Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Management Issue, Monitoring Media, wa.me/081387284468 >> mahar.prastowo@gmail.com >> fb.com/editor.wiki

Naskah Pidato Jokowi Besok Sore 22 Juli Usai Pengumuman KPU

“SAATNYA BERGERAK BERSAMA”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia telah menetapkan kami berdua, Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih 2014 - 2019.

Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan tinggi kepada bapak Prabowo Subianto dan bapak Hatta Rajasa yang telah menjadi sahabat dalam kompetisi politik untuk mendapatkan mandat rakyat untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Kemenangan ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Saya berharap, kemenangan rakyat ini akan melapangkan jalan untuk mencapai dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, perbedaan pilihan politik seakan menjadi alasan untuk memisahkan kita. Padahal kita pahami bersama, bukan saja keragaman dan perbedaan adalah hal yang pasti ada dalam demokrasi, tapi juga bahwa hubungan-hubungan pada level masyarakat adalah tetap menjadi fondasi dari Indonesia yang satu.

Dengan kerendahan hati kami, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menyerukan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk kembali ke takdir sejarahnya sebagai bangsa yang bersatu; bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Pulihkan kembali hubungan keluarga dengan keluarga, tetangga dengan tetangga, serta teman dengan teman yang sempat renggang.

Kita bersama sama bertanggung-jawab untuk kembali membuktikan kepada diri kita, kepada bangsa-bangsa lain, dan terutama kepada anak-cucu kita, bahwa politik itu penuh keriangan; politik itu di dalamnya ada kegembiraan; politik itu ada kebajikan; politik itu adalah suatu pembebasan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Pemilihan Umum Presiden kali ini memunculkan optimisme baru bagi kita, bagi bangsa ini. Jiwa merdeka dan tanggung jawab politik bermekaran dalam jiwa generasi baru. Kesukarelaan yang telah lama terasa mati suri kini hadir kembali dengan semangat baru. Pemilihan Umum Presiden telah membawa politik ke sebuah fase baru bukan lagi sebagai sebuah peristiwa politik semata-mata, tetapi peristiwa kebudayaan. Apa yang ditunjukkan para relawan, mulai dari pekerja budaya dan seniman, sampai pengayuh becak, memberikan harapan bahwa ada semangat kegotong-royongan, yang tak pernah mati.

Semangat gotong royong itulah yang akan membuat bangsa Indonesia bukan saja akan sanggup bertahan dalam menghadapi tantangan, tapi juga dapat berkembang menjadi poros maritim dunia, locus dari peradaban besar politik masa depan.

Saya hakkul yakin bahwa perjuangan mencapai Indonesia yang berdaulat, Indonesia yang berdikari dan Indonesia yang berkepribadian, hanya akan dapat tercapai dan terwujud apabila kita bergerak bersama.

INILAH SAATNYA BERGERAK BERSAMA!

Mulai sekarang, petani kembali ke sawah.

Nelayan kembali melaut
Anak kembali ke sekolah.
Pedagang kembali ke pasar.
Buruh kembali ke pabrik.
Karyawan kembali bekerja di kantor.

Lupakanlah nomor 1 dan lupakanlah nomor 2, marilah kembali ke Indonesia Raya.

Kita kuat karena bersatu, kita bersatu karena kuat!

Salam 3 Jari, Persatuan Indonesia!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya

Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

Joko Widodo – Jusuf Kalla
22 Juli 2014

Soekarno: Wartawan Bukan Wakil Partai

A+ | “... saudara sebagai wartawan, saudara punya pekerjaan itu sebetulnya gawat sekali. Oleh karena sampai sekarang ini apa yang ditulis di surat kabar dipercaya. Het volk gelooft het (rakyat percaya).... Nah, saudara-saudara, inilah kegawatan pekerjaan saudara-saudara, jangan sampai saudara-saudara mengeluarkan satu perkataan pun dari tetesan pena sudara yang tidak berisi satu kebenaran. Oleh karena tiap-tiap tetesan pena saudara dipercayai oleh pembaca. Jangan saudara dalam memegang pena itu lebih mengutamakan partai saudara daripada bangsa. Saudara sebagai wartawan itu sebetulnya bukan wakil partai, tetapi ialah wartawan daripada bangsa Indonesia. Wartawan daripada Revolusi Indonesia. Tanggungjawab saudara adalah tinggi sekali. Karena itu jangan sampai tulisan saudara itu sebetulnya adalah fitnah. Moral agama harus kita pegang tinggi, moral agama antara lain melarang, menjaga jangan sampai kita menjalankan fitnah."

(Ir. H. Ahmad Soekarno, Istana Presiden RI (Bogor), 20 November 1965)

Otak Indonesia Pecahkan Rekor di Balai Lelang Christies

A+ | London - Website pusat lelang otak Christie's merilis pengumuman hasil lelang otak semalam. Otak Amerika laku dengan penawaran tertinggi $10; Otak jepang laku dengan penawaran tertinggi $50 dst... hingga terdapat angka mencengangkan pada Otak Indonesia yang laku dengan penawaran tertinggi $670.000.000; bandingkan dengan lukisan Fr. Bacon yang hanya mencapai sekitar $142 atau Rp 1,4 trilyun.

Masing-masing otak yang dilelang dengan disertakan keterangan, terlampir sertifikat dan setumpuk dokumen rekam jejak otak tersebut sudah digunakan untuk apa saja. Khusus Otak Indonesia dokumen yang dilampirkan hanya rekam jejak di facebook pemiliknya.

"Untuk tahu rekam jejak dan sejauh mana otak Indonesia pernah dipakai, cukup dengan melihat rekam jejak pemiliknya di status dan komentar-komentarnya di facebook," kata Francis Outred, Kepala Seni Kontemporer dan Pasca Perang Bali Lelang Christie's.

"Adapun otak Indonesia yang dilelang malam ini kepalanya didapat dari sebuah tempat sampah di kawasan Jakarta Utara, setelah pemiliknya terlibat baku hantam dengan senjata tajam gara-gara status di facebook yang berkaitan dengan dukung mendukung capres," kata Outred. [christies.com]

Kuliah Umum Prabowo Subianto: 36 Strategi Perang China Kuno


A+"Bapak ibu kita kalau mengajarkan kita, Nak belajar yang baik, jadi orang yang baik, kalau besar jadi orang baik membantu orang, membantu tetangga. Kalau strategi tidak begitu, kalau perlu kau rampok tetanggamu yang sedang kesusahan," kata Prabowo Subianto, menjelaskan Strategi ke-5 dari 36 Strategi Perang China Kuno, di depan Pemuda Panca Marga, Jumat (20/06/2014).



Dibawah ini slide lengkapnya:


36 STRATEGIES OF ANCIENT CHINA (OVERVIEW)
"The Thirty-Six Strategies" is a a Chinese collection of 36 proverbs commented as militaristic tactics. Often attributed to Sun Tzu, this is generally rejected by scholars since Sun Tzu lived during the Spring and Autumn Period of China, while most of the 36 proverbs postdate that. It is believed by many to have been written by Zhuge Liang of the Three Kingdoms period.

Chapter 1 - Winning StrategiesStrategy 1 "瞒天过海" - Deceive the sky to cross the ocean.
  • Moving about in the darkness and shadows, occupying isolated places, or hiding behind screens will only attract suspicious attention. To lower an enemy's guard you must act in the open hiding your true intentions under the guise of common every day activities.

Strategy 2 "围魏救赵" - Surround Wei to rescue Zhao.
  • When the enemy is too strong to attack directly, then attack something he holds dear. Know that in all things he cannot be superior. Somewhere there is a gap in the armour, a weakness that can be attacked instead.
  • In other words, you may try to attack the relatives or dear ones of the enemy to weaken him psychologically.


Strategy 3 "借刀杀人" - Borrow one's hand to kill. (Kill with a borrowed knife.)
  • Attack using the strength of another (because of lack of strength or do not want to use own strength). Trick an ally into attacking him, bribe an official to turn traitor, or use the enemy's own strength against him.


Strategy 4 "以逸待劳" - Make your enemy tire himself out while conserving energy.
  • It is an advantage to choose the time and place for battle. In this way you know when and where the battle will take place, while your enemy does not. Encourage your enemy to expend his energy in futile quests while you conserve your strength. When he is exhausted and confused, you attack with energy and purpose.


Strategy 5 "趁火打劫" - Use the opportunity of fire to rob others. (Loot a burning house.)
  • When a country is beset by internal conflicts, when disease and famine ravage the population, when corruption and crime are rampant, then it will be unable to deal with an outside threat. This is the time to attack.


Strategy 6 "声东击西" - Feign an attack in the east and attack in the west.
  • In any battle the element of surprise can provide an overwhelming advantage. Even when face to face with an enemy, surprise can still be employed by attacking where he least expects it. To do this you must create an expectation in the enemy's mind through the use of a feint.
Chapter 2 - Enemy Dealing StrategiesStrategy 7 "无中生有" - Create something from nothing.
  • You use the same feint twice. Having reacted to the first and often the second feint as well, the enemy will be hesitant to react to a third feint. Therefore the third feint is the actual attack catching your enemy with his guard down.

Strategy 8 "暗渡陈仓" - Secretly utilize the Chen Chang passage. (Repair the highway to take the crude path.) e.g., the Allied invasion of Normandy and the Pas de Calais deception.
  • Attack the enemy with two convergent forces. The first is the direct attack, one that is obvious and for which the enemy prepares his defense. The second is the indirect, the attack sinister, that the enemy does not expect and which causes him to divide his forces at the last minute leading to confusion and disaster.

Strategy 9 "隔岸观火" - Watch the fires burning across the river.
  • Delay entering the field of battle until all the other players have become exhausted fighting amongst themselves. Then go in full strength and pick up the pieces.

Strategy 10 "笑里藏刀" - Knife sheathed in a smile.
  • Charm and ingratiate yourself to your enemy. When you have gained his trust, you move against him in secret

Strategy 11 "李代桃僵" - Plum tree sacrifices for the peach tree. (Sacrifice the silver to keep the gold.)
  • There are circumstances in which you must sacrifice short-term objectives in order to gain the long-term goal. This is the scapegoat strategy whereby someone else suffers the consequences so that the rest do not.

Strategy 12 "顺手牵羊" - Stealing a goat along the way (Take the opportunity to pilfer a goat.)
  • While carrying out your plans be flexible enough to take advantage of any opportunity that presents itself, however small, and avail yourself of any profit, however slight.

Chapter 3 - Attacking StrategiesStrategy 13 "打草惊蛇" - Startle the snake by hitting the grass around it.
  • When you cannot detect the opponent's plans launch a direct, but brief, attack and observe your opponent reactions. His behavior will reveal his strategy.

Strategy 14 "借尸还魂" - Borrow another's corpse to resurrect the soul. (Raise a corpse from the dead.)
  • Take an institution, a technology, or a method that has been forgotten or discarded and appropriate it for your own purpose. Revive something from the past by giving it a new purpose or to reinterpret and bring to life old ideas, customs, and traditions.

Strategy 15 "调虎离山" - Entice the tiger to leave its mountain lair.
  • Never directly attack an opponent whose advantage is derived from its position. Instead lure him away from his position thus separating him from his source of strength.

Strategy 16 "欲擒姑纵" - In order to capture, one must let loose.
  • Cornered prey will often mount a final desperate attack. To prevent this you let the enemy believe he still has a chance for freedom. His will to fight is thus dampened by his desire to escape. When in the end the freedom is proven a falsehood the enemy's morale will be defeated and he will surrender without a fight.

Strategy 17 "抛砖引玉" - Tossing out a brick to get a jade
  • Prepare a trap then lure your enemy into the trap by using bait. In war the bait is the illusion of an opportunity for gain. In life the bait is the illusion of wealth, power, and sex.

Strategy 18 "擒贼擒王" - Defeat the enemy by capturing their chief.
  • If the enemy's army is strong but is allied to the commander only by money or threats then, take aim at the leader. If the commander falls the rest of the army will disperse or come over to your side. If, however, they are allied to the leader through loyalty then beware, the army can continue to fight on after his death out of vengeance.

Chapter 4 - Chaos StrategiesStrategy 19 "釜底抽薪" - Remove the firewood under the cooking pot. (Remove the stick from the axe.)
  • When faced with an enemy too powerful to engage directly you must first weaken him by undermining his foundation and attacking his source of power.

Strategy 20 "混水摸鱼" - Fish in disturbed waters.
  • Before engaging your enemy's forces create confusion to weaken his perception and judgment. Do something unusual, strange, and unexpected as this will arouse the enemy's suspicion and disrupt his thinking. A distracted enemy is thus more vulnerable.

Strategy 21 "金蝉脱壳" - Slough off the cicada's shell. (False appearances mislead the enemy.)
  • When you are in danger of being defeated, and your only chance is to escape and regroup, then create an illusion. While the enemy's attention is focused on this artifice, secretly remove your men leaving behind only the facade of your presence.

Strategy 22 "关门捉贼" - Shut the door to catch the thief.
  • If you have the chance to completely capture the enemy then you should do so thereby bringing the battle or war to a quick and lasting conclusion. To allow your enemy to escape plants the seeds for future conflict. But if they succeed in escaping, be wary of giving chase.

Strategy 23 "远交近攻" - Befriend a distant state while attacking a neighbor.
  • It is known that nations that border each other become enemies while nations separated by distance and obstacles make better allies. When you are the strongest in one field, your greatest threat is from the second strongest in your field, not the strongest from another field.

Strategy 24 "假道伐虢" - Obtain safe passage to conquer the Kingdom of Guo.
  • Borrow the resources of an ally to attack a common enemy. Once the enemy is defeated, use those resources to turn on the ally that lent you them in the first place.

Chapter 5 - Proximate StrategiesStrategy 25 "偷梁换柱" - Replace the beams with rotten timbers.
  • Disrupt the enemy's formations, interfere with their methods of operations, change the rules in which they are used to following, go contrary to their standard training. In this way you remove the supporting pillar, the common link that makes a group of men an effective fighting force.

Strategy 26 "指桑骂槐" - Point at the mulberry and curse the locust.
  • To discipline, control, or warn others whose status or position excludes them from direct confrontation; use analogy and innuendo. Without directly naming names, those accused cannot retaliate without revealing their complicity.

Strategy 27 "假痴不癫" - Pretend to be a pig in order to eat the tiger. (Play dumb.)
  • Hide behind the mask of a fool, a drunk, or a madman to create confusion about your intentions and motivations. Lure your opponent into underestimating your ability until, overconfident, he drops his guard. Then you may attack.

Strategy 28 "上屋抽梯" - Remove the ladder when the enemy has ascended to the roof (Cross the river and destroy the bridge.)
  • With baits and deceptions lure your enemy into treacherous terrain. Then cut off his lines of communication and avenue of escape. To save himself he must fight both your own forces and the elements of nature.

Strategy 29 "树上开花" - Deck the tree with false blossoms.
  • Tying silk blossoms on a dead tree gives the illusion that the tree is healthy. Through the use of artifice and disguise make something of no value appear valuable; of no threat appear dangerous; of no use appear useful.

Strategy 30 "反客为主" - Make the host and the guest exchange places.
  • Defeat the enemy from within by infiltrating the enemy's camp under the guise of cooperation, surrender, or peace treaties. In this way you can discover his weakness and then, when the enemy's guard is relaxed, strike directly at the source of his strength.

Chapter 6 - Defeat StrategiesStrategy 31 "美人计" - The beauty trap. (The tender trap, use a woman to ensnare a man.)
  • Send your enemy beautiful women to cause discord within his camp. This strategy can work on three levels. First, the ruler becomes so enamored with the beauty that he neglects his duties and allows his vigilance to wane. Second, other males at court will begin to display aggressive behavior that inflames minor differences hindering co-operation and destroying morale. Third, other females at court, motivated by jealousy and envy, begin to plot intrigues further exacberating the situation.

Strategy 32 "空城计" - Empty fort. (Mental trap, empty a fort to make enemy think it is filled with traps.)
  • When the enemy is superior in numbers and your situation is such that you expect to be overrun at any moment, then drop all pretence of military preparedness and act casually. Unless the enemy has an accurate description of your situation this unusual behavior will arouse suspicions. With luck he will be dissuaded from attacking.

Strategy 33 "反间计" - Let the enemy's spy sow discord in the enemy camp. (Use enemy's own spy to spread false information.)
  • Undermine your enemy's ability to fight by allowing enemy's spy to remain within your ranks,while you feed false information causing enemy discord with his friends, allies, advisors, family, commanders, soldiers, and population. Preoccupied settling internal disputes, your enemy's ability to attack or defend is compromised and your control of him is increased.

Strategy 34 "苦肉计" - Inflict injury on one's self to win the enemy's trust. (Fall into a trap; become baited.)
  • Pretending to be injured has two possible applications. In the first, the enemy is lulled into relaxing his guard since he no longer considers you to be an immediate threat. The second is a way of ingratiating yourself to your enemy by pretending the injury was caused by a mutual enemy.

Strategy 35 "连环计" - Chain together the enemy's ships. (Never rely on but a single strategy.)
  • In important matters one should use several strategies applied simultaneously. Keep different plans operating in an overall scheme; in this manner if any one strategy fails you would still have several others to fall back on.

The 36th strategy "走为上" - Run away to fight another day.
  • If it becomes obvious that your current course of action will lead to defeat then retreat and regroup. When your side is losing there are only three choices remaining: surrender, compromise, or escape. Surrender is complete defeat, compromise is half defeat, but escape is not defeat. As long as you are not defeated, you still have a chance.

PRABOWO: DEMI ALLAH, SAYA TAK SERENDAH ITU

A+ | Bertemu seorang Prabowo, di saat kasus orang hilang ramai dibicarakan, merupakan angin segar bagi DETAK. Pasalnya, mantan Danjen Kopassus ini, belakangan tidak mudah ditemui, apalagi diajak bicara seputar dugaan keterlibatan sepuluh anggota Kopassus yang terkait dengan kedudukannya sebagai atasan mereka saat terjadinya peristiwa. Beruntung seorang kawan yang mengadakan pesta ulang tahun, Minggu, 19 Juli 1998, menghadirkan mantan Danjen Kopassus ini sebagai salah satu tamunya. Langsung saja kesernpatan emas ini tidak begitu saja dilewatkan DETAK tanpa kongko-kongko seputar dirinya dan kasus penculikan. Seperti biasa, penampilannya tetap cerah, penuh percaya diri dan hangat.



Halo, Jenderal, apa kabar?
Alhamdulillah saya tetap sehat, lahir batin.



Kabar keluarga?
Oh, alhamdulillah juga, semua sehat. Hanya istri dan anak saya nggak bisa ikut ke sini. Titiek lagi nganter anak saya yang mau sekolah.



Jadi Anda bebas merdeka dong?
Dalam hal itu saya selalu bebas.



Lho, memangnya dalam hal apa nggak bebas?
Yah…, kalau you nanya soal kasus penculikan, baru saya tidak bebas.



Mengapa begitu?
Saya ini militer, tidak seperti you, bisa bebas bicara sesuka kata hati. Setiap bicara masalah yang sensitif, harus terlebih dahulu melapor pada atasan.



Tapi Jumat kemarin, 17 Juli 1998, anda bicara terbuka di depan wartawan, ‘Saya siap bertanggung jawab bila anak buah saya ter­bukti bersalah…’?
Saya harus mengatakan itu. Saya ini seorang perwira. Moral sebagai komandan harus saya tegakkan. Saya waktu bicara itu karena ter­paksa. Soalnya teman-teman you (wartawan—Red.) sudah begitu gen­car menyerbu saya dengan berbagai pertanyaan. Tapi, semua ini telah saya laporkan pada Pangab.



Jelasnya, apa yang Anda maksud dengan bertanggung jawab?
Lho, sebagai komandan harus mau bertanggung jawab.



Komentar Anda seputar kasus penculikan dan kedudukan Anda sebagai Danjen Kopassus saat itu?
Wah, saya milih no comment! Karena semua persoalan menyangkut diri saya, sudah saya laporkan pada Pangab. Saya memilih diam.



Dengan diam, apakah Anda mengakui semua tuduhan yang bergulir?
Tuduhan apa? Kan proses sedang berjalan. Kita lihat saja nanti.



Proses yang bagaimana?
Seperti kata saya tadi…, sesuai prosedur semua sudah saya laporkan pada atasan.



Jadi Anda melapor bahwa benar Anda yang mengotaki penculikan..? Heran saya, kenapa sih kalian senang betul menempatkan saya sebagai biang keladi penculikan. Pokoknya, no comment!



Tapi masyarakat telanjur dibuat berpikir bahwa Anda dalang utama peristiwa penculikan?
Saya seorang yang beragama. Tuhan maha tahu. Saya cinta negeri ini. Saya orang yang menghargai kemanusiaan. Demi Allah, saya tidak serendah itu.



Jadi akan tetap diam dan membiarkan seluruh prasangka berkembang?
Biarkan saja orang berburuk sangka pada saya. Bersikap pasrah pada Sang Pencipta membuat saya tenang. Apalah arti pangkat dan jabatan? Saya seorang prajurit yang mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia. Bila harus, nyawa saya pun siap saya serahkan untuk Ibu Pertiwi.



Harapan Anda ke depan?
Harapan saya agar masyarakat tahu; saya ini seorang prajurit TNI. Saya rasa itu saja!



*) Wawancara ini dimuat dalam Tabloid DETAK No. 2/I, 21-27 Juli 1998.

Prabowo (Perwira Sejati) vs Perwira Tikus

Oleh Erros Djarot
Pemimpin Redaksi Tabloid DETAK

 … Seorang perwira sekelas Prabowo, yang telah dengan berani mengakui kesalahan dan mau bertanggung jawab atas nama kedudukannya sebagai komandan, oleh DKP ter­nyata diasumsikan bersalah hanya karena salah menerjemahkan (menganalisa) komando. Sehingga layak bila kita pun bertanya, siapa gerangan sang pemberi komando yang masih bersembunyi dalam lorong itu?

Seorang perwira, belum tentu berjiwa kesatria. Karena untuk mewarisi jiwa kesatria, memang tidak mudah. Minimal, se­orang kesatria harus berani mengaku bersalah pada saat melakukan kesalahan. Selainnya, selalu berani menyatakan ke­benaran, walau karena keberaniannya dirinya harus menanggung aki­bat yang paling buruk sekalipun. Maka, hanya perwira berjiwa kesatrialah yang bisa disebut sebagai perwira sejati.

Dalam dunia keperwiraan, tidak sedikit juga perwira yang berjiwa “tikus”. Hobinya hanya menggerogoti apa saja dan pandai melakukan gerakan “colong playu” (lari dari tanggung jawab). Biasanya perwira “tikus” ini memiliki banyak lorong persembunyian. Termasuk menyembunyikan kebenaran maupun seluruh niat dan perbuatan jahatnya ke dalam lorong gelap peradaban. Tapi pada saat bahaya datang mengancam dirinya, bila perlu ia akan meninggalkan lorongnya—sekalipun sejumlah anak-anaknya masih tertingal di dalam. Begitulah watak dasar makhluk yang bernama tikus.

Perbuatan sanggup mengorbankan anak (buah), yang menjadi ciri dari tabiat tikus, ternyata dianut pula oleh para perwira “tikus”. Ini berbeda benar dengan perbuatan seorang perwira sejati yang rela berkorban demi kehormatan dan keutuhan anak buahnya. Seorang perwira sejati menganut falsafah hidup seorang kapten kapal; ia rela mati bersama tenggelamnya kapal. Dan, sebelum itu ter­jadi, terlebih dahulu ia perintahkan seluruh awak kapal untuk menye­lamatkan diri, kecuali dirinya.

Pada hakikatnya, dan ini perlu kita sepakati, seseorang melakukan kesalahan adalah manusiawi. Tapi melimpahkan kesalahan hanya pada seseorang, apalagi seorang anak buah, jelas merupakan tindakan tak manusiawi, yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang pengecut.

Ekspresi kebesaran jiwa kesatria yang membanggakan dan meng­harukan ini sebenarnya dapat kita pelajari dan resapi makna sakral­nya dengan menyediakan sedikit waktu menonton sepenggal adegan dari film Titanic garapan sutradara James Cameron. Walau hanya adegan dalam sebuah film, paling tidak rasa hormat terhadap tang­gung jawab mempertahankan harga diri dan kehormatan korps dapat kita hayati dengan segala perasaan dan kesadaran. Oleh karenanya, mungkin perlu dipertimbangkan untuk menjadikan film Titanic seba­gai tontonan wajib para perwira.

Seluruh ilustrasi di atas bisa jadi merupakan bahan yang menarik sebagai pintu masuk untuk mendalami permasalahan yang tengah dihadapi oleh Dewan Kehomatan Perwira (DKP). Karena lewat ruang ‘persidangan’ merekalah kita akan segera tahu mana perwira sejati dan mana perwira jenis “tikus”. Pada hakikatnya, dan ini perlu kita sepakati, seseorang melakukan kesalahan adalah manusiawi. Tapi melimpahkan kesalahan hanya pada seseorang, apalagi seorang anak buah, jelas merupakan tindakan tak manusiawi, yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang pengecut.

Tapi sepandai-pandainya tikus, manusia yang cerdik pasti bisa menangkapnya. Salah satu caranya adalah dengan membuat jebakan yang diberi umpan agar sang tikus terpancing keluar dari lorong persembunyian. Cara ini, selain memerlukan kesabaran, memerlukan juga kecermatan membaca waktu dan isyarat. Inilah cara yang paling murah, sedikit risiko, dan cukup efektif bila dilakukan secara tepat. Sedangkan cara lain, misalnya dengan membakar seluruh lahan atau menebar gas beracun agar tikus-tikus keluar dari sarang persem­bunyiannya, merupakan cara yang mahal dan mengandung risiko tinggi. Salah-salah kobaran apinya justru akan melahap segalanya, atau gas beracun yang ditebarkan dapat mematikan semua yang ada.

Dalam kaitan kerja Dewan Kehormatan Perwira (DKP), menen­tukan sikap dan cara menjaring para perwira “tikus” inilah yang banyak dinantikan publik. Seorang perwira sekelas Prabowo, yang telah dengan berani mengakui kesalahan dan mau bertanggung jawab atas nama kedudukannya sebagai komandan, oleh DKP ter­nyata diasumsikan bersalah hanya karena salah menerjemahkan (menganalisa) komando. Sehingga layak bila kita pun bertanya, siapa gerangan sang pemberi komando yang masih bersembunyi dalam lorong itu? Menanti jawaban inilah yang membuat seluruh capaian kerja DKP merjadi antiklimaks bila banya berhenti sampai sebatas menyeret Prabowo ke Mahkamah Militer sekalipun.

Bila pernyataan resmi ketua DKP, Jenderal Subagyo, mengarahkan kita untuk meyakini bahwa komando yang diterima Prabowo bukan berasal dari Panglima Tertinggi (Pangti) maupun Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab), maka satu jabatan yang tersisa dalam struktur organisasi TNI AD adalah lembaga Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Hanya, masalahnya, pada saat penculikan para aktivis terjadi, siapa sang jenderal berbintang empat yang duduk dalam jabatan sebagai KSAD?

Yang membuat tanda tanya di atas menjadi lebih bermuatan mis­teri tingkat tinggi, pada saat peristiwa penculikan terjadi jabatan KSAD diduduki oleh dua jenderal berbintang empat dalam dua peri­ode waktu yang saling berbeda. Dari rumor yang berkembang maupun dari berbagai sumber yang sempat dimintai keterangan dan tanggapan, tembakan anak panah ternyata cenderung ditujukan hanya pada seorang jenderal berbintang empat.

Mengapa hanya seorang yang cenderung dituju? Jawabannya masih belum juga dapat secara pasti kita dapatkan. Kecuali bila DKP mengumumkan secara resmi siapa sang jenderal yang diasumsikan publik sebagai sang pemberi kornando. Selama hal ini tak pernah ter­jadi, ada baiknya bila semua pihak tetap berpegang pada asas praduga tak bersalah.

Untuk sementara, bagi para perwira yang secara kesatria berani rnengakui perbuatan salah yang pernah dilakukannya, patut kita berikan penghargaan yang layak. Sekalipun sangat sulit menghargai perbuatan yang pernah dilakukannya. Apa pun penilaian dan vonis yang akan dijatuhkan baik oleh pihak DKP maupun oleh publik secara lepas dan bebas, ada baiknya bila segala sesuatu yang bersifat pribadi dijauhi, sejauh persoalan hukum, etik dan poilik masih ber­ada dalam ruang tanpa dinding pemisah yang pasti.

Tanpa keinginan menegakkan sikap ini, bukan tidak mungkin kita semua malah menjadi “tikus” itu sendiri.


*) Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid DETAK. Dicuplik dari buku Erros Djarot, dkk., Prabowo Sang Kontroversi (Jakarta: Media Kita, 2006)

Masjid Kobe Tetap Tegak Meski Diguncang Bom Atom PD II dan Gempa Tektonik


A+ | Kobe Mosque merupakan masjid pertama di Jepang. Masjid ini dibangun tahun 1928 di Nakayamate Dori, Chuo-ku. Kobe berarti gate of God atau gerbang Tuhan. Tahun 1945, Jepang terlibat perang Dunia Kedua. penyerangan Jepang atas pelabuhan Pearl Harbour di Amerika telah membuat pemerintah Amerika memutuskan untuk menjatuhkan bom atom pertama kali dalam sebuah peperangan.

Dan Jepang pun kalah. Dua kotanya, Nagasaki dan Hiroshima dibom Atom oleh Amerika. Saat itu, kota Kobe juga tidak ketinggalan menerima akibatnya. Boleh dibilang Kobe menjadi rata dengan tanah. Ketika bangunan di sekitarnya hampir rata dengan tanah, Masjid Muslim Kobe tetap berdiri tegak. Masjid ini hanya mengalami keretakan pada dinding luar dan semua kaca jendelanya pecah. Bagian luar masjid menjadi agak hitam karena asap serangan bom.

Tentara Jepang yang berlindung di basement masjid selamat dari ancaman bom, begitu juga dengan senjata-senjata yang disembunyikannya. Masjid ini kemudian menjadi tempat pengungsian korban perang.

Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait menyumbang dana renovasi dalam jumlah yang besar. Kaca-kaca jendela yang pecah diganti dengan kaca-kaca jendela baru yang didatangkan langsung dari Jerman. Sebuah lampu hias baru digantungkan di tengah ruang shalat utama. Sistem pengatur suhu ruangan lalu dipasang di masjid ini. Sekolah yang hancur akibat perang kembali direnovasi dan beberapa bangunan tambahan pun mulai dibangun. Umat Islam kembali menikmati kegiatan-kegiatan keagamaan mereka di Masjid Muslim Kobe.

Krisis keuangan sering menghampiri kas komite masjid. Pajak bangunan yang tinggi membuat komite masjid harus mengeluarkan cukup banyak biaya dari kasnya. Beruntung, banyak donatur yang siap memberikan uluran tangannya untuk menyelesaikan masalah keuangan pembangunan dan renovasi masjid ini. Donasinya bahkan bisa membuat Masjid Muslim Kobe menjadi semakin berkembang.

Kekokohan Masjid Kobe diuji lagi dengan Gempa Bumi paling dahsyat tahun 1995. Tepatnya pada pukul 05.46 Selasa, 17 Januari 1995.

Gempa ini sebenarnya bukan hanya menimpa Kobe saja, tapi juga kawasan sekitarnya seperti South Hyogo, Hyogo-ken Nanbu dan lainnya. Para ahli menyebutkan bahwa gempa itu disebabkan oleh tiga buah lempeng yang saling bertabrakan, yaitu lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Meski hanya berlangsung 20 detik, namun gempa ini memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang, yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe. Selain itu gempa Kobe juga mengakibatkan kerusakan besar kota seluas 20 km dari pusat gempa.

Gempa bumi besar Hanshin-Awaji merupakan gempa bumi terburuk di Jepang sejak Gempa bumi besar Kanto 1923 yang menelan korban jiwa 140.000 orang.

Namun hingga kini masjid Kobe tetap berdiri kokoh dan tegak, seakan tidak tergoyahkan meski didera berbagai bencana.

Sumber: Galeri Foto FB

Tradisi Larung adalah Shadaqah, Bukan Syirik

Nelayan melarung makanan untuk ikan-ikan di laut
tenpat mereka mencari ikan sebagai rasa syukur telah
menjadi mata pencaharian. (foto:kompas)
A+ (Opini) | Saya membuka roman tahun 1948 berjudul Petrus in Dubio,  sebuah kitab kuning - karena kertasnya berwarna kuning -  itu tak begitu menarik bagi saya, karena saya sulit memahami bahasa yang digunakan, Boso Londo.

Namun ada hal menarik adalah catatan-catatan ayah dalam tulisan gandeng yang sangat indah, sejenak saya teringat iklan tentang jomblo, “tulisan aja gandengan…” - alias nyambung. Ternyata tulisan sambung atau tulisan gandengan itu memberikan pesan menarik bagi saya, bahwa kerap diantara kita diwarisi tradisi dan pesan sambung-bersambung, turun-temurun, tapi tetap saja kita tidak nyambung, karena tak tahu apa pesan yang ingin disampaikan.

“Salah sambung itu biasa, tapi salah baca SMS itu luar biasa…,” batin saya.

Ya, membaca pesan dalam simbol-simbol yang diajarkan secara turun-temurun oleh nenek moyang, kadang malah membuat kita salah tafsir. Dan salah satunya adalah pesan dalam tradisi Larung.

Tak hendak menggurui, saya tak akan pula membuat catatan berkepanjangan.

Tradisi Larung ialah kebiasaan berkala masyarakat sekitar sungai atau danau atau laut, dalam hal ini bisa kita katakan sebagai masyarakat yang memiliki ketergantungan hidup dari perairan.

Dalam tradisi larung biasanya menghantar makanan aneka rupa ke tengah sungai, danau atau laut, kemudian membiarkannya ditelan arus atau sengaja ditebar ke seantero sudut.

Tradisi ini sebenarnya di beberapa masyarakat ada yang dilakukan secara pribadi setiap hari, setiap pekan maupun setiap bulan, dan menjadi kolosal ketika dilakukan sebagai tradisi tahunan yang mana Larung dilakukan bersama-sama oleh suatu kelompok masyarakat.

Dalam tradisi Larung, jika dalam masyarakat itu terdiri atas 5 (lima) agama, akan dilakukan doa terlebih dahulu dengan cara lima agama. Jika di masyarakat tersebut terdiri dari agama tunggal, maka didahului dengan doa menurut agama yang dianut masyarakat tersebut, disamping kegiatan hiburan dan sambutan-sambutan dari tokoh adat dengan bahasa asal setempat sebagai bagian dari melestarikan budaya, khusus hal ini saya pribadi memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi para pelestari bahasa, yang mana kita setiap tahun kehilangan lebih dari 500 kata bahasa daerah.

Sejak kapan Larung dianggap syirik?

Ialah sejak masyarakat menterjemahkan agama import ke dalam bahasa daerah supaya difahami oleh para pemeluknya.  Semoga saja tidak ada anggapan syirik terhadap penterjemahan kitab suci ke dalam berbagai bahasa. Seperti kita tahu, dari Agama Islam misalnya, Kitab Suci Alquran Alkarim, diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa termasuk bahasa Swahili, Sunda, Jawa, Fulfulde, Wolof, Luganda, Indonesia dan lain-lain.

Larung, bagi orang yang dilahirkan dan didewasakan dalam lingkungan egosentrism sangat kuat, juga dianggap mubadzir, membuang-buang makanan.  Untuk soal membuang makanan adalah mubadzir saya pribadi setuju, karena makanan adalah berkah dan rahmat karunia Allah untuk hambaNya. Karena itu saya berusaha untuk selalu tidak menyisakan butiran nasi dalam piring makan saya sebagaimana disunnahkan Rasulullah SAW. Kalaupun saya membuang sisa makanan yang terpaksa tidak saya makan, saya niatkan untuk shadaqah. Lho, membuang makanan kok shadaqah? innamal a’malu binniyaat…

Demikian halnya Larung, tuduhan syirik dan mubadzir sama sekali tidak berdasar, karena kalah alasan atau niat.

Dalam tradisi masyarakat tradisional nusantara, terutama Jawa, rasa syukur diantaranya diungkapkan dengan memberi makan kepada pihak yang disyukuri. Ini adalah tradisi balas budi yang membuat masyarakat merasa satu sama lain saling terikat secara emosional dan merasa memiliki tanggung jawab antar sesama.

Belakangan saya dengan berani menjelaskan kepada siapapun yang bertanya. Misalnya ketika seorang ikhwan bertanya, “Ustad, apa pendapat antum soal tradisi Larung?”

Maka dengan penuh semangat saya jawab tegas, “Bagus! Harus dilestarikan supaya dapat mengulur waktu dari bencana-bencana besar seperti kelaparan.”

Rupanya hal ini membuat ia mulai ragu terhadapat pandangan saya, “antum masih muslim, kan?”

“Ya, ana masih muslim.”

“Kenapa antum berpandangan seperti itu?”

“Karena ana juga ingin sekali selalu bisa bersedekah seperti masyarakat yang melakukan tradisi larung itu.”

“Larung antum samakan dengan shadaqah?”

“Iya. Mereka sehari-hari hidup bergantung dari sebuah sungai, atau danau atau laut, apa salahnya jika bersedekah  memberi sesajen makan ikan-ikan di air tempat mereka menggantungkan hidup? Kadang kita serakah tidak menjaga keseimbangan alam, hanya mau memangsa tanpa mau memberi makan pada piaraan atau makhluk lain yang kita makan. Jika kita terbiasa berwudlu dengan benar, insya Allah pesan-pesan seperti itu dapat kita baca dengan baik. “

“Bisa ditunjukkan dalilnya?”

“Wahai Rasulullah, apakah kita akan mendapat pahala dengan memberi minum binatang?’ Beliau menjawab, ‘Pada setiap limpa yang basah terdapat pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra). Sebelumnya Allah juga berfirman tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam,  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membalas kepada sebagian mereka dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Ar-Ruum: 41]“

“Ya, ana mafhum sekarang, jazaakallahu khoir atas penjelasannya.”

“Sama-sama, kita sesama muslim memang harus saling mengingatkan, karena addiinu nasihah–agama adalah nasihat.”

—– belum selesai —–
Dikutip dari catatan pribadi saya: Desa mawa cara, agama mawa tata.

Catatan:
Basa Landa (boso londo) = bahasa belanda

innamal a’malu binniyat = sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung  (sesuai) niatnya.

antum = jamak dari anta (kamu), berarti antum bermakna kalian, seringkali orang salah mengucapkan untuk menyebut orang kedua tunggal, mestinya anta/ente (pria), anti (wanita) namun menggunakan kata antum (kalian), menurut salah satu ustad kawan saya dari sebuah pesantren modern terbesar di indonesia, penggunaan kata antum karena yang mengucapkan yakin bahwa dalam manusia tidak berjalan sendiri, setiap orang punya qarin, kakang kawah adhi ari-ari.

jazaakallaahu khoir = ucapan terimakasih (semoga balasan untukmu pahala dari Allah dengan yang lebih baik.).

mafhum = paham, jelas, tercerahkan.

syirik = mempersekutukan Allah dengan menganggap ada Tuhan selain Dia.

Kitab kuning - buku berwarna kuning, ini menjadi sebutan lazim namun tak resmi untuk buku kumpulan hadith (sahih) bukhari, yang karena dicetak di zaman kertas masih berwarna kuning, andai saat itu kertas warnanya merah mungkin akan disebut kitab merah.

Sesajen (jawa, artinya sajian, suguhan makanan)

Wudlu = mensucikan diri dengan membasuh tangan, muka, mengusap kepala dan telinga, dan membasuh kaki. Tidak setiap yang bersih itu suci, dan tidak setiap yang tampak kotor itu tidak suci, misalnya debu, kotor tapi suci dan mensucikan, jadi wudlu merupakan upaya mensucikan indra pada tubuh manusia.

Ustad = pengajar / guru agama (saya bukan ustad, beberapa teman memanggil demikian karena saya suka mengaji, mestinya dipanggil santri atau siswa saja, apalagi saya tidak berjenggot).

mahar (nama saya), berarti tebusan. Itu sebabnya mahar dalam tradisi di arab tidak diberikan kepada pengantin wanita tapi kepada walinya.

protester (tidak ada kata tersebut saya pakai di catatan diatas, namun akan ada komentar yang memprotes, pemrotesnya bernama protester).