Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Suara-suara tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan

26 Apr 2020

PC LDII Medan Satria Bagikan Sembako Kepada Warga Terdampak PSBB Akibat Wabah Corona

A+ | Sebagai bentuk  pengabdian kepada masyarakat serta wujud empati terhadap mereka yang terdampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi virus corona (Covid-19), LDII Pimpinan Cabang  Medan Satria memberikan bantuan paket sembako pada warganya.

Pembagian secara simbolis dan start konvoi pembagian dilaksanakan di halaman  Sekretariat LDII PC Medan Satria, Jalan Taman Harapan Baru, Pejuang, Medan Satria, Kota Bekasi, Sabtu (25/4/2020).

“Bantuan sembako ini diharapkan dapat meringankan sebagian beban masyarakat yang terdampak Covid-19 dari sisi ekonomi,” ungkap H. Ali Mursito Ketua LDII PC Medan Satria.

Selain memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan termasuk kepada warga LDII sendiri, juga melakukan penyemprotan disinfektan di sekitar wilayah Masjid Al-Husna seperti Aula, masjid, rumah dan lingkungan sekitarnya.

"Penyemprotan sudah kami lakukan beberapa kali, penyemprotan disinfektan akan kami lakukan lagi sambil lihat situasi dan kondisi, selain itu di tempat-tempat pengajian dan kegiatan LDII dibarengi penyediaan sabun cuci tangan," terang Ali Mursito.

Ditegaskan Ali Mursito, pihaknya juga menginstruksikan warga LDII PC Medan Satria yaitu LDII yang ada di PAC Pejuang dan PAC Harapan Mulya agar mematuhi instruksi, imbauan, maupun maklumat pemerintah dan fatwa MUI agar membatasi diri dalam berinteraksi secara fisik (physical distancing).

“Kaitannya dengan beribadah, kami mengimbau agar lebih memperbanyak ibadah di rumah masing-masing, dan memohon pada Allah SWT agar Covid-19 ini segera berlalu,” ujar Ali Mursito.

H. Ary Wijanarko, Ketua LDII DPD Kota Bekasi  juga menyampaikan himbauannya. "Didalam menghadapi bulan Ramadhan dan sedang dalam bangsa Indonesia sedang menghadapi pandemi Corona atau Covid-19, kami menghimbau untuk tetap khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa agar tercapai 5 sukses Romadhon dan berdoa kepada Allah sehingga pandemi di negara Indonesia segera berlalu. Bagi warga kota Bekasi agar tetap mengikuti arahan pemerintah kota Bekasi dalam PSBB dan tidak mudik ke kampung halaman," ujar Ary Wijanarko menghimbau.

Sementara itu, Haryono salah seorang warga  yang menerima bantuan dari LDII  mengaku sangat merasakan dampak pandemi Covid-19. Diapun berharap wabah Covid-19 ini bisa segera berlalu, sehingga bisa beraktivitas seperti sedia kala.

“Kami sangat berterimakasih kepada pengurus LDII Medan Satria karena telah melaksanakan kegiatan sosial berupa pembagian sembako gratis. Bantuan ini bisa sedikit meringankan beban kami, dan ldii membantu kami tidak hanya kali ini saja, tapi sudah sering, para pengurus ldii sangat peduli,” tutur Haryono saat di tanya wartawan usai menerima bantuan sembako.

Reporter : Agus Wiebowo
FORWARD (Forum Wartawan Digital) Kota Bekasi.

23 Apr 2020

Para Pemimpin Perempuan Hadapi Corona, dari PM Islandia hingga Lurah Harapan Mulya

A+ | BBC melaporkan Selandia Baru, Jerman, Taiwan, dan Norwegia punya dua kesamaan. Di keempat negara ini angka kematian akibat Covid-19 relatif rendah, dan faktanya keempat negara itu  dipimpin oleh perempuan. Apakah suatu kebetulan atau memang perempuan punya perasaan dan kreatifitas lebih universal dalam urusan untuk survive? Toh tak bisa dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari, perempuan dapat bertahan hidup dengan baik tanpa pria, sebaliknya banyak pria terpuruk tanpa perempuan. 

Nah, terhadap para  pemimpin perempuan tersebut diatas, media di berbagai negara memuji atas sikap  serta kebijakan yang mereka tempuh dalam menghadapi krisis kesehatan global, pandemi corona generasi 2019 atau covid-19.

Forbes misalnya menyebut mereka sebagai "contoh kepemimpinan sejati" dengan menulis, "kaum perempuan maju dan menunjukkan kepada dunia bagaimana menangani ketidakberesan untuk keluarga manusia."

Dalam menghadapi wabah kesehatan global ini, Perdana Menteri Islandia, Katrín Jakobsdóttir, menempuh pengujian berskala besar. Meski penduduknya hanya 360.000 jiwa, Islandia tidak santai-santai apalagi menyembunyikan informasi kepada publik. Kebijakan menghadapi Covid-19 dengan pembatasan sosial  larangan berkumpul 20 orang atau lebih, misalnya,  ditempuh sejak akhir Januari 2020 sebelum ditemukan kasus positif pertama di negara tersebut. Hingga kemudian pada 20 April, sebanyak sembilan orang terkonfirmasi meninggal di Islandia akibat Covid-19.

Sementara di Taiwan, yang merupakan bagian dari China, Presiden Tsai Ing-wen membentuk pusat pengendalian epidemi serta memerintahkan untuk melacak dan menghambat penyebaran virus. Ia juga memerintahkan industri alat kesehatan untuk meningkatkan produksi alat pelindung diri (APD) seperti masker wajah. Dan hasilnya, atas kesigapan Presiden Tsai Ing-Wen, hingga minggu ketiga april ini  Taiwan mencatat enam orang meninggal dunia di antara 24 juta jiwa penduduknya.

Pemimpin perempuan lainnya, Jacinda Ardern yang merupakan PM Selandia Baru, melakukan kebijakan ketat dengan memberlakukan karantina wilayah atau lockdown ketika korban jiwa mencapai enam orang. Dan sampai 20 April, jumlah kematian akibat virus corona mencapai 12 orang.

Tentu saja para perempuan pemimpin tersebut mampu mengatasi krisis ini dengan dukungan sumber daya yang memadai, selain secara ekonomi tergolong mapan dan maju, sistem kesehatan di negaranya juga baik. Indeks pembangunan manusia (IPM)nya tinggi.

Apa kata pengamat tentang keberhasilan para perempuan tersebut memimpin negaranya keluar dari krisis?

"Saya pikir perempuan tidak memiliki satu gaya kepemimpinan yang berbeda dibanding pria. Namun ketika perempuan mewakili posisi kepemimpinan, hal itu mendatangkan keragaman dalam pembuatan kebijakan," kata Dr Geeta Rao Gupta, direktur eksekutif Program 3D untuk perempuan sekaligus peneliti senior di UN Foundation, yang juga menyebut keberadaan perempuan menciptakan keputusan yang lebih baik karena ada pandangan dua sisi baik dari pria maupun dari perempuan.

Kondisi ini kontras dengan aksi menepuk dada dan menyanggah sains seperti yang dilakukan pemimpin pria, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro.

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, menyebut Covid-19 "flu kecil" dan berulang kali tidak mengindahkan menjaga jarak sosial.

Hal serupa, terkesan menyepelekan, juga terjadi pada Presiden Indonesia, Joko Widodo, sehingga membuatnya dinilai banyak kalangan terlalu lamban menyikapi bahkan terkesan menjegal upaya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berjibaku melawan Covid-19. Bahkan, para kepala daerah lain juga lebih suka mengikuti kebijakan dan langkah-langkah strategis Anies Baswedan ketimbang mengikuti presiden Joko Widodo, sehingga para buzzer menyebut Anies merongrong kewibawaan pemimpin yang dinilai sementara pihak berada di bawah bayang-bayang bahkan di bawah kendali salah satu menterinya yang publik kerap menyebutnya the real president sebagaimana ditulis New York Times.

Pengamat lain, Rosie Campbell, direktur Global Institute for Women's Leadership di King's College London, menilai gaya kepemimpinan tidaklah inheren pada pria dan perempuan. Namun, menurutnya perempuan yang lebih ber-empati dan kolaboratif. Sebaliknya,  banyak pria yang narsistik, hiperkompetitif, mengedepankan kesan 'macho' di ranah politik.

Para pemimpin di AS, Brasil, Israel, dan Hongaria, sebagai contoh, beberapa kali berupaya menyalahkan hal-hal eksternal, seperti orang-orang asing yang "mengimpor penyakit" ke dalam negeri.

"Trump dan Bolsonaro memilih persona ultra-macho. Itu tidak diprogram dalam biologi mereka bahwa mereka harus bersikap seperti itu, tapi mereka yang memilih demikian," kata Campbell.

"Kemungkinan perempuan berada di kubu populis radikal kanan dipandang kecil. Ada beberapa pengecualian, seperti Marine Le Pen [di Prancis]. Namun, secara keseluruhan, sikap itu terkait dengan jenis politik yang sangat individualistik, politik macho," terang Campbell.

Negara lain yang sukses melewati pandemi Corona ialah Korea Selatan, penanganan Presiden Moon Jae-in dalam krisis Covid-19 berujung pada kemenangan partainya dalam pemilihan anggota parlemen, 15 April lalu.

Ada lagi PM Yunani Kyriakos Mitsotakis, disanjung karena dinilai mampu meminimalisir jumlah kematian akibat Covid-19. Hingga 20 April, sebanyak 114 orang meninggal di  negara berpenduduk 11 juta jiwa ini.

Sebagai perbandingan, Italia, negara berpenduduk 60 juta jiwa, mencatat 22.000 orang meninggal dunia.

Yunani mampu menghadapi wabah ini dengan memprioritaskan anjuran saintifik dan menempuh langkah menjaga jarak aman sebelum kematian pertama tercatat.

Meski demikian, ada pula negara dengan pemimpin perempuan yang kewalahan menghadapi penyebaran virus corona. Contohnya, Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina. Walau dia telah berupaya menghambat penyebaran virus, namun kapasitas pengujian di Bangladesh yang tak sebanding dengan populasi, cukup mengkhawatirkan. Ditambah lagi dengan masalah kekurangan alat pelindung diri (APD) yang membuat para tenaga kesehatan semakin terpapar risiko.

Diantara sikap dan kebijakan para pemimpin perempuan ini, mereka juga lebih terbuka berbicara mengenai fakta sebenarnya, tidak merasa "gengsi" kemudian menutup-nutupi dengan alasan menimbulkan keresahan. Kanselir Jerman, Angela Merkel, misalnya, dengan cepat mengakui Covid-19 adalah ancaman yang "sangat serius".

Pemerintah Jerman pun membentuk skema pengujian, pelacakan, dan pengisolasian terbesar di Eropa. Lebih dari 4.600 orang meninggal dunia akibat Covid-19 di  negara berpenduduk 83 juta jiwa ini.

Demikian halnya Perdana Menteri Norwegia Erna Soldberg, dan PM Denmark Mette Frederiksen, bahkan sampai menggelar konferensi pers khusus untuk anak-anak selama wabah virus corona.

Baik pemimpin Norwegia, Erna Solberg, serta pemimpin Denmark, Mette Frederiksen, menggelar konferensi pers khusus untuk anak-anak mengenai penanganan wabah virus corona. Orang dewasa dilarang masuk dalam konferensi pers tersebut. Begitu pula PM Selandia Baru Jacinda Ardern, juga berupaya menenangkan kekhawatiran anak-anak yang terpaksa tidak bisa merayakan liburan paskah seperti biasa.

Dr Gupta, Kepala Dewan Penasihat di WomenLift Health Yayasan Bill & Melinda Gates,  menyerukan lebih banyak perempuan ditempatkan sebagai pemimpin karena menurutnya hal itu akan meningkatkan kualitas pembuatan kebijakan. "Akan ada keputusan-keputusan yang ada relevansinya untuk semua segmen masyarakat, bukan hanya untuk beberapa," katanya.

Dr Gupta juga memperingatkan  dampak sosial dan ekonomi Covid-19 terhadap pria dan perempuan; kekerasan domestik meningkat, risiko kemiskinan meningkat, serta melebarnya jurang upah antara pria dan perempuan.

Terlepas dari itu semua, pengamat masalah sosial, Mahar Prastowo, mengungkapkan beberapa hal positif dari tersebarnya wabah corona, khususnya bagi masyarakat negara berkembang. Diantaranya pemaksaan untuk memberlakukan perilaku hidup sehat dengan pembersihan diri lebih sering, tidak terlalu banyak bergaul bebas dengan saling bersentuhan secara fisik dengan orang lain yang tidak diketahui kebiasannya, bekerja dan belajar/sekolah dari rumah yang dapat mengurangi polusi asap kendaraan. "Dan lebih dari itu, menyatukan keluarga," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, jam kerja dan sekolah di negara berkembang seperti Indonesia masih dengan durasi yang lebih lama dibanding negara maju. "Bisa dikatakan berangkat gelap, pulang gelap. Lantas kapan transfer nilai-nilai, dan kebersamaan sebuah keluarga dapat dirasakan?" 

Lanjutnya, "meskipun di sisi lain, juga terjadi peningkatan kekerasan dalam rumah tangga, baik kekerasan verbal istri ke suami dan anak, atau kekerasan fisik suami ke istri atau anak akibat intensitas pertemuan yang tinggi, ditambah krisis yang diakibatkan Covid-19 ini telah menyebabkan kerentanan kehidupan ekonomi, bahkan diperkirakan terjadi penambahan angka kemiskinan baru sebanyak 5 juta orang, yang sebagiannya adalah kepala keluarga," papar Mahar.

Maka dengan langkah-langkah strategis dan cermat para perempuan pemimpin nasional di berbagai negara, Mahar menilai perlunya melihat bagaimana para kepala daerah hingga struktur terbawah kepala desa atau lurah, bagaimana mereka mengatasi wabah Covid-19. Faktor keselamatan warga akan lebih diprioritaskan ketimbang cari popularitas dengan mempolitisasi bencana wabah ini dengan akrobat-akrobat politik.

Tak usah jauh-jauh, lihat saja Lurah Harapan Mulya Kecamatan Medan Satria Kota Bekasi Jawa Barat. Di satu sisi Bu Lurah Rena Nurwangianten sangat tegas dalam verifikasi data penerima bantuan sosial. Sehingga ketika ada 23 warganya yang menerima bantuan namun ternyata tidak sesuai data verifikasi, maka bansos yang sudah diterima itu ditarik kembali. Dengan komunikasi yang baik, warga penerima bansos salah sasaran itu menyerahkan dengan senang hati karena memang ada yang lebih berhak menerimanya.

Apakah sampai disitu saja. Tidak. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang memberlakukan social distanching, membuatnya proaktif turun ke pemukiman-pemukiman melakukan patroli pagi-sore bersama elemen 3 pilar, sosialisasi soal protokol covid-19 dengan pelantang suara, dan juga memanfaatkan aplikasi whatsapp, sehingga warga merasa pimpinannya hadir di tengah-tengah mereka.

Bu Lurah Rena dan suami, Arif T. Hasibuan
 

21 Apr 2020

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah*


A+ | Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS -Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh.

VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.

Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:
“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:
”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).

Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam.

Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).

Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ 
sudah berjubel. 

Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.


*Dr. Adian Husaini

4 Apr 2020

Modernisasi Titir Menjadi Teror dan Bolehnya "Cuci Tangan"


A+ | Titir, alert, alarm, peringatan. Itu beberapa padanan katanya. Titir dibunyikan pakai alat, tutur dibunyikan pakai mulut. Maknanya sama, menyampaikan pesan. Allah SWT menyampaikan dalam Al-Qur'an dengan menyebutnya basyiron wa nadhiron, atau bahasa arab ujaran keseharian disebut  naada/da'awat (panggilan/ seruan) dan sejumlah kosakata lain, yang intinya sama, menyampaikan pesan.

Titir, sama dengan sosmed, kalau digunakan sesuai dengan tujuan awal, memberitahukan kejadian, maka bukan hoax.

Tapi kalau titir, ketukan pada kentongan, digunakan untuk hal tidak sesuai dengan keadaan, sama saja hoax.

Misal, titir 3-3-3 dibunyikan dari suatu titik dimana diletakkan kentongan, orang di sekitar jadi panik disangka ada bencana atau kebakaran, di tempat lain, pencuri menggasak rumah-rumah yang ditinggal keluar penghuninya guna cari tahu ada bencana apa dan bersiap mengungsi.

Oh, ternyata titir juga bisa untuk menyampaikan hoaks, ketika dijadikan alat menakuti atau T***R (Baca: Teror).

Hal sama pernah dipakai pasukan Jepang di masa sebelum kemerdekaan, ketika ingin menjarah suatu kampung, dibunyikan sirine dan pesawat cocor merah berputar-putar di angkasa menakuti penduduk, tapi penduduk sudah diberi "fasilitas" oleh Jepang, bahwa jika sirine meraung-raung dan pesawat berputar-putar di angkasa, segera masuk lubang perlindungan, lalu orang baru menyadari ketika pasukan Jepang sudah pergi, sirine tak berbunyi, pesawat juga pergi, penduduk keluar dari tempat persembunyian dengan mendapati lumbung hasil bumi habis, beras habis, ternak hilang, isi lemari diberantakin dan barang berharga hilang.

Itu dalam perang sesungguhnya.

Bagaimana dengan perang yang lebih modern?

Dilembagakan, dibiayai negara, dipaksakan dengan berbagai aturan, sehingga kalau ada orang mati dianggap sebagai kelalaian sendiri, atau memang sebab wabah.

Siapa saja diuntungkan?

Vendor wabah (laboratorium), industri alat kesehatan, industri farmasi, rumah sakit, eksekutif, legislatif, yudikatif, Operator seluler, penyelenggara video conference, vendor konten digital materi sekolah,  perusahaan terbeban karyawan ataupun pailit (punya alasan merumahkan/PHK tanpa pesangon), seluruh lini dinas pendidikan (tetap dapat dana BOS) sementara siswa belajar online dengan perangkat dan internet biaya sendiri, dan lain sebagainya. (Mungkin anda termasuk).

Titir, ternyata dari waktu ke waktu mengalami modernisasi sesuai bentuk (platform) dari manual berupa fisik kentongan, pelantang suara, sirine/alarm, signyal alert, hingga regulasi kepatuhan total seperti dalam kasus Corona generasi 2019 atau Covid-19 yang nyata-nyata jadi Teror.

Virus yang telah dinamai Corona sejak 1930, dan ditemukan ratusan tahun silam itu, telah memaksa manusia mengubah gaya hidup, tradisi, bahkan kultur.

Di bawah ini arti titir (ketukan kentongan sebagai tanda peringatan) yang populer di Jawa , dan masih dilestarikan di beberapa pedesaan hingga kini.

Kentongan dipukul 1-1-1 (titir) = berita kedukaan atau ada orang meninggal. Ada juga yang pakai 1-5-111 sesuai kesepakatan rembug warga setempat.

Kentongan dipukul 2-2-2 (dua kali berulang-ulang) = ada pencuri/menangkap pencuri. Kalau di pertunjukan ketoprak menandai munculnya tokoh antagonis.

Kentongan dipukul 3-3-3 (tiga kali berulang-ulang) = ada kebakaran (bencana alam).

Kentongan dipukul 4-4-4 (empat kali berulang-ulang) = adanya banjir (bencana alam).

Kentongan dipukul 5-5-5 (lima kali berulang-ulang) = adanya maling barang / maling ternak.

Kentongan dipukul 6-6-6 (enam kali berulang-ulang) = situasi aman terkendali.

Contoh hoax masa kini, peringatan untuk tetap tinggal di rumah digencarkan, sementara di beberapa bandara dan pelabuhan didatangkan ratusan juta tentara asing berkedok pekerja migran. Yang tujuannya selain aneksasi, juga pemindahan penduduk karena kepadatan penduduk di negaranya telah mengakibatkan krisis pangan, sehingga disebar ke berbagai negara dengan kendaraan bernama CoronaVirus Disease 2019 Terrorism atau Covid-19T.

Jadi, titirnya di sini adalah virus dan perangkat pendukungnya seperti regulasi yang menakut-nakuti, dan disahkannya "cuci tangan" oleh pembuat regulasi jika terjadi kasus hingga mengakibatkan kematian. Herd immunity sesungguhnya terjadi ketika penanggungjawab mulai cuci tangan. Modus berikutnya membuka atau membebaskan orang berkerumun bersama alat bisnis teror (wabah) dengan mendorong orang menyerah, "damai saja lah". Kena Covid-19 ataupun tidak, sama-sama bakal mati.

Kalau anda tak mau menyerah, tak mau berdamai, maka akan menjadi ancaman bisnis mereka. Kalau mau berdamai, anda akan mati konyol, mati dengan membikin orang lain mendapat keuntungan dari penderitaan anda selama sakit hingga anda meninggal yang biaya per 14 hari mencapai setengah milyar.

Pemerintahan yang bertanggung jawab akan melindungi rakyat, bangsa dan negaranya, bukan malah ikut berbisnis dengan menaikkan iuran jaminan sosial kesehatan. 


London Times Square, 1 Mei 2020