|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Panglima TNI Bangunkan Kutu Tidur

 A+ | Opini - Kutu jika bersembunyi menjadi laten di bantal, tempat tidur, pakaian, tentu saja sulit diidentifikasi dan dapat menggigit kapan saja. Untuk membuatnya muncul harus diusik.

Strategi mengusik kutu itulah rupanya dilancarkan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo, dengan ajakannya nonton bareng film Penghianatan G30S/PKI.  Tak butuh waktu lama, para penerus dan simpatisan PKI dalam berbagai bentuk dan rupa, tiba-tiba muncul dan menentang.

Jika selama ini informasi mengenai kebangkitan spirit PKI yang menjangkiti sebagian masyarakat hanya dipegang oleh TNI, dengan kemunculan mereka maka masyarakat luas mengetahui dan mengenalinya.

Jadi tak perlu bertanya, "Mana PKI, penerus dan simpatisannya?"

Sebagaimana diketahui masyarakat luas, kemunculan mereka diibaratkan Panglima TNI sebagai garam di dalam sayur, tidak tampak wujudnya tapi terasa asinnya. Mulai dari pembunuhan karakter terhadap TNI dan Islam, hingga membenturkan antar sesama kelompok agama, antara militer dengan kepolisian, antara kelompok agama dan ulama dengan kepolisian dan pemerintah dan lain-lain.

Dan hingga hari ini, masih seperti pada masa revolusi, terbukti Islam dan TNI selalu melekat tak dapat dipisahkan meski tetap saja ada oknum-oknum yang bermain. 

Aksi yang - pinjam istilah Mendagri - 'progresif revolusioner' kaum kiri itu memang hampir tak kentara, meski sejak awal telah menampakkan topeng-topengnya melalui istilah 'revolusi mental' yang dikenalkan Karl Marx, bertaqiyyah dalam berbangsa dan bernegara menggunakan jargon-jargon #SayaIndonesia, #SayaPancasila, #SayaBhinekaTunggalIka, #SayaNKRI dan sebagainya.

Taqiyyah hanya bagi pihak yang menyembunyikan sesuatu. Mereka bisa taqiyyah dengan jargon seperti diatas, tapi di sisi lain, TNI dan umat Islam tidak akan pernah bisa bertaqiyyah dengan jargon #SayaKomunis, #SayaMarxis, #SayaParit (Palu Arit, pen). Paling banter pakai hastag #SayaTidakTakut.

Terakhir, mengapa menggunakan istilah kutu, bukan macan?

Kutu, karena membuat tidak nyaman, jumlahnya banyak, dimana-mana, dan laten atau tersembunyi. Sedangkan macan, sudah mulai punah, hanya dikenali lewat gambar saja, itupun seringkali membuat kita salah menggambarkannya. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar