Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini

ADA APA DIBALIK RUSUH PAPUA DAN PINDAH IBU KOTA ?

A+ |Banyak yang bertanya dan belum puas dengan ulasan penulis terkait isu diatas. Yakni tentang rusuh Papua yang masih membara hingga saat ini, dengan gema gempita pindah ibu kota ke Kalimantan. Kenapa dua hal krusial ini bisa terjadi beriringan. Tidak mungkin insiden besar ini terjadi tanpa ada perencanaan ataupun aktor yang menggerakkan. 

Untuk menjawab dua hal ini lebih spesifik, akhirnya penulis memutuskan mencoba membuat analisa lebih lanjut dan juga menukik lebih dalam, sebagai bentuk sharing informasi dan pengayaan pemahaman kita bersama, untuk Indonesia negeri tercinta.

Empat tahun yang lalu diawal masa pemerintahan Jokowi. Ketika penulis melakukan perjalanan dan mendampingi Wagub Sumbar ketika itu (Alm) Muslim Kasim. Penulis dikenalkan dengan seorang pria (penulis lupa namanya) warga keturunan asal Kalimantan yang ketika itu mengaku sebagai aktor utama yang menggerakkan dan merancang ‘cyber force’ tim Jokowi-Ahok di Pilkada Jakarta dan berlanjut ke Pilpres. Atau umum dikenal dengan sebutan Jasmev.

Singkat cerita. Percakapan kami ketika itu di Plaza Indonesia lantai 4, pria tersebut membuka I Pad nya yang memperlihatkan sebuah gambar animasi rancangan kota modern dengan design 4 dimensi yang begitu luar biasa. Sebuah design kota (meskipun belum sempurna ketika itu) sudah memperlihatkan sebuah tatanan kota metropolis yang moderen, hijau, artistik futuristik, lengkap dengan segala fasilitas digital, community centre, kondo apartemen, gedung pencakar langit, MRT, monorel, pelabuhan udara (dengan konsep aerotropolis), pelabuhan besar, jembatan-jembatan indah, serta sebuah Istana nan megah lengkap dengan bangunan perkantoran disekitarnya.

Karena penasaran dan takjub, penulis bertanya rancangan kota dimanakah itu? Kemudian si pria sambil setengah ketawa menjawab, “ini adalah konsep Jakarta kedua 10 tahun kedepan setelah Ahok jadi Presiden. Hahahaa...". Meskipun kedengarannya setengah bercanda, tetapi obrolan hari itu cukup berkesan bagi penulis hingga hari ini, ternyata gambar animasi sebuah kota besar yang beredar banyak di sosial media hari ini tentang Kalimantan, boleh dikatakan mirip dengan gambar empat tahun yang lalu penulis lihat. Walaupun ketika itu si pria sudah mengatakan bahwa rencana Jakarta kedua itu akan dibangun di Kalimantan.

Ketika si pria berkata demikian, penulis jujur ketika itu kurang yakin dan percaya. Bahkan anggap angin lalu saja. Baru setelah presiden Jokowi mengumumkan secara terbuka bahwa akan memindahkan ibu kota ke Kalimantan barulah penulis ‘ngeh’ dengan apa yang dikatakan si pria warga keturunan tersebut. 

Cuma yang akhirnya menjadi catatan penting bagi penulis adalah, berarti wacana pindah ibu kota ini dudah dirancang, dipersiapkan, sejak lama dengan demikian matang. Bukan kaleng-kaleng. Buktinya, Jokowi begitu percaya diri, optimis akan memindahkan ibu kota ditengah kerusakan ekonomi, tata kelola pemerintahan hari ini. Desakan hutang, defisit anggaran, BUMN bangkrut dan mau dicaplok China, seolah tak ada masalah dengan ini.

Yang menarik lagi, pengumuman pindah ibu kota pada tanggal 16 Agustus yang lalu, langsung disambut dengan insiden rusuh Papua yang berdarah-darah penuh anarkisme, jatuh korban jiwa dari aparat bahkan sampai kedepan istana negara.

Pada titik inilah, sebenarnya pokok bahasan judul diatas bisa kita cari benang merah untuk menganalisis apa motif dan orientasi dari dua kejadian besar dihari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 74 tahun ini. Berikut hasil analisis penulis yang dikumpulkan dari beberapa sumber dan refrensi data terpercaya.

1. Pindah ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan adalah skenario besar dari China. Kenapa ? Karena Kalimantan mempunyai peran penting dan posisi strategis bagi program OBOR (One Belt One Road) sebagai pintu masuk China untuk menancapkan hegemoninya lebih dalam di kawasan Asia. Dan kalimantan secara geografis juga sangat dekat dari China, dan juga secara demografis (data kependudukan) komposisi warga keturunan china di Kalimantan cukup dominan dan kuat. Jadi Kalimantan memang sangat seksi dimata China dan wajib dikuasai.

2. Sesama kita ketahui. Ibu kota adalah ‘centre of gravity’ sebuah negara. Didalam peperangan militer, ibu kota adalah symbol penaklukan dari sebuah negara. Apabila ibu kota negara berhasil direbut dan ditaklukan, berarti itu akan sama dengan keberhasilan menaklukan dan menguasai negara.

Kondisi Jakarta yang begitu padat dan mengakar secara geokultural dan geografis (berada pada lingkar dalam pertahanan negara). Tentu akan sulit menembus dan menaklukan Jakarta yang begitu besar dan sudah berurat berakar dikuasai banyak negara (tidak saja Indonesia) lainnya berdasarkan kepentingannya masing-masing.

Disinilah cerdiknya China. Trauma akan lengsernya Ahok dan gagalnya proyek reklamasi Jakarta dan Meikarta. Menjadikan China mempercepat agenda pemindahan Ibu kota Indonesia ke Kalimantan. Tujuannya apa ? Kalau ibu kota di pindah, maka Jakarta akan lumpuh. kekhususannya pun akan dipreteli dan dicabut. Semua kendali negara dipindahlan ke tempat ibu kota baru yaitu di Kalimantan.

Nah apabila ibu kota baru sudah berdiri dan berjalan, maka secara otomatis ‘remote control’ negara Indonesia yang selama ini berada di Jakarta akan berpindah tangan ke Kalimantan. Dan ini sama artinya, semua kendali negara kita akan berpindah tangan ke Kalimantan. Secara paralel, seiring proses pembangunan ibu kota ini berjalan, China dengan mudah akan memobilisasi rakyatnya untuk masuk dan migrasi ke Kalimantan. Agar kemudian menjadi mayoritas dan menguasai mutlak Kalimantan secara penuh. Mulai dari fisik ekonomi, politik, dan komposisi jumlah penduduk seperti sejarah berdirinya Singapore dengan menyingkirkan pribumi melayu. Dan ini bukan hoax atau halusinasi karena fakta dan data ke arah itu sudah terbuka terang benderang.

3. Skenario peta jalan perpindahan ibu kota ini langsung terbaca oleh si adi kuasa Amerika bersama aliansinya. Kalau Kalimantan menjadi pintu masuk program OBOR China, Maka Papua adalah pintu masuk program TPP (Trans Pasific Partnership) Amerika dan aliansinya untuk membendung hegemoni China di Asia-Pasific. Papua sejak masa perang dunia pertama dan kedua pun sudah memiliki arti penting bagi Amerika. 

Bahkan juga, secara kebijakan pertahanan, Amerika sudah menjalanka konsep US INDOPACOM, yaitu membentuk border aliansi segitiga India-Australia-Jepang untuk menghadapi China.

4. Jadi, perpindahan ibu kota ke Kalimantan ini sangat berdampak besar bagi masa depan Indonesia  diantara jepitan dua kekuatan besar (raksasa dunia). Perpindahan ibu kota ke Kalimantan adalah symbol kemenangan China atas Amerika dalam merebut dan menguasai Indonesia. Kalau ibu kota pindah ke Kalimantan yang notabonenya semua fasilitas, konsep, design, biaya, berasal dari China, maka Amerika bersama sekutunya akan gigit jari. Indonesia lepas dari kontrol dan hegemoni Amerika. Wajah Indonesia akan berganti menjadi Indochina. Indonesia yang selama ini ‘American Boy’ hanya tinggal sejarah dan cerita lama. 

So pasti, dampak perpindahan Ibu kota ke Kalimantan, semua yang terkait penguasaan atas tanah, bumi, air, birokrasi, sumberdaya alam, aparatur, semua bergeser serta juga pindah berada dibawah kendali ibu kota baru ‘made in China’.

5. Melihat skenario ini, Amerika langsung memainkan skenario tandingan rusuh Papua untuk memecah konsentrasi, menjegal, rencana perpindahan ibu kota ke Kalimantan. Atau juga akan memutilasi Papua dari Indonesia dengan ancaman Papua merdeka, dan menjadi milik Amerika sebagai basis dan pintu masuk hegemoninya di kawasan Asia-Pasific. Karena pasti Amerika tidak akan rela ‘ladang’ suburnya selama ini akan diambil alih China. Karena sumber kekayaan alam Papua yang melimpah, serta letak grografis Papua yang tepat berada ditengah kawasan yang menghubungkan Amerika dengan Asia-Pasific-Australia.

6. Pihak Istana tentu sangat paham dan hati-hati dalam menghadapi manuver propaganda rusuh Papua yang begitu massive dan terencana ini. Makanya jangan heran, aparat Khususnya Polri, serta Istana seperti gagap menghadapi situasi ini. Bayangkan hanya dalam hitungan menit dan jam, rusuh anarkisme Papua begitu cepat meluas, massive bahkan sampai ke depan Istana dan Mabesad TNI mengibarkan bendera bintang kejora menuntut merdeka secara terbuka. Padahal kalau kita lihat antara perbandingan kekuatan TNI-Polri dengan perusuh Papua bukanlah apa-apanya. 

Namun yang terjadi sebaliknya. Korban nyawa dan pembakaranpun sudah merebak terjadi di Papua. Sorong, Manokrawi, Fak Fak, Wamena, Jayapura semua membara serentak bergerak menuntut merdeka. Anehnya lagi. Sudah jelas rusuh ini begitu radikal, anarkis, dan tuntutannya merdeka, Menkopolhukam Wiranto yang dulu juga menjabat Panglima ABRI ketika rusuh mei 1998, meminta aparat persuasif tanpa senjata. Apa yang terjadi kemudian, aparat tak bersenjata menghadapi perusuh pakai senjata ya habis dibantai dengan parang, panah dan tombak.

Jadi aneh juga kalau penanganan rusuh Papua rezim saat ini bagai putri malu alias macan jadi kucing. Sangat berbeda ketika memghadapi aksi 212 dan rusuh 21-23 mei pada Pilpres yang lalu. Negara kelihatan begitu ganas, perkasa, malah semena-mena terhadap ummat Islam yang datang membawa sajadah dan kopiah.

Ketimpangan dan perbedaan ini terjadi, karena negara pasti sudah tahu siapa aktor dan pemain dibelakang rusuh Papua. 

Artinya. Rusuh papua tidak lebih bentuk perlawanan Amerika melalui proxy dan aliansinya di Papua terhadap manuver China yang mau pindahkan ibu kota ke Kalimantan. 

Cuma yang kita sayangkan adalah sikap pemerintah hari ini yang tidak jelas alias pengecut.

Seharusnya, Indonesia pandai memainkan prinsip politik luar negeri negara kita yaitu “ Bebas dan aktif “. Sehingga tidak perlu terkungkung dibawah ketiak satu negara secara total.

Seharusnya, Indonesia bisa memanfaatkan kondisi ini untuk menjadi peluang bargainning yang paling menguntungkan dari tarik menarik dua raksasa dunia ini. Bukan malah terjepit tak berdaya seperti sekarang ini.

Untuk itu penulis mempunyai beberapa pemikiran terhadap apa yang harus dilakukan Indonesia dalam menyikapi dua kejadian besar ini.

1. Ketika sudah berbicara kedaulatan. Apapun itu masalahnya, pemerintah harus berani dan tegas bersikap dan menyatakan bahwa aksi dan rusuh Papua itu adalah tindakan makar dan saparatisme. Dimana sebagai negara yang berdaulat, Indonesia harus memperlihatkan wibawanya sebagai sebuah bangsa yang besar dan terhormat. Caranya ; Stop komando operasi dari tangan Polri, dan serahkan penanganan rusuh Papua kepada TNI. Karena saparatisme adalah termasuk dalam dimensi pertahanan, maka ini sudah menjadi Tupoksinya TNI. Jangan paksakan lagi Polri dengan topeng bahasa klise KKSB (Kelompok Kriminal Bersenjata) untuk mengatasi hal ini. Polri itu ranahnya penegakan hukum, mengejar bandit (perampok) bukan melawan saparatisme bersenjata yang ingin merdeka dan buat negara.

2. Kalau sudah berbicara kedaulatan. Abaikan HAM yang menjadi standar ganda negara adi kuasa. NKRI harga mati mesti di implementasikan. Jangan cuma jadi slogan untuk gebuk FPI. 

Penulis heran, seharusnya disaat Indonesia sekarang ini menjadi anggota tidak tetap PBB, Indonesia semestinya mempunyai posisi tawar yang kuat dalam menangkis isu HAM dalam penindakan rusuh Papua. Mainkan peran diplomasi luar negeri untuk meyakinkan bahwa Indonesia dalam rangka penegakan kedaulatan negaranya dari ancaman pemberontakan. Dan negara lain tidak bisa ikut campur apalagi mendikte urusan dalam negeri Indonesia.

3. Copot Panglima TNI, Kapolri, KaBIN, Menkopolhukam serta aparat terkait lainnya yang gagal meredam dan mengatasi rusuh Papua sampai meluas ke depan Istana. Insiden memalukan ini bisa terjadi berarti fungsi inteligent, TNI-Polri tidak berfungsi sama sekali. Atau ada yang sengaja memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan tertentu ? 

Perlu penyegaran aparatur dan pucuk pimpinan TNI-Polri agar clear dari segala bentuk ‘titipan’ dan infiltrasi kepentingan luar.

4. Indonesia harus kembali kepada jati dirinya sebagai sebuah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Yaitu prinsip politik bebas aktif dan tegas terhadap negara manapun kalau itu terkait kedaulatan bangsa dan negara. 

Indonesia adalah negara yang besar dan lahir dari tumpahan darah pejuang serta syuhada. Jadi Indonesia tak perlu lagi bertindak seperti pelayan atau calo dari kepentingan negara lain.

5. Menunda rencana perpindahan Ibu kota dan fokus penataan kembali kondisi sosial politik, ekonomi negara yang sudah hancur. Tidak ada sebaik memperkuat diri sendiri, berdikari, dari pada menggantungkan nasib bangsa ini kepada negara lain. Tak akan ada itu negara lain yang akan mensejeahterakan kita. Omong kosong itu semua. Semua pasti ada upeti dan imbalannya. Fakta sejarah Nusantara ini pernah berjaya karena berdikari. Seperti kejayaan masa Majapahit, Sriwijaya, dan fase kesulthanan kerajaan Islam. 

Kenapa ini penting, karena secara prinsip hubungan Internasional, kondisi perebutan dua raksasa saat ini terhadap Indonesia akan bisa jadi peluang dan menaikkan posisi tawar Indonesia, kalau bangsa ini kuat dan mandiri. Tapi kalau kepemimpinan negara ini lemah dan banci, maka Indonesia akan jadi bancahan atau bulan-bulanan bangsa asing.

6. Para kelompok idealis, nasionalis, kalangan ulama dan aktifis Islam perlu mengantisipasi kondisi terburuk yang akan terjadi dengan menyiapkan segera skenario ke tiga diluar dari skenario dua raksasa dunia tersebut.

Inilah saatnya kita melihat siapa yang Indonesia sejati itu sebenarnya. Siapa yang memang setia, loyal, terhadap Indonesia secara faktanya. Dan siapa sejatinya kelompok yang munafik dan para pengkhianat negara sebenarnya.

Mana yang selama ini teriak NKRI harga mati, mengaku Pancasilais, anti radikalisme dan merah putih ? Semua bungkam membisu. 

Artinya, rakyat mesti sadar bahwa jargon-jargon diatas hanyalah topeng dalam menutupi kebusukan mereka selama ini. Jargon jargon manis diatas hanyalah senjata untuk melampiaskan kedengkian, kebencian mereka kepada Islam sebagai penduduk mayoritas dinegeri ini. Islam yang selama ini difitnah radikal, jahat, anti NKRI, ehh malah hari ini Papua yang terang-terangan memborong tuduhan itu semuanya.

Pemerintah tidak bisa menganggap remeh atas insiden rusuh Papua ini. Khususnya bagi para aktifis 212. Papua yang gerakannya hanya segelintir itu saja, bisa begitu perkasa membantai aparat dengan panah dan parang bahkan didepan hidung Istana, markas besar TNI AD.

Bayangkan juga kalau pada masa aksi 212 atau pada masa demonstrasi 21-23 mei yang lalu ummat Islam juga melakukan hal yang sama ? Pasti sudah bubar negara ini.

Artinya adalah. Semua pihak harus tobat dan sadar khususnya aparat negara. Kurang baik apalagi ummat Islam Indonesia. Bukan berarti ummat Islam tidak bisa bertindak seperti orang Papua. Tapi ummat Islam karena sangat cinta terhadap negeri ini dan tidak mau terjebak dalam adu domba antar sesama. Tapi kebaikan ini dibalas dengan perlakuan semena-mena dari rezim dan aparat.

Nah dengan kejadian rusuh Papua saat ini. Hati-hati, telah membuka mata hati dan pikiran para aktifis dan mujahid Islam atau jadi inspirasi besar. Bahwa yang tertanam dalam benak rakyat hari ini adalah, “ Kalau aksi itu damai dan baik-baik saja. Maka aparat akan semena-mena dengan tuduhan makar dan radikal. Tetapi kalau aksi itu radikal, anarkis, maka aparat yang akan minta maaf. Parahnya lagi, diskriminasi antara perlakuan kepada perusuh Papua dengan ummat Islam sangat jauh berbeda. Dan diskriminasi perlakuan ini sangat menyakitkan hati ummat Islam Indinesia. Mereka baru sadar, bahwa selama ini telah dibodoh-bodohi dengan penjara stigma bahasa anti toleransi, anti bhineka. Padahal semua itu hanyalah cara licik rezim hari ini membungkam dan melemahkan Islam secara sistematis “.

Untuk itu kembali kepada kesimpulan kita. Inilah saatnya bangsa Indonesia menyiapkan skenario ketiga untuk membebaskan Indonesia dari jepitan dua raksasa dunia ini. 

Cukup rakyat yang jadi korban. Negara diobok-obok, kita diadu domba. Indonesia harus bangkit dari kondisi keterjajahan ini. Mari rakyat Indonesia bersatu padu, untuk mendesak pemerintah agar berani bertindak tegas, menumpas saparatisme Papua dengan tuntas. Karena kalau tidak, rusuh Papua bisa menjadi pemicu utama dari disintegrasi bangsa.

Selanjutnya masyarakat juga mendesak agar presiden serta legislatif untuk membatalkan wacana pindah Ibu kota ke Kalimantan. Karena ide ini hanyalah ibarat Indonesia memberikan lehernya kepada China. Stop jangan lagi jadi pengkhianat bangsa dengan menjadikan diri pelayan, penjilat, kepentingan China.

Mari kita kembalikan Indonesia sebagaimana amanah konstitusi kita yaitu, menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dibawah panji Pancasila. NKRI Harga Mati !. InsyaAllah.


Anton Permana.
(Direktur Executive Forum Musyawarah Majelis Bangsa Indonesia).



Jakarta, 30 Agustus 2019.

(Penulis adalah Alumni Lemhannas PPRA LVIII Tahun 2018).

Omong Kosong Citra 'Hollywood' Livi Zheng

A+ | Livia Notohardjo, lebih dikenal Livi Zheng, muncul di publik tanah air dengan nama langsung semerbak. Ia kembali ke Indonesia usai merantau di Los Angeles, Amerika Serikat, melalui karpet merah dengan embel-embel "Hollywood". Filmnya, Brush with Danger, “berhasil” lolos seleksi nominasi Academy Award bersama 322 film lain pada 2015.

Siapa yang bisa menolak pesona “prestasi anak bangsa” yang berkilauan macam itu?

Maka, ketika siaran pers mengenai gadis Blitar dengan sederet prestasi perfilman itu disebar, hampir seminggu dua kali, media menelannya mentah-mentah. Livi disambut gempita. Prestasi Livi dirayakan. Livi dielu-elukan sebagai sineas muda dari Indonesia yang menginspirasi dan mampu "menembus Hollywood".

Livi, atau siapa pun di belakangnya, tahu betul bahwa Hollywood adalah kunci dari segala perkara perfilman duniawi.

Akan tetapi, benarkah Livi menembus Hollywood?

Sebaiknya kita tak perlu terburu-buru. Boleh jadi Brush with Danger termasuk salah satu film Hollywood. Film itu diproduksi di Amerika Serikat oleh Sun and Moon Films, rumah produksi berbasis di Amerika Serikat.

Livi, secara kebetulan, jika tak ingin dibilang disengaja, memang tinggal di Los Angeles. Ia tinggal di mansion mewah dengan alamat 4715 Los Feliz Boulevard, kawasan super elite di LA dengan nilai properti hampir 2,5 juta dolar. Hal itu tentu memudahkannya mendapat label sutradara yang memproduksi film di Hollywood. Wong, ia tinggal di sana.

Tapi, apakah hal itu serta merta membuatnya menjadi sineas Hollywood? Jawabannya: belum tentu.

Hollywood, kawasan di LA, California, dalam dimensi kesineasan, adalah suatu komunitas: Anda perlu menempuh jalan terjal dan panjang dan membawa kualitas bagus agar dapat memasuki lingkaran super elitenya.

Istilah yang mungkin lebih tepat buat Livi Zheng adalah LA-based filmmaker atau sineas yang bertempat tinggal di LA. Namun, demi mendongkrak nilai jual, nama Hollywood disematkan. Tidak salah, memang, tapi juga tidak tepat.

Tak cuma embel-embel “Hollywood”, Livi memakai manuver lebih berbahaya: menyematkan diri dengan Piala Oscar, ajang bergengsi industri Hollywood dan film dunia.

Maka, klaim Brush with Danger masuk seleksi nominasi Oscar membuat Livi makin terlihat super keren. Kendati sebagian media dan pihak mulai mencium sesuatu yang amis pada klaim tersebut, toh ia tetap bergeming.

Selayaknya pesan yang disampaikan dengan cara diteruskan, informasi mengalami distorsi. Fakta Brush with Danger lolos seleksi administratif nominasi Oscar itu—sejatinya bisa dipenuhi hampir semua film, bagaimanapun kualitasnya—berubah narasi menjadi “masuk nominasi Oscar”. Dan, Livi tak pernah mengklarifikasinya. Begitulah cara ia menjaga citra “Oscar” pada filmnya.

Belum lagi perkara The Legend of The East, film yang diproduserinya yang menyabet penghargaan Madrid International Film Festival untuk kategori film berbahasa asing pada 2014. Rupanya festival itu merupakan pseudo-festival atau festival bodong.

Citra yang sedemikian aduhai itu tentu tak lengkap tanpa campur tangan media. Agar lebih meyakinkan, Livi selalu menyertakan pemberitaan-pemberitaan luar negeri dalam setiap promo film atau karyanya.

Dalam promo Bali: Beats of Paradise, misalnya, secara konsisten media mengutip ulasan dari Los Angeles Times yang menyebut film dokumenter itu: “It’s entertaining”.

Padahal, dalam ulasan hanya tiga paragraf yang ditulis seseorang bernama Kimber Myers, justru lebih banyak kritik ketimbang pujian. Kalimat lengkapnya: It’s entertaining but slight, particularly as it bulks up with the post-credits inclusion the video. (“Film ini sesungguhnya punya sedikit sisi hiburan. Tapi, hal itu pun tidak jadi maksimal karena sutradara memutuskan mengakhiri film dengan menayangkan video klip garapannya.”)

Mesin publisis di belakang Livi Zheng juga menyertakan kliping berita dari portal online manapun tanpa memedulikan kredibilitas. Misalnya Zimbabwe News, yang bahkan bukan portal media sungguhan.

Terang sudah: mesin humas Livi Zheng memanfaatkan perangai masyarakat Indonesia yang gampang silau dengan sesuatu dari luar negeri, apalagi dengan embel-embel “mengharumkan nama bangsa”, “Hollywood”, dan “Oscar”.


Campur Tangan Klan The Hok Bing

Jika deretan prestasi masih belum cukup menggaet simpati publik, jurus berikutnya adalah melodrama, cerita perjuangan penuh keringat dan kekecewaan serta penolakan. Publik suka kisah motivasional macam itu.

Di beberapa wawancara, seperti di NET TV pada program Satu Indonesia, Livi bercerita sering diremehkan saat memulai karier di Hollywood. “Mereka bilang akan sulit. Pertama aku perempuan, Asia, dan muda. Udah susah,” katanya.

Cerita itu ditambahkan dengan kisah kemandiriannya yang ia bilang sendiri sudah tertanam sejak remaja kendati lahir dari keluarga kaya.

“Aku sudah bekerja sejak tingkat 10 (setara kelas satu SMA). Sama sekali tidak dibantu keluarga untuk karierku di film,” jawab Livi dalam kuliah umum di salah satu kampus swasta di Jakarta, pekan lalu, yang kami datangi.

Audiens terlihat kagum. Dalam imajinasi mereka, sangat mungkin, tergambar bayangan macam ini: Perempuan muda Indonesia, berprestasi, mampu menaklukkan Hollywood lantaran kerja kerasnya tanpa bantuan siapa pun.

Namun, faktanya berbicara lain. Rumah produksi Sun and Moon Films, yang memproduksi Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise, adalah milik Lilik Juliati alias Lili The Hok Bing, yang tak lain adalah ibu Livi.

Sementara pada wawancara dengan marketeers.com, Livi mengaku mendirikan Sun and Moon Films pada 2012. Namun, dalam wawancara dengan kami, Livi mengubah pernyataannya sendiri: “Aku hanya bekerja di Sun and Moon Films.”

Kami bertemu Mawardi, bukan nama sebenarnya, mantan asisten Livi, yang bercerita bahwa segala bentuk publisitas mengenai Livi harus dengan persetujuan sang ayah, Gunawan Witjaksono atau The Hok Bing—biasa dipanggil 'Pak Bing' oleh karyawannya.

“Pak Bing bisa merevisi 20 kali untuk satu siaran pers saja. Dia perhatikan sampai titik komanya. Semua konten di media sosial Livi juga harus persetujuan dia,” ujar Mawardi.

Mawardi bercerita kepada kami bagaimana Livi menjawab pertanyaan-pertanyaan media dan harus selalu didampingi Sinta Kurniati Arifin, manajer Livi dan sekretaris Gunawan. Sinta diduga pimpinan PT Negara Agung Film, rumah produksi Bali: Beats of Paradise, di Indonesia.

“Kalau pertanyaannya belum pernah di-brief, Livi enggak akan jawab. Karena kalau salah ngomong, dia bisa diomelin ayahnya,” lanjut Mawardi.

Mawardi berkata mantan bosnya itu, dan seluruh staf promo Brush with Danger, berkantor di NAM Centre Hotel, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Baca juga: Sisi Gelap Surga Livi Zheng: Koneksi Bisnis Bapaknya di Kemayoran


‘Clueless Director’

Nyatanya, Livi Zheng tak lebih dari anak muda dengan talenta biasa saja, yang kebetulan anak orang super kaya sehingga punya privilese ke Hollywood.

Itu dikemukakan oleh Surti, bukan nama sebenarnya, yang berdomisili di Los Angeles. 

Kolega Surti pernah bekerja dengan Livi di set film. Ia menyebut Livi sangat tidak profesional. “Dia kayak enggak tahu mau ngapain sebagai director. Banyak kru yang ngelus dada karena dia kaya anak kecil baru lulus kuliah yang bikin film. Leadership skillnya nol,” kata Surti.

“Kru bertahan kerja hanya karena satu alasan: duitnya banyak. Dia bahkan bisa sewa lokasi dengan harga berapa pun tanpa nawar. Contohnya waktu sewa lokasi dengan kisaran harga 5-10 ribu dolar AS,” kata Surti.

Persepsi Surti boleh jadi berbanding terbalik dengan anggapan orang-orang di Indonesia. Livi tampak berupaya mencegah khalayak untuk berpikir kritis tentang dirinya dengan cara jadi pembicara tamu di beberapa kampus. Ikhtisar pembicara publik itu menunjukkan setidaknya ia pernah jadi pembicara sesi kuliah umum di 29 kampus di Indonesia, di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran (Bandung), Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Islam Indonesia (Yogyakarta).

Pada 21 Agustus lalu, kami menghadiri kuliah umum Livi di auditorium IPMI Business School, Kalibata, Jakarta Selatan. Sebagian besar audiens di ruangan setengah lingkaran itu diisi oleh para pejabat kampus, alumni, dan orang-orang dari luar institusi. Usia mereka jauh di atas Livi. Ibaratnya, Livi cocok memanggil mereka dengan sebutan paman, bibi, atau bahkan Oma dan Opa.

Sebenarnya, Livi tidak membicarakan topik yang istimewa atau baru. Ia memutar slide presentasi berisi serba-serbi Bali: Beats of Paradise—yang sudah dipublikasikan di media-media. Tapi, para hadirin tampak terpukau memandang Livi.

Ketika sesi tanya jawab, mereka antusias mengacungkan tangan, melangkah ke depan dan menyampaikan kekaguman.

"Orangtuamu pasti bangga punya anak seperti kamu. Kita harus banyak belajar dari Livi,” komentar dari salah satu audiens.

Livi menerima ucapan kagum dengan senyum tersipu, menggoyang-goyangkan badan, merapikan rambut—gestur yang ia tunjukkan selama berdiri di depan hadirin.

Setiap pertanyaan bernuansa, “Apa resep sukses?”, Livi menjawab dengan nada percaya tinggi yang ditahan-tahan, seakan-akan ia tersipu manja, lalu tertawa tipis.

Dan, Livi menikmati pujian-pujian itu.

Namun, ekspresinya bisa berubah mendadak saat ada pertanyaan seperti: “Kok bisa Julia Gouw memutuskan jadi produser Anda hanya dalam waktu 20 menit?”, “Bagaimana cerita detail pertemuan dengan Balai Pustaka sampai-sampai Anda bisa diminta garap Sabai nan Aluih.”

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab Livi: “Tanya langsung ke orangnya.”

"Hmm… I am not really sure. I guess I met them in Kemendikbud.”

Ucapannya pelan, kepalanya menunduk, jarinya memelintir rambutnya yang lurus.

Toh, babak Livi mengisi satu acara pewicara publik itu bisa terlewatkan.

Yang terang: ketidakbecusannya sebagai sutradara berbanding lurus pula dengan kemampuan akting, baik dia maupun adiknya, Ken Wiratheda Zheng, yang bermain dalam Brush with Danger. Wajah kakak-adik ini nongol di hampir semua karya film mereka.

Seperti pada Brush with Danger, di mana ia berperan sebagai tokoh utama, Alice. Lalu pada Bali: Beats of Paradise, Laksamana Cheng Ho, hingga Vibrant Jakarta yang sebenarnya hanya video promo pariwisata DKI Jakarta.

Rencana lebih ajaib: Livi akan berperan dalam proyek teranyarnya bersama Produksi Film Negara dan Balai Pustaka berjudul Sabai Nan Aluih. Dalam film itu, Livi yang berwajah oriental akan memerankan tokoh utama yang orang Minang.

Apa kata Livi kepada kami?

“Aku hanya akan bermain if I fit the role,” katanya.

* repost * 

Reporter: Restu Diantina Putri, Joan Aurelia & Aulia Adam
Penulis: Restu Diantina Putri & Joan Aurelia
Editor: Fahri Salam

Artikel  ini dinilai tendensius guna menjatuhkan reputasi Livi Zheng. Baca selengkapnya berikut dengan Hak Jawab Livi Zheng di tirto.id