|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Sahabat-Sahabat Merapi



Merapi adalah sahabat. Dia tengah batuk-batuk dan kita harus setia merawatnya.
Bagaimana ya kabar pengungsi Merapi? Kabarnya, para pengungsi korban letusan Merapi saat ini mereka sedang bingung. Mau pulang, tapi Merapi masih dalam status ‘Awas’. Sedangkan bila terus di pengungsian, rumah-rumah mereka menjadi korban jarahan.
Koran setempat, Radar Magelang, Kamis (18/11) melaporkan perkampungan di sekitar lereng Merapi kini menjadi sasaran komplotan penjarah. Salah satunya kawasan Balerante, Kecamatan Kemalang, yang menurut laporan sehari sebelumnya belasan penjarah mendatangi Balerante. Mereka menggunakan empat mobil untuk menguras isi rumah. Tak hanya rumah, terutama pertokoan menjadi sasaran mereka. Salah satu toko kelontong yang dikuras habis merupakan milik Pak Jarwo. Isi toko di Dukuh Bendosari, Desa Balerante tersebut diambil tanpa sisa. “Mereka melakukan penjarahan itu dimalam hari,” kata Sukamto, salah seorang anak Pak Jarwo.
RSJ Magelang
Bingung terus berlanjut menjadi depresi. Tak heran bila 27 Pengungsi di Jawa Tengah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof dr Soeroyo, Kota Magelang. Para pengungsi itu diduga mengalami tekanan psikis selama bencana letusan Merapi.
“Mereka mengalami trauma berat dan menjurus ke kondisi stres, sehingga terpaksa dirujuk ke RS khusus,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, Priyantono Djarot Nugroho, Jumat (12/11).
Djarot menjelaskan, sebelumnya para pengungsi itu telah diberikan penanganan trauma di lokasi pengungsian masing-masing. Namun kondisinya tidak juga membaik.
Menurut Djarot, para pengungsi itu mengalami tekanan jiwa karena berbagai hal, seperti kehilangan orang yang dicintai dan harta benda. Dari obrolan dengan Ibu Nieta yang tinggal di Dusun Sabrang Muntilan, tetangganya ada yang berencana malam tanggal 26 November untuk panen. ”Tapi gagal karena Merapi meletus hebat,” katanya. Syukurlah Ibu Nieta, sudah dua hari sebelumnya sempat memanen hasil sawahnya.
Di daerah ini kami juga merasakan depresi itu. Seperti ketika seorang sahabat bernama Budi asyik berfoto ria, dia diomeli seorang Bapak. “Ngapain foto-foto terus!” Mungkin dalam pandangan Bapak itu, kami adalah wisatawan yang menikmati penderitaan mereka.
Ditemui terpisah, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Sutrisno membenarkan sejumlah pengungsi mulai mengalami tekanan kejiwaan. Saat ini BNPB sedang menginventarisir jumlah mereka agar bisa ditangani lebih tepat. “Kami belum bisa sampaikan datanya karena masih dalam proses inventarisasi. Apalagi jumlah pengungsi juga terus bertambah,” ungkap Sutrisno.
Sutrisno menyatakan kondisi ini wajar mengingat dahsyatnya letusan Gunung Merapi. Ditambah lagi tidak semua lokasi pengungsi memenuhi standar. “Dari pengamatan kami therapy healing cukup efektif sehingga perlu dilanjutkan. Kita juga perlu memberikan siraman rohani kepada pengungsi,” tegas Sutrisno.
Karena itu, Sahabat Alam pun tak mau ketinggalan untuk turut membantu sahabat-sahabat yang sedang dirundung duka. Bersama rekan-rekan dari Ikatan Remaja Masjid Al-Istiqomah (IRMA), Budi, Novan dan Ayung, November ini kami menyalurkan bantuan bersama, Jamaah Masjid al-Istiqomah, MTS Umdatur Rasikhien, FORISAN (Forum Remaja Islam Aneka Elok, Majlis Taklim Kaum ibu Al-Istiqomah dan RA al-Istiqomah. Totalnya ada Rp 10.296.500.
Sebagian bantuan berupa pakaian layak pakai (Palapa) kami titip ke mobil box milik Herba Penawar Alwahida (HPA) yang hari itu, Selasa (9/11) berangkat untuk memberikan bantuan juga. Selain itu kami juga menerima dari siswa-siswi SDIT Al-Fida di Jalan Damai No 88 Setia Mekar, Tambun, Bekasi. Hingga tulisan ini dibuat, menurut keterangan ibu Iim Nuril, ”Sudah terkumpul 4 juta rupiah dan masih akan terus bertambah.”
Bantuan itu kami drop langsung ke tempat pengungsian, diantaranya ke Posko Peduli Merapi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Ponggol Muntilan, Posko Relawan Merapi Borobudur dan Ustadz Solihin yang tinggal di Pedut, Cepogo yang kini mengungsi di Kuman Baru, Pulisen, Boyolali. (Rincian bantuan silakan Sob eL-Ka lihat di http://cybersabili.com)

Tak hanya pengungsi, relawan pun perlu stamina dan strategi. Jangan sampai loyo baik secara fisik maupun materi. Karena dikabarkan, pengungsi harus tinggal di pengungsian minimal sebulan. Perlu strategi, bantuan apa di bulan pertama, bulan kedua dan ketiga. Sehingga mereka bisa sehat lahir dan batin.

Kami juga merasakan dahsyatnya debu Merapi. Di Muntilan, kami merasakan tetes abu Merapi. Di daerah Borobudur, ketika sedang menuju masjid, kami merasakan gulungan abu Merapi. Tak terasa waktu tiga hari kami habiskan di seputar Merapi. Sebagian abu Merapi kami kumpulkan di botol air mineral. Sebagian lagi tetap menempel di mobil. Semua kami resapi di dalam hati. Merapi adalah sahabat. Dia tengah batuk-batuk dan kita harus setia merawatnya.
Hari itu kami gagal untuk ke Borobudur, karena Candi ini masih ditutup. Kami juga belum sempat mengunjungi pengungsi yang di rawat di RSJ Magelang. Oya, bagaimana kabar Ustadz Solihin yang tinggal hanya 3-5 kilometer dari puncak Merapi?
Kita tunggu edisi depan, insya Allah.

klik http://sabili.co.id/saintek/blog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar