Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Suara-suara tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan

Papua Barat Siap Melawan Islam

Untuk tetap memandang KNPB sebagai sebuah gerakan revolusioner yang tidak ditunggangi pihak-pihak berkepentingan, pernyataan KNPB dibawah ini tidak terkait dengan isu adanya kelompok yang menginginkan Negara Kristen Papua, melainkan benar-benar pernyataan murni dari gerakan revolusioner Papua Barat KNPB. Semoga pernyataan-pernyataan yang berpotensi menyulut konflik tak menjadi awal terjadinya era perang sipil. Semoga tuhan berkenan meridloi kita semua antar berbagai bangsa dan aneka agama untuk hidup berdampingan dalam damai.
  
KNPB Siap Lawan Imperialis FPI

Front Pembela Islam (FPI) dan atau Forum Umat Islam (FUI) harus disejajarkan sebagai kelompok pemberontak yang menerapkan cara-cara imperialisme / kolonialisme ala negara-negara Eropa Barat yang dengan ketamakannya membagi bumi dan menguasainya dengan tiga tema suci: gold, glory and gospel.

Kalau FPI dan kelompok Islam radikal masih klaim wilayah Papua Barat sebagai wilayah Islam. Disatu sisi mereka menolak kekuatan asing yang dianggap "kaum imperialis" untuk intervensi Papua, lalu mereka berikrar untuk jihad pertahankan wilayah Papua Barat dalam NKRI. Pertanyaannya, apa bedanyag kaum imperialisme barat dan FPI/Islam radikal yang menerapkan watak imperalisme di Papua Barat?

Bukankah FPI dan kelompok ultra nasionalis yang bernafsu menguasai dan wilayah Papua Barat? Kalau FPI yang berlabel "kaum agama samawi" mau rebut wilayah Papua Barat, maka, orang Papua Barat yang ada diatas tanah adat Melanesia mempertanyakan apakah leluhur dan nenek moyang Habib dan pengikut FBI itu berasal dari tanah adat melanesia, lalu ingin menguasai tanah sakral orang Melanesia?

Hai Habib, saya katakan kepada anda kalau hukum Agama Samawimu (Islam) mengajarkan untuk menguasai wilayah lain atas nama agamamu, maka agama adat kami mengajarkan kepada kami bahwa tanah kami sejengkalpun HARUS kami jaga, karena tanah kami Papua Barat merupakan kehormatan dan harga diri yang harus kami pertahankan sampai titik darah penghabisan. Tanah bagi kami orang Melanesia adalah sakral dan tidak akan kami berikan kepada siapapun. Tidak kepada AS atau Eropa, tidak juga kepada anda kaum imperialis/kolonialis, sebab itu merupakan hak kesulungan yang diberikan dan diperuntukan Tuhan pencipta langit dan bumi untuk masing-masing suku-bangsa yang ada di muka bumi.

Dan dengarlah kau Habib dan kelompok Islam radikal yang bergetol untuk menguasai Papua, kami MENGUTUK keserakahanmu bersama penguasa kolonialisme/imperialisme dari dan demi tanah air kami. Kami tidak akan lari. Kami akan tetap disini, sebab dari sini kami berasal, dan dari sini kami siap mati demi tanah air kami. Disini kami berjejer, bukan demi kristen, bukan juga demi islam, bukan juga demi ideologi asing, tapi demi harga diri kami sebagai sebuah bangsa Melanesia diatas tanah adat kami, dan untuk sebuah kedaulatan politik yang bebas dari intervensi asing.

Victor Yeimo
Juru Bicara Internasional KNPB

Kekasihku Pergi Saat Berjihad (Kisah Nyata Istri Pegawai Pajak)


Saya temukan sosok ideal pegawai pajak pada mendiang suami saya. Hanya Allah pemilik kesempurnaan, dan Allah menciptakan sosok yang hampir sempurna bagi saya dan anak-anak. Ismail Najib nama lengkapnya. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana di pelosok Jambi. “Ayah,” kami biasa memanggilnya. Ibunya, mertua saya, memanggilnya Mael. Teman kantornya memanggilnya Najib –atau Pak Najib.

Abang pergi mendahului kami. Ia menitipkan tiga buah-hati kami. Dafi Muhammad Faruq, putra, umur enam tahun, kini kelas satu SD. Adiknya, dua putri cantik kami, Kayyisah Zhillan Zhaliila, usia tiga tahun dan Mazaya Hasina Najib, tiga bulan. Ketika Abang mangkat pada 21 Februari 2011, si bungsu masih dalam kandungan empat bulan. Meski telah pergi, Abang mendidik saya menjadi orang kuat dan mandiri. Dengan kondisi long distance, saya memilih homebase di Kota Kembang demi pendidikan anak anak. Dengan bekal ilmu agama yang Almarhum berikan, sekarang saya menjadi tahu apa itu arti syukur, ikhlas, dan tawakal. Itulah yang membuat saya harus bangkit menyikapi keadaan ini.

Pegawai Pajak, pekerjaan yang luar biasa “banyak godaannya”. Abang memberikan pengertian pada saya bahwa materi yang identik melekat dengan pegawai Pajak, jangan menjadi patokan kebahagiaan dan kesenangan. Karena, tidak semua orang Pajak bermateri (saat itu saya tidak mengerti apa maksudnya).

Hingga sekitar 2005, Abang mengutarakan puncak kegundahannya. Setelah bekerja selama satu dekade , kebimbangan itu pun terucap, “Bunda, Ayah takut apa Ayah sudah menafkahi keluarga ini dengan halal?” ia bertanya kepada saya. Banyak pandangan negatif terhadap pegawai Pajak saat itu –bahkan hingga kini. Saya bekerja di satu bank BUMN. Banyak nasabah dan teman seprofesi yang “curhat” tentang tindak-tanduk pegawai Pajak dan betapa ribetnya mengurus pajak –waktu itu, sebelum modern.

Kami melihat kenyataan bahwa saat itu ada pegawai pelaksana yang punya rumah dan mobil mewah. Abang seorang kepala seksi, dan kondisi itu yang membuat Abang sering memberi pengertian pada saya. Sebagai seorang istri pegawai Pajak, saya harus hidup sederhana dengan gaji sebagai PNS. “Jangan pernah terpengaruh dan mempengaruhi suami untuk mendapatkan sesuatu yang tidak halal,” Abang memberi nasihat.

“Apa gaji yang ayah terima ini halal?” kembali ia gusar. “Nafkahilah keluarga ini dengan keringatmu. Bun percaya, Ayah akan memberikan yang terbaik untuk kami,” jawab saya.

“Kira kira bagaimana jika Ayah keluar saja? Jadi guru ngaji,” tuturnya membulatkan tekad. Matanya berlinang. Saya pun ikut menangis saat itu.

“Ayah, apa gak mau lingkungan Ayah jadi lebih baik? Kalau Ayah mundur sekarang, gak ada perubahan di Pajak. Ayah harus mengubah kebiasaan itu. Pajak memerlukan orang seperti Ayah untuk bisa berubah. Ayah pasti bisa,” tutur saya menyambung percakapan waktu itu.

“Iya yah, Bun,” jawabnya. Kegelisahan itu akhirnya terjawab dengan modernisasi dan reformasi birokrasi DJP. Pada 2006, sampailah juga gelombang kantor modern di Jawa Tengah –waktu itu Abang dinas di Pekalongan.

Abang orang yang sangat sabar, tenang, tak banyak bicara. Malah terkadang tanpa ekspresi. Namun dalam diamnya, saya tahu ia tak diam. Selama kami bersama, belum pernah ia marah sekalipun. Ia laki-laki yang hangat dan update –selalu tahu semua hal. Diajak segala macam diskusi, pasti langsung nyambung apapun topiknya, apalagi soal agama. Keseimbangan itu yang kami teladani di rumah. Ia orang yang ngocol, kadang jail dan sangat romantis. Dengan gitar kesayangan, ia sering bernyanyi bersama anak-anak dengan kekonyolannya, melucu sampai tertawa terbahak-bahak. Itu semua momen yang kami rindukan.

Salah satu lagu pengantar tidur anak-anak yang sering dinyanyikan, “Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian,melainkan yang beriman dan yang beramal sholeh, ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati…”

Loyalitas dan dedikasinya yang tinggi tak diragukan. Saya acungi jempol. Saya ingat, saat itu saya sedang hamil enam bulan anak pertama. Tatkala terkena pengristalan batu ginjal, ia masih bekerja larut hingga hampir pingsan di sebuah klinik di Pekalongan. Opname yang dianjurkan dokter tak dihiraukannya. Saat itu hari-hari akhir penerimaan SPT wajib pajak. Operasi “tembak” adalah solusi yang kami pilih karena bisa lebih cepat pulih dan tidak usah dilakukan pembedahan. Saran dokter, opname selama dua minggu. Namun, bedrest hanya bertahan tiga hari. Kala itu belum ada mesin absen fingerprint. Masih serba manual dengan tanda tangan. “Titip absen saja, kenapa?” saya saking kesalnya memberi saran. “Lagi sakit kok mikirin kerjaan, gimana bisa orang sakit kerjanya maksimal?”

Abang hanya tersenyum mendengar kekesalan saya. Alhasil, dengan keadaan yang masih lemas, ia tetap kerja. “Sakit itu ujian dari Allah. Harus kita nikmati,dan jangan mengeluh,” jawabnya simpel.

Tiga tahun tugas di Pekalongan dilalui dengan baik. Lalu, Abang mutasi ke Palembang. Satu sisi lebih jauh dengan kami. Tapi di sisi lain, lebih dekat dengan kampung halamannya. Alhamdulillah, Agustus 2010, kami didekatkan. Abang mutasi di Kantor Pelayanan Pajak BUMN, kantor pajak dengan penerimaan terbesar, yang perlu effort lebih tentunya. Saya hanya bisa berdoa agar setiap langkah yang Abang ambil adalah yang terbaik. Saya dan Ibunda tercinta –mertua saya–
mengkhawatirkannya. Semoga ia selalu sehat dan jauh dari “godaan”. Setiap minggu Ibunda selalu mengingatkan, “Mael, hati-hati dalam setiap memutuskan sesuatu. Jadilah orang yang jujur dan jangan sampai tergoda dengan duniawi ya.”

“Kenapa suamimu gak minta pindah di Bandung saja? Kan bisa lewat Si Anu. Yah, minimal setor satu Kijang lah,” salah satu teman saya yang suaminya juga di Pajak mengipas-kipasi. Saya tak tahu maksud ucapannya, apakah ia bercanda atau serius.

Dan seperti biasanya, ia hanya tersenyum saat saya ceritakan hal itu. “Sudah, gak usah dipikir. Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita. Yah kita berdoa saja. Sekarang Pajak sudah modern udah gak perlu kayak gitu lagi kok. Yang penting kerja kita bagus. Apapun yang kita lakukan karena Allah. Malah jadi ibadah kan?”

Ketika kasus Gayus terekspos, tentu ini mengecewakan banyak pihak yang telah bekerja keras. Di satu sisi justru suami saya senang. “Pada akhirnya, biarlah yang benar yang akan menang,” tuturnya. Di sisi lain, kita harus membuktikan bahwa tidak semua orang Pajak seperti Gayus. “Orang Pajak sekarang beda dengan yang dulu. Sudah modern, sudah tidak ada lagi ‘kebiasaan’ Itu,” tuturnya yakin. Secara tidak langsung saya pun ikut menjadi “jubir” bagi teman-teman di lingkungan saya.

Kebiasaan Abang yang lain adalah ingin perfeksionis. Ia ingin segala hal sempurna, rapi, dan sangat teliti. Tak mau meninggalkan cela pada pekerjaannya. Contoh kecil saja, saya kalah bila harus menyetrika bajunya. Tanpa menyakiti hati saya, ia bilang lebih puas dengan hasil setrika sendiri.

Februari 2011, Abang mengemban amanat, jadi satu anggota tim yang menyusun sebuah buku coaching di Kantor Pusat. Ia siap mengutarakan sejumlah gagasan untuk penyempurnaan program itu. Sayang, dalam perjalanan menuju medan tugas itu, Abang menyongsong takdirnya. Satu titik dalam sebuah periode yang mengubah total kehidupan saya dan anak-anak.

* * *

Dua kali kami tertunda berangkat haji. Pada akhir 2008, kami sudah siap. Namun, Abang mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang tugas dari Palembang menuju Jambi. Tabungan kami untuk Ongkos Naik Haji pun akhirnya terpakai untuk biaya mengganti mobil dinas Livina yang ringsek. Abang tak mau memanfaatkan fasilitas asuransi kendaraan kantor. Dia memilih bertanggung jawab sendiri. Uang bisa dicari, mungkin Allah belum berkehendak. Yang penting Abang selamat. Tahun 2009 pun kami lewatkan. Maklum, masih belum cukup biaya untuk melunasi. Hingga akhirnya, 2010, saya mantap naik haji. Berapapun biayanya. Apapun kendalanya. Saya berdoa, “Mudahkan ya Allah, kami ingin beribadah.”Alhamdulillah, ada jalan walaupun kami harus memanfaatkan pinjaman kantor saya. Itupun Abang masih ragu, “Bunda, apakah ini hak kita?” tanya Abang. Padahal, dengan gajinya sekarang, mungkin Abang bisa saja langsung melunasi ONH. Namun tidak demikian. Abang masih bersikeras dengan alasannya. Alhamdulillah akhirnya saya dapat memantapkan hati Abang. Dengan izin-Nya, kami bisa melunasi ONH dari hasil tabungan gaji pokok PNS, bonus, dan sedikit tambahan pinjaman. November, tiga bulan sebelum kehilangannya, berangkatlah kami berdua.

Sepertinya Allah sudah menyusun rencana dengan sangat indah. Empat puluh hari saya bersamanya di tanah suci adalah waktu yang sangat indah dan tak dapat saya lupakan. Selama kami berumah tangga dari awal menikah, kami belum bisa kumpul bersama. Saat itulah saya merasakan indahnya kebersamaan yang tak ingin terpisahkan. Sempurna rasanya sebagai istri yang bisa melayani dan mengurus suami. Begitupun Abang. Ia menunjukka keceriaan yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Abang adalah tipe orang yang sangat perhatian dan romantis. Satu kali kami hendak salat dan saya berdiri di samping belakangnya. “Bunda salatlah di saf (barisan) perempuan.” “Tapi, Ayah… Bunda sendirian.” kebetulan saat itu suasana padat sekali di Masjidil Haram. Saya sempat mengelak.

“Berjihadlah, ayah bertanggung jawab mendidik Bunda dan anak-anak.” Sedih rasanya mendengar jawaban itu. “Bunda harus terbiasa sendiri,” sambung Abang.

“Kenapa, Yah?”

“Karena kita lahir sendiri. Mati pun sendiri.”

“Jangan bilang gitu yah. Anak-anak masih kecil.”

“Ada Allah yang menjaga anak-anak,” Senyumnya membuat hati saya merasa tenang dan yakin. Ternyata ini pesantren yang Allah berikan lewat ilmu agama yang baik dari Abang. Saya dapat pengetahuan banyak.Terima kasih ya Rabb, Kau telah memberikan kesempatan untuk kami dapat beribadah bersama. Sungguh, momen itu tak mungkin bisa terlupakan. Banyak nikmat yang kami terima sampai kami tiba ke tanah air dengan selamat. Hadiah terindah dari Tanah Suci, saya positif hamil.

Beberapa peristiwa merupakan pertanda yang tak saya sadari. Tanggal 9 Februari 2011, dua pekan sebelum hari celaka itu, kami nonton teve bareng. Ada berita tentang selebritis yang jadi politisi kehilangan suaminya –yang juga artis cum anggota Dewan. Sang istri menangis mengelus-elus nisan suami. “Kalau Bunda seperti itu gimana, ya Yah? Anak-anak masih kecil…” spontan saya nyeletuk dengan maksud bercanda.

Entah kenapa rasa humor yang seperti biasanya, hilang tergantikan dengan tausyiah. “Itu yang tidak boleh,” tuturnya tenang, “menangis, meratapi di pusara tidak baik. Yang diperlukan orang yang telah meninggal adalah doa dari yang masih hidup, bukan bunga yang wangi atau nisan yang indah. Saat Nabi Muhammad ditinggal istri tercinta Khadijah pun beliau merasakan kehilangan dan hanya berkabung tiga hari. Boleh menangis, asal jangan meratap.”

“Hidup di dunia hanya sementara, justru hidup setelahnya yang akan kekal. Perbanyaklah bekal untuk di akhirat. Tiada daya upaya manusia untuk mencegah bila Allah telah berkehendak untuk mengambil nyawa manusia. Jangan takut, Allah lebih dekat dari urat nadi kita. Banyak baca buku tentang agama, yah Bun. Biar tambah banyak ilmunya.”

Dengan senyuman khas yang menenangkan, Abang tak pernah seperti sedang mengajari bila ia sedang berbagi ilmu. Abang berujar, “Tolong jaga anak-anak. Didik agamanya dengan baik. Istikamahlah karena bila agamanya kuat dan takut kepada Allah, dia bisa menghadapi dunia dengan ilmu. Bukan dengan harta dan ingat Allah selalu tahu apa yang kita perbuat.”

* * *

Semenjak pulang ziarah, Abang memperlakukan saya begitu istimewa. Mungkin karena saya sedang hamil. Saya begitu dimanjanya. Hingga Minggu malam itu (20/2)… Kehamilan dua anak sebelumnya, Abang tak pernah menuruti keinginan saya, sekalipun merajuk jika meminta sesuatu. Tapi malam itu… “Kita makan di luar yuk. Bunda pasti pengen apa deh. Kan lagi hamil muda. Ayo lagi kepengen apa?” ujarnya setengah memaksa untuk pergi. Akhirnya kami pergi makan di sebuah resto ikan bakar favoritnya. Karena lama tugas di Makassar, kuliner ikan wajib sebulan sekali buat kami. Abang memesan menu lebih banyak dari biasanya. Alasannya, bisa dibungkus untuk sahur. Alhamdulillah, Senin-Kamis tak pernah terlewatkan untuk puasa sunah. Apa ini yang disebut pertanda? Hendak berangkat ke resto, kami mendapati ban mobil kempes. “Bersyukur, Bunda. Kita keluar rumah nih. Ban kempes, kalo ketahuannya besok pagi, bisa-bisa Ayah kesiangan rapat di Kantor Pusat. Ayah yang menyiapkan ide, masak terlambat? Gak enak dong.”Lagi lagi dengan senyumanya.

Tengah malam, Kayyisah panas dan muntah. Rewel sekali. “Dede (panggilan Kayyisah) pengen tidur sama Ayah aja…. Pengen dipeluk Ayah… aku sayang Ayah. Ayah gak boleh kerja,” rengeknya. Abang pun membuka baju, dan memeluk Dede. Dan Alhamdulillah panasnya reda. Dede pun terlelap.

Pukul setengah tiga dini hari, kami bangun salat tahajud. Biasanya, kami selalu berjamaah. Setelah berdoa, kami berpelukan, saling meminta maaf. Ritual itu tak pernah absen kami lakukan sehabis salat. Tapi kali ini Abang minta salat sendirian. “Kita pisah yah. Ayah mau memperbanyak salat tahajudnya.”

“Kenapa?” pertanyaan itu mestinya saya ungkapkan. Tapi tertahan di hati saja.

Ikan bakar yang seharusnya jadi menu sahur tak Abang sentuh. Malah, Abang meminta buah. “Bun, tahu gak buah-buahan itu makanan di surga. Jadi Ayah cukup sahur dengan apel aja.” Saya tak bertanya, dua minggu terakhir ini Abang bertausyiah tentang kematian terus. Keanehan yang lain, Abang menitipkan Dede sama Mbak (pengasuh anak kami) berulang-ulang.

“Tak seperti biasanya, Bapak nyuruh jagain Dede berulang gitu. Kok kaya mau kemana aja,” ujar Mbak kepada saya. Jam 03.30 pagi. Saya dan Dafi mengantarnya hingga ke pool travel Xtrans di Metro Trade Center. Keanehan yang lain terjadi lagi. Abang tak mau memandang saya. Seperti orang yang sangat sedih mau pergi. “Ayah mau salat di mobil saja. Bun, hati-hati ya. Titip anak-anak,” itu kalimat terakhirnya. Biasanya Abang minta berhenti di rest area guna salat subuh.

Tepat pukul 04.30. Ring tone hape yang sengaja saya bedakan berbunyi. Abang menelepon saya. Sayang, tak sempat saya angkat karena rasa kantuk. Kami begadang karena Dede rewel semalaman. Seandainya saja saya bisa angkat telepon itu, mungkin saya bisa mendengar suaranya yang terakhir kali…

Pukul 04:35. Menurut catatan kronologis Jasa Marga, peristiwa di Tol Cipularang Jalur B Km 100 itu terjadi. Tabrakan karambol yang melibatkan satu truk, minibus travel, dan sebuah mobil, menewaskan tiga orang. Semuanya penumpang travel. Abang meninggalkan kami dalam keadaan puasa. Dan mungkin tengah mendirikan salat subuh. Dalam perjalanan memenuhi tugas.

Di mata saya, Abang wafat dalam jihad. Wallahualam –Tuhan yang punya ketentuan.

Allah punya kehendak lain. Allah lebih mencintai Abang daripada kami. Dia lebih berhak atas Abang daripada kami. Ajal, jodoh, dan rejeki hanya Allah yang tahu kapan dan di mana. Takkan pernah ada yang bisa menghalangi atau pun tertukar. Bila Allah telah berkehendak, tak ada yang mampu menahannya. Allah memberi kesempatan untuk saya agar lebih dekat dan banyak beribadah lagi. Insyaallah ini menjadi ladang ibadah.

Menyangkut kejadian ini, jangan ditanya rasa sedih. Yang saya rasakan hingga saat ini, air mata sepertinya tak bisa kompromi, seakan mendesak keluar, jika mengingatnya. Namun, saya ingat pesan almarhum. Saya tak boleh larut dipermainkan pikiran “seandainya-seandainya”. Itu semua sudah kehendak-Nya. Tak kurang dan tak lebih. Sudah begitu adanya. Hanya doa saya dan anakanak yang bisa kami berikan untuk kekasih kami… Ismail Najib.

Belakangan saya mengetahui bahwa di perjalanan, Abang sempat berkirim posting pada sebuah
grup teman kerja di Blackberry. Itu posting terakhirnya.

* * Feb 21 Mon 04:04 * *

Najib:
Dengar suara adzan selalu tdk dihiraukan atau nanti sajalah
Tp dengar suara HP woow .!! :p
Lgsung segera diambil,
Astgfirullahal’adzm. . : (

Baca Al-qur’an
Seperti orang mengeja
Tapi kalo baca bbm Buseett lancarnya,.:$
Astagfirullahal’adzm. .

Beli pulsa siapa takut !
tp kalo sedekah katanya kantong lg sekarat
Astagfirullahal’adzm. .

Pegang tasbih 1x dlm sethun
tp pegang HP dibawa selalu, walau tidur sekalipun.
Astagfirullahal’adzm. .

sama2 Insyaf yuuukk.!!! :p
Ada baiknya bbm ini disebarkan, mumpung grtisan, dan qm
pun mendapat pahala karna
saling mengingtkan sesama

* * *

Sabtu (19/2), dua hari sebelum kejadian, kami kontrol kandungan. Usia kandungan menginjak bulan keempat. Keinginan Abang untuk dikaruniai anak kembar putri membuat dokter Sofi geli dibuatnya. Tak seperti biasanya, dia ngebet ingin tahu apa jenis kelaminnya. “Perempuan atau laki-laki, Dok? Satu apa kembar Dok?”

“Bapak mau ke mana sih? Kayak mau pergi jauh aja. Banyak banget nanyanya. Masih empat bulan nih…”kata Dokter bercanda. “Pengen tahu, apakah doa saya makbul atau gak.” Setelah cek, diketahui calon anak kami rupanya perempuan. Tapi, “bukan kembar,” tutur Dokter. “Gak apa-apa. Tahun depan bikin lagi yah Bun,” jawabnya sambil melirik saya.
“Enak aja,” sahut saya bercanda. Rasa gembiranya tak bisa ditutupi. “Ayah makin semangat kerja nih,” ujarnya, masih dengan senyuman mautnya.

Sebulan kemudian, saya kembali kontrol. Kali ini… sendirian. Juga untuk lima bulan ke depan hingga melahirkan. Dan bertekad membesarkan anak anak saya sendiri. Ini masa yang sulit untuk saya bisa melaluinya. Kesedihan selalu saya tutupi. Dalam keadaan hamil besar sendiri tanpa suami. Betapa sesak rasanya, ujian ini begitu berat pikir saya. Terpuruknya saya seperti hilang separuh nyawa. Tapi rasa sayang pada Almarhum membuat saya bertekad harus bisa dan kuat!

Satu lagi yang membuat saya bangga, Abang tak pernah absen salat berjamaah di masjid. Sampaisampai di kompleks masjid kami, Al-Hasan, Abang disebut “Pak Ustad”. Para jamaah sudah tahu kebiasaan Abang : paling lama berdoa setelah salat.

* * *

Bagaimana caranya? Apa saya sanggup membesarkan tiga orang anak ini? Menjaga dan mendidik mereka seperti wasiat Almarhum? Dan ternyata, perkataan Abang benar, “Allah yang menjaga.” Ini yang membuat kami bangkit menjalani kehidupan selanjutnya. Saya bersyukur, Abang mengajarkan “ilmu ikhlas”. Masih banyak ilmu yang diberikannya yang baru saya mengerti sekarang sepeninggal Almarhum . Ternyata keikhlasan berbalas pertolongan dari arah yang tak disangka.

Saya sempat down sewaktu mengurus segala sesuatu terkait hak suami saya. Sangat ribet. Banyak dokumen yang perlu dilengkapi. Proses di Kelurahan dan instansi lain cukup berbelit. Saya dihadapkan pada birokrasi yang sangat panjang tanpa kejelasan prosedur. Namun rupanya banyak uluran tangan yang membantu. Allah memberikan jalan kemudahan bila kita berpasrah dan ikhtiar. Saya bersyukur karena masih bisa bekerja. Kini, sayalah yang harus mencari nafkah demi anak-anak. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dengan keadaan istri yang sama dengan saya dan tidak bekerja?

Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman seangkatan Abang (Mas Pank dan Mbak Tri).

Teman sepaguyuban telah banyak membantu dan memberikan support (baca boks “Pak Najib di Mata Mereka” –peny). “Apakah saya berhak menerima ini? Jika memang berhak, Alhamdulillah,” saya bertanya kepada Mas Iwan, perwakilan teman seangkatan Abang, yang menyerahkan santunan. Biaya sekolah Dafi juga terbantu berkat mereka. Terus terang, saya kaget dan bersyukur, sepertinya saya tak sendiri. Ada keluarga baru yang menemani kami.

Saya juga berterima kasih kepada teman-teman sekantor Abang. Mbak Rini (Ibu Dwi Setyorini, Kasubag Umum –peny) dan tim Waskon mengurus pencairan hak-hak almarhum. Sejak Februari, baru Oktober ini selesai. Pak Joga (Bapak Joga Saksono, Kasi Pengawasan dan Konsultasi –peny), serta Pak Yond Rizal (Kepala Kantor –peny). Kepala Kantor yang telah mengusulkan Abang memperoleh predikat anumerta. Status anumerta menegaskan bahwa Abang mangkat sewaktu menjalankan tugas.

** *

Tak ada yang banyak berubah dari rumah ini. Kecuali tinggi lantai yang terpaksa saya naikkan 50 cm. Maklum, dua tahun terakhir, tiap hujan turun, kompleks kami dilanda banjir. Air masuk hingga semata kaki. Rencana menambah tinggi lantai sempat saya utarakan. Itu pun saya lakukan karena masa kelahiran si bungsu kian dekat. Kasihan si kecil. Namun pesan mendiang tetap terngiang, “Bagaimana dengan perasaan para tetangga? Kalau rumah kita tinggi sendiri, bagaimana dengan mereka? Kita jangan egois, Bunda.” Bahkan, untuk mengganti cat dinding yang baru, Abang harus tengok kiri-kanan dulu.

Pernah ada teman nyeletuk, “Gue aja udah punya rumah tiga. Suami lu kan Kasi.rumah dipinggiran ” Mendengar hal itu, nasihat beliau sederhana, “Gak usah ngiri. Kita harus bangga dengan apa yang kita punya.syukuri yang ada, Jangan harap suamimu akan mengambil sesuatu yang lebih dari haknya.” Yah, rumah ini sejak kami beli dan tempati pada akhir 2005, masih harus kami cicil hingga 10 tahun ke depan.

Tak ada yang banyak berubah dari rumah ini. Pigura mungil foto perkawinan kami masih terpajang. Kami memakai sepasang baju dan kebaya biru nyala segar. Dua buah foto kami berdua, saling berpelukan dan tersenyum juga masih ada. Foto keluarga, waktu itu masih dua anak, kami kompak memakai putih-putih, bertengger manis. Ada juga foto Dafi, alangkah gagahnya ia, saat wisuda TK Al-Biruni angkatan 2010-2011. Si sulung juga mempersembahkan piala Juara Kedua Lomba Gerak dan Lagu Geordase TK se-Kecamatan Penyileukan 2011. Di atas meja belajar Dafi dalam kamar, senantiasa berdetak jam dinding warna biru dari KPP Madya Palembang.

Semuanya masih ada pada tempatnya, seperti saat Abang masih bersama kami. Tak ada yang berubah… kau selalu di hati kami. Minggu malam itu, sebelum berangkat menjemput takdirnya, Abang menulis surat di buku Dafi dengan tinta ungu.

SURAT untuk:
Dafi jagoan ayah

Dafi, ayah mau berangkat kerja dulu ya.
Abang jagain bunda sama dede yah.

Abang emam nya yang banyak ya..
jangan lupa minum susu dan sikat gigi
kalau mau bobo.

Belajar yang rajin
jangan lupa belajar solat.

da dah Abang…
peluk sayang
dari ayah
(Ayah Najib)
ttd

Tak akan ada yang berubah dari rumah ini. Kecuali anak -anak yang bertambah besar. Anak-anak tetap ceria. Bermain bersama teman mereka di depan televisi di ruang tengah. Saya tak mau menangis di depan mereka, tiap kali mengingat Abang. Kalau kepergok Dafi, dia mengingatkan, “Bunda nangis ingat Ayah yah? Kata Bu Guru, kalau teringat ayah kita mesti berdoa, Bunda. Ayah sudah di surga, Bunda. Berarti Ayah sudah berkumpul dengan Nabi Muhammad. Kan masih ada Abang (panggilan Dafi), Kaka (panggilan Kayyisah setelah punya adik) dan Dede. Kita berjuang bersama-sama, ya Bun. ” Saya takjub mendengarnya. Anak seusia Dafi sudah bisa bertutur seperti itu.

Satu lagu sering dinyanyikan Almarhum untuk saya. Dan sekarang saya persembahkan untuk beliau: “Takkan Terganti”.

meski waktu datang dan berlalu
sampai kau tiada bertahan
semua takkan mampu mengubahku
hanyalah kau yang ada di relungku

hanyalah dirimu
mampu membuatku jatuh dan mencinta
kau bukan hanya sekedar indah
kau tak akan terganti

Delapan bulan sudah berlalu tanpa kehadirannya.Yah, memang tak ada yang banyak berubah dari rumah ini begitupun dengan hati kami, Kami ingin sekadar menganggap Abang sedang berangkat kerja. Hanya, Ayah masih belum kunjung pulang. Selamat jalan Ayah akan kubesarkan dan kudidik anak kita seperti yang kau inginkan,semoga Allah selalu melindungi kami dan Semoga kita dapat berkumpul di surga kelak. Kau akan selalu ada bersama kami Peluk sayang kami yang menyayangimu..

Ummu Dafi – Bandung

Oktober 2011

Dinukil dari Buku Berkah II

http://www.fimadani.com/kekasihku-pergi-saat-berjihad-kisah-nyata-istri-pegawai-pajak/

Video Pembantaian Mesuji Hoax?

Kabarnya, video "Pembantaian Mesuji" dilakukan di kawasan selatan Thailand, basis komunitas Islam Pattani. Kawasan tersebut, selama ini diberlakukan darurat militer karena dianggap daerah  gerakan separatis minoritas Islam Melayu Pattani.

Kenya Jawa Njoget Ing Tanggap Yuswa Kaping 25 Pasar Balaikota Farino New Caledonia

Dinten menika, Senin (Meredi), kalihwelas Desember (12/12) tanggap yuswanipun pasar Balaikota Farino ingkang kaping selangkung (25), Farino menika kitha alit ing New Caledonia sisih kidul. Kados ing tanggap yuswa tahun-tahun kepengker, dinten menika ugi dipun pengeti kanthi nanggap maneka warni kesenian kados seni tiyang Wallis (Kanaky), ugi kesenian Jawi. New Caledonia panggenanipun wonten ing tlatah benua sub-melanesia, sakwetanipun Australia, kalebet tlatah Pasifik. Ing mriki, panggenanipun tiyang Jawi micara basa Perancis. Kagem Ibu Ghislaine Arlie (Walikota Farino), mugi2 tansah karahayon anggenipun ngayahi jejibahan mandegani kitha Farino. Ugi kagem sedaya staf ing Konjen RI mugi tansah diparingi kuwarasan, wonten Pak Ade, Bu Sulastri, Pak Suyoto, ugi Mbak Rukiyah ingkang njoget megal-megol ngagem sampur kuning, lan sedaya ingkang mboten kasebat ing mriki. Mboten kesupen, salam takzim kagem sesepuh Jawi ing New Caledonia Mbah Sa'an Ngadimin.

Thailand Masih Berlakukan Darurat Militer di Wilayah Muslim Pattani

Oleh: Rohman, Citizen Journalist

NewMedia--Silatuhrahmi dan Dialog Kemanusiaan digelar oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dengan tema “Kabar terkini muslim Patani dan Kontribusi Laz dan LSM Indonesia”, Kamis (8/12) dengan menghadirkan narasumber Abu Jihad, Abu Qoum  Muhammad Najib dan Umi Maulidina dari PULO(Patani United Liberation Organization).

Dalam kesempatan tersebut Abu Jihad menyampaikan bahwa Patani Darussalam adalah Negara Melayu Islam, wilayah yang pernah berdaulat selama 445 tahun (1457-1902) tiba-tiba dihapuskan dari peta dunia sejak di istiharkan menjadi bagian dari Siam tanpa rela, yaitu hasil dari perjanjian durjana Anglo-Bangkok pada tahun 1902, sehingga sekarang tidak pernah lagi merasakan seperti yang berlaku pada Patani Darusalam pada masa itu.

“Sejarah berdarah sejak perjuangan Asy syahid KH. Sulung, mayor Tengku Mahmud Mahyiddin, Asy Syayid husain cik Mansyur, Tengku Abdul Jalal dan KH. Syeik Ahmad Daud Alfani adalah sejarah umat islam yang tidak boleh di asingkan dari minda dan jiwa ummah rantau ini,” ujar Abu Jihad... Selengkapnya baca www.lugasnews.com

Gugatan Nita Yudi Dikabulkan, Kubu Rina Fahmi Harus Hengkang dari Gedung Iwapi dalam Waktu 7x24 jam



--Sidang tidak dihadiri tergugat dengan tanpa alasan--

Pada hari ini, kamis (1/12/2011) Hakim PN Jakarta Selatan memutuskan menerima gugatan Ketua Umum Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) kepengurusan Ketua Umum Nita Yudi kepada Tergugat atas nama Rina Fahmi Idris, mantan Ketua Umum DPP Iwapi periode 2007-2012 yang telah dilengserkan dalam sebuah Munaslub pada 8 April 2010. Meskipun, Rina Fahmi tetap menolak melakukan serahterima jabatan dan tetap mengklaim sebagai Ketua Umum, serta menguasai aset gedung DPP Iwapi di kawasan Cikini Jakarta Pusat.

Dengan Putusan Hakim di PN Jakarta Selatan memenangkan gugatan Nita Yudi melalui Surat Keputusan No. 720/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel pada hari ini, maka pihak tergugat yakni kubu Rina Fahmi tidak berhak lagi menggunakan dan/atau memanfaatkan logo, simbol-simbol dan/atau atribut lain dari organisasi IWAPI terhitung sejak diberhentikan pada forum Munaslub Iwapi tanggal 8 April 2010.

Putusan hakim juga menyebutkan tentang tergugat yang tak berhak mengatasnamakan sebagai pengurus IWAPI dalam bentuk dan/atau untuk kepentingan apapaun terhitung sejak diberhentikan pada forum Munaslub Iwapi.

Keputusan hakim juga menghukum tergugat secara tanpa syarat untuk selambat-lanbatnya 7 (tujuh) hari sejak putusan perkara dijatuhkan, untuk menyerahkan kepada pihak penggugat, tanah dan bangunan berikut segala isinya yang menjadi kantor tetap DPP IWAPI yang terletak di Jl Kalipasir No. 38 Cikini, Jakarta Pusat. Gedung tersebut terdaftar sebagai HGB No. 863 atasnama Pemegang Hak Perkumpulan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI).

Putusan pengadilan juga menghukum tergugat secara tanggung renteng membayar ganti kerugian materiil sebesar Rp 120.000.000. Sebagaimana diketahui sejak dilakukan pendudukan gedung DPP IWAPI oleh Rina Fahmi begitu ia dilengeserkan dari kursi Ketua Umum, kubu pengurus baru terpilih yakni Nita Yudi menyewa sebuah kantor di Jl Sawo, Cipete Jakarta Selatan senilai uang yang dipasalkan sebagai kerugian materiil diatas.

Atas ketidakhadiran Rina Fahmi tanpa alasan sebagai tergugat di Pengadilan Negeri jakarta Selatan hari ini, Nita Yudi berpendapat bahwa itu menunjukkan seberapa jauh kematangan seseorang dalam berorganisasi serta perilaku yang tidak menghormati hukum.

Usai pembacaan putusan yang memenangkan gugatan Nita Yudi, rombongan Iwapi dengan dipimpin langsung oleh Nita Yudi bergerak menuju gedung DPP Iwapi di Kalipasir, sebelumnya, pada sekitar pukul 12.00 siang dua buah spanduk telah dipasang. Namun ketika pada sekitar pukul 15.30 spanduk-spanduk telah hilang, meledaklah kemarahan rombongan ibu-ibu wanita pengusaha tersebut. Dengan bantuan masyarakat sekitar, akhirnya spanduk ditemukan dan dipasang kembali. Rupanya, begitu mendengar kabar kemenangan gugatan Nita Yudi, kubu Rina Fahmi mengirimkan petugas keamanan dari perusahaan jasa Universal Security yang dikelola bersama suaminya, Poempida Hidayatullah.
Hingga berita diturunkan, Rina Fahmi belum dapat dihubungi, namun pada sekitar pukul 16.00 ketika dikonfirmasikan soal pengambil alihan gedung DPP Iwapi oleh Nita Yudi Cs, melalui pesan singkat (BBM) Poempida Hidayatullah hanya menjawab singkat, "Enggak bakal, lah...". Dan Nita Yudi serta Wartawan yang hadir sore ini menjumpai setidaknya tiga orang petugas keamanan yang saat pemasangan spanduk di siang hari belum nampak keberadaannya. 

Masyarakat sekitar yang mengetahui ada keributan di gedung yang sudah mangkrak hampir dua tahun itu, menyaksikan dari sekitar gedung dan sempat membuat macet lalu lintas di depan gedung. Begitu tahu yang akan mengambil alih gedung adalah kubu Nita Yudi, sebagian tergerak membantu dengan memaksa petugas sekuriti membuka gembok pagar, serta mengeluarkan sebuah mobil warga sekitar yang sebelumnya menyewa parkir dan sempat dijadikan sandera, yang justru menyulut emosi warga sekitar. Sebagai catatan, sebelum gedung dikuasai Iwapi kubu Rina Fahmi, masyarakat sekitar yang menjaga keamanan gedung tersebut karena dirasa memberi manfaat bagi warga sekitar baik sebagai tempat menyelenggarakan berbagai acara, serta sering melakukan bakti sosial santunan fakir miskin dan anak yatim, beasiswa kepada anaka sekolah kurang mampu, sunatan massal dan melatih warga sekitar berbagai keterampilan teruatam bagi wanita.

"Sudah setahun lebih sejak dikuasai orang itu (Rina Fahmi, Red), tidak pernah ada kegiatan, pintu gerbang juga digembok, parkir yang dulunya gratis sekarang bayar sewa perbulan, memakai halaman untuk kegiatan warga seperti hajatan juga menyewa, sebelumnya sejak jaman bu dewi motik ini gedung ibaratnya menjadi milik bersama warga disini," ujar Hani, salah satu warga yang diamini warga lainnya. Warga sekitar juga nampak sumringah menyambut kedatangan rombongan Nita Yudi bersama pengurus lainnya yang sambil berpapasan masih mengingat satu persatu dan menyapa warga penuh keakraban. (Rilis)


Mau US $6 Juta? Kalo yg dibawah ini saya nggak mau ...


salam!, saya butuh bantuan dan dukungan.

Saya Maya Putri dari Indonesia. Saya telah menikah dengan Bapak George Baker, seorang Insinyur dari Inggris. Kami resmi menikah pada tanggal 10 Oktober 2001. Pada saat itu dia sedang bekerja sebagai karyawan kontrak di SUBSEA, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengeboran dan saluran pipa minyak, gas dan bahan bakar, berbasis di Singapura. Kontrak kerjanya berakhir pada tahun 2004. Kami lalu pindah di negara asalnya Inggris bersama dengan anak perempuan kami.

Pada tanggal 26 April 2008, kami sekeluarga sedang dalam perjalanan pulang dari pantai. Mobil kami mengalami ban pecah lalu menabrak sebuah tiang listrik. Setir mobil masuk menembus dan melukai dada suami saya. Dia meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Tuhan masih melindungi saya & anakperempuan saya.

Setelah suami saya dimakamkan pada tanggal 10 Juli 2008, keluarganya datang menuntut properti suami saya. Mereka semua mengklaim bahwa saya tidak menikah dengan Bapak George Baker secara resmi. Saya harus menyerahkan semua rumah dan properti kepada mereka termasuk akses ke semua rekening bank kami dan beliau. Sejak bulan Agustus 2008, kami mengadu ke pengadilan untuk menyelesaikan masalah ini bersama pengacara almarhum suami saya. Tapi sejak itu pula tidak ada satu pun yang didapat.

Almarhum Suami saya memiliki sejumlah uang sebesar US $6,000,000,00. yang disimpan untuk investasi dalam sebuah rekening di Natwest Bank Plc, UK . Sampai saat ini tidak ada satu pun anggota keluarganya yang mengetahui keberadaan rekening ini. Hanya saya & pangacara kami yang mengetahui tentang sejumlah uang pada rekening almarhum suami saya ini.

Saya memutuskan untuk menyerahkan semua rumah dan property kepada keluarga suami saya dan mengambil uang di rekening ini untuk kembali ke Negara saya Indonesia bersama anak perempuan saya untuk memulai hidup baru. Dari hasil penelitian saya terhadap uang pada rekening suami saya, ternyata BELUM ditunjukkan ahli waris. Inilah yang menjadi alasan saya untuk mencari orang yang dapat dipercaya agar membantu kami sebagai ahli waris almarhum suami saya Bapak George Baker. Anda akan mendapatkan uang tersebut untuk ditransfer ke rekening bank anda.

Transaksi ini 100% LEGAL & TIDAK BERESIKO.

Saya akan memberikan Anda semua informasi penting yang diperlukan untuk mengklaim uang ini. Saya yakin kalau Anda tidak akan mengecewakan saya sekarang ataupun di masa yang akan datang.

SAYA MENGHUBUNGI ANDA KARENA YAKIN ANDA TIDAK AKAN SEKALIPUN MENGECEWAKAN SAYA DENGAN MENGAMBIL SEMUA UANG TERSEBUT UNTUK REKENING ANDA SAJA. SAYA AKAN MEMBERIKAN SEMUA INFORMASI YANG DIPERLUKAN UNTUK MENGKLAIM UANG INI. TOLONG JAGA INI SEBAGAI KEPERCAYAAN YANG SAYA BERIKAN KEPADA ANDA.

Saya menunggu respon POSITIF anda SECEPATNYA ke email PRIBADI saya berikut. mayaputri027@yahoo.co.id

Salam Hangat,

Maya Putri

Sampah Berserakan di RSUD Labuang Baji Makasar

Salah satu sudut depan bangsal di RSUD Labuang Baji Makasar, sampah berserakan, mulai dari bungkus makanan hingga jarum suntik bekas.

Cara Mudah Umroh & Haji

Anda mau menunaikan ibadah Haji, atau Umrah?
Hubungi :
0815-8579-2280,
021-94-69-69-48 
BB  312BE661


Libya Bosan Dimanja Gaddafy



Bagaimana Gaddafy memanjakan rakyat di negaranya? Dengan kelola Sumber Daya Alam yang dimiliki, Gaddafy memfasilitasi kehidupan rakyatnya dengan cara seperti dibawah ini:

1. Tidak ada tagihan listrik, gratis bagi semua warga.

2. Tidak ada bunga pinjaman, bank-bank di Libya milik negara dan pinjaman diberikan tanpa agunan serta bunga 0%.

3. Papan / Perumahan adalah hak dasar penduduk Libya, Gaddafy pernah bersumpah jika berkuasa orang tuanya sendiri tidak akan mendapatkan rumah sebelum semua warga punya rumah. Ayah Gaddafy meninggal ketika dia, istrinya dan ibunya masih tinggal di tenda.

4 Pengantin baru di Libya menerima santunan $ 60.000 (setara US $ 50.000) dari pemerintah untuk membeli apartemen agar dapat membantu memulai keluarga.

5. Pendidikan dan perawatan medis bebas biaya. Sebelum Khaddafi, angka melek huruf hanya 25% dan kini 83%.

6. Jika ada warga ingin kembangkan bidang perkebunan, mereka akan menerima lahan pertanian, dan rumah pertanian, peralatan, bibit dan ternak untuk memulai peternakan, gratis.

7. Jika di dalam negeri tidak menemukan fasilitas pendidikan atau kesehatan yang dibutuhkan, dana pemerintah diberikan kepada warga untuk pergi ke luar negeri dengan kelengkapan fasilitas akomodasi US $ 2,300 per bulan dan tunjangan mobil.

8. Jika warga ingin membeli mobil, pemerintah memberikan subsidi 50% dari harga, dengan begitu bisnis energi (bensin) berjalan baik.

9. Harga bensin di Libya adalah $ 0,14 per liter.

10. Libya tidak memiliki utang luar negeri, jumlah cadangan devisa sampai $ 150 miliar  dan sekarang dibekukan secara global.

11. Jika mahasiswa lulus kuliah belum mendapatkan pekerjaan, negara membayar dengan rata-rata gaji profesi sampai menemukan pekerjaan.

12. Sebagian dari penjualan minyak Libya dikreditkan langsung ke rekening bank dari semua warga Libya.

13. Seorang ibu yang melahirkan seorang anak menerima santunan US $ 5.000

14. Harga 40 pcs roti di Libya  $ 0,15

15. Sebanyak 25% penduduk Libya lulus perguruan tinggi.

16. Gaddafi membuat proyek irigasi terbesar di dunia untuk menyediakan air di seluruh jazirah Libya.

Keenambelas poin diatas, menjadi alasan kenapa Gaddafy pantas mati, setidaknya menurut musuh-musuhnya.



Kasum TNI Tinjau Kesiapan Latihan Bersama Penanggulangan Terorisme di Mako Kopassus



Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI J. Suryo Prabowo dan para Komandan Satuan Elit TNI�Polri meninjau kesiapan peralatan dan latihan penanggulangan teror di Mako Kopassus.

NEWMEDIA--Dalam rangka meningkatkan kemampuan penanggulangan teror (gultor), pasukan elit dari TNI dan Polri akan gelar latihan bersama (latma) Waspada Nusa III TA. 2011  pada 27 Oktober  2011 dengan obyek berbagai sasaran yang berbeda. Sasaran tersebut antara lain Hotel Sultan, Gedung Bursa Efek Indonesia, Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok dan Gedung TVRI. 
Kesiapan latihan bersama TNI–Polri ini mendapat perhatian dari Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI J. Suryo Prabowo dan para Komandan Satuan Elit TNI–Polri yang meninjau kesiapan peralatan dan latihan penanggulangan teror di Mako Kopassus Cijantung, Jakarta Timur. Sebelum melaksanakan peninjauan, Kasum TNI mendapat penjelasan seputar Satuan 81 Penanggulangan Teror Kopassus TNI AD dan Rencana Garis Besar Latihan Waspada Nusa III TA. 2011. 
Pelaksanaan latihan bersama TNI – Polri dalam penanggulangan teror ini diharapkan dapat meningkatkan sinergitas TNI – Polri serta komponen masyarakat lain yang akan terlibat dalam latihan. Penanggulangan teror bukan hanya urusan TNI – Polri saja tetapi merupakan kepedulian dan kewaspadaan seluruh rakyat Indoenesia yang ingin hidup tenang dan damai di Republik Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, Kasum TNI menekankan untuk berlatih dengan baik dan memotivasi pasukan elit agar dapat menunjukkan kepada pimpinan bahwa mereka dapat dipercaya, serta diharapkan latma kali ini akan dapat menyempurnakan Standard Operating Prosedure (SOP) dalam menghadapi krisis. 
"Belajar dari kejadian teror di negara-negara lain, Pasukan Elit TNI – Polri harus menyadari bahwa tidak ada keberhasilan perorangan, yang ada adalah keberhasilan bersama," demikian disampaikan oleh Letjen TNI J. Suryo Prabowo soal upaya sinergitas TNI – Polri.
Latihan bersama yang dilaksanakan setiap tahun ini juga akan melibatkan satuan lain di luar TNI – Polri, seperti BNPT, Pemadam Kebakaran, Bea Cukai, Telkom dan Petugas Keamanan di tiap instansi yang akan dijadikan sebagai tempat latihan.
Menyamakan Persepsi
Pekan sebelumnya, Jum'at (7/10), apel kesiapan Latma antiteror dengan sandi "Waspada Nusa III" ini di gelar di Markas Komando Kopassus TNI Angkatan Darat Cijantung, Jakarta. Masih pada hari yang sama, Keluarga Besar Kopassus juga menerima kunjungan Pewarta Warga NewMedia, Mahar Prastowo dalam rangka melakukan sinergi menyamakan persepsi dalam mempertahankan 4 pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika.
Pewarta Warga NewMedia disambut oleh Komandan Grup-3 Kopassus, Kolonel Izak Pangemanan bersama jajaran dan terlibat dalam diskusi di Desk Papua Batalyon Grup-3 Sandi Yudha Kopassus. 
Kolonel Izak Pangemanan juga berharap agar media sebagai penyampai informasi lebih meningkatkan perannya dalam menjaga keutuhan NKRI dan pilar kebangsaan lainnya yakni Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika demi kepentingan bersama menciptakan stabilitas negara agar memiliki ketahanan kuat dalam menghadapi ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.

Melani Suharli: Jangan Jenuh Terima Pemahaman 4 Pilar Kebangsaan



NEWMEDIA--"Empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI serta Bhinneka Tunggal Ika, sudah menjadi harga mati bagi masyarakat, karena itu, empat pilar kebangsaan tersebut harus terus didengungkan dan masyarakat supaya jangan jenuh menerima pemahaman tentang empat pilar kebangsaan tersebut," demikian disampaikan Wakil Ketua MPR RI Dr. Hj. Melani Leimena Suharli, dalam kunjungan ke Gedung Pers Bali Ketut Nadha, Selasa (11/10).

Perairan Kobar Catat Sejarah, Kapal Pesiar Orion II Merapat ke Pelabuhan Kumai




Orion II dirancang untuk tour Asia Tenggara diluncurkan pada tahun 1990, memiliki 5 deck dengan tonase 4.077, dan kapasitas penumpang 100 orang yang jika jadi kapal penumpang, mampu menampung 4.000 orang. 

NEWMEDIA--Cruises Orion II milik PT Cruise Critic yang bermarkas di London, Inggris, mencetak sejarah baru di Pelabuhan Panglima Utar Kumai. Kedatangan kapal yang mengangkut 85 turis asing dari berbagai negara itu merupakan kapal pesiar yang pertama kali masuk perairan Kobar. Kehadiran kapal pesiar ini pada 3 Oktober lalu, menambah kesibukan pelabuhan Kumai. Sebab, saat ini lebih dari 40 perahu layar peserta ‘Sail Wakatobi-Belitong’ juga sedang merapat ke Pelabuhan Kumai.
Orion II dirancang untuk tour Asia Tenggara seperti ke Vietnam, Thailand, Kamboja, kepulauan Indonesia, Jepang dan khusus ke Kalimantan. Kapal yang diluncurkan pada tahun 1990 itu, memiliki 5 deck, dengan tonase 4.077, sedangkan kapasitas penumpang 100 orang. Padahal, jika menjadi kapal penumpang kapal itu mampu menampung 4.000 orang.

Sebelum melayari perairan Kobar dan merapat ke Pelabuhan Kumai, Cruises Orion II terlebih dahulu mengunjungi Bali, dan setelah dari Kobar melanjutkan pelayaran ke Pontianak, Tarakan, Balikpapan dan menuju Malaysia serta Singapura.

Manager Pelindo II Cabang Kumai, Edy Priyono, me­ngatakan pihaknya menyambut baik kedatangan rombongan touris dengan kapal pesiar itu. Pada dasarnya, ini merupakan moment upaya terus mengenalkan tempat-tempat wisata Kobar ke dunia, khususnya Tanjung Puting yang terkenal dengan habitat alam Pongo Pygmaeus (Orang Utan).

Wisata Seksual Ini Menunggu Aksi FPI

 


25 September 2011
Wisata seksual di Puncak ini menunggu aksi FPI lebih nyata, sebelumnya sudah dilakukan peringatan. Sampai kapan, Bib? Klik DISINI untuk menyaksikan reportase investigasi  France24 TV tentang wisata seksual halal dan legal tersebut.

Surat Pengusaha Rotan yang 'Dicuekin' SBY itu


      Nomor : 140/AMKRI/V/2011
      Lampiran : Data ekspor furnitur rotan nasional
      Perihal : Permohonan Penutupan Ekspor Bahan Baku Rotan
      Kepada Yth.
      Bapak.Dr.Susilo Bambang Yudhoyono
      Presiden Republik Indonesia di Jakarta
        Dengan hormat,
        Perkenankanlah kami dari AMKRI suatu organisasi yang mempunyai visi menjadikan mebel rotan sebagai icon produk nasional dan Indonesia sebagai negara industri mebel dan kerajinan rotan terbaik di dunia.
        Indonesia adalah negara penghasil 85% bahan baku rotan dunia, juga memiliki banyak pengrajin rotan yang sangat terampil. Namun sangat disayangkan, potensi menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil mebel dan kerajinan rotan terbaik dan terbesar di dunia sangat terhambat oleh berbagai kendala.
        Melihat perkembangan industri mebel dan kerajinan rotan Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini, bukan hanya TERHAMBAT pertumbuhannya, malah dalam 2 tahun terakhir ini terpuruk makin dalam sehingga sangat diragukan eksistensinya di pasar internasional.
        Menurut pengamatan kami, salah satunya kendala non teknis yang sangat kontra produktif dengan semangat menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah adalah kebijakan mengekspor bahan baku rotan sesuai dengan SK Menteri Perdagangan No 36/M-DAG/PER/8/2009 (revisi dari SK No 12/M-DAG/PER/6/2005).
        Kebijakan ini menghambat pertumbuhan industri rotan dan sekaligus menciptakan kompetisi di pasar internasional oleh negara-negara pembeli bahan baku rotan dari Indonesia, hingga sudah sampai pada tahap yang memprihatinkan. Ratusan industri mebel dan kerajinan rotan Indonesia gulung tikar, dan masih ratusan perusahaan yang terancam tutup. Puluhan ribu tenaga kerja terampil kehilangan pekerjaan.
        Bersama surat ini perkenankanlah kami mengajukan permohonan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia agar kebijakan ekspor bahan baku rotan bisa ditinjau kembali untuk dicabut. Dengan demikian keberlangsungan industri padat karya yang sangat kita banggakan ini, bisa terus tumbuh dan berkembang menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah. Agar cita-cita luhur untuk menjadikan mebel rotan sebagai icon produk nasional dan Indonesia sebagai penghasil mebel dan kerajinan rotan terbaik dan terbesar di dunia bisa kita wujudkan bersama.
        Demikian permohonan ini kami sampaikan dengan segala kerendahan hati, dengan penuh harapan semoga bapak presiden berkenan mengabulkannya.
        Atas perhatian bapak kami sampaikan terima kasih.
        Jakarta, 9 Mei 2011
        Hormat Kami,
        Ketua Umum AMKRI
        M. Hatta Sinatra
          Tembusan:
               Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa
               Mendag Mari Elka Pangestu
               Menperin MS Hidayat
               Menhut Zulkifli Hasan
               Menakertrans Muhaimin Iskandar

      Rina Fahmi Incar Kursi Menteri, Wartawan Dekat Akan Dijadikan Staf Ahli

      Bagi Rina, mau diposkan dimanapun siap apakah sebagai Menteri Pemberdayaan Peremapuan dan Perlindungan Anak yang kini dijabat Linda Agum Gumelar, maupun Menteri BUMN menggantikan Mustafa Abubakar yang masih belum pulih dari sakitnya. Klik selengkapnya DISINI

      PTTUN Tolak Gugatan Nita Yudi, Rina Fahmi Rayakan Kemenangan


      Ketika terjadi persidangan di tingkat PTUN Jakarta, pihak Badan Kesbangpol yang menjadi Tergugat I terungkap telah melanggar Surat Edaran Kemendagri No. 27 tahun 2006 poin 16 yang mengamanatkan bahwa apabila terjadi dualisme kepengurusan dalam sebuah organisasi, maka tidak dapat diterbitkan SKT (Surat Keterangan Terdaftar). Namun kenyataannya pihak Kesbangpol menerbitkan SKT tersebut kepada pihak Rina Fahmi pada 3 Mei 2010 atau sekitar 3 Minggu setelah terjadi Munaslub.

      Dipersidangan pihak Kesbangpol berkilah, SKT diterbitkan karena pihak Badan Kesbangpol tidak mengetahui adanya konflik internal dan terjadi dualisme kepengurusan pasca Munaslub pada 8 April 2010. Meskipun kemudian terungkap berdasarkan bukti T9 yang diajukan oleh Dirjen Kesbangpol di persidangan, terbukti ada surat dari RF ke Kemendagri UP. Ditjen Kesbangpol Tgl 12 April 2010, yang menginformasikan adanya Munaslub Iwapi. Klik selengkapnya DISINI

      IWAPI Dukung Optimalisasi Kinerja Kementerian BUMN


      Setelah satu bulan Menteri BUMN Mustafa Abubakar menderita sakit dan dirawat di National University Hospital Singapura, otomatis menghentikan kinerjanya sebagai seorang menteri. Tugas-tugasnya lantas diambil alih Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Meski kemarin malam, Rabu (21/9) telah kembali ke tanah air, Mustafa masih harus istirahat karena belum pulih total.

      Seiring isu perpolitikan nasional soal reshuffle kabinet, nama Mustafa Abubakar termasuk diantaranya. Bedanya, kalau yang lain lebih bersifat politis, untuk Mustafa Abubakar dikarenakan kondisi kesehatannya. klik selengkapnya DISINI

      Hitachi Targetkan Kuasai 50% Pasar Power System


      MP–Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tempat tinggal yang tersebar keberbagai pelosok di tanah air, sehingga masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menikmati aliran listrik. Karena tempat pemukiman yang sulit di jangkau.

      Pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas listrik setiap tahunnya, dengan tujuan dapat mengaliri listrik ke masyarakat yang belum mendapatkan listrik. Selain untuk kebutuhan masyarakat di perumahan yang terus tumbuh, demikian juga halnya listrik masih dibutuhkan oleh kalangan industri.

      Melihat peluang yang sangat besar ini, PT Japan AE Power Systems Indonesia, anak usaha dari Hitachi Ltd., Jepang, mendirikan pabrik di Cikarang, Jawa Barat untuk memproduksi perangkat jaringan dan transmisi listrik. Alat tersebut biasanya oleh PLN untuk ditempatkan pada gardu listrik. Klik selengkapnya di SINI