|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

PRABOWO: DEMI ALLAH, SAYA TAK SERENDAH ITU

A+ | Bertemu seorang Prabowo, di saat kasus orang hilang ramai dibicarakan, merupakan angin segar bagi DETAK. Pasalnya, mantan Danjen Kopassus ini, belakangan tidak mudah ditemui, apalagi diajak bicara seputar dugaan keterlibatan sepuluh anggota Kopassus yang terkait dengan kedudukannya sebagai atasan mereka saat terjadinya peristiwa. Beruntung seorang kawan yang mengadakan pesta ulang tahun, Minggu, 19 Juli 1998, menghadirkan mantan Danjen Kopassus ini sebagai salah satu tamunya. Langsung saja kesernpatan emas ini tidak begitu saja dilewatkan DETAK tanpa kongko-kongko seputar dirinya dan kasus penculikan. Seperti biasa, penampilannya tetap cerah, penuh percaya diri dan hangat.



Halo, Jenderal, apa kabar?
Alhamdulillah saya tetap sehat, lahir batin.



Kabar keluarga?
Oh, alhamdulillah juga, semua sehat. Hanya istri dan anak saya nggak bisa ikut ke sini. Titiek lagi nganter anak saya yang mau sekolah.



Jadi Anda bebas merdeka dong?
Dalam hal itu saya selalu bebas.



Lho, memangnya dalam hal apa nggak bebas?
Yah…, kalau you nanya soal kasus penculikan, baru saya tidak bebas.



Mengapa begitu?
Saya ini militer, tidak seperti you, bisa bebas bicara sesuka kata hati. Setiap bicara masalah yang sensitif, harus terlebih dahulu melapor pada atasan.



Tapi Jumat kemarin, 17 Juli 1998, anda bicara terbuka di depan wartawan, ‘Saya siap bertanggung jawab bila anak buah saya ter­bukti bersalah…’?
Saya harus mengatakan itu. Saya ini seorang perwira. Moral sebagai komandan harus saya tegakkan. Saya waktu bicara itu karena ter­paksa. Soalnya teman-teman you (wartawan—Red.) sudah begitu gen­car menyerbu saya dengan berbagai pertanyaan. Tapi, semua ini telah saya laporkan pada Pangab.



Jelasnya, apa yang Anda maksud dengan bertanggung jawab?
Lho, sebagai komandan harus mau bertanggung jawab.



Komentar Anda seputar kasus penculikan dan kedudukan Anda sebagai Danjen Kopassus saat itu?
Wah, saya milih no comment! Karena semua persoalan menyangkut diri saya, sudah saya laporkan pada Pangab. Saya memilih diam.



Dengan diam, apakah Anda mengakui semua tuduhan yang bergulir?
Tuduhan apa? Kan proses sedang berjalan. Kita lihat saja nanti.



Proses yang bagaimana?
Seperti kata saya tadi…, sesuai prosedur semua sudah saya laporkan pada atasan.



Jadi Anda melapor bahwa benar Anda yang mengotaki penculikan..? Heran saya, kenapa sih kalian senang betul menempatkan saya sebagai biang keladi penculikan. Pokoknya, no comment!



Tapi masyarakat telanjur dibuat berpikir bahwa Anda dalang utama peristiwa penculikan?
Saya seorang yang beragama. Tuhan maha tahu. Saya cinta negeri ini. Saya orang yang menghargai kemanusiaan. Demi Allah, saya tidak serendah itu.



Jadi akan tetap diam dan membiarkan seluruh prasangka berkembang?
Biarkan saja orang berburuk sangka pada saya. Bersikap pasrah pada Sang Pencipta membuat saya tenang. Apalah arti pangkat dan jabatan? Saya seorang prajurit yang mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia. Bila harus, nyawa saya pun siap saya serahkan untuk Ibu Pertiwi.



Harapan Anda ke depan?
Harapan saya agar masyarakat tahu; saya ini seorang prajurit TNI. Saya rasa itu saja!



*) Wawancara ini dimuat dalam Tabloid DETAK No. 2/I, 21-27 Juli 1998.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar