|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

PROFIL CEO

Presiden Direktur PT American Standard Indonesia, Achmad Widjaya :
Menggaet Pasar dengan Inovasi dan Teknologi Tinggi

Perusahaan American Standard dengan produknya berlabel Ideal Standard telah menjadi jaminan bagi produk saniter berkualitas tinggi. Di Indonesia, produsen saniter nomor satu di dunia ini semakin mengukuhkan perannya sebagai yang terbaik dengan berbagai inovasi produk dan layanan yang ekslusif dan mewah.

Pendirian Ideal Boutique-- pasar swalayan saniter dengan pelayanan yang cukup nyaman layaknya pusat perbelanjaan modern--meruntuhkan kesan yang sudah lama melekat bahwa suasana berbelanja di toko-toko saniter selalu penuh barang dengan susunan yang ruwet. Kini Ideal Boutique di Jakarta telah beroperasi di dua lokasi.

Kehadiran Ideal Boutique sebagai tempat berbelanja produk saniter seakan memindahkan suasana berbelanja busana super mahal di butik-butik mewah. Bagaimana tidak, produknya seperti water closet, bidet, lavatory, bath tub, fittings serta assesorisnya bernilai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Semuanya merupakan produk impor yang dipajang dalam desain kamar mandi untuk kalangan atas plus layanan personal.

Keberadaan butik ini pas untuk pangsa pasar yang membidik kalangan berduit. Di butik itu diterapkan konsep Total Solution. Mulai dari tahap perencanaan melalui sistem komputer Touch Screen, pelanggan bisa memeragakan desain kamar mandi yang diimpikannya. Lewat panduan komputer bisa dipilih mulai model, warna produk serta assesories bahkan termasuk dinding, dan lantai, yang akhirnya akan tergambar bentuk kamar mandi seperti yang diangankan itu. Semua itu masih dibantu oleh konsultan interior, tanpa dikenakan biaya.

“Itu merupakan salah satu bentuk layanan American Standard kepada pelanggannya,” kata Presiden Direktur PT American Standard Indonesia, Achmad Widjaya.

Belum lagi layanan, afters sales services (layanan purna jual) yang tidak perlu membuat pengguna produk Ideal Standard khawatir. Soal layanan purna jual, Ideal Standard berupaya memberikan yang terbaik, misalnya perbaikan maupun pergantian suku cadangnya.

Karena itu pula, ditunjang sdengan trategi pasar yang jitu produk American Standard menjadi sangat dikenal. Bahkan menaikkan gengsi pemakainya. Sebagai produsen kelas dunia, American Standard sangat dikenal, terutama karena kualitas dan desainnya. Perusahaan ini hampir mengeluarkan produk gres setiap tahun. Sebut saja, Belvedere, Sottini, Savona, Haritage, Diagonal, Plaza, Esedra merupakan konsep desain yang saat ini diproduksi American Standard yang sudah dikenal kalangan berkantong tebal.

Meski produknya terbilang mahal, di Indonesia American Standard mempunyai prospek pasar yang sangat bagus. Hal itu terjadi karena tingkat konsumsi segmen atas masih tinggi. “Kita menganggap Indonesia krisis, tapi kita lihat banyak orang berbelanja toilet dengan ratusan juta rupiah. Sebetulnya roda perekonomian kita di Indonesia digerakkan oleh kalangan menengah dan menengah atas. Untung populasi kita banyak, sehingga orang kayanya juga banyak. Lihat saja bangun apa pun dibeli, mal-mal tetap ramai,” tutur pria berkulit putih ini.

Target Ekspor

Keberadaan American Standard di Indonesia hampir mencapai usia 20 tahun, sebuah eksistensi yang terbilang cukup lama. Sebelumnya American Standard, joint partner dengan Kia Standard milik Ongko Group. Namun sejak Kia Standard bubar karena diambil alih BPPN, American Standard beralih ke induknya American Standard Companie yang berkedudukan di Amerika Serikat dan akhirnya berubah status menjadi PMA murni. Saat pabrik berlokasi di Cileungsi didirikan sekitar tahun 1984, kapasitas produksi hanya 300.000 hingga 700.000 buah per tahun. Sejak Juli 2001, produksi meningkat hingga 1 juta buah lebih dengan jumlah tenaga kerja 1000 orang. Di sana diproduksi mulai dari kloset duduk, kloset jongkok, bak mandi, wastafel, urinal dan sebagainya. American Standard di Indonesia tidak hanya menggarapa perumahan termasuk hotel bintang lima seperti Le Meredien, Mandarin serta gedung-gedung perkantoran.

Dengan jumlah produksi itu, 70 persen adalah untuk tujuan ekspor, sisanya baru dipasarkan untuk domestik. Menurut Achmad konsep awal pembangunan pabrik di Indonesia adalah ekspor. Sisa kapasitas ekspor baru dijual di Indonesia. Saat joint dengan Kia Standard pun, produksi dari negara Paman Sam itu juga ditargetkan untuk ekspor.

“Sisa kapasitas yang teralokasi untuk intercompany baru dijual ke domestik. Kita mungkin tidak fokus ke domestik. Untuk domestik istilahnya numpang lewat,” jelasnya.

Saat ini American Standard melakukan ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Italia, Australia, Malaysia, Korea, Arab Saudi, Filipina.

Diutarakannya Kantor Pusat American Standard telah membagi jalur ekspor setiap pabrik dari masing-masing negara. Untuk ekspor American Standard Indonesia di Eropa hanya bisa ke masuk ke Italia dan Spanyol, selain itu diisi oleh produksi dari negara lain.

Acmad Wijaya menegaskan, American Standard tidak akan menggenjot ekspor maupun domestik. Jika permintaan dunia memang tinggi, baru ekspor akan meningkat dan berarti pangsa domestik dikurangi mengingat kapasitas produksi full 100 persen, sehingga tidak mungkin menaikkan jumlah kapasitas.

Saat ini pabrik hanya mempunyai dua pembakaran (kiln), masing-masing 500 buah. Peningkatan kapasitas hanya bisa dilakukan setelah ada instruksi dari manajemen pusat.

American Standard Indonesia merupakan pabrik ke dua terbesar di Asia Tenggara setelah Thailand yang berkapasitas produksi 2 juta keping dari 39 pabrik yang tersebar di seluruh dunia.

“Pabrik di Indonesia adalah salah satu pabrik besar, termasuk sebagai pemain dunia. Kantor Pusat punya policy kalau kapasitas dibawah 1 juta, bukan pemain dunia dianggapnya iseng saja,” ujarnya seraya menambahkan khusus di pasar domestik, saniter produksi Indonesia dijual dengan label American Standard, sedangkan untuk ekspor memakai label Ideal Standard dengan produksi high class.

Untuk domestik diakuinya, dipasarkan dengan harga tidak lebih dari Rp5juta per buah dan membidik segmen menengah termasuk bawah. Berbeda dengan produk impor yang mencapai nilai minimal Rp5 juta – Rp400 juta.

Mengisi Pasar Menengah Bawah

Mengisi pangsa pasar lokal dengan produk kalangan menengah bawah, ungkapnya juga didorong minimnya produsen produk saniter yang mengisi di dalam negeri. Padahal kebutuhan akan produk saniter terutama untuk level menengah dan bawah cukup potensial. Belum lagi masuknya produk-produk saniter buatan Cina secara ilegal, dinilai akan merusak pasar dalam negeri. “Produk RRC merecokin pasar dalam negeri. Masuk ke Indonesia jelas-jelas tidak resmi. Karena itu, kita tidak mau supaya market itu tidak diambil semuanya. Oleh karena itu, American Standard akan memproduksi saniter untuk pasar menengah ke bawah dengan harga yang benar-benar terjangkau,” tandasnya.

Bedanya, Cina mengambil segmen ke bawah, lebih mementingkan volume bukan nilai produk. Tak heran, produk Cina sekali masuk mencapai ratusan buah. American Standard diakuinya, menjual satu unit saniter puluhan juta rupiah. Tapi penjualannya memang tidak terlalu banyak.

Terbukanya, peluang pasar menengah bawah ini, katanya, karena adanya kebutuhan pasar yang datang dari pertumbuhan properti murah. Seperti ruko, perumahan murah. Banyak sekali developer yang kewalahan mencari barang-barang seperti itu.

Dia menegaskan jika produk Cina masuk secara legal, artinya membayar pajak, harganya tidak mungkin dibawah produk dalam negeri yang sejenis. Masuk ke pasar menengah bawah tidak berarti American Standard menurunkan kualitas produksi. Secara kualitas sama, bedanya hanya pada pembilasan. Misalnya kloset untuk pasar ekspor sudah pakai kapsul, jadi tidak ada bola, rantai sedangkan produk menengah masih pakai bola dan rantai juga pelampung jadi agak rumit. Dengan kata lain memakai konsep desain kloset jaman dulu.

Memasarkan produk di Indonesia, dikatakannya harus melakukan serangkaian modifikasi sehingga diterima konsumen dalam negeri. Sebut saja produk kloset harus disesuaikan dengan kebiasaan orang Indonesia yang harus melakukan pembilasan dengan air, berbeda dengan Eropa dengan sistem kering. Cara ini tak jarang membuat kamar mandi menjadi basah dan tergenang air.

Namun, memakai teknologi integrated douche membuat kamar mandi tetap kering sedangkan pemakainya lebih nyaman. Integreted douche adalah penyemprotot otomatis untuk membilas kotoran ditubuh, yang semulai memakai jet washer. Kini pemakai kloset tidak perlu lagi repot-repot memegang alat penyemprot untuk membersihkan kotoran dibagian bawah tubuh karena semprotan sudah langsung datang dari bawah.

Secara keseluruhan, konsep desain dan teknologi American Standard mengacu kepada Eropa. Bagaimanapun masyarakat Indonesia masih melihat produk saniter dari negara itu dianggap berkualitas. Tak salah, karena terbukti produksi keramik saniter terbaik datang dari Spanyol dan Italia

Pasar Stabil

Pertumbuhan pasar properti di Indonesia mengalami masa pasang surut. Booming properti terakhir terjadi sebelum krisis. Setelah itu, pertumbuhan properti berjalan agak tersendat-sendat seiring dengan perbaikan ekonomi nasional. Faktanya pertumbuhan properti berjalan bersamaan dengan produk saniter. Namun, bagi American Standard Indonesia kondisi perekonomian itu tidak membuatnya terpuruk. Bahkan, mampu bertahan meski krisis ekonomi tengah mengguncang.

Masih tingginya tingkat konsumsi dikalangan atas membuat pemasaran produk-produk American Standard tetap stabil. Umumnya, American Standard menggarap rumah primer yang baru dibangun. Sedangkan masyarakat jika melakukan renovasi rumah jarang mengganti toilet. Padahal idealnya 5 tahun sekali perlu diganti. Sangat berbeda dengan di luar negeri kesadaran akan perlunya merenovasi toilet atau kamar mandi jauh lebih baik, karena itu kebutuhan produk saniter cukup tinggi.

Achmad menegaskan produk saniter akan semakin berkembang bila tidak hanya dipandang sebagai fungsi semata dari sebuah bangunan, tapi berkembang sebagai kebutuhan karena melihat desain, bentuk dan tempat yang lebih bagus.

Namun, diakuinya kondisi krisis itu sempat membuat mereka menunda rencana untuk melebarkan showroom di tujuh kota di Indonesia seperti Bandung, Surabaya, Medan, Semarang kendati sekarang rencana itu mulai diaktifkan kembali. Masalahnya pada partner bisnis. Bahkan keinginan untuk membuka showroom di gedung Jakarta Design Center terpaksa dipendam karena ketiadaan tempat.

“Meski demikian, rencana itu akan tetap jalan. Cuma agak pelan sedikit. Tidak mudah mencari partner,” tuturnya.

Sedangkan impor, tetap stabil sekitar US$500.000 per tahun. Pada tahun-tahun pertama Ideal Standard masuk ke Indonesia hanya mengimpor dari US$100.000, yang akhirnya meningkat hingga US$500.000 didorong oleh semakin tingginya permintaan. (shns)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar