|Gangguan KAMSELTIBCAR LALU LINTAS hubungi Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Telusur Sejarah, Cari Gigi Emas dalam Tengkorak Tan Malaka

___________________________________________
Identifikasi Jenazah yang Diduga Tan Malaka
___________________________________________

JAKARTA - Pemeriksaan terhadap jenazah yang diduga Tan Malaka tak hanya mengandalkan tes DNA (deoxyribonycleic acid). Tapi juga ciri fisik khas Tan Malaka yang dikenal kerabat dekatnya. Salah satunya adalah geraham dari emas yang terdapat di antara gigi geligi tokoh pergerakan kemerdekaan itu.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengatakan, Tan Malaka tak memiliki keturunan. Satu-satunya garis keluarga yang masih tersisa adalah Zulfikar Kamarudin. Dia adalah anak dari adik laki-laki Tan Malaka, Kamarudin Rasyad. Dua saudara Zulfikar sudah meninggal.

Karena itu, DNA jenazah yang diambil dari desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, itu akan dibandingkan dengan DNA Zulfikar.

“Selain DNA, juga diperiksa ciri fisik Tan Malaka yang diketahui kerabat terdekatnya. Pokoknya ada gigi emasnya. Zaman dulu orang kan suka mengganti gigi yang lepas dengan gigi palsu dari emas,” kata kata Asvi kepada JPNN di Jakarta kemarin (13/9).

Asvi juga ikut mendampingi sejarawan Belanda Harry Poeze saat penggalian makam di Selopanggung, Kediri, itu.

Seperti diwartakan, sebuah makam yang diduga berisi kerangka Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, dibongkar Sabtu lalu (12/9). Seluruh kerangka yang diambil dari makam yang berada di lereng Gunung Wilis itu kemudian dibawa ke Jakarta untuk tes DNA.

“‘Prosesnya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu,” ujar Ketua Tim Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dr Djaja Surya Atmadja di sela-sela pembongkaran. Pembongkaran makam itu merupakan buah penelitian Harry Poeze selama 22 tahun merunut jejak Tan Malaka.

Lantas, dari mana Harry Poeze bisa menduga makam itu adalah makam tokoh yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1963 itu.

Kata Asvi, ada sebuah tugu kecil di pinggir Kali Brantas. Tepatnya di Desa Petok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Di desa tersebut dibangun tugu untuk menandai tempat pembuangan jenazah Tan Malaka ke Kali Brantas.

“Harry Poeze mewawancarai banyak saksi sejarah untuk merunut, apa memang jenazah Tan Malaka dibuang di Kali Brantas,” katanya.

Harry Poeze, kata Asvi, merunut ke mana saja perjalanan Tan Malaka. Kemudian, di mana tokoh yang dikenal berseberangan dengan Sjahrir itu ditangkap dan ditembak.

“Harry Poeze menemukan bahwa Tan Malaka ditangkap kemudian ditembak di sekitar kaki Gunung Wilis. Itu yang akhirnya membawa dia ke desa Selopanggung,” katanya.

Kata Asvi, Tan Malaka ditangkap oleh Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Penangkapan Tan Malaka itu sebenarnya tidak atas perintah atasan Soekotjo. Namun, saat itu Soekotjo yang memimpin gerilya dan operasi di kawasan tersebut menemukan bahwa Tan Malaka adalah sosok yang dinilai membahayakan negara.

“Apalagi, dia berbeda pendapat dengan Sjahrir. Zaman dulu di militer kan begitu. Kalau tidak sependapat, diculik,” katanya.

Tan Malaka pun ditangkap. Tanggal penangkapannya antara 19-21 Februari 1949. Asvi mengaku tak tahu pasti. Yang jelas, pada 21 Februari warga desa menemukan jenazah tersebut. Mereka kemudian menguburkannya sebagai “orang luar desa” yang meninggal tanpa identitas.

Kemudian ada cerita ada sebuah makam yang dipindahkan di samping makam Mbah Selo, seorang pendiri Desa Selopanggung. Makam itu tanpa identitas. Nah, di makam Mbah Selo itu terdapat sebuah pohon Kamboja besar.

“Dari situ kita tahu kalau makam di samping Kamboja besar itu adalah makam yang diduga jenazah Tan Malaka,” katanya. (aga/oki/jp
________________________________________________
source: http://www.radartarakan.com/berita/index.asp?Berita=UTAMA&id=158528
senin, 14 September 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar