Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Management Issue, Monitoring Media, wa.me/081387284468 >> mahar.prastowo@gmail.com >> fb.com/editor.wiki

Musikal Laskar Pelangi tandai peresmian Teater Jakarta


“Pemda DKI menyambut baik dan mendukung penuh rencana digelarnya Musikal Laskar Pelangi di Teater Jakarta pada Desember 2010 mendatang. Teater Jakarta dibangun untuk mengakomodasi pertunjukan seni yang membutuhkan dukungan infrastruktur pertunjukan seni memadai. Dengan kehadiran Teater Jakarta, kami berharap TIM semakin dikenal sebagai pusat budaya kota Jakarta yang merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan kesenian di Indonesia. Sekarang, kita sudah punya Teater Jakarta, dan semoga lebih banyak pertunjukan seni bermutu yang dapat dinikmati masyarakat Jakarta di teater ini seperti halnya Musikal Laskar Pelangi”. Ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Arie Budhiman.

Miles Productions dan Etcetera Entertainment hari ini mengumumkan rencana digelarnya Musikal Laskar Pelangi pada Desember 2010 mendatang yang didukung penuh oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Musikal Laskar Pelangi sekaligus menandai peresmian Teater Jakarta dan diharapkan menjadi salah satu tontonan hiburan spektakuler di penghujung tahun 2010. Musikal Laskar Pelangi yang digelar di Teater Jakarta juga diharapkan juga akan diminati dan menjadi agenda kunjungan bagi masyarakat luar kota Jakarta.
 
Musikal Laskar Pelangi akan digelar selama 3 minggu untuk umum, mulai 17 Desember 2010 bertempat di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Teater Jakarta adalah ‘anggota’ baru di lingkungan Taman Ismail Marzuki yang memiliki sarana sebagai gedung pertunjukan seni memadai dengan infrastruktur bangunan pertunjukan seni yang lengkap, seperti spesifikasi panggung dan ruangan-ruangan pendukung pertunjukan dengan jumlah lebih dari cukup. Di masa depan, Teater Jakarta diharapkan dapat menjadi pusat hiburan dan pertunjukan seni yang menjadi barometer pertunjukan bagi masyarakat, baik di Indonesia maupun di wilayah kawasan.

“Fasilitas Teater Jakarta sangat mendukung kebutuhan pertunjukan Musikal Laskar Pelangi. Ini adalah gedung pertunjukan yang sudah lama kami nantikan,” sambut Mira Lesmana, Produser Musikal Laskar Pelangi. “Ide menggelar Musikal Laskar Pelangi telah kami pikirkan sejak film Laskar Pelangi pertama kali diputar di sinema pada tahun 2008 lalu. Kami sangat bersemangat mewujudkan ide ini karena baik buku maupun film Laskar Pelangi mampu menghibur sekaligus memperkaya nilai dan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia. Namun kami harus menunggu memproduksinya karena tidak tahu harus tampil dimana. Dengan adanya Teater Jakarta, ide menghadirkan musikal dapat diwujudkan lebih maksimal. Hal ini penting karena yang akan kami tampilkan adalah musikal yang menerapkan tata cara yang digunakan oleh teater internasional seperti West End dan Broadway, dan gedung Teater Jakarta sangat memungkinkan untuk menyelenggarakan pertunjukan seperti ini”. 

Miles Productions dan Etcetera Entertainment, yakni Mira Lesmana dan Toto Arto sebagai Produser, menggelar Musikal Laskar Pelangi dengan didukung oleh praktisi seni yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya, yaitu Riri Riza selaku Sutradara, pengarah musik Erwin Gutawa, Hartati sebagai koreografer, dan Jay Subyakto menangani desain visual.
 
Istilah ‘musikal’ sendiri pada awalnya disebut sebagai ‘teater musikal’ yakni sebuah bentuk pertunjukan dimana musik, dialog, gerak tari, dan tata artistik panggung menjadi sebuah kesatuan dalam bercerita. Sejak awal abad 20, penyebutan ‘teater musikal’ disederhanakan menjadi ‘musikal’. Di antara musikal tersohor dunia adalah yang diproduksi oleh teater profesional seperti Teater West End dan Broadway yang masing-masing berlokasi di kota London and New York City. Di antara pertunjukan musikal yang terkenal adalah Show Boat, Oklahoma!, West Side Story, The Fantasticks, Hair, A Chorus Line, Les Misรฉrables, The Phantom of the Opera, Rent, The Producers dan Wicked. Di Indonesia, musikal sempat populer di tahun 1970an saat Harry Roesli mementaskan ‘Rock Opera Ken Arok’. Ketika ditampilkan ulang pada tahun 1991 dengan sebutan ‘Disko Opera Ken Arok’, musikal ini membuat jalan ke arah Lembang, Bandung, macet total sejak sore hari. Kehadiran Musikal Laskar Pelangi hampir 20 tahun kemudian diharapkan menjadi angin segar bagi pertunjukan seni Indonesia yang menerapkan tata cara pertunjukan musikal sebagaimana digelar oleh Teater West End maupun Broadway.
 
“Walaupun konsep musikal yang kami siapkan menerapkan tata cara musikal seperti digunakan oleh Teater West End maupun Broadway, Musikal Laskar Pelangi akan  memasukkan unsur lokal dan budaya Indonesia yang kuat. Baik penyutradaraan, musik, desain panggung dan koreografi akan menampilkan sentuhan melayu yang kental,” jelas Riri Riza selaku sutradara Musikal ini.
 
Untuk informasi pertunjukan, kunjungi www.musikallaskarpelangi.com
 
Tentang Laskar Pelangi
Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini mengisahkan kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang berupaya menuntut ilmu di sebuah sekolah di Belitung yang penuh dengan keterbatasan. Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku berikutnya adalah Sang Pemimpi, Endesor, dan Maryamah Karpov. Buku ini tercatat sebagai buku sastra yang sangat populer, dibaca oleh lebih dari 5 juta orang. Pada tahun 2008 Miles Productions mengangkat cerita Laskar Pelangi ke layar perak dan film ini berhasil menjadi salah satu film terlaris sepanjang sejarah perfilman Indonesia, mencatat rekor hampir 4,6 juta penonton, menjadikannya film terbanyak ditonton di antara film-film Indonesia populer dalam 10 tahun terakhir. Tahun 2010, Miles Productions & Etcetera Entertainment mengadaptasi buku dan film laris ini ke dalam pertunjukan musikal yang akan digelar pada Desember 2010. [sisi/mp]

Ke Shanghai Bermodal Sepiring Nasi Goreng

Jalan-jalan ke Shanghai lewat sepiring nasi goreng!
Anda bisa!


Ini Caranya: http://www.femina.co.id
Lomba ditutup 7 September 2010


Ikuti perkembangan dan pencapaian Paviliun Indonesia di World Expo Shanghai China 2010 di Fan Page Facebook http://pendek.in/01url 

Stop stamping on our pride

I SUPPOSE it is not wrong to agree with the sentiments of our Foreign Minister that we are certainly losing patience with our neighbour over the incidents and alleged threats voiced out during this holy month.
It seems to me that there is more than one organisation in Indonesia that is really out for blood when it comes to Malaysia. The slightest event or mistake in their eyes means we’re out.
Do they not realise that two million of their people have been living here, earning money, most of which is sent back to their hometown to help their families to live a better life.
Do they not know how many of their people here who claim to be working but end up being criminals instead? We have to endure all that because we understand and we don’t go blaming every Indonesian we find for the mistakes made by others.
For being a hospitable nation, a kind neighbour, this is what we get in return – our pride stamped on, humiliated and being called a variety of names by their people.
I do understand that this action does not reflect the sentiment of the majority but from what I saw on television, the number of unhappy people there is growing.
Their government asks us to ignore the group to protect the bilateral ties between the two countries but for how much longer. They didn’t take any action when the first campaign to “squash” us was echoed on their streets and now this.
How much longer are we supposed to tolerate this?
I wonder if the situation were reversed, could we tell their people and their government to just ignore what is going on. This problem needs to be nipped in the bud before it gets worse.
To my fellow countrymen, I think it’s time we hold back on our visits, tours and other activities to Indonesia. There is no point in supporting a nation’s economy whose people are out to sweep us while we’re there.
We have many other local or Asian destinations that we can go to.
To our government, it is time that we stand up to this and protect our nation’s pride. As a Malaysian, I cannot accept this action especially when we’re about to celebrate our National Day next week.
FRUSTRATED MALAYSIAN,
Kuala Lumpur.
http://pendek.in/01uss

Di Arab Saudi, Anakku Menunggu Pertolongan

"Ibu harus cepat menolong anak Ibu saya takut kalau tidak cepat ditolong mbak Dewi mengalami sesuatu yang tidak diinginkan" begitu sepenggal sms Rini.

Pada tanggal 9 maret 2010 lalu anak saya yang bernama Niken Dewi Roro Mendut binti Sapto Raharjo kelahiran Jember dan berumur 37 th berangkat ke Riyadh Arab Saudi untuk menjadi TKI. Keberangkatan anak saya ke Arab di fasilitasi PT Tritama Megah Abadi, JL Batu Ampar III no 18A Condet Jaktim.

Sesampai di Arab Saudi anak saya ditempatkan pada majikan yang bernama Abdull Aziz Al Sarary/Hail dengan Id Card bernomor 1030269508 dan no telp 0500554009, itu saya ketahui pada saat anak kami mengontak kami. Setelah itu kurang lebih satu bulan kemudian anak saya kembali kontak ke saya menggunakan no telp 0595735719 dan menyatakan bahwa dia dijual oleh majikan Abdull Azis dan juga mengatakan bahwa dia mendapat siksaan dari majikan yang pertama maupun yang kedua tersebut. Setelah itu tidak ada kontak lagi dari anak saya. Pada saat itu sayapun hanya bisa berdoa agar anak saya tidak mendapat siksaan lagi dan mendapat lindungan dari Allah Swt.

Kira-kira satu bulan kemudian anak saya kembali mengontak lagi dengan no telp 0505167796. Tapi setiap kali saya telp balik ke no tersebut, saya tidak dapat menghubungi anak saya. Namun pada hari Kamis tanggal 19 Agustus 2010 saya mendapat miscall dari nomor 966502069007 yang merupakan nomor Arab Saudi, setelah saya kontak kembali orang yang miscall tersebut mengaku bernama Rini TKI asal Cianjur Jabar.

Rini menceritakan pada satu kesempatan dia diajak oleh  majikannya menemui salah seorang kerabatnya. Pada saat menemui kerabat dari majikannya itu Rini  bertemu dengan anak saya dengan luka-luka parah pada sekujur tubuhnya, tanpa diketahui oleh majikannya, anak saya memberikan kertas berisi nomor telepon meminta tolong agar Rini bisa menghungi saya sebagai orang tua di Probolinggo Jatim.

Karena alat komunikasi milik Rini ilegal kami tidak bisa kontak secara leluasa. Pada satu kesempatan Rini sms kepada saya mengatakan bahwa saya harus segera menghubungi PT, sponsor atau pihak yang terkait untuk segera menolong anak saya, karena anak saya dipindah-pindah kerja dan mendapat siksaan dari majikannya, "Ibu harus cepat menolong anak Ibu saya takut kalau tidak cepat ditolong mbak Dewi mengalami sesuatu yang tidak diinginkan" begitu sepenggal sms Rini.

Saya-pun bingung harus bagaimana, akhirnya saya kontak anak saya yang di Surabaya untuk datang ke Disnaker Jatim. Tapi menurut anak saya yang di
Surabaya pihak Disnaker Jatim tidak mempunyai hubungan dengan pemerintah Arab Saudi jadi harus

mengirimkan surat terlebih dahulu. Karena di Disnaker Jatim agak berbelit saya mencoba telepon ke PT Tritama Megah Abadi yang memberangkatkan anak saya, dan yang menerima Bapak Salim bagian pengaduan. Lalu saya ceritakan persoalan tersebut dan meminta supaya PT Tritama segera memulangkan anak saya. Namun jawaban Bapak Salim mengecewakan saya. Dia bilang bahwa kontrak anak saya dua tahun dan tidak bisa pulang secepat itu, saya menjadi tambah bingung harus mengadu pada siapa lagi, apa anak saya harus menunggu hingga dua tahun mengalami siksaan demi siksaan, dan saya takut jika anak saya harus jadi korban hingga meninggal dari kebiadaban majikannya di Arab Saudi.

Mana tanggung jawab pemerintah dalam menangani masalah ini, padahal para TKI merupakan pejuang devisa bagi negeri kita, jangan hanya mereka diambil madunya saja tapi jika ada masalah dibiarkan begitu saja. Mohon bantuannya segera, Trimakasih

Ummiyati
JL Serma Abd Rahman gg Kusuma Bhakti no 13 Probolinggo Jatim
Kontak yang bisa dihubungi
M Rofiq:081332006760-03160676969
Anik:085258672315


Facebook Picu Tingginya Angka Perceraian

Angka perceraian di Kabupaten Sampang diperkirakan meningkat pada bulan Ramadhan. Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Sampang, jumlah gugatan cerai yang diterima perbulannya rata-rata 60 orang, sedangkan selama bulan puasa, di mana sudah menginjak delapan hari, sudah mencapai 13 perkara.

Penyebabnya masih faktor yang sama yaitu adanya “pihak ketiga” dalam rumah tangga. “Kemajuan teknologi digital yang semakin maju ini juga menjadi salah satu penyebabnya, mulai dari SMS-SMS mesra dari orang lain sampai status di Facebook,” kata Panitra Sekretaris (Pansek) PA Sampang, Moh. Ali Samsi, di ruang kerjanya, Rabu, (18/8).


Menurut Ali kasus perceraian yang diproses PA Sampang lebih banyak diajukan pihak wanita. Mayoritas disebabkan adanya pihak ketiga atau perselingkuhan, faktor ekonomi, dan tanggung jawab keluarga.

Diakui Ali, jumlah perceraian yang terjadi di Sampang semakin meningkat. "Apakah ini menunjukkan bahwa gaya hidup di Sampang sudah mulai hampir sama dengan kota-kota besar,” tuturnya.

PA Sampang tidak hanya memproses kasus perceraian hingga tuntas, namun juga menjadi mediasi bagi pihak suami dan istri agar rujuk kembali. Demikian seperti dilansir situs beritajatim.com.

“Ada kehidupan berumah tangga yang berhasil diselamatkan dengan mediasi ini, tapi kebanyakan juga tidak berhasil. Pasalnya, rata-rata yang melakukan gugatan cerai itu sudah parah permasalahannya. Perceraian itu tidak mudah. Belum lagi urusan pembagian harta atau hak asuh anak. Bisa lebih ribet,” kata Ali.

Menurutnya perceraian tidak selalu menjadi solusi yang terbaik bagi pihak suami dan istri. "Hendaknya peran orangtua keluarga ikut andil untuk mengembalikan keharmonisan rumah tangga. Peran anak juga bisa menjadi jembatan untuk mempersatukan hubungan rumah tangga yang putus". Pungkasnya. (nuonline]

HUT RI ke-65 di Paviliun Indonesia Semarakkan World Expo

"Acara ini sangat bagus, saya suka sekali dengan busana-busana yang diperagakan, sangat detail dan tentunya sangat mengejutkan. Saya juga diberi tas suvenir yang isinya begitu lengkap. Sekarang saya mempunyai perasaan istimewa terhadap Indonesia". Ujar Lyann, pengunjung Paviliun Indonesia asal Belanda, di malam puncak acara HUT RI ke-65 usai menerima goody bag berisi buku tentang Indonesia, kerajinan tangan buatan Indonesia dan boneka maskot Koko & Pongo.

World Expo Shanghai China-WESC2010 semakin semarak dengan acara pergelaran berbagai event pada puncak perayaan HUT RI ke-65. Acara digelar pada tanggal 17 Agustus dari jam 19.30 sampai pukul 23.00 malam waktu Shanghai. 


Tak hanya kemeriahan acaranya yang mengesankan, namun juga disebabkan kehadiran para diplomat asing serta para Direktur Paviliun masing-masing Negara, tak ketinggalan adalah para pejabat pemerintah Tiongkok, serta pengunjung Paviliun Indonesia.

Direktur Paviliun Indonesia, Widharma Raya Dipodiputro, membuka peringatan Malam 17 Agustus yang kemudian diisi dengan sambutan Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Imron Cotan. Tak lupa ada acara pemotongan tumpeng sebagai pembuka perayaan 65 tahun proklamasi kemerdekaan ini.

“Banyak sekali masyarakat Tiongkok yang belum mengenal Indonesia, mereka lebih mengenal Bali, karena itu berbagai pertunjukan yang ditampilkan hari ini juga didatangkan dari berbagai daerah, jadi kita mengharapkan masyarakat dunia dapat mengenal Indonesia secara utuh. Selain itu, kita juga menyediakan sajian makana Indonesia, diharapkan agar para tamu yang hadir ke Paviliun Indonesia bisa merasakan benar-benar di Indonesia". Kata Widharma saat pembagian hadiah istimewa bagi pengunjung Paviliun Indonesia ke-5 juta. 

Pengunjung Paviliun Indonesia ke-5 juta yang beruntung adalah Zhang Fengying, ia mendapat hadiah berupatiket perjalanan pergi-pulang Shanghai-Jakarta-Bali untuk dua orang, ia merencanakan pergi bersama anaknya, Song Jiagi.

"Saya sangat senang dan tidak terpikir bisa mendapatkan hadiah tiket perjalanan ke Bali, rasanya sangat beruntung." Ujar Zhang.

Sebagaimana dijanjikan Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, juga diberikan hadiah spesial yang diberikan kepada pengunjung ke 5.017.845 yang merupakan simbol angka istimewa bagi bangsa Indonesia, yakni mencerminkan tanggal, bulan dan tahun Kemerdekaan.

Suguhan utama acara Malam 17 Agustus adalah sejumlah pertunjukan, antara lain tari Serunai, peragaan busana muslim, jazz band, dan musik batak dari Amadeus Quartet. Juga ada pameran aneka produk kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia.

"Ada banyak pertunjukan seperti jazz, tarian-tarian tradisional, peragaan busana muslim dan lain-lain. Orang Tiongkok atau siapapun yang hadir bisa melihat bahwa Indonesia bermulti ragam seni budaya, termasuk yang tradisional dan juga yang modern." Wakil Direktur Paviliun Indonesia Pratito Soeharyo.

Pratito Soeharyo juga menambahkan, citra atau pesan yang ingin disampaikan Paviliun Indonesia kepada dunia luar adalah Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beraneka ragam budaya, tradisi dan agama. "Respon pengunjung dan tamu yang hadir sangat positif," tambahnya.

Direktur Paviliun Indonesia, Widharma Raya Dipodiputro juga memberikan apresiasi pada masyarakat China terkait musibah banjir yang melanda sebagian wilayah China. "Kita tahu bahwa pemerintah Tiongkok baru mengalami musibah, jadi kita juga prihatin sekali dengan keadaan tersebut. Tapi dengan hari kemerdekaan ini, kita juga mengadakan perayaan dengan sederhana namun yang mempunyai makna mendalam.”

Fadel Muhammad: Pemerintah Bangun Rumah Sakit Ikan

Jakarta, MPsyndicates

“Rumahsakit Ikan ini sudah ada di Amerika dan Jepang; Indonesia juga akan membangunnya di Serang, Banten dengan anggaran Rp 20 miliar. Nanti semua penyakit ikan kami bisa mendeteksinya, sehingga bisa segera diatasi pengobatannya.” Kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, saat buka puasa bersama di Pelabuhan Perikanan Nizam Zaman, Muara Baru, Jakarta Rabu  (19/8). 

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad akan meresmikan Rumah Sakit Ikan yang dibangun di Kabupaten Serang, Propinsi Banten paling lambat akhir tahun ini. Rumah Sakit Ikan tersebut diharapkan bisa melakukan analisa penyakit, bakteri, virus sekaligu mengembangkan metode serta cara pengobatan dan penyembuhannya.

Fadel mengaku Rumah Sakit Ikan tersebut saat ini dalam proses pembangunan dan akhir tahun ini diharapkan sudah bisa beroperasi.

“Nanti semua penyakit ikan kami bisa mendeteksinya, sehingga bisa segera diatasi pengobatannya,” jelas Fadel. Keberadaan Rumah Sakit Ikan itu nantinya akan mengatasi adanya serangan virus dan penyakit pada perikanan budidaya terutama untuk komoditas utama seperti udang, nila, lele, dan yang lainnya.

Pembudidaya diharapkan Fadel bisa memanfaatkan layanan dari Rumah Sakit Ikan ini. Caranya, jika pembudidaya menemukan adanya gejala penyakit atau serangan virus di tambak dan lokasi budidayanya maka bisa langsung melaporkan ke Rumahsakit. Nantinya, pembudidaya juga bisa memperoleh informasi penyakitnya termasuk tata cara penyembuhan dan obat-obatan yang diperlukan. “Petambak dan nelayan bisa segera mengobati jika terjadi serangan penyakit tersebut,” kata Fadel.

Adanya Rumah Sakit Ikan itu nantinya akan menjadi solusi bagi peningkatan produksi produksi perikanan dan udang yang selama ini terancam oleh keberadaan penyakit dan virus. 

Sebelumnya, Made L. Nurdjana, Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan bilang kalau persoalan penyakit dan virus itu merupakan masalah serius untuk bagi perikanan budidaya.

Dampak dari serangan virus dan penyakit tersebut membuat dampak yang besar terhadap penurunan produksi yang menimbulkan efek domino pada industri pengolahan produk perikanan. Jika virus dan penyakit menyerang, maka industri pengolahan perikanan kesulitan untuk mendapatkan bahan baku.

APRESIASI 25th DUFAN




APRESIASI 25th DUFAN
Have Fun = HEMAT
10 Agustus s/d 7 September 2010
HARGA TIKET DUNIA FANTASI
Weekend Rp. 150 rb menjadi Rp. 75 rb
Weekdays Rp. 120 rb menjadi Rp. 60 rb
ATLANTIS
Weekend Rp. 100 rb menjadi Rp. 50 rb
Weekdays Rp. 75 rb menjadi Rp. 40 rb
Ketentuan:
- Tidak berlaku pintu gerbang masuk Ancol
- Tidak berlaku untuk rombongan
- Promo ini tidak dapat digabung dengan promo lain
- Tunjukan Flyer ini di loket DUFAN atau ATLANTIS ( printout gambar flyer)
- Berlaku Foto Copy

Pdt. Socrates: Kasus Puncak Jaya Murni Rekayasa Militer

Mulia, Puncak Jaya-
Pendeta Socrates Sofyan Yoman, MA, ketua Umum Gereja Baptis, berpusat di Jayapura Papua, tiba di Mulia Tanggal (9/7), ibu kota Kabupaten Puncak Jaya, untuk mengumpulkan fakta kasus pembunuhan enam warga sipil non Papua (12/10), menyusul dilakukannya operasi militer gabungan yang melibatkan pasukan Kopasus, TNI AD, Polisi dan Brimob.

"Saya berkunjung ke Mulia hanya satu hari saja (9/7) mengingat situasi di kabupaten Puncak Jaya tidak kondusif sehingga saya kembali ke Jayapura esoknya (10/7). Walaupun kunjungan saya singkat namun setidaknya saya mengumpulkan sejumlah data penting tentang bagaimana terjadinya kasus itu. Hal pertama yang saya saksikan disana adalah saya melukiskan kota itu ibarat kota mati, aktifitas sosial masyarakat sudah lumpuh total, pegawai pemerintah baik dari pegawai kelas rendahan sampai pejabat perintah sudah mengungsi keluar dari kabupaten Puncak Jaya. Sedangkan penduduk lokal mengungsi ke hutan-hutan, gunung-gunung dan kempung-kampung yang dirasa aman. Sementara itu Kabupaten puncak Jaya sudah dikuasai sepenuhnya oleh pasukan gabungan lengkap dengan alat bantu operasi seperti pesawat Helikopter dan mesin pembunuh lainnya. Dalam keadaan seperti itu biasanya militer bebas melakukan apa saja mengingat diatas daerah itu karena diisolasi oleh militer," ungkap Sofyan kepada Staff Human Rigth Monitoring pertelpon (7/8) pukul 10.00 WP.

Menurut Sofyan Yoman, kasus yang terjadi di Kabupaten Puncak Jaya adalah murni rekayasa militer untuk mencapai tujuannya yakni; pertama untuk menjastifikasi kehadiran pos-pos militer disepanjang jalan trans dari Kabupatan Wamena ke Kabupatan Puncak Jaya; Kedua Menjastifikasi dibangunnya Batalyon Baru di pegungan Tengah, Ketiga membangun publik Teror terhadap warga Papua; keempat untuk meraup uang Otonomi khusus dan kelima untuk menciptakan ketidak-percayaan masyarakat kepada Bupati yang selama ini dipegang oleh pejabat sipil.

Sofyan Yoman, mengaku sore ini (selasa, 2/11) baru mendapat laporan terbaru yang membuktikan bahwa militerlah yang merekayasa peristiwa yang terjadi di puncak Jaya. 

Berikut baca laporan investigasi yang dihimpun oleh Pdt. Socrates Sofyan Yoman, MA di bawah ini:

Peristiwa tanggal 17 juli 2010.

Tanggal 17 Agustus Goliat Tabuni dari Ilaga tiba di kampung Guragi tujuannya adalah; (1). Untuk melihat kuburan, ayah dan ibunya serta kakak tertuanya yang telah lama meninggal dunia; (2). Memberitahukan kepada Anep Murip supaya menghentikan penebangan hutan milik keluarga Goliat Tabuni untuk dibuat sebagai lapangan pesawat terbang. Menurut Goliat Tabuni bahwa sebenarnya hutan itu adalah hutan lindung dan banyak tanaman pohon kelapa hutan milik keluarga Goliat Tabuni; (3). Pulang kampung halamanya sendiri karena sudah lama meninggalkan kampung halamanya. Kedatangan Goliat Tabuni didengar oleh Eli Renmaur, Bupati Puncak Jaya lantas bupati mengutus dua orang yakni; Arnoldus Tabuni dan Tawingga Wonda untuk menanyakan tujuan Goliat datang ke Guragi. Dalam pertemuan itu Goliat menegasakan bahwa tidak ada rencana jahat dibalik kedatangannya ke kampung Guragi. Kedatangannya ke kampung guragi tercantum dalam 3 point di atas.

Setelah kedua utusan itu selesai bertemu dengan Goliat Tabuni, keduanya kembalii melaporkan hasil pertemuannya kepada bupati. Karena tidak ada rencana jahat dibalik kedatangan Goliat ke kampung Guragi sehingga Bupati tidak mengirim utusan lagi untuk bertemu dengan Goliat. Tapi rupanya pasukan Kopasus yang bermarkas di kota Mulia mendengar Goliat hadir di kampung Guragi sehingga dikirim sejumlah anggota Kopasus ke kampung Guragi, dalam perjalanan ke kampung Guragi utusan Kopasus ini ditembaki oleh kelompok tidak dikenal ( bukan kelompok Goliat Tabuni). Seorang anggota Kopasus menderita luka ringan. Hampir satu bulan (27) hari tidak ada tindakan-tindakan yang diambil oleh aparat militer. Semua keadaan aman, kegiatan masyarakat berjalan seperti biasa.

Pada tanggal 14 September , pasukan Satgas kopassus kembali ke Guragi dengan tujuan mencari, menangkap atau menembak Goliat Tabuni. Pasukan kopassus tidak menemukan Goliat. Tetapi, bertemu dengan pendeta Elisa Tabuni dan anaknya juga seorang gembala (Pendeta). Pasukan kopassus bertanya kepada Elisa Tabuni tentang keberadaan Goliat Tabuni. Pendeta Elisa menjawab tidak tahu tentang Goliat. Tetapi pasukan kopassus menangkap pendeta Elisa Tabuni dan anaknya serta mengikat kedua tangan pendeta itu dengan tali, ikat pinggang berwarna loreng.

Dalam perjalanan, pendeta Elisa dan anaknya ditanya oleh kopassus tentang ayat firman Tuhan yang terdapat dalam Roma 13 tentang pemerintah adalah wakil Allah. Pendeta Elisa dan anaknya tidak dapat menjawab karena Elisa dan anaknya tidak bisa mengerti dan berbicara bahasa Indonesia dengan baik sehingga pasukan kopassus marah dan menembak mati pendeta Elisa Tabuni dalam keadaan tangan terikat dengan tali. Sedangkan anaknya berhasil melarikan diri dalam keadaan tangan terikat. (Anaknya pendeta menjadi saksi hidup pembunuhan ayahnya).

Tanggal 12 Oktober, terjadi Penembakan atau pembunuhan terhadap 6 orang non Papua yang bekerja sebagai sopir mobil Hartop di jalan Trans Wamena, Mulia. Sedang Kelompok atau pelaku pembunuh 6 orang non Papua ini masih menjadi misteri bagi rakyat disana. Sementara militer menuding Goliat Tabuni. Karena muncul dua kelompok baru yang tidak jelas selain Goliat Tabuni yaitu : 1. Kelompok Marunggen Wonda. Keberadaan kelompok Marunggen menajadi tanda-tanya besar bagi masyarakat sipil di Mulia. Kelompok yang dipimpin oleh Marunggen Telenggen yang mengaku pemimpin TPN/OPM bagi kelompoknya tetapi lebih leluasa masuk keluar kota dari pada Goliat Tabuni. Dalam kelompok Marunggen Wonda ini ada Amoldus Tabuni, Terry Telenggen dan Lucky Telenggen.

Kelompok kedua yang dipimpin oleh Anton Tabuni. Kehadiran Kelompok Anton Tabuni dipertanyakan masyarakat sipil di Mulia karena Anton Tabuni yang mengaku dirinya sebagai pimpinan TPN/OPM bagi kelompoknya tapi Anton bebas masuk masuk keluar kota dan membakar gedung sekolah, kantor distrik.

Belum bisa dipastikan kelompok siapa yang mengadakan eksekusi terhadap 6 warga non Papua sebab kopassus sudah memblokir jalan ke Guragi, dan menutup akses komunikasi dengan Goliat melalui Single Sign Band (SSB) terputus. Kaluapun berkomunikasi dengan SSB, Tetapi masih tanda tanya juga apakah yang berkomunikasi melalui SSB itu Goliat Tabuni atau kelompok Marunggen Wonda dan Anton Tabuni ? mengingat kopasus sudah memblokir jalan ke Guragi.


Teror terhadap pendeta Yason Kogoya, ketua klasis Yamo.

Tanggal  15 Juni, pukul 21.00 WP ketua klasis wilayah Yamo, pendeta Yason Kogoya dijemput oleh dua anggota kopasus atas perintah Enok Ibo, sekretaris daerah (sekwilda) kabupaten Puncak Jaya, korban diinterogasi selama tiga jam di kamar tertutup dari pukul 21.15 sampai 24.00 WP. Saat itu Anggota kopassus mengancam akan mengikat kedua tangannya sambil menunjukan tali yang pernah dipakai (barang bukti) untuk mengikat tangan Pendeta Elisa Tabuni dan menembaknya.

20 Juni, pukul 13.00 WP, pasukan melancarkan operasi dari darat dan udara terhadap penduduk sipil. Helikopter TNI menembak dan meluncurkan boom-boom ke perkampungan penduduk sipil sementara acara makan bersama sedang berlangsung. Tetapi om-bom dan peluru yang diluncurkan helikopter TNI tidak meledak. Aksi boom membabi buta itu menyebabkan perkampungan di 27 Gedung Gereja, atau 27 jemaat terpaksa lari ke hutan-hutan untuk bersembunyi dan menyelamatkan diri sejak peristiwa tanggal 27 Juli 2010.

Gedung gereja yang dikosongkan oleh umatnya sebagai berikut : Gereja Tanoba, Gereja Yagorini, Gereja Monia, Gereja Bigiragi, Gereja Peragi, Gereja Yogonggum, Gereja Yoromugum, Gereja Pilia, Gereja Wulindik, Gereja Gimanggen, Gereja Tingginambut, Gereja Toragi, Gereja Pilipur, Gereja Kolome, Gereja Agape, Gereja Yanenggawe, Gereja Kayogebut, Gereja Pagarigom, Gereja Yiogobak, Gereja Yibinggame, Gereja Ndondo, Gereja Yamiruk. Gereja Wirigele, Gereja Yagonik, Gereja Wunagelo, Gereja Wandenggobak, Gereja Pagelome.

Sementara itu jumlah penduduk yang diperkirakan bersembunyi di hutan- hutan diperkirakan mencapai 5.000 orang. Sampai saat ini belum diketahui keberadaan para pengungsi ini karena wilayah-wilayah itu sudah diblokir oleh pasukan gabungan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, biasanya banyak penduduk menemui ajalnya pengungisian dihutan karena sakit dan juga kehabisan bahan makanan karena militer memusnahkan hasil-hasil kebun.

Perampasan/pencurian Harta Benda Masyarakat.
Dalam melakukan operasinya pasukan gabungan juga mencuri dan menembak ternak babi milik masyarakat sebanyak 8 ekor dan menjualnya.


Biaya Operasi Militer Berasal dari Uang Otonomi Khusus

Seorang pejabat pemerintah kabupaten Puncak Jaya yang dimintai keterangannya melaporkan bahwa uang yang diminta oleh militer untuk melancarkan operasi adalah berasal dari dana otonomi khusus dengan perincian sebagi berikut;
Tanggal 15 Oktober 2004 sebanyak Rp 760.000.000,-
Tanggal 16 Oktober 2004 sebanyak Rp 500.000.000,-
Tanggal 17 Oktober 2004 sebanyak Rp 500.000.000,-
Tanggal 18 Oktober 2004 sebanyak Rp 750.000.000,-
Total pengeluaran Rp 2.520.000.000,-

Perincian pengeluaran khas daerah ini belum termasuk pengeluaran dari tanggal 28 Juni  ke depan sehingga diperkirakan dana Otsus yang nantinya dikeluarkan oleh Pemerintah daerah diperkirakan akan membengkak mencapai 5 milyard rupiah.

Data sementara pasukan yang didroping di Mulia terdiri dari; Kopasus 100 orang, Brimob 400 orang, Tim khusus ( Timsus) 100 orang (1 kompi), Angka kehadiran militer diperkirakan akan bertambah karena pada saat Pendeta Sofyan Yoman meninggalkan kota Mulia (22/10) Sofyan melihat 10 orang pasukan Brimob baru yang diturunkan di Mulia dengan pesawat penerbangan sipil milik Trigana air.

Lepas dari soal di atas Sofyan Yoman juga sangat menyesalkan tindakan Kapolda Papua, Timbul Silaen, yang secara sepihak membatalkan konferensi Sinode Segi Tiga yakni; Gereja Injili di Indonesia, (GIDI) Persekutuan Gereja-gereja BAPTIS Papua, Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah Papua yang sedianya dilaksanakan pada tanggal 12 – 25  Mei, dan bertempat di Puncak Jaya, dibatalakan dengan alasan keamanan, menyusul terbakarnya Aula gereja beberapa hari lalu tanpa sebab yang tidak jelas.

Menurut, Yoman, Timbul Silaen tidak punya wewenang untuk mengintervensi gereja apalagi membatalkan konfrensi tiga gereja di puncak Jaya, karena yang wewenang penuh adalah ketiga gereja tersebut, soal alasana keamanan seperti yang dikawatirkan Timbul, itu jelas tidak masuk akal sebab selama masyarakat sangat menghormati para pendeta-pendeta.

Dari Fakta kasus di atas Pendeta Socrates Sofyan Yoman, MA menyerukan kepada ;

1. Masyarakat Internasional segera menekan Pemerintah Indonesia dan Panglima Kodam XVII/ Trikora serta Kapolda Papua untuk segera menarik pasukannya dari Mulia Puncak Jaya. Guna mencegah jatuhnya korban-korban rakyat sipil tidak berdosa akibat reyasa militer sendiri.

2. Komnas HAM Indonesia segera membentuk Team Fact Finding untuk mengungkapkan Fakta kasus yang terjadi di Mulia puncak Jaya.

3. Pasukan Non Organik TNI AD dan Kopasus segera ditarik ke luar dari Papua.

[ENS]

HUT RI di WESC2010: "Indonesia bisa maju seperti negara-negara maju lainnya"

"Berbicara mengenai hari kemerdekaan, adalah hari yang spesial, pesta rakyat. Bila dilihat di Indonesia, pestanya dirayakan di berbagai pelosok tanah air, dan mempunyai makna tersendiri, ada makna kebebasan, makna Indonesia yang mandiri secara ekonomi. Kita ingin menyampaikan kepada dunia bahwa Indonesia bisa juga berdiri sendiri di dalam dunia ekonominya. Sedangkan di Ekspo Dunia Shanghai, kita mengadakan berbagai pertunjukan di Paviliun Indonesia sebenarnya juga untuk memberi makna yang sama, memperlihatkan kepada dunia luar bahwa Indonesia bisa maju seperti negara-negara maju lainnya." -Direktur Paviliun Indonesia Widharwa Raya Dipodiputro.

Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 di Tiongkok, selain dirayakan di KBRI Beijing, juga dirayakan di Paviliun Indonesia, Ekspo Dunia Shanghai.

Paviliun Indonesia memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-65 dengan menampilkan pertunjukan tarian dan musik selama 3 hari berturut-turut, dari tanggal 15-17 Agustus hari ini.

Dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-65, Direktur Paviliun Indonesia Widharwa Raya Dipodiputro mengucapkan selamat ulang tahun RI ke-65. Beliau berharap, dengan ulang tahun Indonesia ke-65, masyarakat Indonesia bisa memaknai kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya, dan bersama-sama membangun bangsa ini untuk menuju Indonesia yang lebih baik, lebih makmur dan sentosa.

Berhubung peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-65 yang dirayakan di Paviliun Indonesia, Bapak Widharwa mengatakan bahwa peringatan ini mempunyai makna yang berakhir bagi setiap individu Indonesia. 

"Berbicara mengenai hari kemerdekaan, adalah hari yang spesial, pesta rakyat. Bila dilihat di Indonesia, pestanya dirayakan di berbagai pelosok tanah air, dan mempunyai makna tersendiri, ada makna kebebasan, makna Indonesia yang mandiri secara ekonomi. Kita ingin menyampaikan kepada dunia bahwa Indonesia bisa juga berdiri sendiri di dalam dunia ekonominya. Sedangkan di Ekspo Dunia Shanghai, kita mengadakan berbagai pertunjukan di Paviliun Indonesia sebenarnya juga untuk memberi makna yang sama, memperlihatkan kepada dunia luar bahwa Indonesia bisa maju seperti negara-negara maju lainnya."

Selain memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-65 yang spesial ini, Wakil Direktur Paviliun Indonesia Pratito Soeharyo mengatakan, 16 Agustus kemarin adalah hari pengunjung Paviliun Indonesia ke-5 juta. Pemberian hadiah tiket perjalanan pulang/pergi Shanghai-Jakarta-Bali untuk 2 orang ini diserahkan hari ini (17/08) kepada pengunjung beruntung pada acara malam 17 Agustus di Paviliun Indonesia. Pemberian hadiah untuk pengunjung ke-5 juta ini merupakan kerjasama dari Paviliun Indonesia, Garuda Indonesia Airline dan Artha Graha.

THINK AHEAD: "the nature of intelligence"


- JUDUL: THINK AHEAD, 70 Tahun Teddy Rusdy
- PENULIS: Servas Pandur
- PENERBIT: PT Herakles Indonesia
- HALAMAN: xviii, 602 hlm
- UKURAN: 15 x 23 cm
- PERCETAKAN: Gramedia

"Ini bukan buku biografi biasa. Layak dibaca oleh siapa pun yang peduli terhadap nasib bangsa ini."


Pengalaman Teddy Rusdy sebagai perwira intelijen RI selama 1974-1992 memberikan gambaran komprehensif tentang 'the nature of intelligence'' ~ seperti seberapa penting dan fundamentalnya intelijen bagi bangsa, negara, dan pemerintah RI.

Selain itu, sejumlah pertanyaan lain tentang intelijen juga dijawab oleh buku ini. Apa itu tujuan dan maksud intelijen, intelijen sebagai pengetahuan dan proses, misteri intelijen, syarat-syarat intelijen, fungsi dan siklus intelijen, tantangan intelijen, mata rantai komando dalam intelijen, operasi intelijen, dsb... dsb... termasuk intelijen sebagai produk, bisa Anda simak di buku ini. 

Marsekal Muda TNI (Purn) Teddy Rusdy boleh disebut sebagai sosok penting dalam dunia intelijen Indonesia. Dialah salah satu sosok di balik bagaimana membangun sistem dan model intelijen yang cocok dan dapat diterapkan di NKRI ~ sinergi antara model-model intelijen dunia, baik yang berasal dari Timur Tengah, Eropa, Asia, maupun AS.

Tak kalah menariknya, bagaiamana Teddy Rusdy mengungkap tabir di balik jatuhnya pemerintahan Soeharto. Bagaimana pihak intelijen kala itu telah membuat empat estimasi mengenai pemerintahan rezim Orde Baru, bisa disimak di Bab 22; juga jawaban-jawaban atas sejumlah isu politik dalam sejarah kontemporer Indonesia, termasuk isu kudeta LB Moerdani yang dihembuskan oleh Prabowo Subianto dsb...dsb...

Singkat cerita, ini buku layak dibaca oleh siapa pun Anda.

Berbagi Cerita Wong "JOWO-Surinam" Ing Negoro Londo

Oleh: IBRAHIM ISA
Sabtu, 14 Agustus 2010
------------------------------------------------------

Wong "JOWO-Surinam" Ing Negoro Londo
Dalam Rangka Peringatan 120 Tahun Kedatangan Orang Jawa di Suriname

Cerita-cerita, -- s e j a r a h , tentang 'Wong Jowo ing Negoro Londo' (mereka berimigrasi dari Suriname), -- -- , menarik sekali. Mengharukan dan menggugah. Dan hatiku ikut bangga, sebagai suami seorang putri dari Jawa. Begitulah, hari Minggu, pekan lalu, kami kumpul bersama di suatu ruang peringatan dengan kira-kira 300 orang-orang Jawa lainnya yang berdatangan dari pelbagai penjuru Belanda.

Cukup banyak data dan ulasan yang bisa diakses di internet mengenai para kompatriot itu. Jangan hรฉran, bagi kebanyakan orang-orang Jawa-Indonesia, keberadaan dan latar belakang 'Wong-Jowo-Surinam' ing Holan iku, sedikit sekali yang tahu. Ya, sesekali secara kebetulan, kita papasan dengan orang (yang dianggap orang Indonesia), di jalan atau di pertokoan. Ternyata mereka itu adalah 'wong Jowo-Surinam'. Orang Jawa yang menetap di Belanda, asal Surinam. Mereka bertanya pula: "Sampean soko Surinam"?

Aku baru-baru ini saja, agak mengenal latar belakang 'Wong Jowo Ing Negoro Londo". Yaitu selagi dan sesudah pada tanggal 08 Agustus 2010 lalu, menghadiri Peringatan "120 JAAR JAVAANSE IMMIGRATIE – Een Andere Kijk op Geschiedenis – De Javaanse migratie door de ogen van gewone mensen". < Artinya kira-ki begini: "120 tahun migrasi Orang-Orang Jawa – Suatu Pandangan Lain Atas Sejarah – Migrasi Orang-orang Jawa Melalui Mata Orang-orang Biasa.">. Penyelenggara peringatan dilakukan bersama oleh Stichting Herdenking Javaanse Immigratie (STICHHJI), Stichting Budi Utama dan KITLV Leiden.

Di ruangan pertemuan di pamerkan untuk dijual buku-buku sehubungan dengan orang-orang Jawa Surinam. Juga bisa dipesan kamus Jawa-Nederlands.  Di situ aku membeli sebuah buku berjudul STILLE PASSANTEN, Levensverhalen van Javaans-Surinaamse ouderen in Nederland. Cerita-cerita pengalaman orang-orang Jawa Surinam di Nederland. Penulis: Yvette Kopijn dan Harriette Mingoen, Ketua STICHHJI. Aku baru membaca kata pengantarnya dan melihat-lihat foto-foto sekitar orang-orang Jawa yang mula datang ke Suriname. Kaum migran Jawa  yang berjumlah 32.956 migran itu diangkut berangsusr-angsur selama periode 1890 s/d 1939 dengan 53 kapal ke  Paramaribo, Suriname.  Setelah menyelesaikan kontrak kerja selama 5 tahun, mereka boleh mengakhiri kontrak dan kembali ke kampung halaman di Jawa. Sebagian besar memilih menetap di Suriname, menjadikan negeri itu tanah airnya kedua.

* * *

Perayaan Peringatan tsb berlangsung di ruang pertemuan Haagse Hogeschool, Den Haag. Hanya beberapa puluh meter jaraknya pas dimuka Stasiun KA - Den Haag HS letaknya. Perayaan Peringatan mengambil bentuk Manifestasi Budaya. Dimeriahkan dengan acara seni:  gamelan Jawa, tari-tarian, pentjak silat, nyanyi solo dan paduan suara, musik Jawa, juga musik pop. Tak ketinggalan dipanggungkan pula tari serimpi yang indah lemah lunglai itu. Hadirin menikmati seluruh acara yang berlangsung dari jam 12 siang sampai jam 07 malam. Dengan sendirinya tersedia di situ makanan Indonesia  dan Suriname (seperti tahu lontong dan saoto), serta  cendol dan minuman lainnya dengan harga yang layak.

Sarmaji yang duduk disampingku, tak habis heran dan kagum menyaksikan acara  seni itu.  Bagaimana orang-orang Jawa Suriname kok bisa tetap memelihara budaya Jawa meskipun lebih seratus tahun terpisah dari kampung halaman asal, berlanglang-buwana sampai ke Suriname dan Belanda. Itu menunjukkan bahwa meskipun tinggal di negeri lain, mereka tetap mempertahankan budaya dan identitas mereka. Hebat kan, kataku!

Tapi yang lebih mengharukan  lagi serta terheran-heran kami, adalah ketika perayaan dibuka dengan tampilnya barisan bendera teridiri dari putri-putri, yang masing-masing membawa bendera Merah Putih Biru (Belanda), Merah Putih (Indonesia), dan Bendera Suriname. Tak terkira reaksi kami ketika itu. Serasa terdengar debaran jantung masing-masing, ketika seiring dengan barisan bendera tampil di panggung, diperdengarkan masing-masing --  lagu WILHELMUS,  lalu INDONESIA RAYA kemudian lagu KEBANGSAAN SURINAME. Sungguh tak tak terduga  bisa melihat bendera Merah Merah Putih dikibarkan diatas panggung  di Haagse Hogeschool Den Haag, dengan diiringi musik INDONESIA RAYA. Dan itu dalam suatu  perayaan peringatan yang dilangsungkan oleh  WONG JOWO ING NEGORO LONDO.

Kutanyakan  bagaimana kesan Sarmaji disampingku. Bagaimana perasaannya melihat Sang MERAH PUTIH yang disertai musik INDONESIA RAYA di atas panggung? Wah, wah, bukan main bangganya aku!, kata Sarmaji.

* * *

Bagiku pribadi,  belum lama mengetahui adanya orang-orang Jawa-Surinam di Holland. Kurang lebih 15 tahun y.l. seorang sahabat dekat kami (yang asal etnis Jawa) ternyata melakukan kerja-sukarela di sebuah pemancar radio bernama "Radio Bangsa Jawa", di Amsterdam. Pemancar itu berbahasa Jawa.  Lalu peristiwa berikut ini: -- Suatu waktu ketika kami suami istri makan-siang di sebuah restoran di Villa Arena, Bijlmer,  yang melayani adalah  seorang wanita yang persis orang Indonesia. Beberapa saat setelah kami menikmati santapan, --  ia datang menghampiri kami   dan bertanya:  "Wis warek, yo?". "Nรฉk wis warek, turu!". Heh, ternyata dia itu 'wong Jowo asal Surinam'. Istrku, yang asal Purworedjo, Jawa Tengah,  kaget tapi kemudian senyum-senyum saja memaklumi, diajak boso Jowo demikian itu.

Terima kasih kepada KITLV (Mbak Yayah Siegers) yang menyampaikan undangan
lewat e-mail kepadaku, sehingga memperoleh kesempatan untuk bisa menghadiri Perayaan Peringatan 120 Tahun Imigrasi Orang-orang Jawa Ke Suriname. Mulai dari sejak inilah aku memberikan perhatian pada orang-orang Jawa Surinam dan latar belakang serjarahnya. Menyadari bahwa mereka-mereka itu adalah sebagian dari bangsa kita, bangsa Indonesia yang berkelana ke Surinam, demi mencari tempat hidup yang lebih layak, jauh dari kekurangan dan kemiskinan di kampung halaman mereka ketika itu.
Baru kutahu, bahwa keberangkatan orang-orang Jawa ke Surinam, adalah bagian dari politik transmigrasi pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang juga mentransmigrasi orang-orang Indonesia asal Jawa dari kampunghalaman mereka ke Sumatera dan Lampung, Sumatera Selatan.

Rupanya yang berwewenang ketika itu memang menjanjikan bahwa dengan meninggalkan kampung halaman mereka yang susah hidup itu, berimigrasi ke Surname sebagai buruh-kontrak, mereka akan mengalami kehidupan yang lebih baik. Nyatanya juga tidak. Bekerja sebagai buruh-kontrak , tidak banyak mengubah nasib mereka yang miskin papa di kampung halaman di Jawa. Di Suriname, menurut cerita mereka sendiri, juga mengalami perlakuan diskriminasi keras. Mereka diharuskan tertempat tinggal di daerah terpencil yang jauh dari pusat pedagangan negeri. Pendidikan terutama bagi anak-anak mereka juga tidak diurus oleh penguasa Belanda di Suriname. Akhirnya dibangun juga juga sekolah  --  "Sekolah Desa'. Tidak lebih dari itu.Pokoknya kaum buruh-kontrak asal Jawa di Suriname dibiarkan bodoh oleh penguasa.

Berapa upah mereka sebulan? Hanya 60 sen untuk priya dan 40 sen untuk wanita. Mana bisa hidup baik dengan upah yang minim seperti itu? Jelas, pemerintah Hindia Belanda mentrasmigrasikan penduduk Jawa ke Suriname, adalah demi kepentingan perkebunan-perkebunan mereka di Suriname yang memerlukan tenaga kerja murah. Berimigrasi samasekali tidak memberikan kehidupan yang lebih baik. Penguasa kolonial di Suriname tidak lebih baik dari penguasa kolonial di Jawa, Sumatra,  atau dimanapun di seluruh Indonesia pada periode Hindia Belanda dulu. Penguasa melakukan transmigrasi atau imigrasi bagi penduduk Jawa, pertama-tama bertolak dari kepentingan sendiri semata-mata. Kepentingan mengeeksploitasi tenaga buruh murah dari Jawa.
*    *    *

HARIร‹TTE MINGOEN, Ketua Stichting Comite Herdenking Javaanse Immigratie, dalam wawancaranya dengan Eka Tanjung, NRW, Hilversum, -- mengingatkan,  bahwa pada tanggal 29 November, 2010, nanti akan diluncurkan sebuah buku lagi menyangkut orang-orang Jawa yang berimigrasi ke Suriname. Juga akan diluncurkan sebuah website dengan tujuan yang sama.

Untuk memperoleh gambaran yang agak jelas, mari kita ikuti apa yang dijelaskan oleh Panitia Penyelenggara Peringatan 120th Imigrasi Orang Jawa ke Suriname, sbb:

Orang-orang Jawa mengalami sejarah-migrasi yang kaya. Mereka berkali-kali berimigrasi ke Suriname, Indonesia, Nederland dan negeri-negeri lainnya. . Mengenai gerak-migrasi ini dan mengenai nasib orang-orang yang telah memilih berkali-kali mengubah domisili negerinya, boleh dikatakan sedikit yang diketahui orang.

Maka dengan proyek 'Cerita-cerita pengalaman hidup orang-orang Jawa dalam diaspora', KITLV bersama Stichting CHIJ bermaksud, melalui oral-history, sejarah-lisan, menyoroti gerak-migrasi dan cara bagaimana orang-orang Jawa bermukim di negeri-negeri tsb. Bagaimana mereka memperlakukan warisan budaya mereka. Cerita-cerita pengalaman hidup ini, dikumpulkan di Suriname, Indonesia dan Nederland. KITLV mengurus pencatatan cerita-cerita tsb di Suriname dan Indonesia, dengan berkerjasama dengan Perkumpulan Memperingati Imigrasi Orang-orang Jawa (VHIJ), STCHIJ dan  dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). STICHJI mengumpulkan cerita-cerita yang di Nederland. Kumpulan cerita-cerita pengalaman hidup ini dipresentasikan di suatu website khusus, dan dari cerita-cerita yang terbaik akan dibukukan dan diterbitkan.

Pada tanggal 09 Agustus 2010, tepat 120th yang lalu  (1890) kedatangan pertama  di Suriname, kaum buruh-kontrak Jawa dari Hindia Belanda. Pada tahun bersejarah ini diterbitkan buku dan website untuk umum. Peluncuran akan dilakukan pada tanggal 29 November 2010. Demikianlah disiarkan oleh Panitia Penyelenggara Peringatan 120th Imigran Jawa ke Suriname. *    *    *