Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Suara-suara tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan

31 Des 2007

AURA DAN NASIB 2008

YAYASAN ASMAUL-HUSNA
KLINIK METAFISIKA, PARAPSIKOLOGI, SUPRANATURAL, DETEKSI ALAM LAIN, TRANSFER ILMU GHAIB, PENGOBATAN ALTERNATIF & DO’A

Kontak HP: 0815 8579 2280

KONSULTASI:
HIPNOTIS, GENDAM, KLENIK, SANTET, GUNAGUNA, PELET, PENGASIHAN, KECERDASAN, KEARTISAN, POLITIK, KEPANGKATAN, MENGUASAI ILMU, KEKEBALAN, INDRA KEENAM, ILMU TERAWANG, PANGLIMUNAN, ROGO SUKMO, SEDULUR PANCER, PELARIS, TEMPAT USAHA,TEMPAT TINGGAL, USAHA MACET, BISNIS, PENGOBATAN, KEBUGARAN, KESURUPAN, GANGGUAN JIWA, STRESS, REFLEKSI, NARKOBA, AIDS / HIV, GAGAL, GINJAL, BEKAM, MATA,TERAPI ION DETOX, DLL

MELAYANI JARAK JAUH
ditangani langsung oleh Bapak H. Aji Ach. Sarno
(Guru spiritual dan konsultan bagi paranormal2 kondang tanah air dengan 313 santri binaan dan 354 keutamaan)



SELAMAT TAHUN BARU & ULTAHKU ke 27


SELAMAT TAHUN BARU UNTUK SEMUANYA
SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK "MY SELF"

Hari ini (old year) aku masih berangkat ke "medan perang".
Rencana awal, setelah bertemu dengan seorang CEO sebuah media cetak harian, Bapak M. Nuryadi, MSi. -biasa kupanggil Mas Nur- seorang Pemred one hundred millions, aku mau langsung ke Senopati Media, penerbit 69++. Hari ini ada beberapa surat elektronik harus aku balas supaya tanggal 2 januari nanti, ketika para rekanan masuk kerja, mereka langsung punya kerjaan: Baca Emailku!

Tadi pagi aku berangkat dari rumah lebih awal dari biasa, yaitu jam 10.00 Wib, dan ternyata seluruh keluarga sudah keluar rumah lebih awal sekitar satu jam sebelumnya dalam rangka ke hypermall terdekat untuk stok makanan besaok. Maklum, pasar tiban dan pedagang makanan dan sayuran terdekat, besok tanggal 1 Januari 2008 menyatakan libur. satu langkah salah para pedagang, ikut libur saat para pekerja libur. Padahal itu justru saat tepat untuk merogoh kocek para pekerja yang pada libur ini, yang biasanya makan siang di kantor, pada hari libur, pastinya akan cari makanan dan berbelanja di lokasi terdekat dari rumah, apalagi saya perkirakan, tanggal 1 Januari besok, bertepatan dengan ULTAH saya ke 27, masyarakat juga capek dan malas kemana-mana karena malamnya habis begadang merayakan pergantian tahun.

Oh ya, aku menulisi blog ini dari kantor senopati media (biasanya dari PC di rumah), sehingga aksesku untuk tahu keberadaan keluarga juga dari email atau telpon, yang ternyata mereka masih di kawasan wisata Ancol usai tadi berbelanja persiapan merayakan tahun baru, ultahku dan stok isi kulkas dan dapur awal tahun2008 besok.


17 Des 2007

Kejari Jayapura Sita Buku "Tenggelamnya Rumpun Melanesia"


Buku "Tenggelamnya Rumpun Melanesia, Pertarungan Politik di Papua Barat" disita oleh Kejaksaan Negeri Jayapura, Jumat (14/12) dari toko buku Gramedia, Jayapura.


[JAYAPURA] Kejaksaan Negeri (Kejari) Jayapura, Papua, menyita 60 buku dengan judul Tenggelamnya Rumpun Melanesia, Pertarungan Politik di Papua Barat dari toko buku Gramedia, Jayapura.

Kepala Seksi Intel Kejaksaan Negeri Jayapura, Rudi Hartono SH kepada wartawan, di Jayapura, Jumat (14/12) mengatakan, buku yang ditulis Sendius Wonda SH, MSi disita berdasarkan surat edaran Kejaksaan Agung No 123/A/ EA/11/ 2007 tentang Larangan Barang Cetakan yang Dapat Menyesatkan dan Dapat Mengganggu Ketertiban Umum.

Buku setebal 244 halaman diberi pengantar oleh Socratez Sofyan Yoman ini diterbitkan oleh Penerbit Deiyai yang beralamatkan di Jayapura.

"Barang cetakan yang dianggap menyesatkan dan mengganggu ketenteraman serta memecah belah sesama masyarakat di Papua. Oleh sebab itu, kami melakukan penyitaan," ujarnya.

Penyitaan bukan hanya dilakukan di Jayapura saja, tetapi di seluruh Indonesia. Untuk tahap pertama, Kejaksaan Negeri baru menyita di toko buku Gramedia, dan mulai hari Senin depan pihaknya akan melakukan penyitaan di seluruh wilayah kerja Kejari Jayapura, seperti di Kabupaten dan Kota Jayapura, Keerom, dan Sarmi," ungkapnya.

Ketakutan Jakarta

Pangamat Papua yang juga peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muridan S Widjojo kepada SP menilai, pelarangan ini melanggar kebebasan seseorang.

"Pada dasarnya pelarangan buku itu beredar, melanggar kebebasan berekspresi. Karena setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya, cara dia memandang di provinsinya maupun pada tingkat nasional. Itu hal yang perlu dilindungi dulu. Itu prinsip dasar kalau kita melihat Undang-Undang Dasar 1945," ujarnya.

Kalau melihat isinya, ini adalah cara berpikir khas aktivis Papua yang ditandai dengan satu hal bahwa ada semacam culture of terror. "Saya kira pemikiran ini harus dihargai, kalau memang tidak setuju kita bisa counter dengan membikin diskusi atau bikinlah buku baru yang mau mengkritik buku ini," ujarnya.

Dikatakan, seharusnya dengan adanya buku ini diberikan apresiasi sehingga di masyarakat Papua tradisi menulis dapat berkembang pesat. "Ini yang harus dihargai pemerintah pusat," katanya.

Di mana orang gunung yang selama ini tidak tahu tulis menulis, sekarang justru mereka rajin menulis. Ini adalah satu pertumbuhan intelektual yang menggembirakan," ujarnya.

Pelarangan ini melanggar UUD 1945. "Ini adalah ketakutan berlebihan pemerintah di Jakarta sekaligus ototarian Orde Baru yang masih tersisa di Kejaksaan," ujarnya. [ROB/M-11]

SP/robert isidorus
Last modified: 15/12/07

4 Okt 2007

KENTUT






Orang yang TIDAK JUJUR
Orang yang kalau kentut selalu menyalahkan orang lain

Orang GOBLOG
Orang yang nahan kentut berjam-jam sampai sakit perut

Orang yang BERWAWASAN LUAS
Orang yang tahu pasti kapan harus kentut, kapan harus tidak

Orang SENGSARA
Orang yang ingin sekali kentut tetapi tetap tidak bisa

Orang MISTERIUS
Orang yang jika kentut, orang lain tidak pernah ada yang tahu

Orang GUGUPAN
Orang yang sekonyong-konyong nyetop kentutnya sebe-
lum habis...(kentutus interuptus.. ...)

Orang PERCAYA DIRI
Orang yang sangat yakin bahwa bau kentutnya harum...
(kentuta aromatica... )

Orang SADIS
Orang yang kalau kentut lalu dikibas-kibaskan ke temannya

Orang PEMALU
Orang yang kalau kentut lalu malu sendiri sudah terlanjur kentut

Orang STRATEGIS
Orang yang kalau kentut selalu berhasil mengalihkan perhatian
orang-orang di sekitarnya, sehingga tidak memikirkan kentut lagi

Orang BODOH
Orang yang kalau habis kentut selalu menarik napas dalam-dalam
buat nukar kentutnya yang keluar...

Orang HEMAT
Orang yang kentutnya diatur keluar sedikit-sedikit, atau kentut-
nya diputus-putus menjadi paling sedikit 7 potong

Orang SOMBONG
Orang yang senang mencium bau kentutnya sendiri

Orang RAMAH
Orang yang senang mencium bau kentut orang lain

Orang TIDAK RAMAH
Orang yang kalau habis kentut matanya melotot lalu marah-marah

Orang KEKANAK-KANAKAN
Orang yang senang kentut di dalam air sehingga berbunyi
'blekuthuk-blekuthu k'

Orang ATLETIS
Orang yang kentut selalu sambil mengejan

Orang JUJUR
Orang yang selalu mengakui kalau habis kentut...

Orang PINTAR
Orang yang mampu mengidentifikasi bau kentut orang lain

Orang SIAL
Orang yang selalu dikentuti orang lain

Orang KURANG KONTROL DIRI
Orang yang kalau kentut selalu terikut 'ampas'nya

Orang TIDAK IKHLAS
Orang yang mencium kentutnya sendiri, tetapi orang lain
yang 'muring-muring'

Orang SOK AMAL
Orang yang kalau kentut dikeluarkan sekuat tenaga hingga
terikut ampasnya

Orang TIDAK NGGENAH
Orang yang kalau kentut, tempat keluarnya disumpal
peluit atau terompet agar berbunyi nyaring...

Orang TIDAK UMUM
Orang yang kalau kentut selalu dilagukan... .

Orang PENSIUNAN PRAJURIT
Orang yang kalau kentut, diputus-putus sehingga seperti bunyi
senapan

Orang TIDAK SABARAN
Orang yang mengejan untuk kentut, tidak keluar, malah
yang keluar wasir-nya... . hahahahaaaa

Orang SOLO/YOGYA (mohon maaf bagi yang bertanah air
Yogya - Solo)
Orang yang kalau kentut dibuat pelan dan puanjaaaang sekali
sehingga dapat dilagukan seperti tembang Campursari.. .. hussy!

Orang KURANG KERJAAN
Orang yang senang mendiskusikan tentang kentut (seperti yang
baca... hahaha.... sudrun...!)

Orang GENDHENG
Orang yang menginvestigasi ciri-ciri orang lain dikaitkan dengan
performance kentutnya... . (seperti YANG NULIS... hahahahahaaaaa. ...)


Ki Denggleng Pagelaran
http://wfbc. netfirms. com/

TANTANGAN DARI VALENS DOY

PUASA sebentar lagi akan berakhir. Di bulan suci seperti ini saya teringat sebuah tantangan besar yang diberikan guru jurnalistik saya. Namanya Valens Doy. Dia mantan wartawan senior Harian Kompas. Kejadiannya sekitar akhir tahun 2002.
WAKTU itu mendekati Pemilu 2004, mantan KSAD sekaligus Menpen Jenderal R Hartono mendirikan sebuah partai bersama tokoh Golkar Ary Mardjono. Namanya Partai Karya Peduli Bangsa, berdiri 9 September 2002.
Om Valens –biasa saya memanggil dia—yang ketika itu ditunjuk menjadi konsultan Harian Surya meminta saya agar mengerahkan semua kekuatan (wartawan) di Biro Jakarta agar melakukan wawancara khusus dengan R Hartono. “Saya sediakan dua halaman dan wawancara dibuat tanya jawab. Besok sudah harus ada,” pesan Om Valens.
Hari itu juga saya panggil Erik, wartawan Persda. Dia saya perintahkan segera menghubungi R Hartono. Lagi-lagi ia kesulitan mencari kontak personnya. Selanjutnya ia saya suruh mencari alamat rumah R Hartono melalui jaringan wartawan lain. Akhirnya alamat rumah di kawasan Kebayoran Baru ditemukan juga.
Malam itu juga Erik bergegas mendatangi rumah R Hartono. Sesampainya di sana ia bertemu dengan sejumlah petugas TNI yang selama ini menjadi ajudan R Hartono. “Bapak masih ke Bandung. Trus saya harus kemana lagi?” tanya Erik kepada saya melalui telepon. “Tongkrongi sampai pagi. Tunggu beliau pulang dari Bandung,” kata saya.
Sekitar pukul 08.00 pagi, Erik telepon kembali. Ia mengabarkan bahwa R Hartono belum pulang. “Apakah saya harus cabut?” “Okey silakan… “ Selanjutnya saya kirim satu reporter lagi sebagai pengganti Erik. Hasilnya sama saja. Sementara Om Valens sudah krang… kring… ke Biro Surya di Jakarta.
Kepada Om Valens saya katakan bahwa kita sudah tempatkan dua reporter sejak semalam di rumah R Hartono. Tapi beliau masih ke Bandung dan sampai saat ini belum ketemu. “Mas Bec…Boleh tanya enggak? Jarak dari Jakarta ke Bandung jauh tidak? Berapa jam? Lalu naik apa kesana? Masak enggak bisa kirim orang.” Saya katakan, perintah siapppp... dilaksanakan komandan!
Persoalannya dimana posisi R Hartono di Bandung? Itu yang menjadi PR kedua. Semua ajudannya bungkam. Alamatnya juga tak terendus. Saya lagi-lagi telepon ke Om Valens melaporkan perkembangannya. Om Valens tetap tidak mau mendengarkan alasan saya. “Kalian wartawan… pakai akal dong… Masak mencari satu orang saja enggak bisa? Om dulu ketika muda juga begitu. Pokoknya, jika dua hari lagi Om buka koran lalu enggak ada foto dan hasil wawancara dengan R Hartono di Harian Surya, you... saya copot jadi Kepala Biro Surya. Enggak usah jadi bos di Jakarta. Pulang saja ke Surabaya,” ancamnya.
Tantangan itu sudah di depan mata. Persoalannya bukan karena takut dicopot atau tidak. Ini adalah tanggungjawab saya sebagai pimpinan sekaligus wartawan. Seberat apapun tugas, saya tidak boleh setengah-setengah. Semuanya harus tercapai, kalau kita ingin profesional di bidang jurnalistik.
Sejak itu, saya harus memutar otak lagi. Ehm.... Bagaimana ya caranya bisa melakukan wawancara khusus dengan R Hartono? Pikirku, dalam hati. Sejumlah wartawan yang biasa ngepos di Istana Presiden, saya kontak satu persatu. Siapa tahu mereka masih menyimpan kontak personnya. Alhamdulillah, salah seorang wartawan yang biasa dekat dengan Mbak Tutut memberikan kontak personnya. Dia wanti-wanti kepada saya agar tidak menyebutkan namanya kalau R Hartono tanya dari siapa saya mendapatkan nomor handphonenya.
Saya coba mengontak dia. Lagi-lagi HP tidak diangkat. Saya merenung sejenak… mencari ide atau siasat bagaimana caranya sang jenderal mau mengangkat telepon saya. Sambil merokok di ruangan kerja seorang diri… muncul ide baru. "R Hartono harus dikirimi SMS."
Persoalannya kalau isi SMS-nya hanya meminta wawancara, belum tentu ia bersedia meladeninya. Maklum, selain berbintang empat dia juga Ketua Umum PKPB. Untuk itu butuh siasat atau trik yang benar-benar kena. Saya terus mencari akal… bagaimana caranya misi yang akan kami jalankan bisa tembus.
Ehmmm… Tuhan rupanya memberikan ide brilian lengkap dengan kata-kata yang harus saya kirim. Kira-kira begini isi SMS-nya. “Assalamualaikum Wr Wb. Saya selalu berdoa agar Pak Hartono dan keluarga dilindungi Tuhan, diberi kesehatan, diberi umur panjang. Saya bersyukur di era reformasi ini bapak selamat dari fitnah. Banyak tokoh Orde Baru yang kena fitnah.” Di bawah SMS itu saya tulis identitas saya. Tanpa rasa takut, saya tendang SMS itu ke HP sang jenderal.
Setengah jam kemudian HP saya berdering. Rupanya sang jenderal merespon balik. Ia tanya identitas saya. “Anda dapat nonor saya dari mana?” tanyanya. Saya katakan bahwa saya adalah orang yang pernah mengenal Anda ketika Anda menduduki jabatan sebagai Pangdam V Brawijaya, Jawa Timur. Memang dulu ketika ia jadi Pangdam saya sering bertemu dia dalam berbagai kesempatan untuk wawancara. Saya akui, saya kenal nama dan wajah dia, tapi dia belum tentu kenal saya. He..he..he….
“Anda dapat nomer telepon saya darimana?” tanyanya berulangkali. “Lho… saya kan cukup lama bertugas menjadi wartawan di Istana Presiden. Dulu ketika bapak jadi Menpen, saya sering melakukan wawancara dengan bapak. Mungkin bapak lupa dengan wajah saya,” kata saya berbohong.
“Apa maksud kamu kirim SMS?” “Begini Pak… Bapak mestinya bersyukur lho dijauhkan dari fitnah. Selain itu saya mau melakukan wawancara khusus soal partai yang bapak dirikan. Apa ada waktu?” “Okey kalau begitu selesai shalat Jumat kamu datang ke rumah. Tahu alamatnya kan? Saya tunggu ya.... Kantor kamu dimana? Oh… dekat dengan rumah saya.”
Esoknya, saya ajak Dahlan, wartawan Harian Surya di Biro Jakarta. Karena yang didatangi orang besar, kami terpaksa jaga gengsi. Kami berdua rencananya pinjam mobil inventaris kantor. Usai shalat Jumat di Masjid di dekat Harian Kompas, saya kembali menuju ke kantor. Di tengah perjalanan, R Hartono tiba-tiba telepon. “Posisi kamu dimana? Janjian sama jenderal seenaknya. Kemarin kamu kan bilang selesai Jumatan. Kok sekarang belum datang juga?” teriaknya.
“Siap jenderal… saya masih di kantor dan akan meluncur.” “Berapa lama?” “Siap jenderal kira-kira setengah jam.” Selanutnya saya dan Dahlan meluncur ke rumah R Hartono di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Sesampainya di jalan yang dituju, saya berhenti tepat di depan sebuah rumah nomor 6. “Lan... silakan turun dan tanya apakah benar itu rumah R Hartono?” Ketika Dahlan --kini menjadi Wapemred Harian Tribun Timur-- turun dari mobil, hati saya sedikit bertanya, “Masak seorang jenderal kok rumahnya biasa-biasa saja? Ah kagak mungkin… Pasti keliru dah…”
Setelah bertemu dengan penghuni rumah Dahlan melapor ke saya bahwa rumah R Hartono ada di seberang jalan. “Okey Kak Lan… sampean jalan kaki saja, saya muter dulu kesana…” Saya lihat dari kaca spion, Dahlan berjalan melewati jalur hijau dan nyeberang menuju ke rumah Hartono.
Di samping pintu pagar rumahnya ada pos penjagaan. Sejumlah anggota TNI terlihat berjaga-jaga.. Ketika saya turun dari mobil, saya lihat Dahlan sedang adu mulut dengan beberapa anggota TNI. Tentara itu sempat membentak-bentak Dahlan. Saya dengarkan inti persoalannya, lalu saya potong. “Maaf… kami sedang puasa. Kami datang kesini atas perintah Jenderal R Hartono…” Para ajudan R Hartono mau memahami ucapan saya, tapi ada jua tentara wanita masih ngomel, mengerutu. Ada kemungkinan, Dahlan slonong boy… alias kurang basa-basi sedikit ketika berhadapan dengan anggota militer.
Baru semenit di depan R Hartono, telepon di penjagaan berbunyi. Rupanya sang tuan rumah memerintahkan kami untuk masuk ke dalam rumah. Selanjutnya kami disuruh masuk ke ruang tamu. Ruang tamunya cukup luas dengan berbagai macam lukisan yang terpajang di dinding ruangan. “Assalamualikum Pak. Apa kabar?” sapaku kepada R Hartono ketika ia masuk ke ruangan tamu lengkap mengenakan peci warna putih dan baju koko (muslim).
“Sebelum Anda wawancara, saya mau tanya. Siapa yang memberi nomer saya kepada kalian ?” Saya jawab seperti semula. “Di Istana Presiden dulu, saya dekat dengan Mbak Tutut Pak… Kami sering melakukan wawancara.” R Hartono terdiam. Ia lalu meminta saya untuk mengajukan pertanyaan. Dua tape recorder –satu sebagai cadangan seandainya kaset rekaman tidak sempurna—saya letakkan di atas meja. Wawancara berlangsung cukup lama, sekitar 1,5 jam.
Setelah itu kami pulang kembali ke kantor. Hasil wawancara itu saya transkrip dengan Dahlan. Side A saya yang mengerjakan, side B Dahlan yang mentranskrip. Selesai menuliskan hasil wawancara, naskah saya tending via FTP ke Harian Surya. Besok, wawancara kami dimuat di halaman dalam satu halaman bersambung. Esoknya lagi, ada satu tulisan lagi di halaman yang sama… Erik, wartawan kami yang membaca tulisan itu terheran… heran… “Kok bisa ya?” Jawab saya pendek. « wartawan kerja bukan dengan dengkul, tapi dengan otak...” Kata-kata itu saya kutip dari H Agil Ali, Pemimpin Umum Harian Memorandum. Saya dulu penah bekerja disana bersama Basuki Subianto, mantan Redpel Harian Surya dan Pemred Banjarmasin Post. Sekarang Basuki menjadi pengusaha dan sudah menerbitkan sejumlah buku diantaranya berjudul : Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin : Pengalaman Berbisnis dengan Sandaran Al-Quran. Bagaimana dengan Om Valens? Dia merasa puas dengan hasil kerja kita, hasil kerja murid-muridnya yang berguru sejak tahun 1989 di Surabaya.... Kini om Valens telah tiada. Ia pergi meninggalkan ilmu dan nama besar di mata murid-muridnya. Terima kasih Om...
(achmad subechi)

3 Okt 2007

Wartawan ... Oh Wartawan


Ditulis Oleh Administrator

Friday, 20 July 2007

Oleh : Rishag Andiko

KabarIndonesia –

Semakin hari semakin banyak saja kisah duka yang dialami oleh para perajin berita (baca: wartawan). Mulai dari kasuspemukulan, penangkapan dan pada musim perang ini bertambah satu lagi yakni: penembakan. Kita dengar juga baru-baru ini berbagai kejadian di Indonesia tentang berbagai kekerasan terhadap kuli disket ini.

Masih segar pada ingatan saya kasus enipuan oleh seorang yang mengaku-aku wartawan. Dan tidak tanggung-tanggung media yang diakuinya adalah majalah berita mingguan TEMPO. Koran Tempo kamis 9 Maret 2006 pada halaman A8 menulis, "Wartawan Tempo Gadungan Disidang". Kejadian itu berlangsung di kota Kediri Jawa Timur dansang "oknum" berhasil menipu 12 orang calon Pegawai Negeri Sipil(PNS).

Indonesia adalah sebuah negara yang sangat-sangat unik. Entah berapa banyak Undang-undang dan Peraturan yang dikeluarkan. Entah berapa puluh Komisi atau Komite yang telah lahir. Dan entah berapa lusin Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) bermunculan. Apalagi setelah tumbangnya rezim orde baru. Namun karakter - ya sudah menjadi karakter - untuk hidup sebagai "pesulap" tetap subur. Semua orang maunya serba cepat dan instan. Sim salabim - Abra kadabra!

Peraturan dan undang-undang biarlah menjadi peraturan dan undang di dalam buku saja. Padahal untuk mencetak buku peraturan dan buku undang-undang tidak sedikit dana yang dikeluarkan dari APBN. Belum lagi biaya rapat sebelum-sebelumnya. Apa sih yang tidak selesai dengan uang? Siapa sih yang tidak perlu uang? "Semua Bisa Diatur", kata seorang kawakan yang juga diplomat dan seorang negarawan, mantan Wakil Presiden (Alm.) Adam Malik. Semua orang maunya serba mudah dan gampang.

Coba bayangkan! Apa jadinya kalau seorang calon PNS melakukan penyogokan untuk bisa menjadi PNS sungguhan? Yang pasti, setelah menjadi PNS yang mereka pikirkan bukanlah pengabdian dan pelayanan. Namun "pengembalian modal" yang telah dihabiskan untuk memuluskan dan meluluskan dirinya menjadi PNS. Dan gilanya lagi, calo mereka adalah wartawan. Wartawannya gadungan pula. Lengkaplah sudah kebobrokan mereka.

Kalau tidak salah, sekitar bulan Maret-April 2002, Media Indonesia pernah memuat hasil survey yang menyebutkan sekitar 45% calo yang berkeliaran di Polda Metrojaya adalah "wartawan". Kontan saja Kepala Humas (waktu itu) AKBP. Anton Bahrul Alam didaulat untuk memberikan penjelasan oleh teman-teman wartawan yang protes. Dengan adanya UU no. 40 tahun 2000 memicu munculnya bermacam-macam media cetak. Ada yang berupa tabloid, koran mingguan, majalah, buletin dan sebagainya. Ada yang bertahan hidup dan terbit terus karena mendapat tempat di hati pembacanya. Ada pula yang senen kemis alias koran tempo yang tempo-tempo terbit tempo-tempo nggak Tidak jelas alias abal-abal. Dan dunia wartawan adalah dunia yang menggairahkan.

Seorang dengan tanda pengenal "PERS" saja bagaikan memiliki "kunci inggris", kemana saja masuk - aksesnya menjadi luas dan lebar. Lancar dan bebas hambatan. Yang diperlukan hanya sedikit mental ekstra berani dan muka tembok. Wartawan sejati sudah pasti gerah dengan tingkah mereka. Oleh karena itu mereka menjuluki dengan berbagai istilah seperti; wartawan gadungan, wartawan tanpa surat kabar, wartawan bodreks, wartawan abal-abal dan sebagainya.

Sebuah kantor dinas Pemda DKI Jaya memasang poster ukuran A3 yang isinya melarang wartawan masuk. Ini menggelikan sekali. Barangkali pejabat di sini sudah kewalahan dan capek oleh ulah wartawan, yang itu tadi - bodreks. Tapi masa bodo! Kehidupan harus terus berjalan. The show must go on. Dapur harus tetap ngebul. Tidak heran kalau zaman dulu - sebelum kebebasan pers - banyak juga orang yang berani mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk bisa menjadi wartawan. Bahkan untuk sekedar punya Kartu PERS, yang sakti itu. Kini setelah kebebasan pers, hanya dengan puluhan ribu rupiah saja bisa memiliki kartu identitas wartawan. Lebih gila lagi bisa dibuat sendiri. Disain dengan komputer lalu tambahkan foto hasil jepretan handphone. Jangan lupa mencantumkan 4 huruf ajaib PERS. Setelah itu dicetak kemudian dilaminasi terus diberi tali. Dengan menggantungkannya di leher maka urusan membuat KTP, SIM, Paspor biasanya menjadi lancar. Berurusan dengan aparat atau birokrat bisa jadi cepat. Bahkan ada yang menggantungkan di kaca spion mobil di bagian dalam. "Sekadar menghindari tilang", demikian alasan mereka. Banyak hal luar biasa bisa menjadi biasa. Bisa melihat Presiden dari dekat. Mau dekat dengan menteri atau anggota DPR? Ikut wawancara dan menikmati

kecantikan artis jelita. Berteman dengan pengacara kondang. Atau sekadar mau nongol di TV tinggal berdiri dibelakang orang yang sedang diwawancarai sambil ikut menempelkan alat perekam. Apa lagi kalau ada "jumpa pers", bisa makan enak, kenyang dan dapat uang pula.

Beberapa media papan atas negeri ini merasa perlu untuk mengumumkan: "Wartawan kami dilengkapi dengan tanda pengenal dan tidak diperkenankan meminta, menerima apapun dari nara sumber". Jelas! Kalau ketahuan? Bisa dipecat. Kalau tidak ketahuan? Ya, Makin Asyik Aja! Menghadiri jumpa pers, konsekwensinya berita itu harus dimuat atau ditayangkan. Secara moral sang wartawan, perajin berita, telah tergadai oleh, sebutlah, uang transport, uang rokok, uang lelah, uang pulsa dan sebagainya. Padahal penayangan sebuah berita adalah hak redaktur atau dewan redaksi. Layak atau tidak sebuah berita bukanlah kewenangan kuli keyboard ini.

Cukup menarik untuk disimak, sebuah kasus pada koran mingguan terbitan Bekasi yang memuat di halaman depannya "Uang Transpor Sudah Diterima tapi Berita Tidak Ditayangkan" dengan sasaran tembaknya kru sebuah stasiun televisi papan atas negeri ini. Kita tentu bertanya, apa jadinya bila wartawan dapat "dibeli", dimana perannya sebagai social controller? Apa manfaat Kode Etik Jurnalistik?

Namun senikmat-nikmatnya jadi wartawan tidak sepenuhnya berjalan mulus-mulus saja. Kasus majalah berita mingguan TEMPO dengan Tomi Winata, misalnya. Juga kasus koran Indo Pos dengan Hercules. Terus, wartawan koran Bernas, Udin yang hingga kini meninggalkan luka dan batu nisan. Pengalaman Bang Regar dan Bung Ferry dari RCTI di markas GAM. Wartawan Metro TV, Meutia Hafid, yang disandera di Timur Tengah.

Terakhir kasus kekerasan yang diterima beberapa wartawan di Papua. Akhirnya kembali lagi, mungkin karena kurang tersedianya lapangan kerja yang memadai menjadikan para pengangguran terdidik, intellectual unemployed, dengan gelar "sarjana" semakin kreatif.

Salah satunya adalah dengan menjadi wartawan. Apakah itu wartawan gadungan, wartawan spesialis jumpa pers, wartawan tanpa surat kabar, wartawan bodreks atau wartawan yang korannya Tempo Tempo Terbit -Tempo Tempo nggak. Entahlah?!

Blog: http://www.kuis-bola.blogspot.com/

Email: redaksi@kabarindonesia.com

Big News Today..!!! Let's see here www.kabarindonesia.com

28 Sep 2007

LEBARAN DI HONGKONG


khutbah idul fitri


Sholat Ied dipimpin ustadz dari KJRI, disinipun berlaku, orang muslim bermaaf2an bukan menjelang ramadhan supaya hati bersih, tapi hanya dilakukan usai sholat ied, seperti di kampung halaman...enthonesia.

RAMADHAN DI HONGKONG

Kamis, 27 September 2007

TKI
TKW di Hongkong Rindu Ramadhan di Kampung

RENY SRI AYU TASLIM

Ramadhan kali ini adalah tahun keempat Sri Widiati (43) melaksanakan ibadah puasa di Hongkong. Selama empat tahun, belum sekali pun perempuan asal Malang, Jawa Timur, itu pulang kampung.

Bukan karena betah atau tak ingin pulang. Juga bukan karena tak ada cuti atau tidak mendapat izin. Akan tetapi, Sri memang sedang bekerja keras untuk membiayai kuliah dua anaknya.

"Kalau ditanya rindu, saya sangat rindu kampung halaman. Apalagi saat Ramadhan seperti ini. Teringat suasana Ramadhan di Malang. Tarawih di masjid, bertadarus, atau mendengar anak-anak muda keliling kampung membangunkan warga untuk sahur. Saya juga rindu dua anak saya," katanya saat ditemui seusai shalat tarawih di Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Hongkong, pertengahan September. Saat itu Sri shalat tarawih berjamaah dengan staf konsulat dan tenaga kerja Indonesia (TKI) lain di Hongkong.

Ia bercerita, setiap dua tahun sebenarnya ia juga mendapat hak cuti 12 hari. Kalau hak itu diambil, Sri bisa pulang kampung dengan biaya pergi pulang ditanggung majikan. Jika dua tahun cuti tidak diambil dan majikan memperpanjang kontrak, cuti 12 hari itu diganti uang sekitar 100 dollar Hongkong per hari. Dengan kurs Rp 1.125 per dollar Hongkong, uang pengganti yang didapat Sri Rp 1.350.000 dan masih ditambah dengan penggantian uang tiket pergi pulang Hongkong-Indonesia.

Tahun-tahun kemarin dan tahun ini anak-anaknya yang kuliah di Universitas Negeri Malang dan Universitas Islam Negeri Malang sedang butuh banyak uang kuliah. Sri terpaksa tidak mengambil cuti. "Lumayan, uangnya buat nambah-nambah biaya kuliah. Lagian saya tidak punya suami lagi dan anak- anak pun mengerti," kata Sri.

Keinginan Sri untuk menguliahkan kedua anaknya membuat ia tetap berusaha tegar di negeri orang dan memupus kerinduan melaksanakan Ramadhan di tanah kelahirannya.

Kerinduan sama juga dikatakan Amil Azzahra (27), TKI dari Probolinggo, yang sudah tujuh tahun menetap di Hongkong. Karena kebutuhan keluarga di kampung yang mendesak, Amil terpaksa memilih tidak pulang tiga tahun terakhir.

"Paling sedih lagi saat sahur. Saya melakukannya sendiri di kamar," katanya.

Kerinduan Sri dan Amil adalah kerinduan yang juga dialami Sri Wahyuni (24) dan Imas (35). Tanggung jawab akan kelangsungan hidup keluarga, anak, adik-adik, atau orangtua membuat mereka harus memupus dalam-dalam kerinduan akan suasana Ramadhan di kampung.

Sri Widiati, Sri Wahyuni, Imas, atau Amil adalah sebagian dari 110.000 tenaga kerja wanita (TKW) yang saat ini bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Hongkong.

Menyewa gedung

Lalu bagaimana para TKW ini melalui hari-hari Ramadhan di Hongkong? Rupanya ada banyak cara untuk mendapatkan kekhusyukan Ramadhan kendati jauh dari Tanah Air.

Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan hari libur Sabtu atau Minggu setiap pekan untuk bertemu sesama TKW. Ada yang bertemu di Masjid Wan Chai, di Perkumpulan Dakwah Victoria (PDV) Training Center di kawasan Causeway Bay, atau di KJRI Hongkong. Tidak sedikit pula yang bertemu di taman-taman kota, seperti di Victoria Park, di kolong jembatan penyeberangan, atau koridor sekitar kawasan pertokoan.

Tempat-tempat berkumpul itu biasanya berdasarkan lembaga-lembaga atau kelompok keagamaan yang didirikan para TKW sendiri. Untuk bisa melaksanakan kegiatan, ada juga kelompok TKW yang menyewa tempat sebagai sekretariat.

Acara kumpul-kumpul biasanya diisi dengan belajar mengaji, bertadarus dan shalawat bersama, mendengar ceramah, diskusi, hingga tarawih berjamaah. Tidak sedikit di antaranya bahkan menjadi panitia buka puasa yang dilakukan di Masjid Wan Chai atau tempat lainnya.

Sesekali mereka mengundang artis atau ustadz kenamaan di Tanah Air. Pada 9 September PDV mengundang Sulis untuk shalawat bersama. Acara yang dihadiri sekitar 2.000 TKW itu berlangsung di salah satu gedung pertemuan tertutup.

"Setidaknya dengan bertemu dan berkumpul, kerinduan akan Ramadhan di Tanah Air sedikit terobati," ujar Imas, Ketua PDV.

Kelompok Shalakah yang berbasis di Masjid Wan Chai biasa menggelar acara buka puasa bersama pada hari-hari libur. Pada hari-hari libur di luar Ramadhan, pertemuan yang biasa dilakukan dari pagi hingga malam itu juga diisi dengan kegiatan keagamaan serta diselingi dengan belajar menjahit, bahasa Inggris, Mandarin, dan lainnya.

KJRI, yang secara rutin melaksanakan tarawih berjamaah setiap malam, membantu dengan mendatangkan penceramah dari Tanah Air. Untuk lebih mendapatkan suasana Ramadhan di Tanah Air, kebanyakan penceramah yang didatangkan berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, daerah asal sebagian besar TKW di Hongkong.

sixtynine plusplus magazine

free magazine-lifestyle and the city
best design & format (versi KONTAN)

27 Sep 2007

SILKY BEAUTY-SEBUAH SOLUSI


Waspadai ProduK Kosmetik Anda !!

Sekedar pemberitahuan Buat Cewek2 Di seluruh Indonesia Neh..Penting Baca Ini deh...

Liputan6.com,
Jakarta: Tampil cantik menjadi segala-galanya bagi kebanyakan kaum perempuan. Berbagai cara pun ditempuh dengan mengolesi wajah dan bagian tubuh dengan krim pemutih, bedak, dan gincu tebal. Yang memiliki kantong tebal bisa dengan cara suntik dan operasi.

Impian itu kini kian mudah seiring kemajuan teknologi yang menawarkan beribu Terungkapnya fakta itu membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tak henti-hentinya merazia produk-produk kosmetik berbahaya dari waktu ke waktu. BPOM melarang peredaran 27 merek kosmetik berbagai jenis [baca: Badan POM Melarang 27 Kosmetik Berbagai Merek]. Bahkan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 455 Tahun 1998, bahan-bahan itu dilarang untuk digunakan sebagai bahan kosmetik.

BPOM juga mengeluarkan public warning yang dilansir 7 September silam. Surat terbaru ini merupakan hasil kajian BPOM selama setahun. Ditemukan terdapat 27 merek kosmetik yang kebanyakan bermerek Cina yang terbukti mengandung di antaranya Merkuri, Hidrokinon, dan pewarna tekstil. Peringatan ini sudah tiap tahun dilakukan, tapi merek-merek kosmetik yang pernah dirazia itu tetap beredar di pasaran [baca: Kosmetik Tak Terdaftar di Badan POM Masih Beredar].

Pelanggaran terjadi dipicu harga kosmetik-kosmetik itu yang relatif terjangkau, oleh konsumen kelas bawah sekali pun. Satu set krim pemutih dijual sekitar Rp 5 ribu. Adapun produk kosmetik mahal jarang sekali ditemukan penggunaan merkuri, kecuali produk tersebut dipalsukan. Seorang pedagang kosmetik mengaku bisa menjual 20 lusin set krim pemutih wajah merek Cina dan Filipina per minggunya.

Sejumlah dugaan mencuat mempertanyakan asal kosmetik berbahaya tersebut. Pertama kosmetik yang rata-rata bermerek dan berhuruf Cina itu merupakan barang selundupan dari luar negeri. Mudah bagi penyelundup mengingat kosmetik adalah barang kecil yang bisa dimasukkan tas jinjing sekali pun.cara mempercantik diri. Mulai dari cara instan hingga perawatan di klinik-klinik perawatan tubuh. Bagi yang berkulit hitam atau sawo matang konon bisa disulap menjadi putih, bahkan dalam waktu singkat. Begitu pula bagi Anda yang berhidung pesek bisa dimancungkan dalam sekejap.

Contohnya beberapa produk industri rumahan yang berasal dari Bandung, Jawa Barat yang ditemukan berdasarkan penelusuran Tim Sigi. Kosmetik polosan (tanpa pita cukai) ini bahkan menjanjikan hal yang fantastis. Bisa memutihkan wajah dalam tempo empat hingga tujuh hari setelah pemakaian.

Tapi setiap pilihan ada risikonya. Maklum tak sedikit dari alat-alat kecantikan itu justru dibuat dari bahan kimia yang mengandung racun. Banyak kaum hawa akhirnya menjadi korban. Pada banyak kasus yang ditemui korban justru mendapatkan wajah rusak dan perlu tindakan medis serius.

Yanti seorang di antaranya yang memiliki pengalaman kurang menyenangkan akibat salah memilih kosmetik. Setelah menggunakan sebuah produk kosmetik, awalnya wajah Yanti merah dan kemudian terasa panas. "Belakangan kulit mengelupas," ujar dia.

Kerusakan wajah akibat produk kosmetik pernah terjadi lebih dari seperempat abad lampau. Waktu itu telah ditemukan penggunaan logam berat merkuri (Hg) atau air raksa pada pemutih wajah. Demikian pula Hidrokinon dengan dosis berlebihan, steroid yang membuat ketagihan atau pewarna tekstil yang semuanya racun bagi tubuh.

Khusus hidrokinon, masih diyakini menjadi bahan kimia paling efektif buat memuluskan wajah. Tapi penggunaannya harus atas pengawasan dokter yang kompeten. Ini mengingat dampak membahayakan yang muncul jika digunakan serampangan. "Kalau di atas dua persen harus di bawah pengawasan dokter," jelas dokter Spesialis Kulit dan Kecantikan Sutirto Basuki. Pada banyak kasus, kosmetik-kosmetik ilegal mengandung hidrokinon hingga lima persen.

Terungkapnya fakta itu membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tak henti-hentinya merazia produk-produk kosmetik berbahaya dari waktu ke waktu. BPOM melarang peredaran 27 merek kosmetik berbagai jenis [baca: Badan POM Melarang 27 Kosmetik Berbagai Merek]. Bahkan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 455 Tahun 1998, bahan-bahan itu dilarang untuk digunakan sebagai bahan kosmetik.

BPOM juga mengeluarkan public warning yang dilansir 7 September silam. Surat terbaru ini merupakan hasil kajian BPOM selama setahun. Ditemukan terdapat 27 merek kosmetik yang kebanyakan bermerek Cina yang terbukti mengandung di antaranya Merkuri, Hidrokinon, dan pewarna tekstil. Peringatan ini sudah tiap tahun dilakukan, tapi merek-merek kosmetik yang pernah dirazia itu tetap beredar di pasaran [baca: Kosmetik Tak Terdaftar di Badan POM Masih Beredar].

Pelanggaran terjadi dipicu harga kosmetik-kosmetik itu yang relatif terjangkau, oleh konsumen kelas bawah sekali pun. Satu set krim pemutih dijual sekitar Rp 5 ribu. Adapun produk kosmetik mahal jarang sekali ditemukan penggunaan merkuri, kecuali produk tersebut dipalsukan. Seorang pedagang kosmetik mengaku bisa menjual 20 lusin set krim pemutih wajah merek Cina dan Filipina per minggunya.

Sejumlah dugaan mencuat mempertanyakan asal kosmetik berbahaya tersebut. Pertama kosmetik yang rata-rata bermerek dan berhuruf Cina itu merupakan barang selundupan dari luar negeri. Mudah bagi penyelundup mengingat kosmetik adalah barang kecil yang bisa dimasukkan tas jinjing sekali pun.

Tertangkapnya kapal motor berbendera Singapura Pioner Admiral oleh Kepolisian Air dan Udara Kepolisian Daerah Banten pekan silam, buktinya. Seorang nakhoda bernama Lifianus Sarahutu dan delapan anak buah kapalnya ditangkap. Kapal itu kedapatan sedang menurunkan sejumlah barang ilegal, termasuk aneka kosmetik dari Negeri Singa.

Pada pekan yang sama polisi dan petugas Balai POM Bali juga menyita produk kosmetik palsu berbagai merek buatan Cina siap edar. Polisi menyita 32 ribu produk kosmetik yang terdiri dari 36 jenis mulai dari krim malam, krim pemutih wajah, lipstik, blash on, bedak aneka warna, hingga krim antijerawat.

Sementara dugaan kedua, kosmetik-kosmetik palsu itu sesungguhnya produk lokal yang dikemas seolah-olah buatan Cina, Thailand, atau Filipina. Survei oleh Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) menegaskan, kosmetik-kosmetik Cina sebenarnya produk sekitar Jakarta. "Produk-produk ilegal itu jarang menggunakan bahasa Indonesia," kata Kepala BPOM Husniah R. Thamrin.

Kosmetik palsu buatan Cina, Filipina, dan Thailand tanpa nomor registrasi masih ditemukan dalam jumlah besar, hampir semuanya berada di Ibu Kota. Fakta itu berdasarkan penelusuran Tim Sigi di sejumlah pusat perdagangan kosmetik di Jakarta selama Oktober hingga pertengahan November. YPKKI memperkirakan, dalam sehari nilai transaksi di sejumlah pasar kosmetik di Ibu Kota mencapai miliaran rupiah.

Harga rata-rata kosmetik tak resmi itu yakni Rp 20 ribu per lusin atau sekitar dua ribu rupiah per buah. Dengan harga semurah ini jelas hanya diproduksi oleh pabrik kosmetik gelap.

Di Jakarta setidaknya ada lima pasar tradisional yang memperdagangkan kosmetik-kosmetik palsu.Sebut saja Pasar Tebet, Pasar Manggarai, Pasar Kebayoran Lama, Blok M, Pasar Asemka atau Pasar Pagi Lama serta sejumlah mal.

Tim Sigi lalu mencoba meneliti tujuh produk kosmetik yang didapat dari sejumlah pasar di Jakarta di BPOM. Ketujuh produk itu adalah New Placenta Pearl Cream (buatan Guangzhou Cina), RDL Whitening Special Pearl Cream (buatan Filipina), dan Clariderm White Beuty Pearl Cream tanpa nama perusahaan. Adapun dua produk krim pemutih tanpa merek dan label yaitu Placenta Sunblock Cream (buatan PT Sparindo Mustika) dan Krim malam RDL Papaya Bleaching Cream, produksi perusahaan yang sama.

Untuk menguji ada tidaknya kandungan merkuri digunakan metode amalgam. Caranya yakni mencelup logam emas atau tembaga ke larutan krim pemutih yang diuji. Jika kawat tembaga itu berubah warna keperak-perakan berarti krim itu positif mengandung air raksa--logam berat yang dilarang keras untuk bahan kosmetik. Sebab salah satunya bisa menimbulkan iritasi kulit.

Sedangkan pengujian senyawa kimia hidrokinon dan tretinoin, dipilih metode kromatografi lapis tipis (KLT). Metode ini sama dengan pengujian pada bahan pewarna tekstil Rhodamin B atau pewarna berbahaya lainnya seperti Merah K3 yang banyak dijumpai pada lipstik.

Secara sederhana pengujian dengan metode KLT dilakukan dengan membandingkan panjang perambatan cahaya dan warna pendar masing-masing senyawa itu dengan zat aslinya. Bila warna pendar dan jarak perambatan atau panjang gelombangnya sama, maka dipastikan kosmetik itu mengandung zat berbahaya tretionoin atau hidrokinon.

Dari tujuh contoh kosmetik yang diujikan, tiga di antaranya positif mengandung logam berat merkuri. Kendati begitu tak satu pun dari merek-merek kosmetik yang diujikan ditemukan mengandung hidrokinon dan tretinoin. Adapun empat kosmetik lainnya aman dari bahan kimia berbahaya, dua di antaranya memenuhi standar administrasi peredaran. Antara lain menyebutkan nomor registrasi BPOM, menyebutkan kandungan kimianya, dan cara penggunaan dalam bahasa Indonesia.

Para produsen kosmetik masih banyak yang memakai hidrokinon karena diyakini mampu mengelupaskan bagian kulit bagian luar. Bahan kimia itu juga menghambat pembentukan melanin yang membuat kulit tampak hitam.

Merkuri lebih berbahaya lagi. Logam berat yang biasa dipakai di pertambangan ini dengan mudah bisa meresap ke darah dan mengendap di organ tubuh. Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan6.com, merkuri bisa menimbulkan kerusakan otak permanen dan gangguan janin.

Bagi aparat negara memberantas peredaran kosmetik beracun bukan perkara mudah. Jalur hukum terlalu ringan untuk membuat para produsen dan penjual kosmetik ilegal jera. Itu sebabnya setiap peringatan publik dan pelarangan oleh BPOM tidak ampuh.

YPKKI punya usulan lain. Penyidik semestinya jangan cuma memakai Undang-undang Kesehatan agar jerat hukum bisa lebih kuat. Semua upaya itu jelas bertujuan untuk menyadarkan publik tentang perlunya menggunakan kosmetik secara rasional. Sebab sudah menjadi takdir kulit orang Indonesia sebagian besar berwarna sawo matang. Warna ini sudah banyak mengandung pigmen melanin yang mampu menyerap sinar ultra violet yang bisa merusak kulit. Tanpa melanin itu pembuluh darah bisa melebar sehingga terjadi penuaan dini, kekebalan tubuh hilang dan menimbulkan kanker kulit. Syukurilah.(AIS/Tim Sigi)

BAKSO CAK AGUS


BCA yang ini bukan Bank, juga bukan Blue Campus Area...melainkan BAKSO CAK AGUS, terletak di kawasan Pondok Kelapa Jakarta Timur, Bakso Cak Agus siap menggoyang lidah para pandhemen bakso....harga terjangkau, bisa dipanggil saat hajatan (yang penting masih di wilayah Jabotabek dan Pulau Jawa). Tapi karena BCA yang ini benar-benar uenaak...anda harus mengantri kira-kira 1/2 jam untuk bisa menikmati Bakso Racikan Cak Agus. tapi tenang aja, karena selama anda menunggu, anda bisa baca-baca majalah, buku, koran...cuci mata juga bisa. Karena kebetulan pelanggannya juga banyak cewek-cewek cantik dari kalangan berkelas (jetset dan esmud), bahkan ada juga lho artis yang rela ngantri, padahal dia harus bayar mahal:diomelin sutradara-telat datang ke loksasi syuting. kalau nggak percaya, tanya saja Revalina S Temat

Waiting Sunset



ETALASE MAG


ini adalah cover ETALASE, diterbitkan dari Mezzanine Floor WTC Serpong!

Tje Fuk Ad

backpacker



www.naked-traveler.blogspot.com
www.perca.blogdrive.com

MAHAR PRASTOWO: Management 1

http://for-management.blogspot.com

Management 1

Stop Going to Meetings - 10 Questions to Ask Before Attending a Meeting - Get More Productive.

We get invited to attend so many "meetings" but do we need to attend them all? Use these 10 questions to assess if you should attend that next meeting invitation.

What is the agenda of the meeting? Don't attend a meeting without a clear agenda otherwise you are wasting time. Don't ever schedule a meeting unless you make it clear to your attendees what the purpose, timeframe and outcomes of the meeting will be.

Who is attending the meeting? Ask the question to ensure the meeting set at the right level and the correct people are involved.

Why do you need/want me involved? Make sure there is a good reason for you to attend the meeting.

What time does it start? Be strict with your own time and also those of the attendees. If you are scheduling the meeting always start on time regardless of if all attendees have arrived. Make it known you will start and finish on time.

What time does it finish? Advise all attendees that it will finish on time to allow them to attend their next meeting.

May I attend for my section only of the agenda? Where possible don't sit through unnecessary meeting discussions, only attend when the agenda item relates to your or your department.

What do you need me to prepare before the meeting? Get clear instructions of the preparation required. If the person scheduling the meeting advises you don't need to prepare anything- ask question 3 again, why do you want me involved?

When will minutes be available of the meeting? If possible take minutes at the meeting (handwritten is fine) and then walk to the photocopier, take enough copies for everyone and then give them out. Avoid extra work of typing minutes unless necessary.

Where is the meeting located? Ask for clear instructions including the floor number and the meeting room number to ensure you don't waste time looking for the meeting.

Can we teleconference instead of a physical meeting? Where possible handle matters over the phone to avoid wasting time in meetings.

By asking these 10 simple questions you will help educate those around you on the importance of managing & respecting time, save yourself time and you will be more productive in your day.

Neen is a Global Productivity Expert: by looking at how they spend their time and energy ? and where they focus their attention ? Neen helps people to rocket-charge their productivity and performance. An Aussie, a dynamic speaker, author and corporate trainer, Neen - strates how boosting your productivity can help you achieve amazing things. With her unique voice, sense of fun and uncommon common-sense, Neen delivers a powerful lesson in productivity.

Islib Catut Umar

Untuk mengukuhkan pendapat dan alasan madzhabnya, kalangan liberal menyandarkan epistemologi pemikirannya kepada Umar ibn Khatthab. Dalam beberapa kesempatan, sahabat dan sekaligus mertua Nabi Muhammad Saw itu dirujuk oleh aktivis (Islam) liberal sebagai tokoh liberal.

Klaim mereka itu didasarkan pada "keberanian" al-khalifah al-rasyidah kedua itu melakukan ijtihad terhadap beberapa ketentuan yang telah ada dalam nash (Al-Qur'an dan Al-Hadits). Misal, sikap Umar yang menghentikan memberikan zakat bagi muallafati qulubuhum, pembagian ghanimah yang 'tak sama' pada Nabi saw dan lainnya.

Tapi pendapat kaum liberal itu dibantah dan dinilai pakar fiqh Dr. Rusli Hasbi, MA keliru dan gegabah. Menurutnya, mereka (kalangan liberal) salah memahami pemikiran Umar. Selain itu mereka telah terjebak dijadikan Barat untuk merusak Islam.

Laki-laki asal Aceh ini telah menulis tesis master di Universitas Omdurman, Sudan, tentang ijtijad Umar dengan judul Nazhariyah al-Mashlahah 'inda 'Umar ibn al-Khatthab wa Atsaruha fi Fiqh al-Islamy al-Mu'ashir. Selanjutnya disertasinya doktoralnya membahas tentang Al-Ara' al-Ushuliyah fi Qa'idah Sadd al-Dzara-i'. Berikut petikan wawancaranya kepada eramuslim. Com:

Kalangan liberal mengklaim sahabat Umar ibn al-Khatthab adalah tokoh liberal. Benarkah?
Bicara tentang Umar Ibn al-Khattab itu kita harus tahu siapa Umar. Dia itu salah satu sahabat yang termasuk al-mubassyirun bi al-jannah (orang yang mendapat berita/jaminan masuk surga). Dia sudah mendapat sertifikat masuk surga. Itu pertama.

Kedua, Umar Ibn al-Khattab itu orang yang mertua Nabi. Karena itu ia jarang berpisah dengan Nabi. Jadi kebanyakan waktunya bersama Rasulullah. Bila ada masalah yang sensitif Umar selalu dipanggil. Kalau begitu ini artinya apa? Artinya Umar itu sangat mengusai perjalanan Rasulullah, perjalanan Islam ini. Visi dan misi yang dibawa Rasulullah ia sangat mengerti. Kalau begitu orang liberal mengatakan Umar menyimpang dari nash, itu tidak bisa diterima. Menyimpang itu kan jauh, tidak menyatu. Tapi sesungguhnya Umar itu tidak pernah menyimpang dari nash. Cuma dalam cara melihat berbeda. Jadi misi Rasulullah itu digerakkan dan dimantapkan Umar. Kalau orang yang pemahamannya terhadap nash cukup mendalam tidak akan mengatakan Umar menyimpang.

Jadi mengaitkan Umar sebagai rujukan pemikiran liberal itu tidak benar?
Tidak benar kalau Umar dikatakan menyimpang dari ketentuan Rasulullah apalagi ketentuan Allah.

Beberapa kasus dibuat referensi kaum liberal, misal, muallaf yang distop zakatnya. Bisa dijelaskan?
Masih dalam konteks yang saya sampaikan tadi, bahwa Umar tidak pernah menyimpang. Tapi, Umar adalah memahami nash itu dalam kapasitasnya sebagai orang yang selalu bergabung terus dengan Nabi. Ia memahami misi teks Al-Qur’an itu sesuai dengan misi Nabi. Inilah yang membedakan kita dengan Umar dalam memahami teks Al-Qur’an. Contoh, kasus muallaf yang tidak diberi zakat. Dalam surat al-Tawbah ayat 60 itu disebut wa muallafiti qulubuhum. Memang salah satu mustahik zakat itu muallaf. Bahasa Al-Qur’an memakai wa muallaf ati qulubuhum itu artinya membuat orang menjadi terpengaruh dengan zakat yang diberikan kepadanya. Artinya sikapnya berubah dari yang kasar terhadap Islam menjadi lembut. Jadi andaikan ada orang diberi zakat tapi hatinya masih keras terhadap Islam, itu artinya tak berbekas. Dari pemahaman kita sendiri boleh distop kan.

Apa pemahaman muallafati qulubuhum tidak hanya yang masuk Islam?
Bukan. Muallafati qulubuhum itu memang orang-orang yang baru masuk Islam. Mereka itu dulunya kasar dan benci terhadap Islam. Dengan diberi zakat ketika ia masuk Islam, ia harus merubah sikapnya, berubah dari benci menjadi cinta kepada Islam. Kalau begitu ada orang yang sudah masuk Islam dan bertahun-tahun telah diberi zakat, tapi tetap memusuhi Islam. Itu namanya bukan muallaf, karena itu tidak perlu diberi zakat dan harus kita rubah.

Sederhananya bagaimana. Bisa dibuatkan contoh?
Contohnya dalam pertanian. Anda menanam banyak pohon mangga di lahan lima hektar. Tapi, ada di antaranya yang sudah berumur lima tahun dan panjangnya masih satu meter, sementara yang lain sudah puluhan meter. Bagi yang mengerti pertanian, pohon mangga yang tetap satu meter sebaiknya dipotong atau dirubah, dikasih pohon yang lain atau dicabut. Atau boleh dibuang daripada menghabiskan pupuk dan air. Kalau tidak dibuang, paling tidak pohon mangga itu tidak diberi pupuk lagi. Begitu muallaf yang tidak berubah sikap. Rasulullah selama hidupnya tetap memberi zakat, tapi setelah beliau wafat tidak berubah, maka distop Umar. Distop bukan berarti menentang Rasulullah, tapi Umar memahami visi Rasululah.

Apa ini juga sama berlaku dalam kasus ghanimah?
Iya, sama. Umar itu luar biasa dalam memahami nash. Jadi tidak benar Umar menyimpang nash. Itu salah total. Tudingan itu melanggar dalam agama. Yang benar adalah Umar adalah orang yang paling mantap mempertahankan nash. Karena itu kalau bukau yang menyebutkan Umar menyimpang dari nash, itu saya tentang. Penulisnya harus bertaubat kepada Allah.

Jadi kaum liberal menyandarkan dan menjadikan Umar sebagai rujukan liberalisme berarti hanya mengaku-aku dan salah?
(Sembari menggelengkan kepala) Walah, bukan salah lagi. Jadi Umar itu berada dipihak yang benar. Apa semudah itu menyatut nama seorang Umar? Bukankah sahabat Umar adalah orang yang dijamin masuk surga. Bolehkah penyimpang itu masuk surga. Dengan kapasitas Umar yang luar biasa, maka ia dapat memahami nash dengan luar biasa. Dengan demikian visi nash dapat diselamatakan oleh Umar. Maka saya katakan kepada kelompok yang menyatakan Al-Qur’an perlu dirubah, lalu mereka juga mengatakan hadis-hadis Rasulullah boleh ditinggalkan karena tidak sesuai dengan perkembangan dunia ini, kalimat seperti itu salah. Kalau mau mengambil dari Umar itu begini. Mari kita pahami Islam ini seperti apa Umar memahami nash dan mentatati nash. Kalau mau tentang berapa jumlah fiqh Umar, silahkan baca tesis saya.

Ada berapa fiqh Umar?
Yang ada dalam tesis saya itu ada 10, tapi itu kemudian membengkak. Itu ada sekitar 70-an masalah. Judulnya Nadlariyah al-Mashlahah ‘inda Umar.

Kalau begitu apa kita sekarang boleh melakukan hal yang serupa dengan Umar?
Boleh. Mengikuti metodologi Umar ini dalam mengikuti memahami nash, bukan dalam meyimpang dari nash. Orang yang tidak bisa mengikuti nash berarti menghancurkan Islam, bukan penyelamat Islam. Mereka itu, para liberalis itu, termasuk GPK (Gerakan Pengacau Keagamaan, red).

Lalu apa tujuan mereka mencatut nama sahabat Umar?
Liberal itu kan kalimat yang datangnya dari Barat. Islam tidak mengenalinya. Kalau Barat, ini maaf, sudah rahasia umum, kelihatannya mereka (kaum liberal) menjadi kaki tangan mereka. Cuma mereka mungkin mereka tidak sadar. Berapa sich uang yang diterima mereka. Apa pertanggungjawaban mereka nanti di hadapan Allah nanti? Mereka jadi alat orang Barat untuk menghancurkan Islam itu sendiri. (dina/eramuslim)

26 Sep 2007

KENAPA HARUS MAJALAH GRATIS?

RAQUET
Majalah Olahraga-gratis-pertama di Indonesia

Dengan hanya mencakup 3 olahraga (Tennis, Squash dan Badminton),  jaringan distribusi tujuh negara, raket baru terbit hingga edisi tujuh dengan oplah 50.000 eksemplar setiap edisi.

berapa sebenarnya target audience Raquet? Asia - Pasifik dan beberapa negara eropa, amerika dan timur tengah, ada sekitar 1.500.000.000 pembaca menunggu!

dengan makin bertambahnya oplah, diharapkan tidak hanya penumpang pesawat rute luar negeri saja yang mendapatkan majalah ini.

perkembangan terakhir, akan segera direalisasikan cetak jarak jauh di perwakilan kantor perwakilan Hongkong untuk distribusi Hongkong, China dan India-agar tidak terlalu terbebani di ongkos pengiriman dan tentu saja majalah juga cepat tersaji bagi pembaca disana. dan, bukan tidak mungkin, oplah akan bertambah pesat disana dan tetap gratis!

ingat:
banyak media cetak terpampang di lapak atau toko buku sepenjang hari, sepanjang edisi...faktanya, bukan karena majalahnya punya oplah besar, tapi karena TIDAK LAKU!
tentu ini MERUGIKAN wartawan/penulis/narasumber, terlebih adalah PEMASANG IKLAN!

kini saatnya beralih ke FREE MAGAZINE!

ANNE AHIRA

Mahar,

Apa kabar? Lama tidak bersua! :-)

Setelah sakit (menjalani operasi) saya langsung disibukkan dengan begitu banyak kegiatan.
Salah satunya adalah menghadiri acara APEC di Bali yang saat itu dihadiri sekitar 21 negara
anggota APEC di dunia.

Saya diminta Pemerintah RI untuk menjadi salah satu pembicara APEC mewakili Indonesia.

Mahar bisa melihat fotonya di sini:
http://clicks.asianbrainfollowup.com/z/ct/?vtuqdQGv5QTaBEN5CiMqww

Mahar, APEC adalah acara kenegaraan 'pertama'  bagi saya. Dan terus terang, sangat berkesan! :-)

Kalau dulu, saya hanya bisa nonton di televisi melihat acara kenegaraan yang dihadiri berbagai
macam bangsa, dan di atas meja mereka ada papan  kecil bertuliskan negara-negara seperti  INDONESIA, JAPAN, USA, CANADA, PERU, dsb...

Waktu itu saya cuma berpikir.. "Wah keren ya, mereka yang ada di ruangan itu adalah orang-orang yang mewakili negaranya!"

Tidak pernah terpikirkan satu saat saya akan ada di ruangan yang sama seperti itu dan saya
mewakili INDONESIA. :-)

Sekarang saya ingin bercerita, satu pengalaman saya di APEC yang mungkin akan membuat
Mahar tertawa.. :-)

Sebelum saya menjadi delegasi di APEC, saya kadang melihat 'orang penting' (mungkin presiden, menteri,  atau siapapun itu) dikawal ketat sama mobil polisi  dan pakai sirine ke mana-mana.

Waktu kecil saya termasuk anak yang penasaran sekali ingin ada di mobil seperti itu.
Konyolnya saya suka sampai menangis dan menjerit-jerit saking inginnya naik mobil yang dikawal itu.

"Ikuuut....ikuuut...".. dan lalu saya pun menangis sambil tiduran di lantai karena nggak dibawa ikut.. :-)

Pejabat yang lewat dan melihat saya menjerit-jerit ingin ikut mungkin berfikir "Emangnya siapa elo
gitu lho..." :-)

Mamaku sering dibuat malu kalau aku sudah seperti ini. Menangis di umum, ingin ikut naik
mobil orang penting!

*duh.. kasihan deh mamaku sering menanggung malu  gara-gara aku....

Sambil membangunkan aku dari lantai, dia paling  mengatakan "Kamu baru bisa dikawal begitu kalau  kamu sudah jadi orang penting nanti".

Belasan tahun berlalu... dan kemarin saya menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk APEC.
Ceritanya malam itu, semua delegasi diundang makan malam oleh direktur Bank Indonesia.

Dan saya siap untuk pergi. Saat keluar hotel, saya awalnya tidak mengerti kenapa ada banyak polisi. Saya pikir "Ah.. tidak mungkin ada bom!" jadi saya langsung saja naik mobil yang telah disediakan.

Tidak lama kemudian...

Nee-Naw.... Nee-Naw.... Nee-Naw....

Ooh, ternyata.. para polisi itu mengkawal mobilku!! Dengan suara sirine yang cukup gagah & keren! :-)

Saya menundukkan kepala dan sedikit menangis...

Dalam hati saya berkata.. "Ya Allah, bukankah  waktu kecil saya ingin sekali naik mobil yang
dikawal seperti ini?".

Saya buruan saat itu juga telpon ke mama saya! "Ma... anak Mama kali ini beneran jadi orang penting...
Aku dikawal lho Ma... pakai sirine lagi!!"

Pak Sopir yang mendengar saya berbicara seperti itu tersenyum... Mungkin dalam pikirnya dia berkata
"Ini delegasi yang satu ini kok kampungan amat seh!" :-P

Banyak orang mungkin menyangka hal yang paling berkesan bagi saya saat di APEC itu adalah saat saya bertemu dengan orang-orang penting dari berbagai negara. Ini buat saya malah biasa Mahar.

Yang membuat saya sangat terkesan justru saat saya masuk mobil, dikawal polisi, dan pakai sirine! :-P

Aah... tidak apa-apa khan sekali-kali kampungan... :-)

21 Sep 2007

Discotheque

Discotheque yang dah lama gw say goodbye

a2 CLUB

Alila Hotel, Jl. Pecenogan 7-17, Kota

Cool minimalist club set on the southern edge of Kota in the basement of the Alila Hotel. Frequently hosts wicked fashion shows for both the boys and girls. Rarely packed but has solid switched-on middle-class local following. Only open Thursday through Saturday, great food at the Buzz Café in the hotel upstairs.

AVENUE

Pan-Pacific Hotel, Jl. Thamrin No. 6, Central Jakarta

In front of the Sari Pacific at the former location of “Pit-Stop”. If you love classic 80's disco, then this is the club for you, although they also feature modern house and RnB. Swank middle-aged up-market Chinese/Pre-Bumi Indonesian crowd, virtually zero sleaze factor.

CENTRO

Dharmawangsa Square , Jl. Dharmawangsa, Kemang

Jakarta 's newest club. It's the only major disco in South Jakarta , and the only club committed to featuring international DJ talent nearly every weekend. Its a bunker-like underground set-up with a great sound system and an up-market local and growing expat crew. The club is just starting to make big waves on the Jakarta scene.

EMBASSY

Taman Ria, East Bldg. 704, Senayan

Trendy progressive music nightclub, very popular with Jakarta 's top socialites and celebrities. Has three rooms: the intimate basement CO2 for pumped-up committed tribal clubbers; the 2-story Main Room with lower dance floor and upper-floor full of reserved alcoves for chattering luminaries; and the unfortunately rarely open Oxygen rooftop bar that has a surreal backdrop of Jakarta and a huge Ferris Wheel. Busiest from 11pm to 4am.

THE GATE

Wisma GKB1, Jl. Jend. Sudirman, Kav.28, Semanggi

Relatively new club/disco/restaurant with hard-to-find entrance behind the GKB-1 Building at the Semanggi overpass. It's a gothic-themed underground set-up with macabre murals, a great international restaurant, early evening mellow jazz-rock live music, and a dungeon-like progressive house disco that fires-up after midnight .

GRAND MANHATTAN

Hotel Borobudur, East Wing, Jl. Lapangan Banteng Selatan

The Mercedes-class “happy hard house” club located at the other end of the Borobudur Hotel. A large dark club with devoted following of up-market and more mature local clubbers, plus a few westerners and some eager to please ladies.

JALAN-JALAN

Menara Imperium Kav. 1, 36th Floor, Jl. Rasuna Said, Kuningan

Interesting skyscraper-top venue with a lower-floor house music disco and an upper-floor live music room featuring top 40's and local pop from various Indonesian outfits. Has a very devoted but sort of cliquey up-market Chinese Indonesian crowd.

JJ DUIT

Jl. Tanah Abang Timur, No.18, Central Jakarta

The Tanamur's sister-club next door – features 2 floors, an outdoor party garden, pool tables, pretty good food; plus plenty of smiling long-legged hussies. A popular hot spot for expats and foreign travelers.

LINTAS MELAWAI

Jl. Melawai, next door to Hotel Melawai, Block M

The infamous Pak Karno, the K-Bar and the Tambora Hotel may be long gone, but their spirit lives on at the Lintas Melawai – the final depository of all the drunken westerners and wayward girls left wandering around Block M from 2am to 5am .

MATABAR

Wisma Metropolitan II, 16th Floor, Jl. Sudirman Kav 31, Semanggi

A highflying skyscraper bar with a spectacular view of Jakarta and some pretty good RnB and hip-hop music spun by local DJs. Hugely popular with middle to upper class college-age Indonesians who want nothing more than to drink, dance and just have a good time.

MILLENNIUM

Plaza Gajah Mada, Jl. Gajah Mada No. 19-26, Kota

Jakarta 's largest one-room disco and the premier “happy hard house” music venue. It also boasts the city's largest and loudest sound-system, a massive dance hall and anywhere from 1000-3000 head-shaking hard house fans virtually every night of the week. Worth checking out just for the sensory overload. Don't forget your earplugs!

MONACO CLUB

Gran Mahakam Jl. Mahahkam 1 No. 6 Jakarta

Stylish venue just opened in January and is already making a big impression on the night scene. The first level with its large comfy sofas is more a place to chill out with friends or do some romancing, while the lower level houses the DJ's, which packs them in on weekends both dancing and socializing. Crowd is mainly up-market Indonesian's with a good mixture of westerners.

MUSRO

Hotel Borobudur, West Wing, Jl. Lapangan Banteng Selatan

Smaller 1-room, 2-story club with a great up-market mixture of locals and expats and quality progressive house/trance. The Musro scene sort of fits right in the middle between Stadium and Embassy – not as crazy as the former, but less trendy than the latter. At Musro, it's all about the music! Best from 12pm to 4am .

RETRO

Crown Plaza Hotel, Jl. Gatot Subroto Kav. 2-3, Semanggi

One of the most popular Central Jakarta dance-spots, prime time's around 1am to 4am, after all the nearby hotel live music bars shut down. One of the most diverse and fun crowds in town with a great balance of westerners, locals and some naughty bits as well.

STADIUM

Jl. Hayam Wuruk No. 111, Kota

Jakarta 's premier progressive/tribal venue for hardcore clubbers. Hosts three floors of DJs on weekends, plus massage parlors, private karaoke rooms, two live music cabarets, gaming room and not-so-hot restaurant. Open non-stop from Friday until 10am Monday, it is Jakarta 's only 24-hour club.

TANAMUR

Jl. Tanah Abang Timur, No.14, Central Jakarta

The great grand-lady of Jakarta discotheques that's been continually reinventing herself since 1970. Recent indications are that the lady has finally been tamed but she still occasionally fires on weekends with wicked catwalk-prancing dancers, a great male to female ratio - and a great male to male ratio for the more cheerfully inclined.

1001 CLUB

Hayam Wuruk Plaza , 4th Floor, Jl. Hayam Wuruk No. 108, Kota

In the building right next door to Stadium, its a high-class pleasure palace with a “happy hard house” disco, snazzy 24-hour restaurant, plus a massive multi-floored executive club stocked full of beautiful and hotly-dressed multi-national escorts (including a few Russians).

Bars N Club

bars n club

APHRODITE

Club Rasuna, Jl. Rasuna Said, Kav. C-22, Kuningan

Bar, restaurant and pool parlor within the Taman Rasuna health club. One of the more popular after-work watering holes for many of Jakarta’s expats and quite a few clued-in Indonesians as well. A great place to take your wife or girlfriend. Has enormous varied menu with great food.

B'S BAR & LOUNGE

Lot 14 Sudirman Central Business Center, Jl. Sudirman Kav. 52-53

Features a small sports-oriented bar, a larger cushier lounge with quality artwork and slick garage/down-tempo music. A great place to relax, grab a bite and have a couple of quiet drinks with friends in comfortable surroundings.

BLOWFISH

Menara Bank Danamon, 29th Floor, Jl. Prof. Dr. Satrio, Kav. E IV/6, Kuningan

Pricey but excellent nouveau sushi restaurant below; slick hip cocktail lounge/wine bar above. The place where half the trendy up-market Indonesian crew go for early evenings prior to hitting Embassy after midnight . Quite a few westerners go there as well.

BUGILS CAFE

Taman Ria Senayan, Jl. Gerbang Pemuda No. 3

Name is short for “bule gila” (i.e. crazy white foreigner). A small cozy pub extremely popular with the long-term expats of Jakarta . Has a pool table, big screen TV, good pub menu and some of the spunkiest and most fun-loving waitresses in town.

CINNABAR

Plaza Gani Djemat, Jl. Imam Bonjol 76-78, Central Jakarta

L-shaped wine bar/pub with sunken main area and bowling alley-wide extension. Great central location, nice after-work/early evening spot, popular amongst Jakarta 's western journalists.

THE CLUB

Jl. Hasanuddin No. 60, Block M

The oldest bar in Block M, used to be located a few doors down. Great set of pool tables, some of the same antique bar girls that have been there for 20 years, only now they make money by giving back massages for a few bucks while you're sipping a beer on your barstool.

D'S PLACE

Jl. Falatehan I, No. 1C Block M

The most popular Block M bar at the moment. The downstairs is packed full of expat regulars during happy hour. Later on, during the nightly dance competition and lady's lucky draw, the second floor overflows with bar chicks and westerners looking for company. Open until 2am weeknights, 3am on weekends

FEZ

Kinara building, Jl. Kemang Raya 78B

Moroccan influenced lounge bar with a large central bar, a cozy sofa area to relax and couple of pool tables to fill in the evening. Popular after work venue for expats and the couples crowd later on. A great place to start your night before dining upstairs at Kinara or one of the many other restaurants in the street.

FLANAGAN'S

Sari Pan-Pacific Hotel, Jl. Thamrin No. 6, Central Jakarta

Traditional Irish pub on the ground floor of a 4-star hotel, British style pub food and friendly waitresses. Popular with business travelers and the expats and Indonesians who work nearby.

F-39

Jl. Fatmawati, Cilandak

Open-air hideaway in South Jakarta with western food, pool table and internet facilities. Good getaway place to have a quiet drink at reasonable prices.

KELTS IRISH PUB

Gran Melia Hotel, Jl. Rasuna Said, Kav XO, Kuningan

A mini-mockup of Stonehenge in an Irish Pub. Not a bad early evening spot to ride out the rush-hour. Has top 40's local band providing light background music from Monday thru Saturday, 8pm ‘til midnight .

MANNA HOUSE

Taman Ria Senayan, East End Bldg, Unit 101, Jl. Gatot Subroto, Senayan

Formerly known as Manna Lounge, this is where the other half of the trendy up-market Embassy crowd hangs out early to mid-evening. Occasionally hosts special music events with top international down-tempo DJ artists. Can get really packed.

MY BAR

Jl. Falatehan1 No. 16, Blok M

My Bar ? Your Bar ? Never mind - this new kid on the Blok is fast becoming the area's late night hotspot. Complete with mirrored dance floor, laser lights and My Bars bar dancers you can dance and drink your night away to the wee hours. Open from 11.00am – 5.00am so there's plenty of time to unwind.

P'S PLACE

Jl. Jaksa No. 5, Central Jakarta

Just about the only fully-enclosed and air-conditioned pub on Jalan Jaksa. Friendly waitresses, decent pub food and a pool table upstairs. Frequented by journalists, English teachers, local expats and a wide assortment of tourists.

PARC

Wisma Iskandarsyah, Jl. Iskan-darsyah Block A/4-5 Kav 12-14, Near Block M

Brand new lounge at the former location of Prego. Relaxed interior with lots of wooden panels, plants and greenery; owned by top Jakarta DJ Anton and his sister. Place is still developing its identity.

SATU LAGI

Hotel Kristal, Jl. Terogong Raya No.1 Cilandak

A popular after-work and weekend watering-hole with many of the westerners who live in South Jakarta . Has good pub food and several big screen televisions. Really fires during major sporting events. Family, wife or girlfriend friendly.

MAD DOGS

Cilandak Commercial Estate Building 305, Jl. Raya Cilandak KKO

The only early opener in town, Mad Dogs runs from 7am till last man standing, which is usually 11pm weekdays and 2+am weekends. English styled pub with pool table and quality pub fare including great breakfasts. Bit of a treasure hunt to find it, but well worth the effort.

STANFORD ARMS

Hotel Ambhara, Jl. Iskandarsyah Raya No.1, Block M

The most authentic British pub in town, popular happy hour/early evening drink spot amongst Jakarta 's working westerners. The interior, beer selection and pub menu almost make you feel like you're somewhere back in merry-old-England.

STAR DELI CAFÉ

Jl. Kemang Selatan Raya No. 5, Kemang

Bar on the southern outskirts of Kemang with a few pool tables, lots of 1950's movie star photos and a handful of waitresses in sexy mini-skirts. Decent sandwich and burger menu, a great place to spend a happy hour with lots of legs to look at.

SPORTSMAN

Jl. Falatehan I, No. 8, Block M

The top sport's bar in Block M, big screen televisions and pool tables upstairs and downstairs. Probably has the most consistently good food of all the Block M pubs; their thick crust pizzas are especially popular.