Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini

Wisata Seksual Halal dan Legal di Indonesia, Sebuah Pesan untuk FPI

Klik DISINI untuk laporan lengkap sebuah reportase investigasi oleh France24 TV tentang bagaimana wisata seksual dilegalkan di Indonesia mengatasnamakan AGAMA dan akankah FPI bertindak? 

Surat Pengusaha Rotan yang 'Dicuekin' SBY itu


      Nomor : 140/AMKRI/V/2011
      Lampiran : Data ekspor furnitur rotan nasional
      Perihal : Permohonan Penutupan Ekspor Bahan Baku Rotan
      Kepada Yth.
      Bapak.Dr.Susilo Bambang Yudhoyono
      Presiden Republik Indonesia di Jakarta
        Dengan hormat,
        Perkenankanlah kami dari AMKRI suatu organisasi yang mempunyai visi menjadikan mebel rotan sebagai icon produk nasional dan Indonesia sebagai negara industri mebel dan kerajinan rotan terbaik di dunia.
        Indonesia adalah negara penghasil 85% bahan baku rotan dunia, juga memiliki banyak pengrajin rotan yang sangat terampil. Namun sangat disayangkan, potensi menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil mebel dan kerajinan rotan terbaik dan terbesar di dunia sangat terhambat oleh berbagai kendala.
        Melihat perkembangan industri mebel dan kerajinan rotan Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini, bukan hanya TERHAMBAT pertumbuhannya, malah dalam 2 tahun terakhir ini terpuruk makin dalam sehingga sangat diragukan eksistensinya di pasar internasional.
        Menurut pengamatan kami, salah satunya kendala non teknis yang sangat kontra produktif dengan semangat menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah adalah kebijakan mengekspor bahan baku rotan sesuai dengan SK Menteri Perdagangan No 36/M-DAG/PER/8/2009 (revisi dari SK No 12/M-DAG/PER/6/2005).
        Kebijakan ini menghambat pertumbuhan industri rotan dan sekaligus menciptakan kompetisi di pasar internasional oleh negara-negara pembeli bahan baku rotan dari Indonesia, hingga sudah sampai pada tahap yang memprihatinkan. Ratusan industri mebel dan kerajinan rotan Indonesia gulung tikar, dan masih ratusan perusahaan yang terancam tutup. Puluhan ribu tenaga kerja terampil kehilangan pekerjaan.
        Bersama surat ini perkenankanlah kami mengajukan permohonan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia agar kebijakan ekspor bahan baku rotan bisa ditinjau kembali untuk dicabut. Dengan demikian keberlangsungan industri padat karya yang sangat kita banggakan ini, bisa terus tumbuh dan berkembang menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah. Agar cita-cita luhur untuk menjadikan mebel rotan sebagai icon produk nasional dan Indonesia sebagai penghasil mebel dan kerajinan rotan terbaik dan terbesar di dunia bisa kita wujudkan bersama.
        Demikian permohonan ini kami sampaikan dengan segala kerendahan hati, dengan penuh harapan semoga bapak presiden berkenan mengabulkannya.
        Atas perhatian bapak kami sampaikan terima kasih.
        Jakarta, 9 Mei 2011
        Hormat Kami,
        Ketua Umum AMKRI
        M. Hatta Sinatra
          Tembusan:
               Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa
               Mendag Mari Elka Pangestu
               Menperin MS Hidayat
               Menhut Zulkifli Hasan
               Menakertrans Muhaimin Iskandar

      Rina Fahmi Incar Kursi Menteri, Wartawan Dekat Akan Dijadikan Staf Ahli

      Bagi Rina, mau diposkan dimanapun siap apakah sebagai Menteri Pemberdayaan Peremapuan dan Perlindungan Anak yang kini dijabat Linda Agum Gumelar, maupun Menteri BUMN menggantikan Mustafa Abubakar yang masih belum pulih dari sakitnya. Klik selengkapnya DISINI

      PTTUN Tolak Gugatan Nita Yudi, Rina Fahmi Rayakan Kemenangan


      Ketika terjadi persidangan di tingkat PTUN Jakarta, pihak Badan Kesbangpol yang menjadi Tergugat I terungkap telah melanggar Surat Edaran Kemendagri No. 27 tahun 2006 poin 16 yang mengamanatkan bahwa apabila terjadi dualisme kepengurusan dalam sebuah organisasi, maka tidak dapat diterbitkan SKT (Surat Keterangan Terdaftar). Namun kenyataannya pihak Kesbangpol menerbitkan SKT tersebut kepada pihak Rina Fahmi pada 3 Mei 2010 atau sekitar 3 Minggu setelah terjadi Munaslub.

      Dipersidangan pihak Kesbangpol berkilah, SKT diterbitkan karena pihak Badan Kesbangpol tidak mengetahui adanya konflik internal dan terjadi dualisme kepengurusan pasca Munaslub pada 8 April 2010. Meskipun kemudian terungkap berdasarkan bukti T9 yang diajukan oleh Dirjen Kesbangpol di persidangan, terbukti ada surat dari RF ke Kemendagri UP. Ditjen Kesbangpol Tgl 12 April 2010, yang menginformasikan adanya Munaslub Iwapi. Klik selengkapnya DISINI

      IWAPI Dukung Optimalisasi Kinerja Kementerian BUMN


      Setelah satu bulan Menteri BUMN Mustafa Abubakar menderita sakit dan dirawat di National University Hospital Singapura, otomatis menghentikan kinerjanya sebagai seorang menteri. Tugas-tugasnya lantas diambil alih Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Meski kemarin malam, Rabu (21/9) telah kembali ke tanah air, Mustafa masih harus istirahat karena belum pulih total.

      Seiring isu perpolitikan nasional soal reshuffle kabinet, nama Mustafa Abubakar termasuk diantaranya. Bedanya, kalau yang lain lebih bersifat politis, untuk Mustafa Abubakar dikarenakan kondisi kesehatannya. klik selengkapnya DISINI

      Hitachi Targetkan Kuasai 50% Pasar Power System


      MP–Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tempat tinggal yang tersebar keberbagai pelosok di tanah air, sehingga masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menikmati aliran listrik. Karena tempat pemukiman yang sulit di jangkau.

      Pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas listrik setiap tahunnya, dengan tujuan dapat mengaliri listrik ke masyarakat yang belum mendapatkan listrik. Selain untuk kebutuhan masyarakat di perumahan yang terus tumbuh, demikian juga halnya listrik masih dibutuhkan oleh kalangan industri.

      Melihat peluang yang sangat besar ini, PT Japan AE Power Systems Indonesia, anak usaha dari Hitachi Ltd., Jepang, mendirikan pabrik di Cikarang, Jawa Barat untuk memproduksi perangkat jaringan dan transmisi listrik. Alat tersebut biasanya oleh PLN untuk ditempatkan pada gardu listrik. Klik selengkapnya di SINI

      Dorong Kewirausahaan Mahasiswa, Bakornas HIPMI PT Dilantik



      MEDIAPROFESI–Himpunan Pengusaha Muda Indonesia - Perguruan Tinggi (HIPMI-PT) serius menularkan virus kewirausahaan ke berbagai perguruan tinggi (PT) di seluruh nusantara dengan Untuk itu, HIPMI melantik Badan Koordinasi Nasional HIPMI Perguruan Tinggi (Bakornas HIPMI PT) di Jakarta, pekan lalu (13/9/2011).

      Ketua Umum BPP HIPMI, Erwin Aksa mengatakan tujuan dilantiknya Bakornas HIPMI PT ini untuk memotifasi para mahasiswa yang ada di kampus, sebagai penggerak entrepreneurship di kalangan mahasiswa.

      “Saat ini HIPMI sudah menggandeng 100 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dan pihak HIPMI akan membentuk kepengurusan di 33 provinsi,” ujar Erwin dalam kata sambutannya pada pelantikan Bakornas HIPMI PT. Klik selengkapnya di SINI

      TBP, Sebuah Misi Sosial Artis dan Penyiar untuk Anak-anak Penderita Kanker


      NEWMEDIA--"Ini merupakan momentum dan menjadi sebuah pembuktian bahwa MRA Broadcaster Media memiliki penyiar-penyiar terbaik dengan talenta yang bukan sekedar sebagai ujung tombak radio tapi juga sebagai penyanyi. The Broadcaster Project (TBP), merupakan album hasil kerjasama I Radio dan 601 Records untuk misi sosial membantu anak-anak penderita kanker," ujar Karina Sugarda, Assistant GM MarComm MRA disela acara Intro I-Radio melaunching album The Broadcaster Project di EX Plasa, Sabtu (17/9).













      Album The Broadcaster Project yang berisi 13 lagu tersebut, dinyanyikan oleh para penyiar jaringan radio MRA Group seperti Ary Kirana, Santi Bonias, Sita Nursanti,Gamila, Nina Tamam, Bona Sardo,Liza Harun, M. Rafiq, Harvey Malaiholo, Pandji Pragiwaksono, Steny Agustaf, Yarra Aristi dan lainnya. 

      Menariknya, album ini bukan untuk mengatrol karir para penyiar favorit listeners, tapi lebih dari itu, didedikasikan kepada anak-anak penderita kanker, dimana hasil penjualan album (CD) dan perolehan RBT disalurkan melalui Yayasan Onkologi Anak Indonesia yang berada di RS. Dharmais. 












      Edy Suharjadi, produser 601 Records juga merasa terkesan dengan proyek memjbuat album ini, karena ada nilai sosialnya. "Sebagian dari hasil penjualan album The Broadcaster Project ini disumbangkan kepada Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), dari hasil penjualan album dan RBT single This is Me, TBP sudah bisa menyumbangkan sebuah kamar di lantai 4 RS Dharmais yang diberinama The Broadcaster Project." Ujar Edy. 

      MRA merupakan sebuah grup perusahaan media dan gaya hidup dengan berbagai divisi seperti media (printed & broadcast), horeka hingga retail danh otomotif. Sementara 601 Records merupakan label bagi artis - artis beraliran pop dan merupakan group dari MSM Maheswara Music yang merupakan label dangdut bagi artis seperti Iisa Dahlia, Ine Sinthya, Manis Manja, Meggy Diaz, Alfa Natalia dan lain-lain. Adapun Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) adalah sebuah wadah bagi kepedulian terhadap anak-anak penedrita kanker, pada tahun 1993 didirikan oleh para orangtua yang anaknya telah berhasil disembuhkan. 

      Kebanggaan dan Kegundahan Orang-Orang Indonesia di Boeing



      Utang Budi ke IPTN, Ikut Rancang Pesawat Komersial Tercanggih

      Dari 30-an orang Indonesia yang bekerja di Boeing, banyak yang menduduki posisi vital. Berikut laporan SUHENDRO BOROMA, direktur Manado Post (Jawa Pos Group) yang mengunjungi markas pabrik pesawat tertua di dunia itu di Seattle bersama Lion Air.

      MIMPI buruk itu menghampiri Agung H. Soehedi seiring dengan terjadinya serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 8 Mei 1963 tersebut harus kembali kehilangan pekerjaan.

      Ya, tragedi yang menewaskan lebih dari tiga ribu jiwa itu membuat banyak orang menghindari transportasi udara. Akibatnya, permintaan pesawat menurun drastis dan itu memaksa Boeing, pabrik pesawat tertua di dunia yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat, tempat Agung bekerja selepas dari IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara, kini PT Dirgantara Indonesia, red), mesti merumahkan banyak karyawan. Agung termasuk salah satunya.

      Karena sudah membawa istri dan empat anaknya boyongan ke Seattle, Agung pun mesti memutar otak untuk bertahan hidup. Alumnus Itenas, Bandung, yang keluar dari IPTN sebelum pabrik pesawat terbang satu-satunya di Asia Tenggara itu kolaps akibat krisis moneter, itu pun akhirnya rela bekerja apa saja untuk menafkahi keluarga.

      Menjadi tukang cuci mobil, sopir shuttle bus, pengatur dan pembuat taman, tukang memperbaiki rumah, hingga mendirikan perusahan perumahan, semuanya pernah dia jalani. Nah, pada usaha terakhirnya itu Agung menemukan peruntungan. "Usaha saya dan partner maju," katanya.

      Tapi, tetap saja kesuksesan itu tak mampu menghapus kecintaan Agung kepada dunia aeronautika. Meski dua kali mengalami pengalaman pahit, ketika pada 2006 Boeing menawarinya untuk bekerja lagi seiring pulihnya pasar pesawat, Agung tak butuh waktu panjang untuk mengiyakan.

      "Partner saya tak mau melepas, tapi saya bersikeras kembali ke Boeing," ujarnya.

      Pilihan itu terbukti tepat. Di industri pesawat yang didirikan William Boeing itu karir Agung terus menanjak, meski bisnis bersama sang partner tadi tetap dijalankan. Kini alumnus SMAN 3 Bandung tersebut menduduki jabatan structural analysis engineer. Pesawat produksi Boeing yang pernah ditangani sektor stress analysis-nya adalah Boeing 737 dan Boeing 757.

      Agung adalah satu di antara sekitar 30 orang Indonesia yang kini berkarir di Boeing. Mayoritas jebolan IPTN alias PT DI. Mereka tersebar di berbagai departemen. Bukan hanya di urusan teknis, tapi ada juga yang bekerja di bagian keuangan.

      Dari ke-30 orang itu, tak sedikit pula yang menduduki posisi bergengsi atau berpengaruh karena skill yang mereka miliki. Agung, misalnya, ketika hendak dipindah ke pembuatan Boeing 777, dengan tegas menolak.

      "Saya bilang mau keluar kalau dipaksa pindah," kisahnya. "Bos saya bilang, sama sekali tak terpikirkan Anda keluar dari Boeing," lanjutnya.

      Itu menunjukkan kapasitas dan kualitas Agung yang sangat dihargai di Boeing. Sama halnya dengan Tonny Soeharto. Lulusan ITB 1982 itu menduduki posisi lead engineer-MB production support engineering Boeing 777. Pada pembuatan pesawat berbadan lebar untuk penerbangan lintas benua yang sangat diminati pasar itu, Tonny dipercaya menjadi pimpinan di salah satu bagian yang vital.

      "Tak terbayangkan kita orang Indonesia membawahkan orang-orang Amerika di Boeing. Alhamdulillah, itu bisa kami capai di sini," kata Tonny dengan mata berkaca-kaca.

      "Mereka respek dan menghargai kemampuan kita, orang Indonesia. Saya juga dengan bangga bilang sebagai alumnus IPTN," lanjut pria yang mempersunting gadis asal Bangkalan, Madura, itu.

      Agung dan Tonny memang sama-sama mengakui bahwa apa yang mereka capai saat ini tak lepas dari latar belakang pengalaman mereka di IPTN. Bekerja di perusahaan yang identik dengan mantan Presiden B.J. Habibie itu sangat berjasa dalam pembentukan kualitas dan kapabilitas. Dengan kata lain, IPTN telah menempa mereka hingga memiliki kualitas dunia untuk bidang teknologi pembuatan pesawat.

      "Di sini (Boeing), menyebut IPTN tidak meragukan. Memudahkan untuk diterima," kata Agung dan Tonny yang ditemui di tempat terpisah di Seattle. Yang bukan alumnus IPTN pun tak kalah membanggakan prestasinya. Misalnya, Bramantya Djermani. Dia kini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang terlibat dalam pembuatan pesawat Boeing tercanggih, Boeing 787 Dreamliner.

      Dreamliner menggunakan bahan dasar komposit. Pesawat ini paling ringan di antara semua jenis pesawat komersial yang pernah ada dan paling hemat bahan bakar.

      Meski belum dilepas ke pasaran, pesanan kepada Boeing sudah menumpuk, mencapai 800-an. "Untuk saat ini masih dalam tahap persiapan," kata Bram yang langsung bekerja di Boeing begitu lulus dari University of Foledo, Ohio.

      Di pembuatan pesawat berjuluk Boeing Next Generation itu, Bram memegang jabatan industrial engineer. "Saya berusaha menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Untuk karir saya dan mudah-mudahan menyumbang bagi nama baik Indonesia," katanya.

      Atas kemampuan masing-masing, orang-orang Indonesia di Boeing rata-rata sudah hidup mapan di negeri Paman Sam. Gaji pokok mereka berkisar USD 200.000 per bulan (sekitar Rp 1,86 miliar). Itu belum termasuk tunjangan dan penghasilan tambahan lain-lain.

      Agung, contohnya, punya dua rumah yang megah. "Rumah saya seperti jadi tempat berkumpul mahasiswa asal Indonesia dan tempat penitipan barang-barang mereka," katanya saat menjamu penulis di salah satu rumahnya di kawasan Way, Kent, Washington.

      Tonny juga sudah berhasil menuntaskan kuliah anak tertuanya di University of Washington (UW), Seattle. Si sulung yang beristrikan perempuan Vietnam itu kini mengikuti jejak ayahnya sebagai engineer.

      Anak kedua memilih jurusan arsitek di perguruan tinggi yang sama. "Alhamdulillah, kami juga terus berusaha membantu siapa saja anak Indonesia yang kuliah di sini (Seattle dan sekitarnya)," ujar Tonny.

      Di luar Agung, Tonny, dan Bram, masih ada Kholid Hanafi yang berada di bagian pembuatan Boeing 737 dan Maurita Sutedja yang berkarir di departemen keuangan. Sulaeman Kamil, mantan direktur teknologi IPTN dan pernah menjadi asisten Menristek-kepala BPPT, juga bekerja di Boeing.

      "Intinya, kami semua bangga," kata Bram. "Kami membuktikan bahwa orang Indonesia tidak kalah dengan warga Amerika atau bangsa-bangsa lain di dunia," lanjutnya.

      Namun, di balik kebanggaan itu juga tersembul kegundahan. "Sedih karena semua kemampuan iptek yang kami miliki tak bisa dikembangkan atau dipakai di tanah air," kata Tonny.

      "Potensi dan kemampuan anak-anak Indonesia tak kalah. Sayang ndak bisa diaplikasikan di tanah air. Tidak ada ruang dan wadah yang cocok bagi penerapan dan pengembangan teknologi dirgantara di Indonesia," tambah Bram.

      Bahkan, kalau saja IPTN tak kolaps akibat krisis moneter yang bermula dari mismanajemen dan konsistensi mengembangkan produksi mereka seperti CN315, N250, dan N2130, Agung yakin perusahaan pelat merah itu akan menguasai pasar yang kini dikangkangi ATR. ATR adalah anak perusahaan saingan Boeing, Airbus, yang bermarkas di Toulouse, Prancis.

      "Saya prihatin dan sedih," ujar Agung. Suaranya melemah dan matanya sayu. "Kita seharusnya kini raja di pasar seperti yang dikuasai ATR sekarang."

      Apalagi, B.J. Habibie dulu menerapkan teknologi pesawat masa depan yang saat itu belum dimiliki pabrik pesawat lain: fly-by-wire. Boeing sendiri menggunakan teknologi ini untuk pembuatan B777 pada 1994.

      Teknologi itu pula yang kini "dicuri" Boeing dan Airbus dalam merancang pesawat-pesawat masa depan. Sesuatu yang lebih dulu diterapkan IPTN pada N2130. "Sedih dan prihatin. Itu tinggal kenangan," kata Agung, Tonny, dan Bram. (Suhendro Boroma/Jambi Independent)

      Kenapa Tutup Botol Aqua Galon Selalu Bocor?


      Foto: MIOL

      Suara Konsumen

      Saya pelanggan air mineral Aqua Danone ukuran galon. Setiap hari saya dan keluaga mengonsumsi Aqua. Saya memilih brand Aqua karena tertarik dengan iklannya yang memberi jaminan keamanan, kesehatan, dan manfaatnya bagi tubuh. Iklan Aqua di televisi sangat mendominasi.

      Terakhir, iklan Aqua berisi penjelasan tentang tutup galon yang katanya teknologi Jerman. Saya selalu kesulitan membuka tutup (pengunci) galon ini. Biasanya kubelah dulu dengan pisau, baru kutarik memutar. Selanjutnya: buka. 

      Pertanyaan saya, tutup Aqua itu selalu dalam kondisi bocor (merembes) ketika sampai rumah. Ini hampir selalu terjadi. Rembesan berasal dari celah penutup galon/leher galon dan bukan tutup pengunci.

      Awalnya saya berpikiran negatif. Air Aqua ukuran galon ini kemungkinan dipalsu dengan air isi ulang. Asumsi sederhana saya begini: Aqua ini mendominasi iklan di televisi. Dibanding produk sejenis, Aqua paling banyak beriklan. Dampaknya kemungkinan besar masyarakat akan memakai produk ini. Aqua menjadi sangat laku di pasaran. Produk laku, dengan harga cukup tinggi, akan menjadi sasaran mafia pemalsu. Mereka akan membidik Aqua sebagai target. Semakin laku produk rentan dipalsu.

      Salam
      Habe Arifin

      AJI Jakarta Sesalkan Pemukulan Juru Kamera Trans7 oleh Pelajar SMA


      Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyesalkan terjadinya pemukulan, intimidasi dan perampasan kaset rekaman yang menimpa juru kamera (camera person) Stasiun Televisi Trans7, yang terjadi Jumat sore, 16 September, pekan lalu.

      Ketika insiden kekerasan itu terjadi, juru kamera Trans7 itu, Angga Octaviardi, tengah merekam tawuran antara dua sekolah menengah atas di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Dia tengah mengambil gambar papan nama SMA Negeri 6 Jakarta, ketika sekelompok pelajar berseragam putih-abu-abu yang sebelumnya terlibat bentrokan dengan pelajar SMA Negeri 70 Jakarta, beramai-ramai mengerumuninya sambil berteriak-teriak. "Matikan kamera!" perintah mereka. Ketika permintaan ini tak segera dituruti, sejumlah pelajar bertindak lebih jauh dengan memukuli Angga dan merampas kaset video rekaman tawuran itu dari tangannya.

      Tindakan kekerasan macam ini jelas tidak bisa dibiarkan. Meski tidak bertugas di bagian redaksi berita, Angga sedang mengumpulkan informasi untuk disiarkan sebagai bagian dari program berita di media tempatnya bekerja. Ketika dikerumuni para pelajar peserta tawuran dan diancam dengan kata-kata kasar, Angga juga jelas-jelas mengenakan pakaian seragam dan kartu tanda pengenal yang menunjukkan asal medianya yakni Trans7.

      Meski patut diverifikasi lebih jauh, besar kemungkinan motif tindakan kekerasan para pelajar SMA ini adalah upaya menghalang-halangi kerja pengumpulan informasi agar aksi tawuran mereka tidak diketahui masyarakat luas.

      Oleh karena itu, sebagai organisasi profesi jurnalis yang berkomitmen melindungi kebebasan pers, AJI Jakarta menyatakan sikap sebagai berikut: 

      1. Menyesalkan tindakan kekerasan yang dilakukan para pelajar SMA di kawasan Blok M, Jakarta Selatan atas juru kamera Trans7, Angga Octaviardi.

      2. Mengingat para pelaku masih di bawah umur, AJI Jakarta tidak menyarankan kasus ini diselesaikan melalui jalur hukum. Kami hanya meminta Kepala Sekolah dan guru di SMA yang terlibat peristiwa ini
      untuk mendidik murid-muridnya agar memahami pentingnya kebebasan pers dan  perlindungan terhadap kegiatan jurnalistik terutama pencarian dan penggalian informasi di lapangan.

      3. Menghimbau pengelola Stasiun TV Trans7, terutama bagian redaksi/ produksi berita, untuk mempertegas aturan soal siapa yang bisa melakukan kegiatan jurnalistik untuk peliputan berita. Juru kamera atau karyawan bagian produksi yang melakukan kegiatan jurnalistik hendaknya dibekali dengan kartu pers dan diberikan pendidikan dasar mengenai etika jurnalistik serta teknik peliputan yang aman.

      Jakarta, 17 September 2011

      Wahyu Dhyatmika
      Ketua AJI Jakarta
      =======================================
      AJI JAKARTA
      Jl. Kalibata Timur IV G No 10, Kalibata
      Jakarta Selatan
      Telp/fax 021 7984105
      http://www.ajijakarta.org
      =======================================

      Memberitakan Pelanggaran HAM di China, Radio Erabaru Batam Dibredel Lagi!!


      Untuk kedua kalinya, Radio Erabaru dibredel aparat tim gabungan setempat. Tim gabungan yang terdiri dari Kominfo/ Dirjen Postel, Balmon, KPID Kepri, Kejaksaan Negeri Batam, Polisi Militer, PPNS Polda Kepri, dengan jumlah personil 30an lebih orang datang ke Radio Erabaru, Jl. Borobudur D1 Palm Hill, Bukit Senyum, Batam, Selasa, 13 September 2011 sekitar pukul 11.00 wib.

      Meski sudah berusaha dicegah oleh pihak Radio Erabaru dengan segala upaya, mereka dengan sewenang-wenang & arogan mencongkel gembok besar yang mengunci ruangan transmitter / pemancar dengan menggunakan obeng. Hasilnya 2 buah alat siaran (exciter dan digital processor) sebagai jantung pemancar untuk on air diambil paksa sekaligus !!

      Segala penjelasan yang dilakukan tidak digubris tim gabungan. Gatot Machali selaku Dirut Radio Erabaru menjelaskan bahwa radio Erabaru masih melakukan upaya hukum. Gugatan IPP (Ijin Penyelenggaraan Penyiaran) dan ISR (Ijin Stasiun Radio) masih kasasi - belum ada keputusan tetap di MA.

      Sedangkan putusan Pengadilan Negeri Batam soal kriminalisasi terhadap Dirut Radio Erabaru juga masih mengajukan upaya banding. Semua kasus hukum itu belum ada putusan tetap. Semestinya pihak aparat menghormati proses hukum yang masih sedang berjalan yang memang belum ada putusan yang tetap ini, namun tim aparat tidak menggubris dan hingga kemudian pihak tim gabungan mengambil paksa komponen transmitter Radio Erabaru sehingga saat jam menunjukkan pukul 12.00 wib, siaran Radio Erabaru terhenti !!

      Ini secara terang dan kasat mata semakin menguatkan adanya tekanan intervensi dari Rejim Partai Komunis China (PKC), yang sudah menginjak-nginjak hukum di Indonesia. Kami sebagai warga negara yang menjunjung tinggi Indonesia sebagai Negara hukum, dan demokrasi, sangat memprotes keras dan prihatin yang sangat mendalam. Sebagai media yang bebas berekspresi mestinya dapat memerankan media yang dilindungi hak-haknya namun kenyataannya kami seperti hidup di bawah kungkungan tekanan Rejim Partai Komunis China.

      Oleh karena itu, dengan adanya tindakan arogan aparat yang telah membredel radio Erabaru dengan cara merampas paksa alat siarannya ini, maka Radio Erabaru menuntut :

      - Memprotes keras intervensi Rejim PKC, yang telah mengintervensi kebebasan pers yang sedang berjalan di Indonesia, khususnya dengan membredel Radio Erabaru di Batam.
      - Menuntut agar pemerintah Indonesia dapat melindungi hak warganegaranya atas kebebasan berkekspresi dan kebebasan pers, bebas dari tekanan kekuatan asing/ Rejim PKC.
      - Menuntut agar tidak ada diskriminasi terhadap Radio Erabaru dalam upaya menjalankan fungsi medianya.
       -Menuntut atas tindakan semena-mena aparat dan meminta agar alat transmitter milik sah Radio Erabaru dikembalikan.

      Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, sudah selayaknya kedaulatan negara ini dipertahankan dari campur tangan pihak asing. Radio Erabaru berhak mendapatkan perlindungan atas hak-hak asasinya yang telah dilanggar dengan semena-mena.

      STOP Intervensi Asing, Rejim Partai Komunis China !! Pertahankan Kedaulatan Bangsa Indonesia, Bebas dari Intervensi Rejim Partai Komunis China !!

      Tari Besek Hantarkan NTT Juara Umum Parade Tari Nusantara ke-29


      Salah satu penampilan tim peserta Parade Tari Nusantara ke-29 memukau ribuan penonton. (Foto: Mahar) 


      NEWMEDIA-Parade Tari Nusantara ke-29 sukses diselenggarakan oleh Taman Mini Indonesia Indah(TMII), pada Minggu (11/9) dengan suasana meriah dimana ribuan penonton memenuhi ruang pertunjukan hingga membludak. Acara yang telah menjadi tradisi tahunan ini pertama kali digelar pada tahun 1982 dengan memberikan hadiah bagi para pemenang berupa Piala Tetap Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Piala Bergilir Pemrakarsa TMII yakni Ibu Tien Soeharto. Berlangsung di Panggung Pentas Sasono Langen Budoyo, Parade Tari Nusantara 2011 ini diikuti oleh perwakilan dari 31 provinsi.
      "Dalam penyelenggaraan acara tingkat nasional ini, TMII bekerjasama dengan dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata serta para pengelola anjungan daerah TMII. Tadi pagi juga dibuka oleh Bapak Kusnan A Halim, Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan Kementerian Dalam Negeri," demikian diungkapkan Ade Agustiana, humas TMII.
       
      Sementara itu Budayawan sekaligus Manager Budaya TMII, KRAT Mas'oed Thoyib, mengungkapkan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk melestarikan budaya Indonesia dan sebagai sarana untuk saling memahami perbedaan. 
       
      "Parade Tari Nusantara yang sudah diselenggarakan untuk ke-29 ini, merupakan upaya melestarikan kebudayaan Indonesia serta sarana memahami kebhinnekaan dalam masyarakat bangsa Indonesia. Melalui acara ini, para para seniman tari juga dapat bertukar pikiran dalam upaya melestarikan kebudayaan dan meningkatkan persaudaraan," ujar Mas'oed.
       
      Masih menurut Mas'oed Thoyib, bahwa Parade Tari Nasional ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur eksistensi dan perkembangan kesenian daerah, hal ini nampak dengan munculnya tari kreasi baru dari berbagai daerah. Dalam penampilan para peserta, nuansa modern dan kreatifitas memberikan suatu harapan akan eksistensi dan perkembangan seni budaya dalam hal ini seni tari di masa depan.
       
      Peserta Parade Tari Nusantara ke-29 ini, berasal dari perwakilan terbaik 31 Provinsi seperti Papua Barat, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Papua, Banten, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Maluku, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Bali, Jambi, Sulawesi Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, Bengkulu, Gorontalo, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur.
       
      Dewan juri dari Pacara ini adalah lima tokoh seni yaitu Sulistyo Tirtokusuma (Direktur Seni Pertunjukan Kemenbudpar), Hermin Kusmayati (Rektor ISI Yogyakarta) Sri Hastanto (Guru Besar ISI Solo), Retno Maruti (Dosen IKJ), Ade F Meyliala (Direktur Operasional TMII), dan Sri Minarni (Disbudpar Provinsi Sulawesi Tengah) serta perwakilan setiap daerah yang tidak diperbolehkan memberikan poin nilai pada daerahnya sendiri, demi menghindari subyektifitas dalam penilaian.
       
       
      NTT Juara Umum

       
      Dalam penentuan para pemenang Parade Tari Nusantara 2011 ini, peserta asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membawakan Tari Besek berhasil meraih juara umum dengan mendapatkan Piala Tetap dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata serta Piala Bergilir Ibu Tien Soeharto selaku Pemrakarsa TMII, serta hadiah uang sebesar Rp10 juta Rupiah.
       
      Tari Besek merupakan tarian asal Flores, terinspirasi dari budaya petani jagung di Flores, NTT. Gerakan dinamis dan penuh semangat yang ditampilkan para penari merupakan koreografi dan simbol dari cara menanam, menyiram, dan memelihara tanaman jagung serta semangat untuk menjaganya dari binatang buas. Besek sendiri merupakan wadah penyimpanan jagung yang terbuat dari anyaman daun lontar, menyimbolkan solidaritas masyarakat Flores yang bahu-membahu dalam bekerja.

      Interview with Dr. Taufik-Professor of Electrical Engineering at Cal Poly State University


      INTERVIEW
      Dr. Taufik
      Electric Power Institute

      # The classic one would be shooting up an electrolytic capacitor to the ceiling... This definitely taught me a lesson to respect electricity more, and to be extracareful dealing with polarized capacitors #

      How did you get into  electronics/engineering and when did you start?

      It wasn’t until my senior year in high school. Back then I lived near the seaport district of Jakarta known as Tanjung Priok and went to this public high school called SMA 13. As part of the high school curriculum at the time, we were introduced to basic circuit components and analysis. I hope they are still doing this these days because that was what really got me interested in engineering. 
      As for the electronics, I was very much interested in the subject, but the coverage was scant, which  motivated me to choose electrical engineering as my major when I came to the U.S. to study. Now I have been teaching electrical engineering at Cal Poly since 1999, and it has been an honor and great pleasure to be able to teach the very subject that I am passionate about. 

      What are your favorite hardware tools that you use?

      I like to use the Frequency Response Analyzer which is a great tool for analysis, measurement, and design of feedback loops in dc-dc converters. The one I have in the power electronics lab at Cal Poly State University is the Venable Frequency Response Analyzer which has been used to help students’ understanding in feedback compensator design.

      What are your favorite software tools that you use?

      MathCAD. It is an awesome tool for design calculations. I’ve used it in all my consulting work and in design and problem examples I have in my lecture notes. The software really helps streamline long and complex design calculations, and its handling of units provides a convenient way to quickly troubleshoot your design equations. As for circuit simulation, I’ve come to like LTSpice developed by Linear Technology Corporation. It is completely free to download and extremely fast when simulating switching regulators compared to normal Spice simulators.

      What is the hardest/trickiest bug you have ever fixed?

      Minimizing noises in highfrequency switching dc-dc converter circuits have always been tricky to me. 

      What is on your bookshelf? 

      Being a faculty in a primarily undergraduate institution, I have been assigned to teach various electrical engineering courses (lectures and labs). However, courses that I mainly teach almost every year are circuits, control systems, power electronics, power systems, and machines. As a result, my bookshelf is filled with textbooks and my own lecture notes on these subjects. Although since my main interest is in power electronics, two rows of my bookshelf are actually filled with text and reference books on power 
      electronics. My bookshelf is also where I stock up on quite a few selections of power components such as power MOSFETs, diodes, inductors, and pwm controller chips. These components come in handy for my students to conduct their senior design and master’s thesis projects.

      Do you have any tricks up your sleeve?

      Not tricks, but perhaps teaching undergraduate students a simpler way to analyze and perform basic 
      design of dc-dc converter circuits. This is what I hope to share some day in the near future through an 
      undergraduate level textbook on power electronics, which I have been planning to write.

      What has been your favorite project?

      Several years ago my students and I were involved in the investigation and development of new topologies for Voltage Regulator Modules (VRMs) to power future microprocessors. As the number of transistors on a microprocessor increases, the power supply to these microprocessors, VRMs, must be able to supply the increase in current demand while maintaining their high efficiency. This becomes especially challenging considering the relatively low voltage operation of these microprocessors. 

      Consider an example from Intel who announced recently the world’s first 2-billion transistor microprocessor code-named Tukwila. With the massive amount of transistors in the new processor, even higher output current supply will be in demand, and hence more challenging for VRMs. Another example is the current Intel Core i7-980x which has a thermal design power of 130W. However, according to it actually pull as much power as 180W at 1.263VDC. Again, this means the VRMs have to be able to supply high output current with relatively low voltage. There are other processors out on the market that demand the VRM to supply upwards of 400W. The bottom line is, when output power is this high while the output voltage is kept low, the task for designing an efficient VRM for these microprocessors becomes very challenging. Hence, the use of conventional multiphase buck topology would no longer suffice and meet the efficiency requirement. 

      Our project was then aimed to prove that our proposed new topologies offer benefits in terms of improved efficiency and performance compared to the traditional multiphase buck at high power output and low output voltage. Two variations of the new topologies were designed, built, and tested here in the power electronics lab at Cal Poly. The new topologies are unique in that they employ passive storage components to achieve improvements in performance and efficiency rather than introducing more converter stages or more active switches. Consequently, the new topologies are much less complex to design compared to approaches using additional converter stage or additional active switches. Combined with the use of interleaving technique, we found that the proposed new topologies are able to maintain the high efficiency comparable to or better than those measured from VRMs currently available in the market. Other performances of the new topologies were also tested and evaluated exhibiting the very tight line and load regulations, very small output voltage ripple at full load, and fast dynamic response. These new topologies recently received a patent from the USPTO.

      Although the project has been completed, we are currently planning to further test the capability of the new topologies with even much higher output currents (> 200A). In addition, we plan to develop the soft-switching version of these topologies for even higher overall VRM efficiency.

      Do you have any noteworthy engineering experiences?

      The classic one would be shooting up an electrolytic capacitor to the ceiling. This happened in my first circuit lab back when I was in college. I accidentally placed the capacitor on my circuit with the wrong polarity. This definitely taught me a lesson to respect electricity more, and to be extra careful dealing with polarized capacitors.

      What are you currently working on?

      These days I’ve been involved in several projects, all in the area of power electronics. The main one is the design and development of DC House to help people get access to electricity. It is currently being studied and eventually developed at Cal Poly to provide electricity to those without it by taking advantage of renewable energy sources and other creative ways of generating power. The project is open access and is still in its initial phase. I welcome anyone to participate and any ideas are greatly appreciated. The website for the project is http://www.calpoly.edu/~taufik/dchouse/

      Other projects I’ve been working on are wind-energy harvesting for urban areas, isolated one-stage power factor correction, and improved inverter for Photovoltaic system.

      Off campus, I have been an engineering consultant for Enerpro Inc. where I’ve mostly performed transformer designs. I am also assisting a university halfway around the world with getting its international accreditation. [EEWebPULSE/Electrical Engineering Community Magz. Issue 10/September 6, 2011]

      catatan sehari menjadi orang Indonesia

      Klik disini, lihat ekspresi kecintaan pada NKRI


      Ini tidak sedang berbicara tentang 93% wilayah daratan NKRI yang sudah tergadai dalam kontrak karya dengan asing untuk 95 tahun hingga beberapa abad kedepan. Tapi keseharian kita yang tak lepas dari pengaruh asing. Dan, dalam sehari itu seberapa banyak kita dalam pengaruh asing?

      Sebagai contoh, saat bangun tidur, kita minum apa? Apakah air putih dari mata air bening yang melimpah dari lembah-lembah di kampung kita? Atau Aqua yang 74% sahamnya milik Danone, sebuah raksasa perusahaan milik Perancis? Atau Teh Sariwangi yang 100% sahamnya milik Unilever Inggris? Atau Minum susu SGM milik Sari Husada yang 82% sahamnya juga milik Danone group, Perancis?

      Bagaimana dengan kegiatan pagi anda berikutnya? Apakah kemudian mandi dengan sabun Lux dan sikat gigi dengan Pepsodent yang merupakan produk Unilever (Inggris)? Sarapan berasnya beras import Thailand, gulanya juga import? Lalu menyempatkan diri bersantai sebentar usai sarapan sambil merokok sebatang Sampoerna yang  97% saham milik Philip Morris Amerika?

      Anda juga keluar rumah menuju tempat kerja dengan naik motor/mobil buatan Jepang, China, India, Eropa? Sampe kantor menyalakan AC buatan Jepang, Korea, China. Pake komputer, handphone dengan operator jaringan Indosat, XL, Telkomsel yang milik asing; Qatar, Singapore, Malaysia?

      Aaah, capek ternyata mereka sudah menyatu dalam diri kita, cari kegiatan lain aja yuk, bagaimana kalau kita belanja saja. Ke Lotte Mart, aah punya Korea. Ke Giant? hm, ternyata ini punya Dairy Farm Internasional, sama dengan Hero, Malaysia punya. Circle K? Wow, yang ini Amerika punya. 

      Ups, dompet anda penuh dengan kartu2 kecuali kartu remi? Ada ATM BCA, Danamon, BII, Bank Niaga... ah semuanya sudah milik asing walaupun namanya masih Indonesia.

      Ngomong-ngomong anda tinggal di rumah yang dibangun dengan menggunakan semen Tiga Roda Indocement yang sekarang sudah jadi milik Heidelberg Jerman dengan saham 61,70% itu? atau semen Gresik milik Cemex Mexico, Semen Cibinong milik Holcim (Swiss)?

      Hm, bagaimana anda baca tulisan ini, dari BlackBerry buatan Mexico? Atau dari komputer made in China?

      Tapi tetaplah berbangga jadi bangsa Indonesia, kita masih punya yang asli 100 persen Indonesia: ada koruptor, ada polisi rekening gendut, ada PNS ditya nguntal arta negara, ada SMI, ada Gayus, ada SBY, ada Nunun, ada siapa lagi? Itulah milikmu, inventarisir supaya tak merasa kehilangan ketika bangsa lain mengklaim ... 

      (yang mau nambah silakan tulis di komentar dibawah)

      Pengunjung Melonjak Ancol Tetap Bersih dan Nyaman




      Gubernur DKI Fauzi Bowo memimpin kegiatan bersih-bersih Pantai Indah, Ancol, Sabtu (3/9)

      Newmedia-Liburan sepanjang pekan hari raya Idul Fitri 1432 H  memberikan dampak positif pada peningkatan kunjungan rekreasi ke Ancol, ini terlihat  dari meningkatnya angka kunjungan sekitar 8-10 persen dibanding tahun lalu, dengan angka kunjungan mencapai lebih dari 1,5juta pengunjung.
      Libur hari raya yang merupakan hari terakhir, serta jam buka lebih panjang, menyebabkan terjadinya puncak kunjungan pada akhir pekan tanggal 3 dan 4 September. Dari pantauan Newmedia, rekapitulasi kunjungan dari pekan lebaran yang dimulai hari senin (29/8), telah mencapai lebih dari 700ribu pengunjung (individu) dan masih terus bertambah.

      Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, hari ini, Sabtu (3/9) juga berkenan memimpin kegiatan bersih-bersih di pantai di Ancol bersama jajaran Direksi dan manajemen manajemen PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk., yang melibatkan warga sekitar Ancol, komunitas pencinta lingkungan dan pengunjung.

      Masyarakat dan para pengunjung yang berekreasi diberikan kantung sampah dan bila sampah mereka sampai dengan 5 (lima) kg diganti dengan uang tunai sebesar Rp. 10.000,- dan ada 5 (lima) pengunjung yang berhasil mengumpulkan sampah terberat diberikan hadiah sepeda.

      “Ancol merupakan tempat wisata DKI Jakarta dan merupakan asset bangsa Indonesia yang harus kita jaga bersama, kebersihan dan keindahan pantainya agar tetap dapat memberikan kenyaman pada masyarakat luas  dalam melakukan aktifitas olah raga dan rekreasi masyarakat luas.” Ujar Gubernur.

      Fauzi Bowo juga memiliki harapan besar agar masyarakat DKI Jakarta dapat bersama-sama menjaga lingkungan dengan baik dengan tetap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan demi tercapainya lingkungan Jakarta yang lebih indah. (mhr) Klik juga laman GI