Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Suara-suara tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan

24 Des 2020

Menyoal Upaya Radikalisasi dan Pencitraan FPI sebagai Alat Teror


OPINI | FPI atau Front Pembela Islam yang sering tampil manis dalam berbagai aksi sosial kebencanaan dan bikin gemes itu ditampilkan oleh pihak tertentu sebagai monster menakutkan. Namun tak berlaku bagi mereka yang bisa melihat dengan jujur tanpa tendensi.

Informasi-informasi tentang FPI yang gemesin itu ditutup sedemikian rupa, sehingga yang muncul adalah perasaan takut, khawatir dan teror terutama bagi mereka yang melakukan praktik bisnis kotor, atau memiliki sikap intoleran terhadap agama islam namun menutupinya dengan seolah paling Indonesia, paling Pancasilais, paling menghargai kebhinnekaan, paling UUD '45, paling NKRI.

Latar belakang FPI dikatakan radikal dan intoleran, karena sikap kerasnya terhadap pihak-pihak yang intoleran tidak berlaku adil ketika berhadapan dengan kepentingan umum yang diwakili umat islam, atau ada yang menodai ajaran agama Islam baik oleh non muslim atau oleh orang islam sendiri. Ya, FPI masih menganggap Islam sebagai agama, dogma, bukan sekadar artefak sejarah, bukan hanya baju yang mengesahkan bahwa seorang WNI itu Pancasilais dengan memeluk salah satu agama, berKetuhanan Yang Maha Esa.

Agama (Islam) yang masih dianggap sebagai dogma oleh FPI, dianggap terlalu kolot dan tidak modern, menghambat kemajuan zaman dan kebebasan berekspresi bagi penganut faham liberal. Itu sebabnya FPI kemudian jadi common enemy untuk sama-sama diserang dari segala penjuru dan dilemahkan.

Apakah benar membuat mereka (FPI) melemah?

Ruang gerak terbatas mungkin iya, tapi semakin lemah mungkin tidak, justru mereka butuh tantangan, butuh persekusi, butuh digegeri, karena hal itu merupakan tolok ukur prinsip yang dibawa mengandung kebenaran atau tidak. Jika benar, maka akan semakin banyak penolakan, serangan. Sebaliknya jika bukan hal benar, maka orang akan diam saja, menganggap wajar, dan banyak yang mendukung.

Itu sebabnya, semakin diinjak semakin melawan, semakin ditekan semakin menyala ghirahnya.

Maka ketika banyak pihak meramu berbagai strategi melemahkan FPI dengan persekusi dan berbagai kekerasan termasuk secara verbal, FPI bukannya melemah malah nyalanya semakin besar.

Hal yang bisa membuat FPI meredup itu ketika semua pihak menerima, semua pihak menganggap sebagai teman, semua pihak mendukung. Saat itulah mereka justru akan bertanya-tanya, apa yang salah? Lazimnya pembawa kebenaran itu ditentang, tapi ini sebaliknya?

Tak hanya FPI, namun juga terhadap kelompok-kelompok di luar itu yang bahkan lebih radikal, menolak Pancasila dan Konstitusi RI (UUD 1945), menolak kepemimpinan nasional hasil pemilu,  merupakan bahaya sebenarnya, namun ditutupi. (Atau sengaja dipelihara supaya tetap ada program deradikalisasi dan anti terorisme?)

Apakah mengorbankan FPI adalah cara ngeles karena tidak mampu menghadapi mereka yang lebih piawai gerakannya, tersembunyi dan pintar berkamuflase? Sedangkan FPI hanya dijadikan cover proyek, dijadikan  musuh bersama, diramaikan, untuk menutupi praktik gelap yang dilakukan, menutupi ketidakmampuan sekaligus menciptakan teror supaya tetap ada proyek pengamanan?

Hal seperti itu bisa saja dicurigai, diduga, dilakukan  oleh oknum atau pihak tertentu, maupun oleh pihak swasta jasa pengamanan, ataupun organisasi / kelompok masyarakat yang merasa punya power dan dapat disewa jasanya guna pengamanan terhadap aset maupun perasaan ketakutan yang diciptakan terhadap pihak tertentu.

Jikalau ada kepentingan seperti itu maka sepakat, dalam hal ini FPI hanya sebagai alat menakut-nakuti saja.

Faktanya, tak sedikit orang yang pernah terdampak bencana misalnya, justru merasa terjamah oleh FPI yang membantu mereka di saat sumber daya lainnya vakum atau belum mampu menjangkau mereka.

Dengan memahami semangat jihad bil hal (bukan bil harb/dengan perang) FPI yang dilakukan melalui berbagai kegiatan sosial, pelestarian lingkungan dan pendidikan kader da'i melalui pesantren, maka treatment-nya tentu juga harus berbeda. Beri saja kerepotan/kesibukan  kepada mereka guna membantu distribusi bansos, penanganan kebencanaan dari mitigasi - evakuasi hingga rehabilitasi kebencanaan, membangun daerah atau pulau terluar dan sebagainya, sebelum potensi FPI yang luar biasa itu dilirik pihak lain.

Dengan terpilihnya Yaqut Cholil Qoumas yang notabene Ketua GP Anshor sekaligus pihak yang selama ini paling keras  dibuat berseteru (dibenturkan) dengan FPI untuk melemahkan potensi nahdliyyin sebagai akar kedua organisasi tersebut, masyarakat menunggu kebijakannya yang obyektif untuk menghentikan perseteruan. Karena dari interaksi kedua pihak inilah kerap  berbagai keributan itu terjadi.

Kita lihat dan tunggu, apakah Gus Yaqut yang pernah menjadi wakil bupati dan anggota DPR ini   mampu menjadi menteri semua agama dan golongan, atau maqamnya masih terpasung hanya sebagai Ketua GP Anshor saja.

Yang jelas Cipta Kondisi masyarakat secara ipoleksosbudhankam seperti apa yang diinginkan seyogyanya dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, bukan karena tekanan atau didikte kekuatan politik tertentu yang ingin melemahkan berbagai potensi yang dimiliki bangsa dan negara ini.

Gus Yaqut bisa saja berkolaborasi dengan Mensos Tri Rismaharini untuk membuat program bersama guna melakukan pemberdayaan potensi masyarakat, termasuk FPI di dalamnya. Apakah dengan menciptakan padat karya atau program lainnya.

Ayo bikin sibuk, bukan bikin ribut!



Mahar Prastowo
Pelayaran Bhakti Bela Negara Kemhan RI
(Membangun Pulau-pulau Terluar bersama FPI dan sejumlah elemen Bela Negara lainnya).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar