kopasus segera ditarik ke luar dari Papua.

[ENS]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar