Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini

Rina Fahmi Kunjungi Kedubes Rep. Polandia

______________________________________________________________________
Saling Bertukar Informasi Kerjasama Perdagangan & Investasi

Jakarta-Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) periode 2007-2010, Rina Fahmi Idris, beserta beberapa pengurus IWAPI mengunjungi kantor Divisi Promosi Perdagangan dan Investasi (TIPD), Kedutaan Besar Republik Polandia di Jakarta, pada hari Kamis (17/2). Rina beserta rombongan diterima oleh konselor Romuald Morawski, Kepala TIPD, beserta istrinya, Elżbieta Morawska, yang bertanggung jawab atas kontak kerja antara TIPD dan sekretariat IWAPI.

Foto: Dok. Kedubes Polandia
Selama pertemuan tersebut, kedua pihak saling bertukar informasi mengenai kemungkinan peningkatan dan kontinuitas kerjasama perdagangan dan investasi antara Polandia dan Indonesia. Sementara Rina,  juga memberikan informasi lengkap mengenai struktur organisasi dan aktivitas IWAPI. 

Konselor Morawski menginformasikan mengenai kegiatan-kegiatan promosi yang akan diadakan TIPD dalam waktu dekat, termasuk di antaranya seminar di Surabaya dan di Pontianak, yang mana dia mengharapkan agar ada koordinasi terhadap para anggota dan pengurus IWAPI setempat, supaya dapat turut hadir dalam acara tersebut. 

Konselor Morawski juga menyampaikan rencananya untuk menyelenggarakan suatu seminar khusus untuk IWAPI, mengenai kesempatan membuka kerjasama perdagangan dan investasi dengan Polandia.

TIPD merasa bahwa kerjasama yang terjalin dengan IWAPI merupakan sesuatu hal yang positif dan akan sangat bermanfaat untuk kedua belah pihak. Untuk itu diharapkan adanya kerjasama penuh dalam peningkatan aktivitas perdagangan dan investasi di masa yang akan datang.


Tentang IWAPI

Ide mengenai wadah organisasi perempuan pengusaha muncul tahun 1970-an dari kerisauan dua kakak beradik Kemala dan Dewi, putri pengusaha besar asal Palembang Basyarudin Rahman Motik (Motik singkatan dari Maju Olehmu Tanah Indonesia Kita). Keduanya risau melihat kaum wanita memiliki peran penting dalam dunia usaha namun masih berjalan sendiri-sendiri. Agar peranserta para wanita pengusaha di berbagai daerah kian nyata dalam pembangunan ekonomi bangsa, keduanya berniat menghimpun dan menjalinkan kerjasama di segala bidang usaha secara terkoordinasi, sehingga mampu melahirkan sinergi lebih berarti.

Gagasan disambut baik oleh wanita pengusaha seperti Mirta Kartohadiprodjo, Dotty Ibnu Sutowo, Linda Spiro, Linda Latief, Astari Harun Alrasyid, Astrid Soerjantono Soerjo, Ratih Dardo, dan Niniek Soerjo Adiwarsita. Bersamaan perayaan Tahun Wanita Internasional pada 10 Februari 1975, berdirilah IPWI (Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia) dengan kesepuluh wanita tersebut sebagai  pendiri, serta sebagai penasihat adalah Nyonya Herawati Diah, Lasmidjah Hardi, dan Hanny Malkan.

Organisasi didirikan dengan 3 tujuan: membina persatuan dan kerjasama para wanita pengusaha Indonesia di bidang ekonomi dan usaha; meningkatkan pengetahuan serta keterampilan sebagai pengusaha; dan meningkatkan peranserta aktif dalam masyarakat Indonesia yang sendang membangun.

Organisasi dengan cepat berkembang ke seluruh Indonesia dan berperan aktif memperjuangkan kepentingan di dunia usaha. Berbagai Kerjasama dijalin antara lain dengan BPEN sehingga berkesempatan selalu ikutserta dalam pameran didalam dan luar negeri; Bank pemerintah dan swasta untuk meningkatkan permodalan anggota;  LPPM-UI dan Sekolah Perhotelan NHI Bandung, serta mengitim anggota studi ke International Marketing Institute di Cambridge, dan Indonesia Senior Executive Program di Fontainebleau, Prancis. Dan sejak 5 Desember 1979, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, dibentuk Pusat Pendidikan IWAPI berupa kursus katering dan garmen, dan ternyata hingga kini paling banyak diminati.

Di usia ke-36, IWAPI sebagai asosiasi pengusaha perempuan di Indonesia semakin dewasa dalam menjejakkan langkah menapak perjuangan perempuan pengusaha di Indonesia, serta semakin kokoh peran dan jati dirinya di kancah Internasional. Dengan visi yang baru diusung berupa “Menjadi organisasi perempuan pengusaha terbaik tingkat Nasional dan Internasional” IWAPI bersama 18,000 anggotanya yang tersebar 32 propinsi di Indonesia berusaha dengan segenap kemampuannya untuk melaksanakan Misi IWAPI yaitu:

1) Memberdayakan dan memperkuat kaum perempuan di dalam UKM melalui peningkatan kemampuan anggota untuk mengelola usaha anggota, mendapatkan akses  terhadap teknologi baru, pemasaran dan pembiayaan.

2) Memperjuangkan anggotanya dengan berbagai cara antara lain advokasi, pelatihan (ketrampilan teknis, manajeman dan sumber daya manusia), dan networking.

Ketua IWAPI Dari Masa Ke Masa:

1.       DR. Kemala Motik Abdul Gafur (1975-1982)
2.       DR. Hj. Dewi Motik Pramono (1982-1992)
3.       Netty B. Rianto (1992-1997) ;
4.       Suryani Sidik Motik (1997-2007) ;
5.       Rina Fahmi Idris (2007-2010);
6.       Ir. Dyah Anita Prihapsari. MBA / Nita Yudi (2010 – 2015)

menghubungi admin blog ini: 
email: mahar.prastowo@bismillah.com
mobile: 0815 8579 2280

Lelya Berkarya Untuk Kebangkitan IT Indonesia

(MP)-Pada 20 -05-2005, jam 20.05, dia melakukan soft launching perusahaan ICT dan Multimedia Consultant, dibawah bendera Damarwangi. Tanggal dan jam itu sengaja diambil, bertepatan dengan simbol hari kebangkitan nasional. Dengan demikian, saya punya visi ke depan juga merupakan kebangkitan IT Indonesia, yaitu IT yang berbau Indonesia itu bisa dikerjakan oleh putera-puteri Indonesia.

Dari situ usaha kami mulai focus, walau masih sebatas mengerjakan database, tapi sudah mengarah ke klinik atau ke arah hospital management, dan medical report. “Kebenaran ayah ku itu dokter internist, jadi saya dari kecil itu sudah mengertilah tentang rumah sakit. Apalagi saya lahir dan besar di komplek perumahan rumah sakit,” ujarnya, yang kini masuk di jajaran organisasi nasional Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia.

Impian tersebut benar-benar ingin diwujudkannya. Untuk itulah dia mengambil tesis S2 di University of Essex, Inggeris, dia membuat sebuah aplikasi dengan riset melakukan WAP (wireless application protocol) untuk medical record...

KLIK JUDUL UNTUK MEMBACA ARTIKEL LENGKAPNYA

STB-ACS Gelar Pertunjukan Amal Musikal Les Miserables

Pertunjukan musikal Les Miserables menjadi sebuah sarana untuk menangkap keindahan pesan yang disampaikan Victor Hugo dalam novelnya yang sangat populer, Les Miserables. Yaitu pesan tentang kegigihan, pengampunan dan cinta. Bekerjasama dengan Wahana Visi Indonesia, pertunjukan akan digelar di panggung STB-ACS (International) Jakarta Timur pada Jumat (25/2) dan Sabtu (26/2) mendatang.
 
"Ini pertunjukan amal yang mana hasil penjualan tiket akan disumbangkan untuk membantu pendidikan anak-anak kurang mampu di daerah terpencil di Indonesia. Kami menggandeng Wahana Visi Indonesia sebagai mitra World Vision Internationl dalam penyalurannya." Kata Ridya Suryaningtyas, Executive Officer for Professional Learning (CPL) ANPS-BI, Asosiasi Sekolah Nasional Plus Berstandard Internasional.


Refleksi HUT IWAPI Ke-36: "Siap Jadi Mitra Pemerintah Sukseskan Gerakan Kewirausahaan Nasional"



“Di usia ke 36 tahun ini IWAPI telah memiliki jumlah anggota sekitar 18.000 perempuan pengusaha di 32 Provinsi, dengan presentasi 85% adalah pengusaha kecil dan mikro, 13% pengusaha Menengah dan 2% pengusaha Besar. Dengan modal potensi tersebut kami bertekad mewujudkan wirausaha tangguh berdaya saing untuk memajukan perekonomian nasional.” Kata Ir. Dyah Anita Prihapsari, MBA, Ketua Umum DPP Iwapi yang akrab disapa Nita Yudi, ini dalam sambutan peringatan HUT IWAPI ke-36 di Jakarta, Senin (21/2).

Untuk mewujudkan tekad tersebut, demikian disampaikan Nita Yudi, DPP IWAPI dengan dilandasi semangat kewirausahaan dan mem bangkitkan semangat kebersamaan, mengusungkan  Program Kerja yang difokuskan pada 3 kelemahan UMKM yaitu  Program Pengembangan Sumber Daya Manusia, Program Peningkatan Pembiayaan dan Program Pengembangan Pemasaran Produk.

Semangat dalam mengusung program kerja diatas, dituangkan dalam tema Peringatan HUT IWAPI ke-36 ini , yaitu ‘Dengan Semangat Kewirausahaan IWAPI Bertekad Mewujudkan Wirausaha Yang Tangguh Dan Berdaya Saing untuk Memajukan perekonomian Indonesia’.

“Tema tersebut disesuaikan dengan GKN ( Gerakan Kewirausahaan Nasional ) yang baru dicanangkan oleh Presiden pada tanggal 2 Februari yang baru lalu di Jakarta. Karena Negara yang maju harus memiliki minimal 2% wirausaha dari total jumlah penduduknya, sehingga jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan dapat ditekan dan tercapainya kesejahteraan rakyat.” Ujar Nita Yudi menegaskan.

Maka demi tercapainya  program tersebut, IWAPI mengedepankan sikap kemitraan dengan semua pihak terkait, seperti sinergi pihak pemerintah, BUMN, Swasta bahkan dengan luar negeri.

IWAPI juga berharap adanya kepedulian pemerintah untuk selalu memberi  kemudahan bagi para pengusaha baik dari  Kepastian Hukum, Ketahanan Pangan/ Kestabilan harga termasuk harga Tarif Dasar Listrik dll sampai kredit bank yang masih cukup tinggi, hingga persentase pajak dan pungutan retribusi penyebab ekonomi biaya tinggi. 

“Di usia ke-36 ini IWAPI siap menjadi mitra strategis pemerintah sukseskan Gerakan Kewirausahaan Nasional agar terwujud wirausahawan tangguh, mandiri, dan berdaya saing untuk memperkokoh Perekonomian Indonesia dalam mencapai kesejahteraan masyarakat Indonesia”. Pungkas Nita Yudi yang kini makin mantap memimpin IWAPI. (*)


Tentang IWAPI

Ide mengenai wadah organisasi perempuan pengusaha muncul tahun 1970-an dari kerisauan dua kakak beradik Kemala dan Dewi, putri pengusaha besar asal Palembang Basyarudin Rahman Motik (Motik singkatan dari Maju Olehmu Tanah Indonesia Kita). Keduanya risau melihat kaum wanita memiliki peran penting dalam dunia usaha namun masih berjalan sendiri-sendiri. Agar peranserta para wanita pengusaha di berbagai daerah kian nyata dalam pembangunan ekonomi bangsa, keduanya berniat menghimpun dan menjalinkan kerjasama di segala bidang usaha secara terkoordinasi, sehingga mampu melahirkan sinergi lebih berarti.

Gagasan disambut baik oleh wanita pengusaha seperti Mirta Kartohadiprodjo, Dotty Ibnu Sutowo, Linda Spiro, Linda Latief, Astari Harun Alrasyid, Astrid Soerjantono Soerjo, Ratih Dardo, dan Niniek Soerjo Adiwarsita. Bersamaan perayaan Tahun Wanita Internasional pada 10 Februari 1975, berdirilah IPWI (Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia) dengan kesepuluh wanita tersebut sebagai  pendiri, serta sebagai penasihat adalah Nyonya Herawati Diah, Lasmidjah Hardi, dan Hanny Malkan.

Organisasi didirikan dengan 3 tujuan: membina persatuan dan kerjasama para wanita pengusaha Indonesia di bidang ekonomi dan usaha; meningkatkan pengetahuan serta keterampilan sebagai pengusaha; dan meningkatkan peranserta aktif dalam masyarakat Indonesia yang sendang membangun.

Organisasi dengan cepat berkembang ke seluruh Indonesia dan berperan aktif memperjuangkan kepentingan di dunia usaha. Berbagai Kerjasama dijalin antara lain dengan BPEN sehingga berkesempatan selalu ikutserta dalam pameran didalam dan luar negeri; Bank pemerintah dan swasta untuk meningkatkan permodalan anggota;  LPPM-UI dan Sekolah Perhotelan NHI Bandung, serta mengitim anggota studi ke International Marketing Institute di Cambridge, dan Indonesia Senior Executive Program di Fontainebleau, Prancis. Dan sejak 5 Desember 1979, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, dibentuk Pusat Pendidikan IWAPI berupa kursus katering dan garmen, dan ternyata hingga kini paling banyak diminati.

Di usia ke-36, IWAPI sebagai asosiasi pengusaha perempuan di Indonesia semakin dewasa dalam menjejakkan langkah menapak perjuangan perempuan pengusaha di Indonesia, serta semakin kokoh peran dan jati dirinya di kancah Internasional. Dengan visi yang baru diusung berupa “Menjadi organisasi perempuan pengusaha terbaik tingkat Nasional dan Internasional” IWAPI bersama 18,000 anggotanya yang tersebar 32 propinsi di Indonesia berusaha dengan segenap kemampuannya untuk melaksanakan Misi IWAPI yaitu 1) Memberdayakan dan memperkuat kaum perempuan di dalam UKM melalui peningkatan kemampuan anggota untuk mengelola usaha anggota, mendapatkan akses  terhadap teknologi baru, pemasaran dan pembiayaan. 2) Memperjuangkan anggotanya dengan berbagai cara antara lain advokasi, pelatihan (ketrampilan teknis, manajeman dan sumber daya manusia), dan networking.

Ketua IWAPI Dari Masa Ke Masa:
1.       DR. Kemala Motik Abdul Gafur (1975-1982)
2.       DR. Hj. Dewi Motik Pramono (1982-1992)
3.       Netty B. Rianto (1992-1997) ;
4.       Suryani Sidik Motik (1997-2007) ;
5.       Rina Fahmi Idris (2007-2010);
6.       Ir. Dyah Anita Prihapsari., MBA / Nita Yudi (2010 – 2015)


MUI Soal Mbah Priok "Perlu Penjernihan Sejarah"


SALAH satu fokus penelitian MUI adalah seputar sejarah sosok Habib Hasan al-Hadad atau Mbak Priok. Kekeliruan informasi sejarah itu tertulis dalam Risalah Manaqib versi ahli waris yang tertuang dalam gapura makam, tersebar di media massa, dan yang diketahui publik setelah peristiwa Koja 14 April 2010. Kekeliruan tersebut terdapat pada:

1. Urutan waktu sekitar tahun kelahiran dan kematian Habib Hasan al-Hadad mengalami kekacauan. Yang tersebar ke publik, beliau lahir tahun 1727 dan meninggal tahun 1756, sedangkan yang benar adalah lahir tahun 1874 dan meninggal 1927;

2. Pada riwayat hidupnya dikatakan beliau sebagai seorang dai atau mubalig, padahal sesungguhnya beliau seorang yang tawadu atau orang saleh yang bekerja sebagai seorang pelaut di kapal dagang Sayyid Syech bin Agil Madihij;

3. Habib Hasan al-Hadad belum pernah sampai di Batavia karena meninggal dalam perjalanan. Jadi, kalau disebut sebagai penyebar Islam di Jakarta yang tangguh dan mempunyai kehebatan tertentu tidak didasari oleh fakta yang dapat dipertanggungjawabkan;

4. Ada upaya mengaitkan asal-usul nama Tanjung Priok dengan Habib Hasan al-Hadad, namun secara historis  kebenaran faktualnya tidak dapat diterima. Sesuai fakta sejarah, nama Tanjung Priok dikaitkan dengan nama Aki Tirem, penghulu atau pemimpin daerah Warakas yang tersohor sebagai pembuat periuk. Sedang kata tanjung merujuk pada kontur tanah yang berupa tanjung. Bantahan ketidakbenaran pengaitan toponomi Tanjung Priok dengan Habib Hasan al-Hadad juga didasarkan pada fakta bahwa pada tahun 1877 pemerintah kolonial mulai melaksanakan proyek pelabuhan yang namanya Haven Tanjung Priok. Sedangkan saat itu Habib Hasan Al Haddad baru berumur tiga tahun dan mukim di Palembang.

5. Poin-poin kekeliruan sejarah sebagaimana tertulis dalam Risalah Manaqib versi ahli waris dan yang tertulis dalam gapura makam Habib Hasan al-Hadad di Koja telah menjadi sumber kekeliruan pemahaman publik (masyarakat dan media massa) di satu pihak, dan telah menjadi stimulan bagi munculnya solidaritas sosial-keagamaan. Dengan pola hubungan sosial tersebut, persepsi makam yang keramat telah mendapatkan ruang yang kondusif untuk tersebar dalam masyarakat, meski informasi yang dijadikan dasar kekeramatannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.


Rekomendasi

Terkait dengan temuan fakta sejarah itu, MUI merekomendasi-kan perihal ini sbb:

1. Perlu dilakukan upaya-upaya penjernihan sejarah, teruta-ma pada sekitar tahun kelahiran dan kematian Habib Hasan al-Hadad yang mengalami kekacauan urutan waktu. Selain itu, juga pada seputar riwayat hidupnya yang dikatakan sebagai seorang dai atau mubalig, sumber keluarga lebih menyebutkan ia sebagai seorang yang tawadu atau orang saleh yang bekerja sebagai seorang pelaut di kapal dagang Sayyid Syech bin Agil Madihij. Lebih jauh lagi, dalam konteks ini juga mesti ditegaskan bahwa Habib Hasan al-Hadad belum penah sampai di Batavia karena meningal dalam perjalanan, jadi tak bisa disebut sebagai penyebar Islam di Jakarta. Termasuk juga yang harus dijernihkan adalah upaya pengaitan toponomi (asal-usul nama) Tanjung Priok dengan Habib Hasan al-Hadad, sesuatu yang bukan saja asing bila dikembalikan pada dunia mitologi orang Betawi, tetapi juga secara historis  kebenaran faktualnya tidak dapat diterima.

2. Terkait dengan rekomendasi yang pertama maka harus dilakukan penulisan dan kampanye pengenalan sejarah Habib Hasan al-Hadad sebagai sebuah tulisan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, yang lebih banyak mengandung kebenaran faktual ketimbang mitos dan legenda, sebagai pengganti Risalah Manakib Mbah Priuk yang menjadi sumber mitos atau kepalsuan sejarah.

3. Masalah kekeramatan merupakan bagian dari tradisi berislam di nusantara yang sudah berakar lama. Oleh karena itu, pemerintah harus pada tempatnya dalam menghormati tradisi tersebut, yakni dengan cara yang lebih bijak dengan lebih mempertimbangkan aspek sosial-budaya, tidak menempatkannya sebagai komoditas politik tanpa mempedulikan dampak negatif dari mitos dan kebohongan sejarah tersebut, yang pada akhirnya disalahgunakan oleh kelompok-kelompok kepentingan tertentu. – yuwono

Kasus ‘Mbah Priok’, MUI mengkaji 4 kejanggalan

MUI temukan kejanggalan soal "dongeng" Mbah Priuk (foto: dok. Poskota)
PERISTIWA kerusuhan di Koja, Jakarta Utara, 14 April 2010 lalu, yang kemudian dikenal sebagai “Kasus Mbah Priok”, telah menelan korban tiga orang meninggal dan 231 orang luka-luka. Peristiwa tersebut juga menimbulkan kerugian materi berupa hancurnya puluhan kendaraan dan kerugian immaterial yang lainnya. Kasus yang bermula  dari persoalan perebutan lahan eks-pemakaman tersebut, melebar ke persoalan sosial-keagamaan. 


Kasus ini merupakan klimaks dari klaim sepihak lahan eks-TPU Dobo yang merupakan milik negara, oleh pihak ahli waris Habib Zein al-Haddad—saudara Habib Hasan al-Haddad yang oleh sejumlah pihak dikenal dengan nama “Mbah Priok”. 

Pemberitaan pada saat terjadinya peristiwa tersebut telah memperlebar isu perebutan lahan menjadi isu sosial-keagamaan, yang terjadi akibat adanya dramatisasi peristiwa dan keramatisasi makam Mbah Priok. Dramatisasi peristiwa dan keramatisasi makam itu menyulut aksi solidaritas sosial-keagamaan yang mempengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat terhadap keberadaan makam Mbah Priok. 

Implikasi dari beberapa faktor itu membuat kasus ini menjadi sensitif dan berpotensi besar mempengaruhi instabilitas sosial-politik nasional. Tingginya bobot permasalahan kasus ini mendorong berbagai pihak terlibat dalam proses penyelesaiannya; seperti PMI, Komnas HAM, DPD RI, Pemprov DKI, DPRD DKI, FPI, FBR, Forum Ulama dan Habib, Rabithah Alawiyah dan sejumlah tokoh masyarakat. 

Melalui investigasi yang dilakukan, PMI selaku lembaga netral yang dipimpin mantan wapres Jusuf Kalla merekomendasikan beberapa hal terkait dengan upaya penyelesaian masalah tersebut. Salah satu rekomendasinya meminta MUI (Majelis Ulama Indonesia) beserta para ahli melakukan penelitian terhadap beberapa substansi masalah yang dipandang harus mendapat pertimbangan seperti soal makam, waris, dan soal-soal sosial-keagamaan yang terkait dalam kasus tersebut. 

Merespon rekomendasi PMI tersebut, MUI membentuk Tim Penelitian yang melibatkan berbagai ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk mengkaji empat aspek, yaitu aspek sejarah sehubungan adanya dugaan fakta yang perlu diluruskan, lalu aspek keagamaan sehubungan adanya dugaan kekeliruan dalam keyakinan dan praktik ber-Islam, aspek keberadaan makam sehubungan MUI diminta untuk memberikan arahan atas letak pembangunan tempat ziarah yang seharusnya, dan aspek persepsi-perilaku para pelaku ziarah yang diduga tidak mengetahui bagaimana adab berziarah yang benar sehingga potensial untuk mengikuti arahan kuncen makam yang keliru. 

Melalui penelitian selama dua bulan, dengan desain riset yang di-focus-group-discussion-kan dulu, MUI berhasil menemukan fakta-fakta yang meluruskan keempat aspek tersebut. Berdasarkan fakta-fakta itulah, MUI memberikan rekomendasi yang ihsan kepada berbagai pihak. Salah satunya, dengan tetap menghormati almarhum Habib Hasan sebagai pelaut yang saleh, dan meminta kepada Pemprov DKI agar membangun tempat ziarah di TPU Semper sebagai tempat jasad Habib Hasan dimakamkan. - yuwono

Perkembangan Islam di Batavia

UNTUK lebih meyakinkan masyarakat bahwa Habib Hasan Alhadad bukanlah tokoh yang menyebarkan Islam di Jakarta, para pakar sejarah Jakarta memaparkan asal mula dan perkembangan Islam di kawasan ini.

Disebutkan bahwa fakta sejarah masuknya Islam di Jakarta mulai terjadi pada abad ke 14 Masehi. Masuknya Islam di Batavia (Jakarta)  dirunut dari berdirinya Pesantren Quro di Karawang pada tahun 1418.  Waktu itu dikenal seorang Syekh bernama Syekh Quro, yang bernama asli Syekh Hasanuddin, yang kemudian diketahui berasal dari negara Kamboja.

Mula-mula maksud kedatangannya ke Pulau Jawa untuk berdakwah di Jawa Timur, namun ketika singgah di pelabuhan Karawang, Syekh Quro urung meneruskan perjalanannya ke Jawa Timur karena dia menikah dengan penduduk setempat dan membangun pesantren di Quro. Makam Syekh Quro di Karawang sampai kini masih banyak diziarahi orang. 

Dalam perkembangannya, seorang santri pesantren Quro, Nyai Subang Larang, dipersunting Prabu Silihwangi. Dari perkawinan ini lahirlah Pangeran Kean Santang yang kelak menjadi penyebar Islam di Pajajaran dan Batavia, sehingga banyak warga Betawi menjadi pengikutnya.


Titik tolak
Dari catatan sejarah ini kemudian diketahui bahwa titik tolak penyebaran Islam di Batavia terjadi antara tahun 1418-1527. Sejumlah tokoh penyebarnya antara lain Syekh Quro, Kean Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condetdan Dato Biru Rawabangke.

Seperti sejarah tentang perkembangan agama pada umumnya, awal mula penyebaran Islam di Jakarta mendapat tantangan keras, terutama dari bangsawan Pajajaran dan para resi. Naskah kuno Carios Parahiyangan menyebutkan, penyebaran Islam di bumi Nusa Kalapa (sebutan Jakarta ketika itu) diwarnai dengan 15 peperangan.

Peperangan di pihak Islam dipimpin oleh dato-dato, dan di pihak agama lokal, agama Buhun dan Sunda Wiwitan, dipimpin oleh Prabu Surawisesa, yang bertahta sejak 1521 dengan dibantu para resi. Bentuk perlawanan para resi terhadap Islam ketika itu adalah fisik melalui peperangan, atau mengadu ilmu. Karena itu, penyebar Islam umumnya memiliki ‘ilmu’ yang dinamakan elmu penemu jampe pemake

Sementara para dato umumnya menganut tarekat sehingga banyak resi seperti resi Balung Tunggal yang dimakamkan di Bale Kambang (Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur), yang akhirnya takluk dan masuk Islam. Prabu Surawisesa sendiri akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Kiranawati. Kiranawati wafat tahun 1579, dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. 

Sementara itu, penyebaran Islam di pesisir Jakarta diketahui telah dimulai sejak abad 15, tepatnya tahun 1527. Bukti penyebaran Islam di pesisir Jakarta itu ditandai dengan berdirinya Masjid Al-Alam yang hingga kini masih berdiri kokoh di Cilincing, Jakarta Utara. 

Masjid ini dibangun oleh Raden Fatahilah dan pasukannya untuk menyerang Portugis tahun 1527. Diyakini masyarakat setempat, Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari. Hingga kini masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi, selalu diziarahi, lebih-lebih pada malam Jumat Kliwon. 

Sekitar seratus tahun kemudian, 1628 hingga 1629, ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung Museum Sejarah Jakarta), para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Masjid Al-Alam, guna mengatur siasat perjuangan. 


Pedagang Gujarat
Pada perkembangan selanjutnya, penyebaran Islam dilakukan oleh para padagang Gujarat, yang membangun Masjid Al-Anshor pada tahun 1619 Masehi. Namun beberapa waktu kemudian, sekitar Mei 1619, ketika VOC menghancurkan Keraton Jayakarta, termasuk masjid tersebut. Akhirnya tanah bekas masjid itu digunakan untuk membangun sebuah perwakilan dagang Inggris.

Di tahun yang sama, 1619, penyebaran Islam juga dimulai di daerah Jatinegara Kaum.
Hal itu ditandai dengan Masjid As-Salafiah yang terletak di Jatinegara Kaum, dekat Pulogadung, Jakarta Timur.  Masjid ini didirikan oleh Pangeran Ahmed Jaketra, setelah hijrah dari daerah Jayakarta tahun 1619 akibat gempuran VOC. Masjid itu hingga kini masih terlihat bentuk aslinya, yakni adanya empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati yang menjadi penyangganya.

Sekalipun sudah delapan kali direnovasi dan diperluas, empat tiang penyangga ini masih kita dapati. Dari Masjid As-Salafiah inilah pangeran Ahmed yang kemudian berganti nama menjadi Pangeran Jayakarta dan pengikutnya mengobarkan semangat jihad untuk terus-menerus mengusik Belanda. 

Sampai 1670, Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya Pangeran Jayakarta  dan para pengikutnya. Dalam perkembangan selanjutnya, penyebaran Islam di Jakarta berlanjut dengan kedatangan  Al-Habib Husein bersama para pedagang dari Gujarat yang mendarat di pelabuhan Sunda Kelapa, tahun 1736 Masehi.

Inilah kiranya salah satu titik tolak sejarah penyebaran Islam di sepanjang daerah Jakarta Utara, termasuk di daerah Tanjungpriok. 

Pesisir Jakarta Utara diceritakan sebagai tempat persinggahan terakhir Habib Husein dalam mensyiarkan Islam. Beliau mendirikan surau di daerah Luar Batang, dekat Pelabuhan Sunda Kelapa, sebagai pusat penyebaran Islam.

Habib Husein banyak dikunjungi orang bukan saja dari daerah sekitarnya, tetapi juga datang dari berbagai daerah Jawa Barat untuk belajar Islam. Habib Husein wafat di Luar Batang tanggal 24 Juni 1756 M, bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah.

Konon pula ada yang menarik pada saat wafatnya Habib Husein. Ketika itu VOC melarang Habib Husein dimakamkan di Luar Batang karena orang asing harus dikubur di Tanahabang. Namun, tiga kali bolak-balik masyarakat mengusung kurung batang berisi jenazah Habib Husen, setiap kali tiba di kuburan Tanah Abang kurung batang itu selalu kosong. Jenazah Habib Husein ternyata tetap berada di tempat semula, di Kampung Luar Batang. Akhirnya masyarakat Luar Batang memutuskan untuk menguburkan Habib Husein di tempatnya berdakwah, yakni di Masjid Luar Batang. 

Penyebaran Islam di Batavia mulai dilakukan oleh kalangan intelektual Islam yang bersinar di masyarakat Betawi, sekitar abad ke-19 dengan tokoh-tokoh seperti Guru Safiyan atau Guru Cit, pelanjut kakeknya yang mendirikan Langgar Tinggi di Pecenongan, Jakarta Pusat.

Pada pertengahan abad ke-19 hingga abad ke-20 terdapat sejumlah sentra intelektual Islam di Betawi. Seperti sentra Pekojan, Jakarta Barat, yang banyak menghasilkan intelektual Islam. Selain itu juga lahir Syekh Djuned Al-Betawi yang kemudian menjadi mukimin di Mekah. Di Betawi juga lahir Habib Usman Bin Yahya, yang mengarang puluhan kitab dan pernah menjadi mufti Betawi.

Intelektual Islam Betawi juga lahir sentra Mester (Jatinegara), dengan tokoh Guru Mujitaba yang mempunyai istri di Bukit Duri. Karena itulah, ia secara teratur pulang ke Betawi. Guru Mujitaba selalu membawa kitab-kitab terbitan Timur Tengah bila ke Betawi. Dia punya hubungan dengan Guru Marzuki Cipinang yang melahirkan sejumlah ulama terkemuka seperti KH Nur Ali, KH Abdullah Syafi’ie, dan KH Tohir Rohili. Juga sentra Tanah Abang yang dipimpin oleh Al-Misri. Salah seorang cucunya adalah Habib Usman, yang mendirikan percetakan 1900.

Diceritakan, pada awalnya Habib Usman hanya menempelkan lembar demi lembar tulisannya pada dinding Masjid Petamburan. Lembaran itu setiap hari digantinya sehingga selesai sebuah karangan. Jamaah membacanya secara bergiliran di masjid tersebut sambil berdiri.

Dari berbagai literatur sejarah mengenai perkembangan Islam serta tokoh-tokoh ulama yang menyebarkannya di tanah Betawi diketahui bahwa nama Habib Hasan Alhadad tidak satu kali pun disebut. Itu berarti cerita yang menyebutkan Habib Hasan Alhadad sebagai tokoh penyebar Islam di Jakarta tidak benar, karena beliau wafat dalam perjalanan di tengah laut menuju Batavia.

Sayangnya, informasi ini tidak seutuhnya diketahui masyarakat. Bahkan, kalangan ulama sekalipun banyak yang terkecoh dengan informasi yang menganggap Habib Hasan Alhadad sebagai penyebar Islam di Jakarta. 

Dalam sebuah surat pernyataan yang ditandatanganinya, Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah KH Nur Iskandar SQ menyebutkan bahwa Habib Hasan Alhadad sebagai tokoh penyebar Agama Islam di Pulau Jawa dan Sumatera yang kemudian dimakamkan di wilayah Tanjungpriok. Surat pernyataan bernomor 035/A-2/ASHD/VII/1997 itu sepertinya dibuat memang atas permintaan pengelola makam pada waktu itu.

Meski tidak didukung literatur yang memadai, dalam pernyataan yang tampaknya dibuat dengan isi seragam, sejumlah ulama pun membuat surat pernyataan yang berangkat dari informasi sepihak. Meski demikian, sejumlah ulama yang membuat surat pernyataan tersebut sesungguhnya memiliki maksud baik menghargai ketokohan ulama penyebar agama Islam.

Sesuai data yang ada, sejumlah ulama tersebut antara lain KH Sochibul Anwar (Pondok Pesantren Nurul Anwar Jaddih Timur, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan Madura), Habib Abdullah bin Hud Al-Habsyi (Jln TB Badaruddin No 33 Kp Jati Jatinegara Kaum, Jakarta Timur),  KHS Abdullah Schal (Pondok Pesantren Syaichona Cholil, Demangan Barat, Bangkalan, Madura), Habib Hamid Naqib bin Muhammad Bin Syech Abi Bakar (Yayasan Pondok Pesantren Al-Khairat, Pengasinan, Bekasi Timur). 

Selain itu, Agil Alhabsyi (Tegalan, Jakarta Timur), Habib Ahmad Fahmy bin Abu Bakar Al-Idrus (Jl Rulita No 26 Kel Harjasari, Ciawi, Bogor), Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus (Makam Keramat Luar Batang Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara), KH Abdul Mujib (Koddasa - Korps Dai Darussaadah Rawamangun Utara, Rawasari, Jakarta Pusat), KH Muh. As’ad Umar (Yayasan Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur), H Abdul Rahman M Alhabsyi (Islamic Center Indonesia, Masjid Auwabin Kwitang, Jakarta).

Semoga saja pembahasan mengenai sejarah Tanjungpriok serta penyebaran agama Islam di Jakarta ini mampu meluruskan informasi yang telanjur beredar. Semua ini dimaksudkan semata-mata mendapatkan kebenaran sesuai dengan tuntunan agama. Amin. – yuwono

Asal-usul Tanjungpriok


Pelabuhan Tanjung Priok abad 19

KALAU saja tidak terjadi peristiwa konflik berdarah di bekas TPU Dobo, mungkin sejarah asal usul Tanjungpriok tidak banyak dibahas. Namun, karena konflik berdarah di tempat tersebut dikait-kaitkan dengan sosok yang dikenal dengan julukan ‘Mbah Priok’, pembahasan mengenai apa dan bagaimana sejarah Tanjungpriok men-jadi perbincangan menarik.

Memang, sejauh ini masyarakat di Jakarta sendiri, bahkan di seluruh dunia sekalipun, lebih mengenal Tanjungpriok sebagai sebuah kawasan pelabuhan bertaraf international yang di dalamnya terdapat kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas ekspor dan impor. Tanjungpriok pun banyak dilihat dari perannya sebagai gerbang ekonomi nasional.

Begitulah yang terjadi hingga kemudian muncul peristiwa yang memprihatinkan itu. Tanggal 14 April 2010 lalu, peristiwa memilukan terjadi. Peristiwa itu adalah kerusuhan yang melibatkan Satpol PP dengan massa dari pihak yang mengaku sebagai ahli waris Habib Hasan Al Haddad, di Jln Dobo, Koja, Jakarta Utara.

Isu pun berkembang liar. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab menyebarkan informasi bahwa petugas Satpol PP akan membongkar makam keramat Habib Hasan Alhadad yang diyakini sebagai tokoh di balik nama Tanjungpriok. Sebagian orang menyebutnya dengan sebutan ‘Mbah Priok’.

Legenda
Semasa hidupnya, sosok ‘Mbah Priok’ dilukiskan sebagai tokoh heroik yang menentang Belanda sejak dari tanah kelahirannya di Palembang, Sumatera Selatan. Pada saat usia muda, dia berangkat ke Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam

Dari cerita itu pula, diketahui bahwa Habib Hasan bersama Habib Ali berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Berbagai rintangan menghadang selama dalam perjalanan, seperti serbuan armada perang Belanda dengan persenjataan lengkap. Namun, serangan itu tak satu pun berhasil mengenai perahu yang mereka tumpangi.

Setelah berhasil lolos dari kejaran Belanda, ujian lain menghadang perahu yang dinaiki Habib Hasan Alhadad. Ombak besar menggulung perahu tersebut. Semua perlengkapan di dalam perahu hanyut dibawa gelombang. Sementara yang tersisa hanya alat penanak nasi atau disebut dengan periuk.

Hingga kemudian ombak yang lebih besar datang menghantam dan membuat kapal terbalik. Dengan kondisi yang lemah dan kepayahan, keduanya terseret hingga daratan. Ketika ditemukan warga, Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad sudah tewas. Hanya Muhammad Ali Alhadad yang selamat. 

Akhirnya warga memakamkan jenazah Habib Hasan tak jauh dari tempat ditemukannya, yakni di Pondok Dayung.  Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung yang menyertainya sedangkan periuk diletakkan di sisi makam.

Konon, dayung yang dijadikan nisan tumbuh menjadi pohon tanjung. Sementara, periuk yang semula diletakkan di sisi makam terseret arus ombak hingga ke tengah laut. Lama- kelamaan nama daerah itu disebut Tanjungpriok.

Meski hanya berdasarkan cerita yang bersifat legenda, hingga kini banyak yang meyakini bahwa cerita tentang ‘Mbah Priok’ sebagai sosok di balik sejarah penamaan Tanjungpriok itu benar adanya. Padahal, sesuai hasil investigasi yang dilakukan Tim Pengkaji MUI menunjukkan bahwa cerita tersebut tidak benar. Apalagi kisah ‘Mbah Priok’ seperti tertuang dalam manakib yang dibuat pengelola makam penuh dengan mitos yang cenderung menyesatkan. 

Fakta sejarah
Jika kisah ‘Mbah Priok’ dianggap sebagai sebuah kebohongan terkait dengan sejarah Tanjungpriok, bagaimana kisah sebenarnya tentang kawasan yang terletak di pantai utara Jakarta ini? 

Para pakar sejarah yang selama ini banyak melakukan penelitian mengenai asal-usul Tanjungpriok membantah kisah yang menyebutkan Habib Hasan Alhadad atau ‘Mbah Priok’ merupakan sosok di balik sejarah penamaan Tanjungpriok. Menurut mereka, sejarah Tanjungpriok tidak ada kaitannya sama sekali dengan keberadaan Habib Hasan Alhadad maupun riwayat ‘Mbah Priok’ tersebut. 

Pengamat sejarah Jakarta, Alwi Shahab, mengungkapkan asal-usul atau sejarah Tanjungpriok sudah ada sejak zaman prasejarah. Kawasan ini sudah berperan sebagai pelabuhan penting sejak masih abad 1 Masehi. Karena, di kawasan tersebut terdapat daratan yang menjorok ke laut atau yang dikenal dengan istilah tanjung. 

Pada saat itu salah satu komoditas perdagangan yang terkenal adalah alat menanak nasi dari tanah liat yang disebut periuk. Pada saat itu, tokoh terkenal pembuat periuk adalah Aki Tirem, seorang penghulu kampung yang hidup pada abad ke-2 Masehi. Aki Tirem tinggal di pinggiran kali yang saat ini dikenal dengan Sungai Tirem di Warakas, Tanjungpriok.

Dari sisi toponomi wilayah, cerita ini ada benarnya. Di Indonesia, sebutan Tanjung merujuk pada kontur tanah, sedangkan periuk dikaitan dengan tempat pembuatan alat memasak nasi banyak ditemui pada saat itu. 

Ini sesuai dengan penelitian seorang pakar sejarah Jerman Kees Green, yang menyimpulkan bahwa banyak tempat di Jakarta merujuk namanya dari kontur tanah, misalnya Tanah Abang Bukit, Tegal Alur, Rawasari, Bojong Gede, dan lainnya. Alhasil, keterangan yang menyebutkan sejarah Tanjungpriok terkait dengan riwayat hidup Habib Hasan Alhadad atau ‘Mbah Priok’ terbantahkan. 

Di sisi lain, Habib Hasan Alhadad atau ‘Mbah Priok’ yang disebut-sebut sebagai tokoh penyebar Islam di Jakarta ternyata merupakan orang saleh yang bekerja sebagai pelaut. Kepergiannya ke Jakarta (Batavia waktu itu) hanya untuk berziarah ke makam keramat Luar Batang, makam Sunang Gunungjati di Cirebon, serta makam Sunan Ampel di Surabaya. Bahkan diceritakan bahwa sebelum sampai di tempat tujuan, Habib Hasan Alhadad meninggal ketika masih berada di laut. Itu berarti, kalaupun dia berniat menyebarkan Islam, misinya itu belum sempat terlaksana. – yuwono


BPKN: Konsumen Tak Perlu Kuatirkan Susu Formula


Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) meminta masyarakat untuk tidak resah dan khawatir mengkonsumsi susu formula saat ini, terkait dengan hasil penelitian IPB dengan sejumlah merek susu formula yang terkontaminasi bakteri enterobacter sakazaki.

Ketua BPKN, Suarhatini Hadad meminta masyarakat tidak perlu khawatir membeli susu formula yang beredar saat ini, karena susu tersebut sudah dinyatakan aman untuk dikonsumsi.Hal ini dilandasi hasil pengujian yang telah dilakukan sebanyak tiga kali oleh Badan Pengawasan Obat dan makanan (BPOM) mewakili pemerintah, dan hasilnya menunjukan seluruh sampel yang diuji tidak mengandung enterobacter sakazaki.
baca selengkapnya di 

Pemerintah Ajak Swasta Bangun Pasar Rakyat


Kementerian Perdagangan berencana melakukan inisiasi 10 pasar rakyat sebagai percontohan yang difasilitasi dengan menggelontorkan anggaran kisaran sebesar Rp 5 – 15 miliar., pada tahun 2011.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Gunaryo mengatakan pada tahun ini pihak Kemendag memang akan membangun prasarana perdagangan khususnya pasar rakyat.

“Kita akan menginisiasi 10 pasar percontohan yang akan difasilitasi pada tahun ini. Tidak hanya berupa fisik saja, tetapi yang penting bagaimana melakukan pembinaan dan mencetak pengelola-pengelola pasar yang handal,” kata Gunaryo, pada diskusi yang dilaksanakan Forum Wartawan Perdagangan (Forwad) di Bandung.

Mercedes-Benz Targetkan Smart Terjual 750 Unit di 2011


Kesuksesan Mercedes-Benz sepanjang tahun lalu dalam memimpin pasar di segmen mobil premium dengan pangsa pasar 67,4 persen atau sebanyak 3.590 unit, tidak terlepas dari komitmen perusahaan yang selalu mengeluarkan model-model terbaru yang lebih inovatif.

Terlebih ketika akhir tahun 2010 perusahaan juga menyalurkan sebuah unit Smart Electric Drive (Smart ed) kepada Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo yang juga merupakan titik tolak dimulainya penjualan Smart di Indonesia.

”Ini sebagai titik tolak dimulainya penjualan Smart ed di Indonesia, dengan sialurkannya sebuah unit Smart ed kepada Gubernur DKI Jakarta, yang merupakan langkah konkrit perusahaan dalam mengemban tanggungjawab menjaga lingkungan kota Jakarta dari emisi CO2 dan tingkat kemacetan yang tinggi,” kata Rudi Borgenheimer, Predien Direktur PT Mercedes-Benz Indonesia (MBI) di sela-sela Media Gathering Awal Tahun MBI di Ritz-Carlton, Jakarta (14/2/2011).

selengkapnya baca di 

Mercindo Autorama - Jakarta Raih Mercedes-Benz Dealer of the Year 2010

PT Mercedes-Benz Indonesia pada 11 Februari 2011 mengumumkan pemenang Dealer of the Year 2011, yang diberikan kepada salah satu dari 21 dealer resmi Mercedes-Benz di Indonesia. Penghargaan tertinggi yang diberikan Mercedes-Benz ini merupakan sebuah cerminan mutu profesionalisme yang sempurna dalam penyelenggaran operasional pemasaran.

Pada penyelengaraan di tahun ke-14 ini sebanyak 21 dealer resmi Mercedes-Benz di Tanah Air kembali menjalani serangkaian tes kelayakan proses penjualan dan purna jual sesuai standar internasional Mercedes-Benz yang berlaku di seluruh dunia. Dari seluruh peserta tersebut PT Mercindo Autorama - Jakarta akhirnya berhasil menduduki puncak tertinggi dan berhak atas anugerah Dealer of the Year 2010.

Kemenangan yang diraih PT Mercindo Autorama - Jakarta adalah yang pertama kalinya sejak perusahaan ini menjalani aktivitas bisnis bersama Mercedes-Benz Indonesia pada tahun1988. Prestasi PT Mercindo Autorama - Jakarta sekaligus menandai bukti bahwa kualitas pelayanan dan teknis pengerjaan dilakukan dealer Mercedes-Benz ini sudah setara dengan tingkat yang berlaku di Jerman.

baca selengkapnya di: