Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Management Issue, Monitoring Media, wa.me/081387284468 >> mahar.prastowo@gmail.com >> fb.com/editor.wiki

Hoax Aswatama Tewas

Jendral Aswatama


A+ | Aswatama, ahli persenjataan Kurawa, dalam perang Bharatayuda tetap hidup sampai perang dinyatakan berakhir. Meski kemudian tewas oleh "Rambo"nya Pandawa, Bima, dengan serbuan senjata berat Rujak Pala.

Ada satu momentum nyaris saja Aswatama menggunakan senjata biologis untuk memusnahkan manusia tapi kemudian berhasil dibujuk Narada untuk cari sasaran lain. Ia pun menyasar ke rahim para wanita keluarga Pandawa supaya mandul dan membunuh para janin. 

Adapun Arjuna yang juga telah menyiapkan senjata pemusnah massal berhasil dibujuk lebih dulu untuk tidak meluncurkannya, demi kelangsungan kehidupan di bumi.

Dalam perang Bharatayuda di medan kurusetra itu, melihat Pandawa terdesak dan kalah mental karena Guru Bangsa Pandhita Drona berpihak ke Kurawa, maka Kresna menyuruh Pandawa membunuh gajah tunggangan Drona yang "bermerek" Hestitama (Hesti = Gajah, Tama = Terbaik). 

Dalam kegaduhan perang itulah, Kresna menyebar isu, hoax, kalau yang mati adalah Aswatama putra Drona.

Mendengar putra kesayangannya tewas, Drona mengalami keguncangan batin, ia mundur dari peperangan. Dalam kondisi jatuh mental dan kurang waspada itu ia berhasil dibunuh dengan cara dipeganggal oleh Jendral Destadyumna, Panglima Angkatan Bersenjata Pandawa. Ini sekaligus melunasi nadzar ayahnya, Prabu Drupada, yang menginginkan memiliki anak lelaki yang dapat membunuh Drona karena telah mempermalukannya. 

Hoax "Aswatama Tewas" oleh Kresna, melemahkan Drona yang jadi sumber kekuatan mental Kurawa sehingga menemui ajalnya. 

Lantas kalau hoax dengan memasang spanduk "Turunkan Duryudana" di sekitar acara deklarasi sebuah gerakan moral untuk memperbaiki bangsa dengan memberi masukan baik, atau hoax spanduk bertuliskan "terbukti DEWA menunggangi aksi demo pandawa", untuk apa?

GN sebagai salah satu tokoh K**I yang jadi incaran, tak cukup bukti untuk disangkakan pasal makar, dan tak cukup bukti disangkakan dengan UU ITE, penghasutan, atau ujaran kebencian, terlalu bersih untuk hal-hal itu.

Maka simpatisan yang lain, yang emosional, mudah terkena hasutan dan hoax, oleh pihak tertentu yang bisa jadi, mungkin, adalah "penumpang gelap", dibuatkan sepotong narasi hoax yang lalu terpancing menyebarkan, maka kena-lah mereka jerat UU ITE meskipun tak memenuhi syarat. Karena mereka meneruskan pesan yang sebatas pengetahuannya, itu benar, dan bahwa ternyata adalah hoax untuk menjebak, mereka tak tahu. Artinya mereka, semisal dua IRT di Jakarta dan Makasar, itu korban, dan yang membuat hoax serta mendistribusikan pertama kali yang harusnya ditemukan.

Terhadap upaya menjerat GN ini oleh siapa dan untuk menyenangkan siapa? Karena jika gerakan sipil "Pandawa"  ini  ditunggangi pihak tertentu dari jenis "Kurawa" dengan memunculkan momentum atau cipta kondisi atau alasan untuk menangkap GN, bisa jadi malah jadi pemantik kemarahan sipil "pandawa".

Alih-alih tidak mampu menyenangkan yang memesan untuk menjerat GN, dipakailah proxy, pihak ketiga, untuk ikut permainan dan menjerat tokoh yang dekat dengan GN, dekat dengan kalangan korektif oposisi, yaitu menjerat GN yang lain, dengan pasal ujaran kebencianau mencemarkan nama sebuah organisasi. Tak perlu diperjelas kiranya pembaca mafhum dengan GN yang dilaporkan, dan sudah ditangkap BRK. 

Hoax Kresna mengatakan "Aswatama tewas" adalah untuk melemahkan mental Kurawa dan menguatkan mental Pandawa. Nah, untuk penangkapan GN ditengah kegaduhan  UU payung (pengganti UUD), untuk memberi pelajaran siapa? Untuk menyenangkan siapa? Atau hanya untuk menjatuhkan mental aktifis gerakan moral? Atau memang termasuk dalam program deradikalisasi aktifis?  

Lantas, apakah GN satunya lagi akan melempem? 

Atau justru membangkitkan perlawanan sipil "Pandawa"? 

* * *

Kembali ke Aswatama, yang jadi bahan hoax Kresna,  setelah perang dinyatakan usai, dia masih dendam dengan mantan Panglima Angkatan Bersenjata Pandawa yang baru saja menyelesaikan perang, Pangeran Destadyumna, yang telah membunuh  Drona, sang Ayah.

Aswatama pun bersama Krepa dan Kertamarma menyusup ke barak Pandawa bermaksud membunuh 5 Ksatria Pandawa saat mereka tertidur. Namun yang terbunuh adalah para tokoh lain termasuk Destadyumna, Srikandi (Adik Destadyumna), dan Banowati (janda Duryudana raja Kurawa). Saat menikah dengan Duryudana sebenarnya Banowati masih mencintai Arjuna, makanya dia minta syarat mau dinikahi Duryudana asal diijinkan tinggal di keputrian ditemani periasnya saja selama pesta pernikahan 40 hari 40 malam, yang ternyata periasnya adalah Arjuna!

Ketika Aswatama memasuki kamarnya, Destadyumna sebenarnya sempat terbangun dan mengajak bertempur secara ksatria, duel, namun Aswatama yang diselimuti dendam kesumat menolak dan tetap mencekiknya hingga gugur.

Hal ini membuat  Bima, Rambo-nya Pandawa murka kehilangan Panglima perang serta para perwira dan prajurit pilihan. Ia lantas menyerbu Aswatama dengan senjata berat "Rujak Pala" andalannya, yang sebelumnya juga menewaskan Duryudana.

[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar