Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Media Management Issue, Monitoring Media >> mahar.prastowo@gmail.com

Modernisasi Titir Menjadi Teror dan Bolehnya "Cuci Tangan"


A+ | Titir, alert, alarm, peringatan. Itu beberapa padanan katanya. Titir dibunyikan pakai alat, tutur dibunyikan pakai mulut. Maknanya sama, menyampaikan pesan. Allah SWT menyampaikan dalam Al-Qur'an dengan menyebutnya basyiron wa nadhiron, atau bahasa arab ujaran keseharian disebut  naada/da'awat (panggilan/ seruan) dan sejumlah kosakata lain, yang intinya sama, menyampaikan pesan.

Titir, sama dengan sosmed, kalau digunakan sesuai dengan tujuan awal, memberitahukan kejadian, maka bukan hoax.

Tapi kalau titir, ketukan pada kentongan, digunakan untuk hal tidak sesuai dengan keadaan, sama saja hoax.

Misal, titir 3-3-3 dibunyikan dari suatu titik dimana diletakkan kentongan, orang di sekitar jadi panik disangka ada bencana atau kebakaran, di tempat lain, pencuri menggasak rumah-rumah yang ditinggal keluar penghuninya guna cari tahu ada bencana apa dan bersiap mengungsi.

Oh, ternyata titir juga bisa untuk menyampaikan hoaks, ketika dijadikan alat menakuti atau T***R (Baca: Teror).

Hal sama pernah dipakai pasukan Jepang di masa sebelum kemerdekaan, ketika ingin menjarah suatu kampung, dibunyikan sirine dan pesawat cocor merah berputar-putar di angkasa menakuti penduduk, tapi penduduk sudah diberi "fasilitas" oleh Jepang, bahwa jika sirine meraung-raung dan pesawat berputar-putar di angkasa, segera masuk lubang perlindungan, lalu orang baru menyadari ketika pasukan Jepang sudah pergi, sirine tak berbunyi, pesawat juga pergi, penduduk keluar dari tempat persembunyian dengan mendapati lumbung hasil bumi habis, beras habis, ternak hilang, isi lemari diberantakin dan barang berharga hilang.

Itu dalam perang sesungguhnya.

Bagaimana dengan perang yang lebih modern?

Dilembagakan, dibiayai negara, dipaksakan dengan berbagai aturan, sehingga kalau ada orang mati dianggap sebagai kelalaian sendiri, atau memang sebab wabah.

Siapa saja diuntungkan?

Vendor wabah (laboratorium), industri alat kesehatan, industri farmasi, rumah sakit, eksekutif, legislatif, yudikatif, Operator seluler, penyelenggara video conference, vendor konten digital materi sekolah,  perusahaan terbeban karyawan ataupun pailit (punya alasan merumahkan/PHK tanpa pesangon), seluruh lini dinas pendidikan (tetap dapat dana BOS) sementara siswa belajar online dengan perangkat dan internet biaya sendiri, dan lain sebagainya. (Mungkin anda termasuk).

Titir, ternyata dari waktu ke waktu mengalami modernisasi sesuai bentuk (platform) dari manual berupa fisik kentongan, pelantang suara, sirine/alarm, signyal alert, hingga regulasi kepatuhan total seperti dalam kasus Corona generasi 2019 atau Covid-19 yang nyata-nyata jadi Teror.

Virus yang telah dinamai Corona sejak 1930, dan ditemukan ratusan tahun silam itu, telah memaksa manusia mengubah gaya hidup, tradisi, bahkan kultur.

Di bawah ini arti titir (ketukan kentongan sebagai tanda peringatan) yang populer di Jawa , dan masih dilestarikan di beberapa pedesaan hingga kini.

Kentongan dipukul 1-1-1 (titir) = berita kedukaan atau ada orang meninggal. Ada juga yang pakai 1-5-111 sesuai kesepakatan rembug warga setempat.

Kentongan dipukul 2-2-2 (dua kali berulang-ulang) = ada pencuri/menangkap pencuri. Kalau di pertunjukan ketoprak menandai munculnya tokoh antagonis.

Kentongan dipukul 3-3-3 (tiga kali berulang-ulang) = ada kebakaran (bencana alam).

Kentongan dipukul 4-4-4 (empat kali berulang-ulang) = adanya banjir (bencana alam).

Kentongan dipukul 5-5-5 (lima kali berulang-ulang) = adanya maling barang / maling ternak.

Kentongan dipukul 6-6-6 (enam kali berulang-ulang) = situasi aman terkendali.

Contoh hoax masa kini, peringatan untuk tetap tinggal di rumah digencarkan, sementara di beberapa bandara dan pelabuhan didatangkan ratusan juta tentara asing berkedok pekerja migran. Yang tujuannya selain aneksasi, juga pemindahan penduduk karena kepadatan penduduk di negaranya telah mengakibatkan krisis pangan, sehingga disebar ke berbagai negara dengan kendaraan bernama CoronaVirus Disease 2019 Terrorism atau Covid-19T.

Jadi, titirnya di sini adalah virus dan perangkat pendukungnya seperti regulasi yang menakut-nakuti, dan disahkannya "cuci tangan" oleh pembuat regulasi jika terjadi kasus hingga mengakibatkan kematian. Herd immunity sesungguhnya terjadi ketika penanggungjawab mulai cuci tangan. Modus berikutnya membuka atau membebaskan orang berkerumun bersama alat bisnis teror (wabah) dengan mendorong orang menyerah, "damai saja lah". Kena Covid-19 ataupun tidak, sama-sama bakal mati.

Kalau anda tak mau menyerah, tak mau berdamai, maka akan menjadi ancaman bisnis mereka. Kalau mau berdamai, anda akan mati konyol, mati dengan membikin orang lain mendapat keuntungan dari penderitaan anda selama sakit hingga anda meninggal yang biaya per 14 hari mencapai setengah milyar.

Pemerintahan yang bertanggung jawab akan melindungi rakyat, bangsa dan negaranya, bukan malah ikut berbisnis dengan menaikkan iuran jaminan sosial kesehatan. 


London Times Square, 1 Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar