|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Maafkan aku Rifan (1)

cerpen: diinCER 'ra koPEN
(me-remaja)...baca 10000x dengan suara keras, pasti bener2 merem

Antara ragu dan tidak Dila menunggu Rifan di pintu gerbang sekolah. hari ini adalah hari terakhir mereka melewati masa - masa sekolah di SMU itu. Ajakan Roni dan Fitri untuk merayakan perpisahan kelulusan sekolah di rumah Dian diacuhkannya. Ia hanya ingin menemui Rifan seusai pembagian ijazah mereka. Dila akan pamit kepada Rifan. Cowok yang selama ini menaruh harapan pada dirinya. Dimata teman - temannya Rifan adalah cowok yang memenuhi kriteria untuk dijadikan teman dekat. Semua kebaikan yang didambakan seorang cewek ada pada Rifan. Setiap tahun tak pernah Rifan terlempar dari 10 besar sisiwa berprestasi. Wajahnya pun tak kalah dengan idola - idola yang sekarang digandrungi oleh teman - temannya. Pembawaannya yang cool dan selalu angkuh selalu membuat teman - teman ceweknya penasaran untuk mendekati Rifan. Namun Rifan tak pernah bergeming. Sebetulnya Dila tak pernah menyangka kalau ia akan mengenal lebih dekat dengan Rifan. Keakraban mereka terjalin ketika mereka memepersiapkan team olahraga dalam Pkan Olahraga antar SMU tahun kemarin. Saat itu Rifan adalah kapten tim bola basket disekolahnya.Sebagai koordinator yang mengatur pembelian seragam atlet memaksanya untuk sering berhubungan dengan Rifan.Dari situ hubungan mereka semakin akrab. Kekaguman Dila terutama terhadap pembawaan Rifan yang tenang. Tak pernah dilihatnya Rifan emosi maupun marah.Malah sering ia melihat Rifan murung. Perasaan tertekan dan menahan diri selalu terlihat ketika ia jalan bareng dengan Rifan. Dibalik sikapnya yang tenang Dila melihat Rifan menyimpan sejuta misteri yang semakin membuatnya ingin mengetahui keberadaan Rifan. Setelah beberapa bulan mereka berteman tahulah dia bahwa kehidupan Rifan tak semulus yang ia ketahui. Dila melihat kekosongan dan kehampaan ada pada diri Rifan Maklum ia tak pernah sama sekali melihat orang tuanya. Kasih sayang yang diinginkan tak pernah ia dapatkan. Selama ini ia hanya salah satu dari anak yang kurang beruntung akibat ketidakharmonisan rumah tangga orang tuanya. Walaupun secara materi ia selalu mendapatkan dari pamannya yang selama ini memeliharanya, namun persaan terpinggirkan selalu dialami oleh Rifan. Setiap waktu Dila tahu Rifan telah berusaha keras untuk menerima semua itu apa adanya. Seperti saat ini ketika pamit kepada Rifan untuk meneruskan sekolah di Surabaya.
"Hai Rifan." sapa Dila
"hai, kok belum pulang?" tanya Rifan hati - hati.ituah Rifan. selalu hati - hati untuk tidak menyinggung perasaan orang lain.
" belum, aku sengaja menunggu kamu." jawab Dila. sejenak terlihat perubahan diwajah Rifan. Ah, wajah yang menimbulkan rasa iba. pikir Dila.
" ada apa Dila?" tanya Rifan pelan.
" Emh...e...anu Rifan mau ngomong sama kamu, dimana enaknya ya?" kata Dila balik bertanya.
" disitu aja." jawab Rifan sambil menunjuk bangku dibawah pohon akasia. mereka beranjak menuju ke bangku yang dimaksud. setelah duduk Dila beinisiatif untuk membuka pembicaraan.
" emh.. anu Rifan, aku mau pamit ke kamu ,minggu depan aku sudah berangkat ke Surabaya untuk meneruskan kuliahku di sana. orang tuaku berusah mengajari aku mandiri. aku hanya ingin pamit padamu Rifan." ucap Dila pelan. Dilihatnya Rifan hanya menunduk tak berkata apapun. Dilatahu Rifan begitu sedih mendengar rencana Dila. ia tak tahu yang dipikirkan Rifan saat in. Dila hanya berharap Rifan mau mengerti. Toh selama ini Dila tak pernah mengganggap mereka pacaran. Mereka hanya berteman baik tak lebih dari itu. Dila pun saat ini belum mau pacaran. Jdi sebenarnya perasaan Dila hanyalah sebatas kekaguman seorang teman terhadap teman cowoknya. untuk pacaran Dila akan berpikir beberapa kali. masa depan adalah paling utama baginya saat ini.
demi melihat Rifan hanya terdiam, dila bertanya lagi pada Rifan.
" nggak apa - apakan? kalau kita jarang bertemulagi." tanya Dila memastikan.
sekali lagi Rifan hanya terdiam tak bicara.
"ayolah rifan, perjalanan kita masih panjang, kita masih punya masa depan kita kan masih bisa bertemu atau telepon. aku akan menhubungimu rifan.aku akan merasa kangen padamu. jadi nggak apa -apa kan, Fan?" tanya Dila setengah merajuk. Rifan menarik nafas panjang. Ia tetap saja menunduk tamapaknya Rifan tak bisa menerima semua ini seperti biasanya, akhirnya Rifan mengangguk pasrah mendengar rencana Dila. walaupun sebenarnya Dila tak tega melihatnya.
" eh ngomong - ngomong bagaimana rencana kuliahmu, jadi tetap ngambil jurusan informatika?" tanya Dila untuk mencairkan suasana.
" enggak tahu dila." jawab Rifan tak bersemangat.
" eh, udah ya, keburu siang, aku belum cetak foto untuk pendaftaran kuliahku. sorry ya, Fan." pamit Dila kepada Rifan.
"iya." jawab Rifan pendek sambil memandang Dila. dari sudut matanya terlihat kesedihan. melihat mata Rifan yang mulai berkaca - kaca Dila tak mau berlama-lama untuk menyaksikan itu. ia menepuk bahu Rifan dan terus berlalu. dihentikannya bajaj yang melintas untuk mengantarkannya pulang kerumah. dari kejauhan dilihatnya Rifan masih duduk dengan pandangan mata yang kosong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar